Aku tak menyangka Tuan Jonah hapal nama,
bahkan nama lengkapku.
Padahal sebelumnya berkali-kali dalam setiap percakapan dia memanggilku ‘Bocah’.
Aku baru menyadari panggilan bocah
kepadaku itu hanya untuk meremehkanku semata.
Kalimat-kalimat terakhir yang diucapkannya, semuanya untuk mengancamku.
Dimulai dari keselamatan nyawaku sampai ke keluargaku.
Ketamakannya akan uang membuatnya menghalalkan segala cara.
Oh,
jadi ini yang dimaksudkan dari kalimat Tuan Jonah pertama kali bertemu denganku,
aku melakukan tugasku dan kamu melakukan tugasmu.
“Dia baru melalui masa sulit Tuan Jonah,
tak perlu Anda ancam-ancam lagi,” ucap Mrs. Rose membelaku.
“Anda bukan manusia, Tuan Jonah!”
aku berteriak dengan sisa keberanianku.
“Hmmmh,
kau butuh ini? Terima!”, dengus Tuan Jonah sambil melempar segepok uang ke tubuhku,
menimpa bagian dadaku.
Aku merasa sangat terhina.
Ikatan uang itu memantul dan jatuh ke lantai.
“Itu hadiah dariku
untukmu, Bocah.
Sebenarnya aku bisa saja menghukummu karena kelancanganmu,
mau kusiksa kau habis-habisan,
atau kutaruh kau
tidur di salah satu sel di belakang,
tetapi hari ini hatiku sedang senang
dan…yah,
aku jadi ingin bermurah hati padamu.
Bagaimana?”
perkataannya datar
seolah mengabaikan bahwa aku masih manusia.
Tuan Jonah menyeringai, lalu dalam sekejap wajahnya berubah menjadi keras, kegeraman terpancar di wajah Tuan Jonah.
“Bawa dia pergi, Rose!”
“Moi, kita balik ke kamar, yuk,” ajak Mrs. Rose.Tangannya menarikku untuk turun dari tangga.
“Pastikan Rose,
anak ini tidak berulah lagi. Bisa kan?” timpal Dragono tak kalah garang saat menatapku,
dari sorot matanya nampak kemarahan yang ditahan.
Mrs. Rose mengangguk, seolah pasrah.
Aku menendang ikatan uang itu dan berlari keluar ruangan Tuan Jonah,
langkah sepatu Mrs. Rose terdengar berada di belakangku.
Aku bergegas menuju kamarku.
Aku membuka kunci kamarku,
dengan jari-jariku yang gemetaran.
Telapak tanganku sama dinginnya dengan pegangan pintu yang kupegang.
Susah payah aku mendorong pintu kamarku.
Kelelahan dan ketakutan kembali merambati diriku.
“Moi, aku temani di kamarmu ya,” ucap Mrs. Rose.
Aku tidak menjawab, perkataan Mrs. Rose.
Aku merebahkan diri di kasurku.
Perasaanku campur aduk antara ketakutan,
kengerian dan bayangan kematian Degardo berkelebat lagi di pikiranku, belum lagi ucapan ancaman yang dilontarkan oleh Tuan Jonah.
“Ini gila Mrs. Rose,
orang mati terbunuh di depanku.
Dan darahnya…oh, Tuhan..” aku menutup sebagian wajahku dengan bantal.
“Ya Moi, aku mengerti perasaanmu,” ujar Mrs. Rose teduh.
Sementara itu terasa air mataku mengalir lagi.
“Kau harus kuat Moi, inilah yang ada disini.”
“Dan..gelar Vicko itu 15 kali juara tak terkalahkan? Apakah maksudnya… sebelumnya…
telah ada 15 kali pertandingan dan berakhir dengan 15 kali pembunuhan di atas arena?
Oh, tidak…
ini cuma mimpi kan?
Ini mimpi kan, Mrs. Rose?”
Aku kembali terisak.
Aku sungguh tak mengira.
Kengerian tempat ini jauh melebihi perkiraanku.Raungan kesakitan Degardo saat kakinya patah,
serasa mengiang kembali di telingaku.
Aku menatap Mrs. Rose.Sorot matanya lembut dan penuh perhatian padaku.
Aku mengerjap,
“Maafkan aku Mrs. Rose.
Aku larut dalam emosiku.”
“Istirahatlah Moi,
hari ini kamu sudah melewati pagi yang sangat berat di hidupmu.”
“Tidurlah Moi,
nanti siang aku bangunkan, kita makan bersama nanti ya.”Mrs. Rose berdiri
dan beranjak pergi dari kamarku.
Aku mengangguk,
dan siang itu aku hanya sanggup termangu-mangu
di tepi ranjangku.
Sekitar dua jam kemudian Mrs. Rose datang lagi
ke kamarku membawa nampan berisi makan siang untukku.
“Makanlah Moi, supaya kamu tidak lesu seperti itu,” kata Mrs. Rose membuka percakapan.
“Aku belum lapar Mrs. Rose,” sahutku pendek.
Mrs.Rose duduk di sampingku,
di tepi ranjangku,
sementara nampan berisqi makan siang diletakkannya di atas lemari pakaianku.
“Oh ya,
empat hari lagi,
Tuan Jonah akan kembali ke ibukota.
Dia ambil cutinya tiga hari, lalu kembali kemari membawa logistik.
Paling tidak dalam empat hari ini kamu sudah punya catatan awal para penghuni pulau ini untuk dilaporkan kepada pimpinan Tuan Jonah,
yakni Jendral Manton.
Beliau adalah ayah Risty.Kalau ada barang-barang yang kamu butuhkan,
kamu bisa titip dengannya.”
“Masih perlukah di data, Mrs. Rose?
Bukankah tempat ini akan segera ditutup?”
“Itu kata Tuan Jonah,
entah kebenarannya bagaimana aku tidak tahu.Yang pasti,
saat ini tempat ini masih beroperasi.
Itu berarti kita masih harus melakukan tugas
tanggung jawab kita disini, bukan?
Aku sudah menyusun jadwal untukmu.
Sore ini kita berkeliling pulau ya, ditemani Pak No. Sekaligus sebagai terapi alam.”
Aku menggumam, “Terapi alam untuk menghilangkan efek traumaku ya Mrs. Rose?”
“Ya Moi,
sekaligus sebagai refreshing, hehe..
Kita mulai dengan
yang menyenangkan dulu ya Moi,
karena jujur saja penghuni disini kasusnya berat-berat.”
“Mrs. Rose,
saya butuh data psikologi mereka di masa lalu, adakah?” pintaku pada Mrs. Rose.
“Bisa diusahakan.
Aku akan minta bantuan Jeff untuk mengakses data masa lalu mereka.
Inilah kelebihan kita, Moi.Akses kita tanpa batas, karena akses negara.
Data sekolah,
kesehatan,
wilayah yang pernah dikunjungi,
keluarga,
keuangan, pajak,
apapun bisa kita dapatkan.
Semoga besok siang sudah tersedia.
Oke.
Aku pamit dulu istirahat Moi. Nanti sekitar jam empat sore, kita keluar jalan-jalan ya, jangan lupa setelah ini makan dulu,
aku sudah bawakan ke kamarmu.”
Mrs. Rose menepuk punggungku lembut
lalu keluar dari kamar.
Ia menutup pintunya dengan hati-hati dan perlahan.
Oh, Tuhan.
Tempat macam apa ini? Mengapa aku bisa berada di tengah-tengah kengerian yang tidak berujung,
dan aku tidak mampu menghalangi ataupun berbuat sesuatu untuk mencegah peristiwa brutal yang terjadi di depan mataku.
Kepalaku terasa pening.
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mengakhiri pembunuhan manusia di depan mataku,
apalagi aku jelas tak mampu
menyadarkan Tuan Jonah,
bahwa apa yang dilakukannya sangat mengerikan.
Sebaliknya komandan tertinggi Chimera itu
begitu yakin bahwa
apa yang dilakukannya memprovokasi serta merekam pembunuhan, adalah hal yang benar
demi kepentingan militer.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Gila.
Ini gila.
***
Aku sudah siap kala jam empat sore,
lagi-lagi Mrs. Rose datang tepat waktu.
Aku diajak keluar dari kamar,
bersama dengan dia terasa lebih nyaman bagiku, melewati beberapa prajurit, mereka menghormat pada Mrs.Rose dan aku,
dari sorot mata mereka nampak melirik diriku.
Entah apa yang mereka pikirkan.
Aku melihat sosok bertubuh kecil,
sedang berdiri mematung dihadapan kami,
memakai kaos putih dengan handuk tipis nampak menggantung di lehernya, wajahnya yang datar seolah tidak mempunyai ekspresi.
“Pak No,
tolong antar kami keliling pulau, Ya.”
Ucap Mrs. Rose kepada pria yang berdiri mematung tadi, bertubuh sedang,
berwajah polos berkumis tipis.
Aku ingat dalam presentasi Mrs. Rose yang lalu disebutkan dialah Pak Johno, orang yang dipercayai menjaga kebersihan
dan tukang masak di pulau Chimera.
“Ya, Mrs. Rose, ya.”
jawabnya seolah seperti orang menggumam.
Mrs. Rose membuka akses pintu gerbang dengan scan sidik jarinya,
dengan pindai jari tangan Mrs. Rose,
gerbang Chimera terbuka. Sebenarnya aku juga ingin mencoba pindai tanganku, apakah aku punya akses juga untuk membuka gerbang kengerian ini?
Mungkin sewaktu-waktu
aku perlu melarikan diri dari tempat mengerikan ini?
Saat pintu gerbang pertama terbuka,
nampaklah si raksaksa gundul,
Dragono sedang berbincang-bincang dengan dua prajurit yang menyandang senjata laras panjang di depan.
“Dragono,
kami mau keluar, melihat-lihat pulau,” ucap Mrs. Rose.
Pria gundul tinggi besar itu menatap kami. “Hmm..ombaknya sedang besar,
berhati-hatilah Rose,
jangan terlalu dekat pantai.”
Mrs. Rose tersenyum
dan melambaikan tangannya.
Terasa perhatian Dragono kepada Mrs. Rose
saat menyuruh berhati-hati, dibandingkan sikap datar Dragono saat Tuan Jonah marah besar di ruangannya tadi pagi…
ah,
aku bisa menebak apakah Dragono menaruh hati kepada Mrs. Rose?
Kami mulai melangkah keluar,
Mrs.Rose seperti tour guide bagiku,
dia menjelaskan dengan rinci setiap apa yang kami lewati.
“Itu pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin pulau Chimera, Moi. Pulau ini tak akan kekurangan energi listrik. Disana ada peternakan ayam dan sebelahnya kebun sayur organik.
Penjaga-penjaga disini bergiliran mengelolanya.Tapi semua yang mengepalai tetap pak No.
Ya kan, Pak No?”
“Iya, Mrs. Rose, iya.
Disana ada peternakan sapi.Itu untuk mencukupi konsumsi kita.
Tapi agak bau, ya bau.”
ucap Pak No, masih dengan nada seperti menggumam, kepalanya banyak menunduk,
tidak memperhatikan wajah lawan bicaranya.
Aku dan Mrs. Rose mengikuti langkah Pak No.
Aroma kotoran binatang tercium hidungku.
Aku menutup hidungku dengan tangan.
Setumpuk kotoran sapi ada di depan mataku,
membujur setinggi pundakku.
“Pak No, apakah kotoran sapi ini mau dijadikan kompos ya ? Mengapa kotorannya tidak dijemur saja supaya cepat kering dan tidak bau?” tanyaku.
“Ya, itu mau dijadikan prebiotik, ya.” sahut Pak No.
“Prebiotik, Pak No? untuk apa itu?” tanyaku terheran-heran.
“Itu nanti diolah lagi, itu dicampurkan ke rumput kering,
jerami, proses lagi bisa jadi pakan ternak kering itu.
Ya, jadi pakan ternak lagi.”
Aku tidak bertanya lagi, sudah cukup banyak peristiwa di pagi tadi.
Oh iya,
walau nampak pendiam namun aku masih dapat mengingat bahwa Pak Johno ini ahli dalam herbal,
aku diam-diam kagum akan kecerdasannya,
walau dia juga ditengarai mempunyai gangguan pada masa lalunya.
Terlihat di beberapa tempat di atas gundukan kotoran sapi itu tumbuh jamur-jamur bermekaran beraneka ukuran.
“Astaga, jamur.Oekk..,” aku nyaris muntah.
Mrs. Rose menarik tanganku untuk meninggalkan tempat itu.
Kami berjalan menuju pinggir pantai.
Ombak bergulung-gulung mencapai pantai.Deburannya serta hembusan angin laut membuaiku seolah saat ini kami berada di tempat wisata.
“Disana ada speed boat juga Moi. Itu speed boat inventaris pulau kita. Kuncinya ada di ruang Tuan Jonah,
tapi bensinnya kosong.” Tutur Mrs. Rose layaknya pemandu wisata kawakan.
Aku menatap ke lokasi pinggir pantai,
disitu tertambat perahu speed boat dalam posisi sudah di area yang tidak berair lagi,
dengan lilitan rantai besi dan gembok,
yang tampak kokoh menjaganya.
“Wah,
tidak bisa kita pakai ya, buat keliling-keliling,” ucapku dengan nada tak bersemangat.
Pak No menjauhi kami dan memunguti kerang-kerang di pantai.
Ia berjongkok seperti anak kecil lalu menundukkan kepalanya memandang pasir yang ada di sekitar kakinya, seolah aku dan Mrs. Rose tidak ada di situ.
“Bisa dong. Kita ambil kuncinya dulu di ruang Tuan Jonah,
terus ambil jerigen bensin di gudang logistik.
Terus greeeng,
kita bisa keliling deh.
Tapi kamu yang nyetir ya Moi.
Asal jangan terbalik lho, hahaha.”
Mrs. Rose menghentikan tawanya, ia menoleh kepadaku yang diam tak merespon gurauannya.
“Moi?
Kamu sakit?” tanya Mrs. Rose, ada nada kuatir di sana.
Aku menatap Mrs. Rose tepat di kedua bola matanya.
Aku menggengam tangan kanannya dengan kedua tanganku.
“Mrs. Rose,
bisakah tolong menjawab satu pertanyaanku, d
an aku minta jawablah aku dengan sejujur-jujurnya?”
Keriangan di wajah Mrs. Rose sirna.
Ia berdehem dan memhembuskan nafas perlahan. “Pertanyaan apa, Moi?”
Aku menarik napasku dalam-dalam
dan keluarlah pertanyaan yang selama ini berkecamuk dalam jiwa dan pikiranku. “Pertandingan Vicko itu telah 16 kali dilakukan.
Dan semua lawannya yang dikalahkan tentu mati di arena.
Apakah…
papaku,
Kapten Marinir Gepardi adalah salah satunya?”
Aku melihat mata Mrs.Rose sedikit membelalak, mulutnya dengan cepat menjawab pertanyaanku, selain terkejut, kutangkap kejujuran dalam raut mukanya saat ia menjawabku,
“Tentu saja tidak Moi, bukankah papamu hilang saat tugas melawan separatis?
Mengapa kau tanyakan hal itu kepadaku?”
Aku memalingkan wajahku sambil memandang ombak yang berdebur-debur,
aku menjawabnya
“Entahlah Mrs. Rose, mungkin aku kelelahan dan stress, sesudah peristiwa mengerikan hari ini, maafkan aku ya Mrs. Rose.”
Kami terdiam,
aku berjongkok lalu duduk di pasir.
Menatap deburan ombak sanggup membuat pikiranku agak tenang.
Mrs. Rose berjongkok di dekatku,
kami saling tidak bersuara beberapa waktu.
Aku memahami Mrs. Rose membiarkanku larut di pemandangan pantai.
Entah berapa lama aku menikmati pemandangan pantai,
Mrs. Rose menggamit lenganku,
“Ayo Moi,
kita balik kamar. Sudah mulai senja.”
Aku berdiri,
bergandengan dengan Mrs. Rose berjalan menjauhi pantai.
Pak Johno juga melangkah di belakang kami.
*****
Sesudah makan malam,aku balik ke kamarku, mempersiapkan diri untuk bertemu langsung dengan para penghuni Chimera esok hari.
Berkas pekerjaan kumasukkan dalam map plastik,
aku rasa sudah cukup persiapan kerjaku esok hari.
Aku merasakan kelelahan dan beban mental yang berat ada di pikiranku.
Aku duduk bersila di lantai.Aku merelaksasi diri, membayangkan diriku di tempat yang kusukai, mengingat hal-hal yang membuatku nyaman, ingatanku pada suasana masa kecilku membuat diriku tenang.
tetapi hal itu tak berlangsung lama, telingaku menangkap suara teriakan kesakitan di belakang sana ,
qqmungkin arah lorong sel, dekat The Arena.
Ada apa lagi di sana ?Mengapa terdengar teriakan seperti itu?
Aku merasa tidak nyaman lagi,
aku membaringkan diri di tempat tidurku,
kututup wajahku dengan bantal,
supaya suara mengerikan tadi tidak terdengar,
walau dalam hatiku ketakutan, akhirnya aku bisa terlelap juga.
***
Pagi ini Mrs. Rose menjadwalkanku untuk mengobservasi tiga orang penghuni berbakat Chimera. Jeff The Hacker, Henry
serta Ronaldo.
Kami menghabiskan sarapan dengan cepat.
“Moi, selalu ingat bahwa tugasmu mencatat,
bila perlu mengajukan beberapa test psikologi untuk beberapa penghuni disini, kau laporkan ke Tuan Jonah dalam bentuk softcopy,
biar tim di belakang Tuan Jonah yang memberikan hasil dan interpretasinya,” ucap Mrs. Rose.
“Oh, ada tim psikologi juga di sekitar Tuan Jonah ya Mrs. Rose?” tanyaku keheranan.
“Ya Moi,
mereka adalah para psikolog
yang bekerja untuk negara, berikutnya beberapa berkas pengujian psikologi di sampaikan kepadaku via email, aku printkan untuk membantu pekerjaanmu.”
“Lalu buat apa peranku,
bila sudah ada yang ahli di sekitar Tuan Jonah?” tukasku.
“Moi, bukankah proyek ini tinggal dalam hitungan bulan?
Kamu direkrut dengan tujuan sebagai jembatan ke psikolog pemerintah, d
an saat kamu menyelesaikan tugasmu disini,
kamu resmi menjadi pegawai pemerintah. Bukankah itu hal yang luar biasa bagimu?”
Aku terdiam,
mencoba
memahami kalimat Mrs. Rose.
Ayo Moi, kita ke depan,
Jeff seharusnya di sel
di belakang,
tapi ia saat ini ada di ruang mess penjaga, kepandaiannya membuat Tuan Jonah memberi kepercayaan kepadanya untuk mengelola transaksi pertarungan,” ucap Mrs. Rose.
Lagi-lagi terasa bahwa Tuan Jonah mempunyai kuasa yang besar di sini,
bahkan
sangat mutlak dan absolut.
Aku berjalan di sisi Mrs. Rose, mengimbangi langkahnya yang ringan dan cepat.
“Prajurit, kami ingin bertemu dengan Jeff,” ucap Mrs. Rose.
“Silahkah masuk Mrs. Rose.Jeff ada di dalam,” sahut salah seorang prajurit penjaga.
“Pagi Jeff.Aku datang bersama Moira, nih,” sapa Mrs. Rose hangat.
Jeff, pria muda sebayaku, berkacamata mengenakan sweater tanpa lengan itu menoleh sejenak dari laptopnya,
“Hmm…pagi, Mrs. Rose.”qq
“Hello Jeff, aku Moira,” sapaku.
“Hmm..ya..,” sahut Jeff tanpa menoleh padaku.
“Ayo Jeff,
Moira ini punya tugas untuk mendata dirimu
kalau kamu kooperatif padanya,
kamu bisa cepat bebas dari sini,” ujar Mrs. Rose.
“Bagiku berada dimanapun sama saja Mrs. Rose.
Mau kapanpun bebas, q
aku oke-oke saja.
Asalkan ada komputer serta internet seperti ini,
aku sudah bahagia.
Ini data yang Anda minta Mrs. Rose.
Berkas psikologi data lama, dari semua penghuni di pulau ini, ada di sini.Termasuk aku.” jawab Jeff sambil memberikan sebendel kertas.
Mrs. Rose menerima kertas-kertas yang diberikan Jeff padanya.
“Trims, Jeff.”
“Moi,
kamu duduk di depan Jeff. Jeff kamu matikan dulu komputermu dulu.
Biar Moira bisa bekerja.”
kata Mrs. Rose halus kepada Jeff.
“Aduh,
jangan lama-lama.
Aku lagi repot,” desis Jeff.
“Applenya ditutup dulu,” ulang Mrs. Rose lembut.
“Pagi Jeff.
Mohon maaf,
aku Moira mengganggumu
di tengah kesibukanmu.
Aku ditugaskan untuk mendata dirimu dari sisi ilmu psikologi.”
“Data psikologiku sudah aku berikan kepada Mrs. Rose barusan.
Data pribadikupun
ada semua disana.
Kurang apa lagi?
Ayolah Mrs. Rose,
diakan anak kemarin sore.”
protes Jeff.q
Aku tertegun,
walau aku bertutur dengan hati-hati,
nampak dari cara bicaranya Jeff tidak menyukaiku dan juga meremehkanku,
“Semua data yang kamu berikan akan aku pertanggunjgwabkan dan aku rahasiakan seumur hidupku.
Maaf ya Jeff,
biarkan saya mendata
dan mencatat semua penghuni yang ditugaskan oleh pemerintah padaku.”
Jeff menjawab sambil tetap asyik dengan Apple -nya.
“Yaa,
kalau kamu bisa mendapat informasi
kapan aku bisa lepas dari pulau ini, secara pasti,
aku apresiasi dirimu.
Bisa berkumpul dengan keluarga lagi,
lalu bisa ngelanjutin kuliah S2 ku lagi.
Nah itu baru info yang menguntungkan diriku.”
“Okey, okeeey deh.
Kita buat ini menjadi mudah saja ya.Cepatlah tanya-tanya semua yang ingin kalian ketahui.
Sebenarnya memang enak juga disini, bisa bantu negara. Tapi statusnya itu yang tidak jelas.” lanjut Jeff mencerocos seolah protes padaku.
Mataku beradu pandang dengan Mrs. Rose,
rasanya enggan bicara lagi dengan Jeff,
walau kami sebaya
ternyata Jeff menjengkelkan.Sulit diajak bekerjasama.
Mrs. Rose menangkap arti pandanganku.
Aku mengambil nafas panjang,
lalu berdehem,
dan memulai pertanyaanku.“Mengapa kamu meretas situs-situs negara, Jeff?”
Aku mendapatkan responnya,
Jeff memandangku.
Ia mengambil posisi duduk relaks dan menjawab.
“Itu…demi pencapaian, Moi.Pencapaian.
Siapa sih yang tidak kepingin menjadi seperti George Hotz, Adrian Lamo,
Jim Geovedi,
Anonymous?
Itu semua obsesi kami.Menjadi hacker terhebat.”
Aku mengenal nama yang disebutkannya.
Mereka tak lain adalah hacker-hacker terkenal yang sulit dilacak keberadaannya.
Kemampuan mereka meretas sangat luar biasa, dan rupanya inilah
yang memunculkan obsesi bagi Jeff,
menjadi hacker yang handal.
“Saat mencoba meretas, kalau berhasil aku puas.
Lalu aku mencoba membayangkan yang lebih tinggi lagi,
sampai akhirnya tertangkap,” tambah Jeff.
“Maaf Jeff.
Tolong jawab pertanyaan-pertanyaan ini ya,
supaya aku bisa mendata status psikologimu saat ini.Tolong ya Jeff.”
Jeff menerima formulir daftar pertanyaan,
bahan pengujian psikologi yang kuberikan.
“Ayo, dibuat sekarang,
kita tungguin Jeff,” ujar Mrs. Rose.
“Hadeeh, Mrs. Rose seperti dosen saja.”
Dua jam berlalu.
Kulihat Jeff dengan serius telah menjawab semua lembar pengujian yang kuberikan.
“Oke Jeff,
terima kasih atas waktunya. Aku pamit dulu ya.
Ini ballpointmu,
aku kembalikan,” ucapku.
Jeff menerima kembali ballpointnya tanpa suara,
dia memutar kursinya kembali menatap ke monitor komputer.
Rupanya ada dua layar monitor di situ,
satu untuk komputer Jeff,
satunya untuk pantauan CCTV pulau Chimera.
Rupanya Jeff juga punya akses untuk memantau seluruh pulau itu.
Belum lagi tablet Apple yang ada di meja kerja,
wah benar-benar istimewa juga Jeff ini,
dunia ada di genggamannya, walau dia terpenjara di Chimera.
“Yuk, kita ke belakang,
ke selnya si ganteng Henry,” ujar Mrs. Rose sambil mencolek sikutku,
“Walau kelihatan
tidak berbahaya, kemampuan Henry sanggup mengacaukan pikiran, Moi. Kamu perlu hati-hati lho.”
Wanita itu menepuk punggungku.
Tanpa dikatakan,
Mrs. Rose mencoba menggugah semangatku untuk bertemu sosok pria terganteng di pulau Chimera.
Aku berjalan mengikuti Mrs. Rose,
aku benar-benar berharap pertemuanku dengan Henry bisa menyegarkan,
tidak seperti Jeff yang walau sebaya,
tetapi nampak menyebalkan.
GLOSSARY
Terapi alam Atau dikenal sebagai Ecotherapy adalah salah satu dari terapi psikologi/ psychotherapy,
dengan memanfaatkan alam sebagai media terapi.
Studi menyatakan bahwa melakukan kegiatan luar ruangan di alam menurunkan tingkat stressor secara memuaska