Chapter 3 Para Tamu Yang Istimewa

Dari helikopter yang terbang tinggi, pulau itu nampak kecil.
Semakin mendekat, aku bisa melihat sebuah bangunan yang besar, berbentuk benteng kotak memanjang di tengah-tengah pulau.
Bangunannya nampak kuno dengan tembok yang tebal. Helikopter yang mengangkut kami mulai terbang perlahan,
kelihatannya mulai mempersiapkan untuk pendaratan. Helikopter melewati bangunan yang berbentuk mirip benteng tersebut.
Sesudah melewati bangunan benteng, kulihat ada lahan mirip pertanian dan lahan untuk perternakan.
Nampak kaca-kaca berkilat …

oh! Rupanya solar cell, untuk menyuplai kebutuhan listriknya.
Aku menajamkan penglihatanku berusaha mengamati pintu gerbang depannya.
Deg!
Darahku serasa berhenti mengalir.
Logo segitiga itu…
ada logo segitiga besar terukir disana,
ditengah pintu gerbangnya. Persis logo yang kulihat di mimpiku!

Aku menghela napas dalam-dalam.
“Kamu kenapa,Moi?
Phobia ketinggian?” tanya Mrs. Rose halus.
Aku menggeleng. “Bangunannya yang kelihatan kuno dan kolonial
mengingatkanku sejarah jaman penjajahan,
mungkin ditempat semacam ini para pejuang yang dianggap pemberontak diasingkan.”

Mrs. Rose tersenyum tipis. “Semua penjara bangunannya sama, Moi.
Kelabu, tanpa warna. Beda sama Disneyland yang meriah penuh warna.
Di Chimera nanti kamu akan bertemu dengan orang-orang yang telah kupresentasikan.”

Helikopter terbang semakin rendah dan pelan, hingga akhirnya mendarat di landasan agak jauh dari lokasi benteng tadi.
Aku mengikuti Mrs. Rose turun dari helikopter.

Seorang pria bertubuh tegap dan besar, berkepala gundul berdiri di sana, menyambut kami bersama dua prajurit di belakangnya.
Baik si raksaksa gundul dan prajurit mempunyai seragam yang sama. Seragam berwarna krem dengan lengan tergulung di bahu dan ada kancingnya, berikat pinggang hitam.Yang membedakan adalah atribut kepangkatan mereka di dada dan di pundak.
Dua prajurit itu segera membantu menurunkan berbagai barang dari helikopter.
Aku tertegun saat si raksaksa gundul mendekati kami, ingatanku akan presentasi Mrs. Rose segera berkelebat cepat.
Pria besar ini adalah Dragono, kepala sipir penjara Chimera.

“Selamat datang di Chimera, Bocah.
Namaku Dragono. Aku kepala sipir disini.”
Pria itu mengulurkan tangannya.
Aku memperkenalkan diri,
“Selamat pagi, Pak Dragono. Aku Moira Gepardi.”
Aku mencoba berbicara dengan tenang.Itu cukup sulit, karena aku merasa gentar dengan postur tubuh, suara serta ekspresi Dragono.
Lingkungan baru, suasana pulau yang sunyi mencekam, membuatku merasa terintimidasi.
Untunglah Mrs. Rose ada di sebelahku.
Kehadirannya di dekatku telah mensupport mentalku.
Aku mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya.Tangan Dragono luar biasa besar, berat dan kasar.
Aku merasakan tanganku begitu kecil dalam genggamannya.
Berhadapan dengan Dragono, tinggiku hanya setinggi dadanya.
Aku harus mendongak padanya untuk dapat memandang matanya saat berbicara dengannya.“Senang berjumpa Anda, Pak.”
Aku tersenyum padanya.
Dragono tidak membalas senyumanku. Mungkin ia sudah lupa bagaimana caranya tersenyum, pikirku.

Pria besar itu bahkan menatap tajam kearah mataku.
“Ingat satu pesanku, Bocah.Jangan ikut campur urusan di pulau ini.
Prioritaskan untuk melakukan tugas-tugasmu saja.Catatlah data dan evaluasi penghuni pulau ini secara keilmuanmu.”
“Ya, oke. Siap, Pak Dragono.” Sahutku perlahan.
Suaraku agak tercekat. Dari kalimatnya tersirat Dragono mencurigaiku atau akan membatasi gerakku.

Huuufht…penyambutan awal yang mencekam, sangat jauh dari welcome yang aku harapkan sebagai tim kerja.
Aku lihat Mrs. Rose memberikan sesuatu ke Dragono.
Pria itu menyeringai dan menyimpannya di sakunya lalu mendahului berjalan di depan kami.
“Jangan terpengaruh dengan tubuh besarnya, Moi.
Dragono tidak semenakutkan penampilannya kok,” bisik Mrs. Rose.
“Benarkah itu, Mrs. Rose?” tanyaku ikut berbisik.
“Dragono suka coklat.Tadi aku barusan ngasih dia coklat.
Di sini tidak ada minimarket, Moi.Kebutuhan remeh seperti coklat sulit didapat di sini.
Jadi mendapatkan coklat bagi Dragono rasanya seperti mendapat harta karun, Moi.”

“Mrs. Rose perhatian sekali ya.”
“Dia orang yang baik, tegas, dan patuh pada pimpinannya.Nantinya dia akan banyak membantu kita saat kita mengobservasi tiga obyek terberat kita yakni Leman, Rado juga Vicko.”
Kami berjalan menapak jalan aspal melewati lahan solar cell,
kebun pertanian dan perternakan.
Kulihat ada berbagai ternak disana.Ayam, kambing, juga ada beberapa ekor sapi.
Kandang binatang ini berdekatan.
Rupanya pulau ini mencukupi kebutuhannya sendiri untuk makanan dan daya listriknya.

Aku berjalan mendekati gerbang kayu dengan logo metal yang kulihat tadi di helikopter.
Gerbang besar kokoh dengan logo segitiga di tengahnya.Aku membayangkan truk-truk militerpun bisa masuk ke dalamnya.
Beberapa prajurit nampak berjaga.
Semuanya terlihat jelas dan nyata, tanpa kabut atau apapun seperti yang muncul di mimpiku.
Logo segitiga dengan ukiran kepala singa, kambing serta naga di tiap sudutnya itu nampak jelas, menjulang di hadapanku.
Bulu kudukku meremang.Selain hawa sejuk juga angin dingin yang kencang membuatku menggigil.

Aku kembali teringat akan mimpi-mimpiku.
Berdiri di depan gerbang itu, hawa kengerian terasa menyusup ke seluruh pori-pori tubuhku.
Kakiku yang terbungkus dengan sepatu pantofelku menjadi dingin.
Aku melangkah perlahan-lahan untuk mengatasi kegentaranku.
Apakah sebaiknya aku meminta kepada Mrs. Rose untuk dipulangkan kembali pakai helikopter?
Sebelum terlambat?

Dragono berjalan di depan kami.Punggungnya yang besar dan kekar membelakangi kami.
Tak lama pintu itu terbuka dengan otomatis.
Ada mesin scan sidik jari tertempel di dindingnya. Rupanya Dragono mengaksesnya untuk membuka pintu.Kedua prajurit yang membawa barang masih ada di belakang kami.
Dragono berdiri di tengah pintu besar yang telah terbuka. Dua prajurit ada di samping pintu gerbang, mereka menyandang senapan laras panjang. Para prajurit itu menatap kami dengan sikap siaga.
Aku menebar pandanganku ke segala penjuru.
Di sebelah sana ombak berdebur-debur menghantam pantai.
Pasir putih bersih yang terhampar luas, begitu mengundang untuk dijelajahi.

Sesuatu benda menyentuh lenganku!
“Aaaa!” Aku menjerit.
“Moi! Ada apa? Ini aku.”
Mrs. Rose menatapku.
Rupanya tangan Mrs. Rose yang menyentuh lenganku.
“Oh, sorry, Mrs. Rose. Maafkan aku.”
“Para prajurit ingin mendapatkan scan sidik jarimu supaya kau punya dari pintu ini akses untuk masuk dan keluar.”
“Maaf Miss, silahkan letakkan jari-jari Anda disini.” Seorang prajurit berbicara padaku.

Aku meletakkan jari-jariku persis seperti yang diminta prajurit.
“Pindai jari anda Miss, ini nanti berguna sebagai akses pembuka pintu,” ujarnya.

Mrs. Rose mempersilakan aku mencoba membuka pintu dengan pindai jari tanganku.
Aku meletakkan telapak kananku di monitor kecil di alat pemindai, lalu satu prajurit lagi mengetik sesuatu di tabletnya.

Sementara itu, dua prajurit yang membawa koper barang kami, berjalan mendahului kami.
Aku kembali menarik napas dalam-dalam.
Mempersiapkan hati serta mentalku.
Aku memaksa kakiku melangkah masuk melewati gerbang.

Bangunan Chimera adalah bangunan kuno yang dipadukan dengan kecanggihan tehnologi dan ddrrtt secara otomatis segera menutup kembali di belakangku.
Sekarang aku berada di dalam bangunan berdinding tinggi kelabu dengan penerangan yang cukup.
Saat aku mendongak, aku bisa melihat kamera-kamera CCTV tertempel di segala penjuru. Ada dua prajurit berdiri dengan alat detektor metal di tangannya, menunggu kami.

“Barang-barang Anda akan kami periksa dulu.” ujar salah seorang prajurit tersebut.
Aku mengangguk, “Silahkan.”
Prajurit petugas keamanan tersebut memeriksa tubuh dan koper-koperku. Di sudut yang lain Mrs. Rose nampak berbicara serius dengan Dragono.
“Maaf, Ms. Moira, silahkan letakkan jari-jari Anda disini.”
Aku meletakkan jari-jariku persis seperti yang diminta petugas.
“Pindai jari tadi di depan sudah dapat untuk akses pembuka pintu, Ms. Moira,” ujarnya.
Kemudian kami melangkah ke pintu kedua.
Mrs. Rose mempersilakan aku mencoba membuka pintu dengan pindai jari tanganku.
Aku meletakkan telapak kananku di monitor kecil di sisi kiri pintu.
Dan srttt …

pintu kedua terbuka.
Di balik pintu berdiri dua pria berseragam tentara, mereka nampak siaga saat pintu terbuka.Pentungan besi tonfa nampak di samping pinggang mereka masing-masing.
Mereka berdua memberi hormat kepada Mrs. Rose dengan meletakkan tangan kanannya di kepala, khas penghormatan a la prajurit.
Sang kepala sipir, Dragono berdiri tegak menjulang dengan melipat kedua tangannya di dadanya yang membusung berotot.

“Sekali lagi aku ingatkan, kamu jalankan tugasmu disini, Bocah.
Dan aku menjalankan tugasku.Lebih dari itu, kamu berhadapan denganku.”Ucapnya tegas.

Aku mendongakkan wajahku ke atas, “Iya, Pak Dragono.Aku mengerti.Mohon bimbingannya, Pak,” sahutku.
Aku gagal menjawab dengan lepas.Suaraku yang keluar sedikit gemetar.Sungguh rasanya sangat tidak nyaman.Baru beberapa menit bertemu, kalimat-kalimat Dragono terdengar sangat keras menusuk perasaanku.
“Jaga kelakuanmu disini, ya,” ucapnya lagi. Kemudian ia membalikkan tubuh dan menjauhi kami.
“Ikuti saja apa yang diinginkannya, Moi,” Mrs. Rose kembali berbisik.

“Sumpah mati Mrs. Rose, aku tidak akan mencari-cari masalah dengannya,” ucapku yakin.
Mrs. Rose menahan tawa.

Saat itu Mrs. Rose sungguh nampak cantik.Melihatnya tertawa, aku terhibur.
Paling tidak kami sesama wanita akan saling mendukung.
Rasa ingin tahuku timbul.
Mrs. Rose ini sudah menikahkah?Sudah memiliki anak-anakkah?Umur Mrs. Rose aku taksir sekitar 33-40 tahun.
Lalu berapa lama sudah Mrs. Rose bekerja..ups, terkurung disini? Penampilan Mrs. Rose secara keseluruhan modis dan modern.Parfumnya harum dan lembut di hidungku.
Sepatu boot hitam semata kaki yang dipakainya hari ini, aku tahu sepatu yang dipakainya bermerk, pasti mahal. Namun ia terisolasi dari berita televisi, medsos serta dunia luar.
Aku menyadari tak semua orang merasa nyaman bila ditanyakan seputar kehidupan pribadinya.
Aku berhasil mengunci mulutku dan terus melangkah mengimbangi langkah-langkah Mrs. Rose.

Kami sampai di sebuah pintu.
Mrs. Rose mengetuk pintu beberapa kali, lalu membuka pintu itu dengan memutar gagang pintunya.
“Tuan Jonah?” Mrs. Rose menyapa seorang pria paruh baya, berwajah keras ekspresinya kaku tak bersahabat, rambut dipotong cepak, sorot matanya seperti….harimau? Yah, harimaulicik yang mengintai mangsa.

Pria itu duduk di kursi hitam bersandaran tinggi.Kedua kakinya diletakkan menyilang di atas meja.Aku sungguh tidak suka dengan kesan pertama pertemuan kami.Pria ini bahkan tak terpikir untuk menurunkan kakinya karena kedatangan kami.Sungguh tak sopan, pikirku sebal.
Tangannya tetap diletakkan di sandaran kusi besar yang didudukinya,
kelihatan sekali pagi itu dia sedang menikmati waktunya di ruangan tersebut

“Moi, aku perkenalkan dengan pemimpin di pulau ini, Tuan Jonah.
Tuan Jonah, ini Moira, sarjana psikologi yang akan mendokumentasi di pulau ini.”

“Selamat siang Tuan Jonah, perkenalkan, saya Moira.” Aku mengulurkan tanganku kepadanya,
Tuan Jonah tidak menyambut tanganku,
bahkan kedua belah tangannya yang juga berotot walau tidak sebesar Dragono, terangkat lalu diletakkan dibelakang kepalanya untuk dibuat sandaran santai,
alis matanya berdiri dan matanya melirik memincing kearahku,
pandangannya terasa nyinyir bagiku.
Pria itu menatapku lewat sudut matanya,namun akhirnya dia angkat bicara,
“Seperti yang Rose sudah bilang, aku Tuan Jonah.
Aku yang bertanggung jawab di sini.
Selama kamu disini, kamu kerjakan apa pekerjaanmu, aku juga kerja.
Kita sama-sama kerja.
Kau jangan mengusik pekerjaanku.Bisa kan bocah?”

Kamu kerjakan apa pekerjaanmu,aku juga kerja, kau jangan mengusik pekerjaanku. Ucapannya begitu mirip dengan Dragono, jangan ikut campur urusan di pulau ini, kamu mengerjakan urusanmu,
aku mengerjakan urusanku, selebihnya kamu berhadapan denganku.
Lagipula siapa coba yang mau mengusik urusan ataupun pekerjaan Tuan Jonah atau Dragono?
Tidak bisakah mereka berdua sedikit ramah lalu mengatakan selamat datang?

Aku menarik tanganku yang menggantung hampa perlahan-lahan,
lalu aku membuat sebuah senyuman,
kutarik bibirku untuk memaksakan sebuah senyuman tipis pada pria arogan dihadapanku dan mengangguk,
aku sudah tidak sanggup berkata-kata saat itu,
lututku terasa lemas mengalami sambutan yang paling tidak nyaman yang pernah kualami sepanjang hidupku
“Tenang saja Tuan Jonah, Moira dalam pengawasanku.” Ucap Mrs. Rose.

***
Aku melangkah dari ruangan Tuan Jonah, terasa gontai dan berat langkahku, namun aku bersyukur telah keluar dari ruangan tuan Jonah.

“Tenang saja Moi,
memang Tuan Jonah wataknya harus seperti itu,
harus tegas, tidak kompromi,
untuk itulah ia dipercaya mengelola di pulau Chimera ini,
karena yang di penjara di sini orang-orang yang spesial,
butuh maximum security,
okay kutunjukan kamarmu, sebelahan kok kita nantinya ,
tenang saja, be happy Moi”, cerocos Mrs.Rose menenangkanku.

“Mengapa ia dipanggil Tuan Jonah Mrs.Rose?” tanyaku ingin tahu
“Ooh itu sudah lama, dan ia memang menyukainya,
mungkin itu sebagai pembeda antara dia dengan seluruh prajurit termasuk Dragono,
dia pernah berkata,
kata Tuan membuat perbedaan kelas ,
supaya ia lebih dihargai dan karena memang dia yang punya otoritas tertinggi disini.” jawab Mrs. Rose
Kami berjalan kembali ke arah depan.

Kamarku sederet dengan gerbang pertama dimana disisi luarnya dua prajurit bersenjata laras panjang ditempatkan, aku amati semua prajurit yang kutemui, sesudah pintu ke dua tidak ada yang bersenjata api, mereka hanya membawa pentungan tonfa dan belati tergantol di sabuk samping pinggang mereka masing-masing.
Pintu kamarku bersebelahan dengan Mrs. Rose ,
rasa aman mulai timbul di hatiku,
aku menarik nafas pelan untuk merelaksasikan tubuhku dan menghalau ketidaknyamanan penyambutan dua pria tadi.
Kunci kamar telah tergantung diluar,
aku memutar untuk membukanya,lalu kudorong pintu tersebut, bahannya kayu biasa yang standar perumahan tentara mirip asrama militer saat aku kecil,
aku masuk dan menggotong bawaanku yang telah diletakkan di pintu luar kamarku,Kamar mrs. Rose ada di samping kiriku, dia juga masuk ke kamarnya setelah mebuka kuncinya.

Saat ini akhirnya aku sendirian di dalam kamar.
Tak banyak perabotan di kamar ini.Hanya sebuah ranjang dengan kasur busa berukuran single serta sebuah lemari kecil tempat menyimpan pakaian.
Di ujung kamar terdapat kamar mandi.
Mirip kamar kost adikku di luar kota, pikirku. Tak ada AC disini, namun kamar ini sudah terasa cukup dingin.
Aku mendongak ke langit-langit serta sudut kamar.Bagus, jadi di kamar ini tak ada kamera CCTV.
Aku bisa mempunyai privasi di kamar ini.
Aku membongkar pakaianku dan menyusunnya di lemari.
Tanganku menggenggam sebuah benda tabung seukuran jari telunjuk.
Aku senang aku membawa lipstik Adrian.
Aku menimangnya.Lipstik ini menjadi terapi bagiku, setelah seharian berjumpa dengan pria-pria kaku, tak bisa tersenyum tak pula bisa beramah tamah. Pikiranku teringat Adrian,apakah Adrian rela melihatku diperlakukan ketus oleh dua pria berotot tadi? Apakah dia bela aku atau hanya melongo saja?
Uuh, tentunya dia menggandengku dan membawaku menjauh dari dua pria kasar tadi, membawaku dalam gandengannya, mungkin sedikit pelukan untuk menentramkanku.
Apakah akhirnya aku jatuh cinta pada Adrian? Ah tidak…. selain aku, masih ada puluhan wanita yang menikmati candaan dan tawa Adrian. Adrian cukup disukai teman-teman, baik wanita maupun pria. Tapi selain aku…apakah ada wanita lain yang diberi hadiah lipstik olehnya?

Aku mencharge ponselku. Memang disini tak ada signal untuk ponsel, namun aku masih bisa membuka galery foto serta video yang tersimpan disana.
Adrian, betapa inginnya aku berbagi cerita pengalamanku hari ini dengannya.
Aku menatap tiga foto close-upnya. Pria yang manis dan selalu memiliki persediaan senyuman yang melimpah.
Saat menatap ke enam foto Kitty,
aku mengeluh mengapa Adrian justru mengirim foto-foto Kitty sebagai bekalku. Andai yang dikirim adalah foto-foto dirinya itu jauh lebih baik buatku saat ini.
“Aku janji tak akan menyebutmu narsis lagi, Ad,” bisikku.
Kamarku begitu sunyi sepi.Bolehkah aku memasang lagu atau musik di sini?
Rasanya tak ada larangan bukan?
Aku menyalakan lagu-lagu dari ponselku dengan volume terkecil.Walau demikian suaranya terasa begitu keras bergema ke seluruh dinding kamar.
“Ayo, Moira, kamu harus bersemangat,” ujarku menyemangati diriku sendiri.
Bibirku bersenandung lirih mengikuti lagu.
Tanganku bergerak menyiapkan berkas bahan pengujian psikologi untuk pekerjaanku esok hari.
Aku teringat wejangan Mama, ‘Jangan banyak bercanda, jaga wibawamu Moira.’
“Ya Ma, disini aku tidak akan banyak bercanda. Bukan untuk menjaga wibawa Ma, tapi memang disini bukan tempatnya untuk bercanda.
Disini adalah penjara.
Tempat tentara berkumpul, serius dan bekerja.
Suasana disini juga seram.Setiap lorongnya sunyi dan panjang.”
Aku teringat Mrs. Rose.
Akan lebih baik bagiku, andai aku bisa satu kamar dengannya.Berada seorang diri di kamar ini rasanya menakutkan.Aku menyusun berkas-berkas menjadi satu tumpukan.
Hari itu kulalui dengan sibuk di kamar baruku yang sempit,
sesudah siang hari, Mrs. Rose mengajakku makan siang dan aku tetap kembali ke kamar lagi ,demikian juga malamnya,
aku juga perlu menata diriku untuk menghadapi esok supaya kebal terhadap cibiran dan perlakuan sinis dua pria keras tadi.

Menjelang malam aku merenung, semoga besok menjadi hari yang lebih baik.
Ah, mungkin saja dua pria tadi mengetes mentalku untuk lebih kuat dilingkungan penjara yang keras ini.
kumatikan lampu kamar,
kemudian aku menarik rapat-rapat selimut ke tubuhku sampai ke kepala, aku merasa ketakutan juga malam itu karena suasana yang mencekam ,
angin yang terasa dingin mengejar sampai kekamarku,
samar-samar kudengar deburan ombak menghantam karang,
sesekali terdengar lenguhan ternak dan serangga mengerik.

Dan malam itu….
mimpiku lebih seram dari malam-malam sebelumnya.
Suara pria dan wanita aku dengar menjerit.Tangan-tangan terulur meminta tolong.
Dan genangan darah ada dimana-mana….
aku menjerit dan terbangun.

Tok..tok..tok…
seseorang mengetuk pintu kamarku, “Moira?”
Sesaat aku berpikir aku berada dimana? Kamar ini gelap sekali, dan rasanya aku tidak berada di kamarku.
“Moira..?” suara itu memanggilku lagi dengan keras.
Ah, kesadaran tiba-tiba kembali ke kepalaku.
Itu suara Mrs. Rose.
Aku turun dari ranjang_nyaris jatuh mencium lantai karena terlilit selimut yang masih menempel di kakiku, menyalakan lampu dan membuka pintu.

“Pagi, Mrs. Rose,” sapaku.
Mrs. Rose pagi itu mengenakan jas terusan panjang berwarna krem.
Roknya yang berwarna senada jatuh begitu manis di tubuhnya.
Mrs. Rose mengenakan sepatu boot hitam semata kakinya lagi. Wanita ini memang keren dan modis.
Ia menatapku.
“Habis mimpi buruk, ya?Jeritannya mantap sekali tadi.”
“Uh,…ya, Mrs. Rose. Maaf, aku membuat keributan ya.”
“Mm…maklum lah far away from home and family, di tempat yang terpencil lagi. Nanti juga lama-lama terbiasa.Ayo Moi, kita sarapan.”
“Aku..mau mandi dulu, Mrs. Rose.”
“Okay aku tunggu ya Moi,
kamu selesai ketok balik pintu kamarku,ya.”
Setelah selesai mandi dan berdandan, aku membawa beberapa berkas kerja, kertas dalam satu map,
lalu aku mengetok kamar Mrs.Rose,
dia dan aku berjalan menyusuri kamar dan lorong menuju ruang makan
“Pagi, Mrs. Rose,” ucap seorang prajurit sambil memberikan hormat khas prajurit
Mrs. Rose membalas sapaan prajurit tersebut.
Prajurit tersebut menganggukkan kepalanya padaku.
Aku membalas dengan senyuman.
“Sebelah kananmu ruang konseling.Bisa kamu pakai Moi.Terus di sebelah kirimu ruang baca.”
Kata Mrs.Rose memanduku mengenal lingkungan.
“Ruang baca?
Ada perpustakaan juga ya Mrs. Rose disini?”
“Ow, tentu dong. Mau lihat-lihat perpustakaannya?”
Kami berbelok ke kiri, ke ruangan yang disebut perpustakaan.
Aku mendorong pintunya.
‘Ruang perpustakaan’ itu hanyalah ruangan dengan sederet sofa lama serta beberapa lembar koran-koran.
Aku sangat senang membaca, dan bayanganku semula perpustakaan Chimera adalah tempat dimana rak-rak yang tinggi menjulang ke langit ruangan dan penuh dengan aneka buku-buku fantastis yang menantang untuk dinikmati.
Aku melirik Mrs. Rose yang sekali lagi menahan tawa di wajahnya, melihat ekspresi kekecewaan diwajahku.
Aku menutup pintunya.Berdehem dan berkata_dengan lagak berwibawa, “Yuk, kita sarapan, Mrs. Rose.”

***

Kami sampai di ruang makan.Ruang makan itu adalah ruangan dengan bangku-bangku serta beberapa meja panjang.
Kulihat Tuan Jonah sedang duduk dan bercakap-cakap dengan beberapa prajurit.Hidangannya berderet di sisi kanan.
Untuk nasi, kami boleh menyendok sebanyak-banyaknya, namun untuk lauk pauknya ada petugas penjara yang melayani kami.
“Maaf, pak tanpa jamur ya,” ucapku.
“Oho, sama denganku Moi. Aku juga tidak boleh makan jamur.Aku alergi jamur, Moi.”
“Alergi yang sama denganku Mrs. Rose.”
Aku meletakkan nampanku dan duduk berhadapan dengan Mrs. Rose.
“Aku mau mengambil minum.
Mrs. Rose mau minum air putih atau teh hangat?”
“Aku air putih saja. Trims, Moi.”

Saat aku sedang mengangsurkan gelas ke dispenser,
terdengar suara Bbrrtt…brtt….brrt diatas atap ,
bayangan beberapa helicopter berkelebat di antara jendela yang terpasang tinggi dekat digenting atasku,
begitu dekat kedengarannya dengan bangunan ini.
Aku membawa dua gelas air putih ke meja kami.

“Ada heli datang, Mrs. Rose,” ucapku dengan nada setengah bertanya.
“Tamu-tamu Tuan Jonah datang.
Hari ini bakal banyak tamu Moi,” ucap Mrs. Rose dengan berat,
terlihat dari raut muka mrs.Rose agak menekuk ke dalam tanda tak suka.
Banyak tamu? Dari ekspresi muram Mrs. Rose,
tamu-tamu tersebut tentu bukanlah tamu yang menyenangkan.
Kami mulai menyuap makanan,
nasi goreng campur orak arik sayuran dan telur dengan rasa hambar.
Makanan khas penjara seperti ini ya rasanya, pikirku.
“Ayo Moi, cepat sudahi makannya kita sambut tamu tamu Tuan Jonah.” ajak Mrs. Rose ketika melihat Tuan Jonah melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

Aku dan Mrs. Rose bergegas menyusul.
Di ruang depan tempat penjaga bersenjata api laras panjang ,
Tuan Jonah berdiri tegak didampingi Dragono,
tangan Tuan Jonah nampak berkacak pinggang seolah menunjukkan bahwa dialah penguasa pulau ini.
Beberapa pria berjalan mendekat, kemudian
seorang pria berkumis tipis berambut cepak dengan rambut diminyaki berseragam perwira tinggi polisi menghormat pada Tuan Jonah
“Iskandar, siapa yang kamu bawa?” tanya Tuan Jonah sambil membalas hormat padanya.

“Namanya Degardo, Jonah,” sahut Iskandar.
“Apa kemampuannya? Kita lawankan dengan Leman atau Vicko?” tanya Tuan Jonah lagi.
“Aku kira Vicko saja.Kemampuan karate Degardo tinggi di kesatuannya.”
Aku dan Mrs. Rose berdiri agak jauh ,
namun kudengar jelas suara mereka bercakap -cakap.
Aku melirik Mrs. Rose, wanita itu nampak menyimak pembicaraan tersebut.
“Gardo ditugaskan untuk memberantas separitis,
tapi ternyata dia membangkang.Dia terbukti pro separitis.
Karena membahayakan dia dianggap saja hilang di tugasnya biar merasakan duel disini.” pak Iskandar menyeringai.

Deg!
Dianggap hilang di dalam tugas ?Biar merasakan duel disini?
Kemarin Mrs. Rose menyebut nama papaku. Nampaknya istilah hilang dalam tugasatau missing in action, bisa jadi disingkirkan oleh suatu konspirasi petinggi baik militer atau aparat polisi ?sekilas aku berpikir negatif,
apakah papa juga disingkirkan dalam suatu pertempuran?
Ah, tidak
karena papaku seorang yang jujur dan patuh pada pimpinan serta jiwa nasionalisme tidak perlu dragukan lagi,
segera kutepis pikiran negatifku.

Dua orang tentara bersenjata Laras panjang tadi, mempersilahkan pak Iskandar meninggalkan pistolnya di tempat itu,
pistol tersebut dimasukkan ke loker didepan dekat pintu masuk utama disertai tanda terima.
Nampak dari jauh orang-orang turun dari helikopter mereka berombongan seperti semut keluar dari sarangnya,
namun aku justru tertarik mengamati perilaku Tuan Jonah, kulihat senyumnya terus mengembang, saat tamu-tamu itu mulai jalan mendekat.
Seorang pria bertubuh gemuk, bertampang culas, mengenakan pakaian santai bermotif baju hawai bercelana pendek memakai sandal gunung, menghisap cerutu memasuki ruangan.Kancing-kancing baju hawainya nya nampak berusaha keras tetap terkancing di perutnya yang gembul berlemak. Pria gemuk itu mengingatkan aku akan tokoh mafia kaya dan licik seperti yang di film bioskop.

Di belakang pria itu berdiri seorang pria, bertubuh tinggi besar,
berambut panjang lurus, mengenakan jas hitam yang rapi. Kelihatannya pria itu mungkin pengawal pribadi orang itu.
Tuan Jonah nampak berdiri di samping pintu gerbang tadi, gayanya nampak memuakkan bagiku,
kulihat raut wajahnya berseri-seri senyum tersungging di bibirnya,
baru kali ini kulihat dia sangat berbahagia,
tersenyum-senyum terus.
“Pak Bruno, selamat datang, bagaimana kabarmu?” sapa Tuan Jonah dengan ramah.
Ah, tenyata Tuan Jonah mengenal keramahan juga rupanya!
Dragono berdiri kokoh disisi Tuan Jonah tak bergeming, namun matanya mengawasi tamu-tamu yang datang..
Nampak jelas, Dragono adalah tangan kanan sekaligus pengawal utama Tuan Jonah.
“Strokeku belum sembuh benar, Jonah.Tapi aku harus datang kesini bukan?Aku tak mungkin melewatkan pertunjukkan yang berharga ini bukan?”

Sahut pak brumo kerassambil menghembuskan asap cerutu dari hidung dan mulutnya.
Bruno dan Tuan Jonah tertawabersama.Tawa mereka entah mengapa terdengar begitu tidak nyaman di telingaku, semacam tawa jahat.
Aku melirik Mrs. Rose.
Mrs. Rose berdiri disampingku nampaknya tenang, namun aku melihat kedua tangannya terlipat di dada seolah-olah terkunci,
hmm terlihat dia juga tidak cocok dengan peristiwa tersebut,
bahasa tubuhnya nampak defensif.

“Barang berharga, hp dan senjata taruh disini, tuan-tuan,” ucap seorang prajurit yang menyandang senapan laras panjang,
di depannya ada meja stainless dengan nampan plastik tertumpuk,
satu nampan plastik diambil kemudian ditaruh diatas meja.
Bruno berkata,
“Taruh senjatamu disitu Romano,
ayo kita segera masuk cari tempat duduk yang enak untuk menonton pertandingan.”
Orang tinggi besar berambut panjang yang dipanggil Romano tersebut meletakkan ponsel serta senjatanya, kulihat pisau komando serta pistol dikeluarkan dari jas pria tersebut lalu diletakkan di nampan plastik di depannya,
mereka berjalan satu-persatu mengarah ke tempat aku dan Mrs.Rose berdiri.
Heran, di negara yang melarang kepemilikan pistol oleh swasta mengapa pengawal yang bernama Romano bisa mempunyainya?
Pengawal warga sipil ini bebas membawa pistol kemana-mana untuk mengawal tuannya?
Pistol yang bila ditembakkan akan menghilangkan nyawa orang lain.
Apakah dia memiliki ijin kepemilikan atas senjata tersebut?

“Ya, ayo silahkan masuk,
seperti biasa langsung ke The Arena ya, pak Bruno, nanti kususul.”
kata Tuan Jonah ramah dan tangannya menepuk-nepuk bahu pak Bruno.

Lalu datang berjalan seorang pria bertubuh atletis memakai jas yang nampaknya keluaran desainer mahal, berkalung emas, potongan rambutnya rapi disisir ke belakang. Wajahnya cenderung bulat, berpenampilan menarik dan kelihatan berkelas dan disampingnya, seorang wanita muda berpakaian ketat berwarna merah, sebatas lutut dan terbuka di bagian dada, nampak menempel pada pundak pria itu,
mereka seperti pasangan yang kasmaran,
tangan pria tersebut ada di pundak wanita berbaju merah tersebut seolah dunia hanya milik mereka berdua,
lalu mereka berdua melangkah dengan santai.
Pria tersebut beradu pandang denganku dan mengedipkan sebelah matanya.
Aku terpana.
Astaga, genit sekali orang ini.
“Hallo Rose o..o..o.. kau punya teman baru yaaa disini ..
kenalkan dong gadis cantik ini”, tiba-tiba pria tersebut menyapa Mrs. Rose, sambil berjalan mendekati kami
“Hallo Edward , bagaimana kabarmu,
ini Moira, pegawai baru disini” sahut Mrs.Rose.
Tangan pak Edward terulur menyalami ku,
aku menyalaminya, sepersekian detik tanganku dibawa kemulutnya,
duuh punggung tanganku diciumnya,
terasa risih sekali karena barusan bertemu,
antara keramahan dan ketidaknyamanan telah ditimbulkan oleh pria ini.
“Aku..aku..Moira..”
kataku terbata-bata karena shock akan perlakuan genitnya.
“Senang berkenalan denganmu cantik, kapan kita berlibur bersama,
kau suka dimana, pasti aku turuti,”
lanjut pak Edward, sambil matanya menatapku lekat, dengan senyum tersungging dibibirnya yang berkumis sedang .
Aku merasa sangat risih tatapan dan wajahnya begitu dekat denganku,
jarak personalku dimasukinya,
aku menarik diri mundur selangkah ke belakang supaya lebih nyaman,
gila, baru kenal sudah sangat berani dia.
“Sudahlah Pak Edward, dia anak baru disini,
dia baru boleh pulang saja setengah tahun lagi” kata Mrs. Rose.
“Oh hohoho kutunggu kau cantik, akan kujadikan kau merasakan kenikmatan dunia ini.” katanya sambil berlalu, namun matanya masih melekat memandang wajahku.

Rombongan berlanjut, berbagai orang berjalan melewati kami, rasanya dari berbagai bangsa kulihat disana,
karena berbagai bahasa kudengar dari percakapan mereka ,
ada kurang lebih sepuluh orang lagi melewati kami.
Sesudah para tamu selesai melewati kami,
Tuan Jonah dan pak Iskandar berjalan melewati kami, mereka bercakap-cakap akrab dengan para tamu dan seolah tidak mempedulikan aku dan mrs.Rose.
Dragono juga nampak berdiri mengawasi di ujung meja pemeriksaan ,
kelihatannya masih menunggu lalu lalang rombongan tamu tersebut.
Tanpa berbicara banyak Mrs. Rose berjalan mengikuti rombongan tamu Tuan Jonah dan Iskandar sambil menggamit tanganku,
walau kulihat ada beberapa prajurit sedang mengawal seseorang yang berbadan tinggi besar beberapa meter jauhnya dari aku dan Mrs. Rose berdiri
“Kita mau kemana Mrs. Rose?”
“The Arena.”Jawab Mrs. Rose lirih
“The Arena?Seperti gelanggang olahraga?” tanyaku.
Mrs. Rose meletakkan jarinya di bibir, memintaku untuk diam, suatu isyarat supaya jangan banyak bertanya.
Aku mensejajari langkah Mrs. Rose yang melangkah dengan cepat.
Setelah menyusuri lorong,
dan melewati beberapa pos penjagaan kami sampai di sebuah pos terakhir di belakang bangunan, dimana ada dua prajurit sedang berjaga, mereka segera berdiri menghormat Tuan Jonah serta pak Iskandar yang berjalan melewati mereka.

Pintu yang terbuka membuatku melihat di hadapanku nampak sel berderet ,
nampak sekilas beberapa pasang mata ada di dalamnya, yang nampaknya juga sedang mengamati kami,
aku menundukkan kepalaku sambil mengikuti jalan Mrs. Rose, aku melangkah menempel tubuh Mrs. Rose supaya terlindung tubuhku dari tatapan beberapa pasang mata yang ada didalam sel,
aku merasa takut kepada sosok-sosok yang ada di kurungan sel disampingku, aku berjalan melewatinya, jarak cukup jauh, ada sekitar tiga meter disamping kananku
dari batas aku berjalan sampai tepi sel tersebut, namun tetap kurasakan beberapa pasang mata seolah mengintai aku dan Mrs. Rose,
pada hampir ujung deretan sel kulirik ada dua sel yang tertutup, tidak berteralis seperti beberapa yang barusan kulewati, namun langsung tertutup plat besi sampai keatas,
nampaknya dua sel terakhir, sel yang punya keistimewaan khusus, terbukti dari bahan plat besinya tanpa teralis ,
seperti pintu besi ruko nampaknya.
Akhirnya setelah melewati deretan sel tadi setelah melewati pintu gerbangnya,
kami sampai di suatu tempat yang cukup besar.
Ada empat lajur tempat duduk yang terbuat dari beton yang melingkar.
Di tengah-tengah ruangan itu terdapat ring, mirip ring octagon Mix Martial Art tertutup oleh pagar kawat yang tinggi,
mungkin tingginya sekitar 3,5 meter, diatasnya diberikan kawat berduri melingkar-lingkar bergerigi tajam.
Oh inikah yang disebut The Arena?
Aku ngeri,
ring itu didirikan mirip ring octagon MMA,
dimana dulu papa sering melihat pertarungan di televisi tentang pertarungan MMA di octagon,
bedanya octagon yang disini, ada pagar kawat berduri di atasnya?
Apakah akan ada pertarungan MMA disini?
Beberapa orang kulihat sudah duduk menyebar.
Mrs. Rose duduk di lajur bangku belakang, aku duduk disebelahnya. Dari tempatku duduk dan Mrs. Rose masih nampak dari kejauhan,
sel-sel yang barusan kulewati,
nampak ada orang-orang yang bertelekan pada teralis masing-masing sedang memandang ke arah kami duduk.
Aku serasa masuk ke dunia lain, dunia yang belum pernah aku masuki.
Para tamu mulai menempati bangku beton The Arena,
aku, Mrs. Rose,
pak Iskandar dan Tuan Jonah kami duduk sederet didepan, dekat The Arena,
aku ada ditengah tengah kawanan yang baru,
asing dan menyeramkan,
belum lagi suasana The Arena yang mirip lapangan basket indoor ,
dengan lampu temaram dan cahaya matahari yang sedikit menerobos dari atas jendela kaca yang terletak tinggi mendekati atap beton yang menjulang tinggi membuatku merinding
Telapak tangan dan kakiku terasa dingin.
Apakah aku saat ini sedang masuk ke dalam dunia mimpi lagi?
Segala yang nampak di depanku nampak seperti film-film, bukan seperti kenyataan.
Aku menggosok-gosokkan punggung tangan kananku yang masih terasa bibir Edward disitu,
rasanya menjijikkan. 

GLOSSARY

Solar cell  atau sel surya atau sel fotovoltaik, adalah sebuh alat semi konduktor yang terdiri dari sebuah wilayah-besar semi konduktor dimana dengan adanya cahaya matahari dapat menciptakan energy listrik yang berguna. Pengubahan bentuk energy ini diebut efek fotovoltaik.Sel surya memilik banyak aplikasi.
Mereka terutama cocok untuk digunakan bila tenaga listrik dari Negara tidak tersedia, seperti diwilayah terpencil, satelit pengorbit bumi, pompa air, dll.

Mixed Martial Arts (MMA) adalah olahraga kontak yang memperbolehkan berbagai teknik pertarungan seperti pergumulan, tendangan, dan pukulan.Di dalam MMA, masing-masing praktisi dipacu dan dilatih untuk mengkombinasikan teknik dari berbagai cabang seni bela diri untuk melumpuhkan lawan.Wlaupun termasuk pertarungan bebas, banyak peraturan ketat yang harus diikuti parap praktisi, jika tdak ingin terkena dikualifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *