Chapter 6 Henry, Pria Ganteng Ahli Telepati

Kami berjalan menuju 

sel Henry yang terletak 

di belakang.

Dari arah kami berada sekarang, 

yaitu mess penjagaan depan, kami harus melewati dua pos penjagaan prajurit, 

pos penjagaan tengah 

dan pos penjagaan belakang.

Setiap pos penjagaan terletak, 

selalu menghadap 

pintu yang kokoh 

terbuat dari besi, 

pos penjagaan terdapat 

dua prajurit dan ada satu meja berukuran tanggung, serta dua tempat duduk prajurit yang berjaga.

Jantungku terasa berdebar, entah kenapa, 

atau mungkin hendak bertemu dengan pria tertampan di pulau Chimera?

Mungkinkah Henry wajahnya setampan di foto ? 

Atau bahkan lebih ? 

Dan bagaimana kemampuan telepatinya yang istimewa?

seperti apakah kemampuannya itu?

Oh 

pikiranku bercampur aduk saat teringat hal tentang Henry.

Saat melewati pos penjagaan tengah, 

dua prajurit berdiri 

dan menghormat kepada kami.

Aku melihat pada Mrs. Rose, dan berpikir betapa ketatnya penjagaan di sini. 

“Kalau penjagaan tidak optimal, 

Henry bisa memanipulasi pikiran penjaga,” 

ujar Mrs. Rose seolah mengetahui isi pikiranku.

“Bisa-bisa semua pintu dibukakan oleh penjaga ya Mrs. Rose,” sahutku.

“Ya, dan Henrynya kabur deh, haha.”Mrs. Rose tertawa. 

Tibalah kami di pos penjagaan belakang, 

yang paling akhir, 

sebelum kami mencapai sel-sel dimana para tahanan spesial ada di sana, 

aku berjalan di belakang Mrs.Rose,

menutupi tubuhku 

dan wajahku 

dari pandangan mata orang-orang yang ada di sel-sel yang letaknya berhadapan dengan pos penjagaan prajurit, sementara The Arena terletak di sudut kiri dari pos penjaga.

Dua prajurit berdiri 

dan menghormat pada 

Mrs. Rose, 

Mrs.Rose berkata kepada 

dua prajurit tersebut, 

“Kami hendak bertemu dengan Henry,” sambil menunjuk lurus ke depan.

Oh, 

ternyata sel Henry 

letaknya berhadap-hadapan dengan pos penjaga.

Salah satu prajurit berjalan mendahului kami, 

membuka sel tempat Henry berada. 

Untuk mengatasi kecangguanku, 

sambil menata pikiranku dan raut wajahku 

yang belum nyaman, 

aku tetap berjalan di belakang mengikuti 

Mrs. Rose.

Aku melihat ke samping kiriku, 

nampak ring Octagon di tengah The Arena, 

aku bergidik ngeri, 

bayangan kematian ada di sana.

Seorang prajurit membuka sel Henry, 

“Henry, kamu dapat kunjungan.”

“Mrs. Rose, 

ini aku bawakan kursi,” 

ucap prajurit lainnya.

“Terima kasih,” Mrs. Rose menjawab sambil menerima kursi plastik yang dibawakan. 

Mrs. Rose berjalan maju sambil menenteng dua kursi plastik yang diberikan prajurit  itu.

Kondisi sel Henry sekilas nampak sama dengan kamarku, 

sempit.

Kami berjalan beringsut pelan, 

di kiriku terdapat lemari pakaian, 

di samping kananku ranjang, sekilas wajah Henry nampak dari punggung Mrs. Rose.

Sementara Mrs. Rose setengah membungkuk menata kursi plastik di tengah lorong sel Henry, 

aku beradu pandang dengan Henry, 

sosok insan tampan 

terlihat jelas olehku.

Wajahnya yang rupawan berambut tebal lurus, 

disisir ke samping kiri, poninya yang lebat ada di atas alis kirinya. 

Hidungnya yang mancung dengan sorot matanya memandangku, 

alisnya tebal dan bentuknya menyenangkan hati kaum hawa. 

Kulitnya kuning langsat tertimpa oleh cahaya lampu, sementara badannya nampak atletis dengan tonjolan otot  terbalut kaos putih, 

memang tidak seperti otot para prajurit kebanyakan, namun Henry termasuk atletis.

Hidung Henry yang mancung membuatku tahu bahwa tinggiku sekitar hidungnya, 

sosok yang tampan, 

atletis dan menawan, hemmm.

Henry tampil modis dengan celana jeans biru sebatas lutut.  

Pria itu nampak santai, menatapku, 

pandangannya terlihat jauh, Duuh…

menghanyutkanku.

“Henry, 

kenalkan ini gadis yang istimewa. 

Lulusan cumlaude dari psikologi, Moira,” 

ucap Mrs. Rose.

“Oh, hallo Moira. 

Kamu yang kemarin lari-lari di lorong selku sambil menangis kan? 

Sekarang aku bisa menatap kamu langsung. 

Kamu lebih cantik, 

kalo tidak lagi menangis, Moi.” 

Henry berkata 

sambil tersenyum.

Aku menunduk malu.

Henry melihatku menangis. Aduh, 

memalukan sekali. 

Harga diriku jatuh kandas dihadapannya, 

bahkan sebelum aku memulai percakapanku dengannya.

Setelah mengatur perasaanku agar tenang, 

aku menegakkan kepalaku. “Hallo Henry, 

aku Moira. 

Ijinkan Moi mendatamu ya, karena ini menjadi tugasku.”

Henry tidak menjawab perkataanku, 

senyumnya tetap mengembang tipis 

di wajahnya, 

lalu kulihat Henry menaruh telunjuk kirinya ke keningnya.

Aku mendengar suara 

yang tiba-tiba menerobos pikiranku , 

“Hallo cantik, 

terus terang aku senang sekali dikunjungi olehmu. Silahkan lho, 

kamu mau minta apa saja dariku. 

Kalau aku bisa, 

niscaya aku berikan, Moi.

Kamu juga boleh mendata aku sehari-harian, berminggu-minggu, 

atau selama-lamanya juga aku rela. 

Hehehe.” 

Aku terkesiap, 

kulihat bibir Henry 

tetap diam 

tidak mengucapkan apapun, rupanya Henry menggunakan telepati 

untuk berbicara denganku melalui pikiran.

“Haa…

eh, apa-apaan ini?” seruku. 

Aku kembali menatap Henry seolah tak percaya. 

Bibir Henry tetap menyunggingkan senyum, matanya mengerjap, 

ada kerling nakal di sudut matanya, 

duh, 

pria ini memang sedang menggodaku 

lewat kemampuan telepatinya.

“Sudah begitu lama 

aku tidak bertemu gadis secantik dirimu, 

bolehkah aku menjadi pacarmu Moi?”

Aku terpesona dengan suara-suara yang memenuhi kepalaku. 

Tanpa sadar aku menjatuhkan map plastik berisi berkas-berkas , 

dan berkas-berkas nampak berhamburan di lantai.

“Hahaha…

dia grogi 

akan kegantengan 

dan kemampuanku, 

Mrs. Rose.” kali ini Henry benar-benar tertawa, 

suara ketawanya sampai memantul di ruangan selnya.

“Henry, kamu bawaannya usil ya, 

kalau ketemu yang cantik-cantik.” Mrs. Rose menimpali candaan Henry.

Henry membungkuk, membantuku mengumpulkan berkas-berkasku. 

Mrs. Rose tetap duduk sambil melihat kami mengumpulkan berkasku, wajahnya terlihat ceria.

“Moi, selain mendataku.Kamu juga bisa lho berbicara dengan pikiranmu ke aku.Mudah banget kok. 

Nanti aku ajari. 

Jadi kita berdua bisa berbicara rahasia kapanpun, tanpa ada orang lain ataupun cicak di dinding yang mencuri dengar.”

“Oh, itu tadi telepatimu 

ya Henry. Ternyata telepati seperti itu.” aku menjawab sekenanya untuk menutupi grogiku, sambil memungut berkas yang meluncur sampai di kolong ranjang Henry.

Tak lama kemudian aku dan Mrs. Rose duduk 

di kursi plastik sementara Henry  duduk di sisi ranjang untuk berbincang-bincang. Kami berbincang-bincang layaknya akrab dengan seorang teman lama.

Aku memutar pandanganku ke belakang, 

dari arah sel Henry 

nampak jelas ring octagon 

di tengah The Arena, rupanya dari ranjang Henry pun nampak pertarungan yang kemarin terjadi.

“Henry apakah kamu juga menggunakan telepatimu untuk berkomunikasi dengan keluargamu?” tanyaku ingin tahu.

“Tentu saja ya. 

Aku bisa bisa berkomunikasi dengan mereka, 

karena kita sebelumnya sudah pernah berkomunikasi, 

telepati itu layaknya seperti frekuensi radio Moi, 

tinggal masuk di jalur 

yang pas frekuensinya 

maka engkau bisa berkomunikasi.” 

jelas Henry panjang lebar.

Sesaat Henry terdiam, wajahnya seperti seseorang yang mengalami ketakutan, matanya nampak memincing, 

pandangannya seperti mengingat sesuatu yang berat, 

sambil menarik napas dalam, 

Henry meremas-remas buku jari tangannya, 

sesaat kepalanya menunduk seolah berfikir keras, kurasakan ada kegelisahan di sana.

Setelah nampak tenang, Henry mendongak ke arah kami, 

kemudian wajahnya disorongkan maju 

antara aku dan Mrs. Rose. 

Dengan nada lirih

dan hati-hati Henry berkata, “Selain itu, aku juga bisa mengetahui ada orang lain yang bisa melakukan telepati juga di tempat ini. 

Sayangnya aku tidak tahu siapa orangnya. 

Tapi semakin hari, 

kekuatan telepatinya makin meningkat, bisa mengalahkan aku. 

Sampai aku tidak bisa menembusnya, 

menembus percakapan telepatinya.”

Aku dan Mrs. Rose tertegun, antara keheranan dan terlihat ada hal yang misterius dari ucapan Henry, sementara wajah Henry nampak menegang 

saat mengucapkan hal tersebut, 

berbeda sekali saat aku dan Mrs. rose berjumpa di awal, beberapa menit yang lalu.

Henry kembali merendahkan suaranya 

lalu berkata, 

“Dan ada sedikit celah kudengar 

akan ada konspirasi besar dan mematikan 

akan terjadi disini.”

Aku terlonjak.

“Konspirasi mematikan? Pembicaraan telepati siapa dengan siapa ?“

Henry menggeleng, 

terlihat lemah dan pasrah, ” Aku tidak tahu siapa saja mereka itu, 

tapi aku yakin beberapa orang penghuni di sini.”

Henry mendongak, 

matanya memandang tajam kepada Mrs. Rose 

“Mrs. Rose, 

aku harap, 

aku bisa segera keluar dari tempat ini. 

Kekuatan gelap, 

berbahaya, 

dan penuh aroma kematian menakutkanku,” 

ucap Henry memohon.

Mrs. Rose menggenggam tangan kanan Henry, 

“Henry, 

tidak pernah aku lihat kamu ketakutan seperti ini. 

Siapa yang berani bermain-main di sini?”

“Ini diluar jangkauanku, Mrs. Rose, 

aku tidak tahu siapa mereka.” ucap Henry kembali tertunduk lesu.

Aku merasa mendapatkan teman, 

teman yang senasib 

karena merasakan ketakutan. 

Tak berapa lama meluncurlah kalimat-kalimat yang tanpa sempat aku pikirkan terlebih dulu sebelumnya.

“Sebenarnya sama seperti perasaan Henry. Sebenarnya…

Ah, 

aku bukan seseorang 

dengan kemampuan

pre cognition, melihat jauh ke masa depan 

seperti…

seperti salah satu insan berbakat disini, 

tapi sebelum aku diterima bekerja disini, 

aku sudah bermimpi berkali-kali 

bahwa tempat dengan logo segitiga singa, 

naga, serta kambing. 

Saat aku datang ke tempat ini seperti de javu bagiku,

ini mengerikan bagiku, Mrs. Rose.

Aku ingat dalam mimpiku ada wanita yang menangis darah dan mencoba keluar dari gerbang depan Chimera. Akankah ada yang mati lagi disini? 

Oh, Mrs. Rose.” 

Aku menyilangkan tangan 

di depan dadaku berusaha menahan tubuhku yang mendadak menggigil.

Mrs. Rose bangkit berdiri dan memelukku. 

“Tenang Moi, 

ada aku disini kan? 

Kau sudah ditetapkan untuk ada di sini, 

dan tidak lama lagi kau sudah selesai kontrakmu, hanya enam bulan, 

masa depan cerah menantimu Moi.”

Mrs. Rose menatap Henry.“Henry, kamu mendengar itu di saat pagi, siang atau malam?”

“Lalu lintas percakapan mereka tidak mengenal waktu. 

Dan sayangnya mereka bisa mengunci pikiranku saat itu.Hingga aku tidak bisa mengikuti percakapan mereka seluruhnya.Kengerian ini sangat mencekamku Mrs. Rose.”

Henry kembali terdiam, 

dia nampak mengatur nafasnya, 

dari sorot matanya kutangkap ketakutan teramat sangat di sana.

Saat aku melihat 

Henry berkata-kata,

tak terasa seperti terhenti nafasku, 

mengapa kengerian susul-menyusul di tempat ini? 

Sejenak sesudah Henry 

dapat menguasai dirinya, 

dia berkata dengan lemah, “Mereka yang berkomunikasi lewat telepati menginginkan kematian. 

Akan ada banjir darah di tempat ini, 

dan waktunya tidak akan lama lagi. 

Hanya saja aku tidak tahu pasti kapan waktunya.Yang aku tahu, mereka menginginkannya segera.Mereka sangat haus darah.”  Henry memundurkan wajahnya, 

lalu mendongak ke atas sambil tangannya meremas-remas tepian ranjangnya.

“Yang pasti, 

pemimpin tempat ini 

tidak bisa diandalkan,” ucapku geram.

Henry menatapku, 

“Ya. 

Saya rasa kamu benar Moi. Pimpinan tempat ini 

bisa jadi adalah sumber segala kengerian, 

dan ini akan berlanjut.”

“Jangan berprasangka jelek dulu,” sergah Mrs. Rose.

“Kalau bukan dia, 

siapa lagi Mrs. Rose? Pertandingan Vicko itu… Pertandingan a la gladiator yang sadis, 

atas ide siapa, 

kalau bukan ide dia?” 

kataku berapi-api.

“Ssst  pelankan suaramu,” bisik Henry mengingatkan.

“Di tempat ini, 

di atas darah Degardo 

serta 15 orang lain, 

orang itu malah menimbun kekayaan,” ucapku lagi dengan nada lirih, 

walaupun hatiku kesal.

“Kamu perlu obat tidur Henry, 

untuk malam ini?” 

tanya Mrs. Rose.

Henry menggeleng, 

“Aku lebih suka 

dalam kondisi terjaga penuh Mrs. Rose. 

Aku rasa,

mungkin dengan terus terjaga 

aku bisa mendengar sesuatu lagi yang lainnya.  

Yah, aku berharap demikian. Kalau aku tidur, 

aku tidak bisa mendengar apapun…

dan..

andai  benar terjadi sesuatu, setidaknya aku bisa berbuat sesuatu.”

Aku terhenyak, 

tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam, 

“Henry, 

kudengar teriakan dari sini semalam, 

suara seperti orang kesakitan,

apa yang terjadi di sini semalam Henry ?”

Henry memandangku dengan tajam, 

“Oh kau belum tahu kebiasaan para prajurit di sini ya Moi, 

mereka bergantian sering memukuli Vicko, dan juga Rado, 

karena tingkah laku mereka sering membangkang, 

tadi malam jeritan Rado yang kau dengar.”

Mrs. Rose menimpali, “Kadang saja Moi, 

para prajurit memberikan semacam shock therapy untuk para tahanan 

yang membangkang di sini.

Selain juga untuk memunculkan potensi mereka.”

“Tempat ini bagaikan neraka Mrs. Rose.

Mengapa Tuan Jonah 

tidak mau memperlakukan para insan di sini dengan lebih manusiawi? 

Mereka punya hak sebagai manusia untuk di lindungi.” sergahku, 

rasa sakit hatiku kembali merekah. 

Mrs. Rose tidak menjawab, bahkan menyuruhku 

untuk segera memberikan lembar pengujianku

kepada Henry.

Saat itu aku merasa bahwa pendampingku ini, 

yaitu Mrs. Rose terlihat membela Tuan Jonah, 

aku merasa kecewa akan sikapnya.

Setelah aku memintanya mengisi lembar bahan pengujian psikologiku, sekedar untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaanku di Chimera, 

kami meninggalkan Henry.

Kami berpamitan pada Henry, 

nampak Henry berusaha tersenyum saat kami pergi, Henry berkata, 

“Jangan kapok mampir ya Moi, kutunggu ya.” 

Ada senyum di wajahnya yang tampan, 

tapi seolah-olah senyum yang dipaksakan.

Mrs Rose memberi isyarat kepada prajurit yang berjaga, lalu prajurit Rupert datang dan mengambil dua kursi plastik dari dalam sel Henry, lalu segera menguncinya dari luar.

Aku berjalan gontai 

di samping Mrs. Rose menyusuri lorong Chimera yang lengang dan keras.

“Aku merasakan depresi menghadapi ini semua, 

Mrs. Rose.” ujarku lemas.

“Kamu tidak bisa mundur, Moira. 

Kita bisa lalui ini bersama, percayalah. 

Setelah makan siang, 

kita ketemu Ronaldo.”  

Ucap Mrs. Rose 

lalu melangkah mendahului masuk ke sebuah ruangan lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *