Pagi itu, aku beringsut turun dari tempat tidur Angel, kupandang wajah Angel yang nampak damai, sesungging senyum nampak di bibirnya.
Dengan perlahan aku membuka pintu, aku terkejut, sesosok pria bertubuh kecil ada di hadapanku.
“Pagi pak No,
wah semangat sekali mengepelnya.” sapaku, sambil menutupi mulutku, maklum, aku belum menggosok gigiku.
“Ya, semangat mengepel, semangat, ya.”Jawab pak No seolah sekenanya, bahkan ekspresi wajahnya juga tidak berubah saat menjawabku,
tetap datar dan wajahnya menunduk asyik dengan tongkat pelnya.
Aku bergegas kembali ke kamarku, harus bersiap segera, sebelum Mrs. Rose menjemputmu untuk makan pagi bersama.
Eemm… masih ada setengah jam lagi untuk mandi dan berdandan, cukuplah.
Sesaat bangun dari tidur di pagi ini, seluruh beban pikiran mulai mendatangiku satu-persatu,
mulai dari pekerjaan ku yang menghadapi berbagai insan berbakat dengan masing-masing masalahnya, belum lagi keinginanku bertanya pada Angel tentang ayahku.
Wow, mending tidak kupikirkan daripada membuatku tertekan, kutepis pikiran-pikiran yang membebaniku.
Tepat setengah jam kemudian, pintu kamarku diketuk, wajah segar Mrs. Rose menyapaku.
Aku keluar kamar, sementara Mrs. Rose duduk di teras depan kamarku. Aku juga ikut duduk di sebelah Mrs. Rose.
“Moi, pagi ini kita akan lanjutkan pendataan lagi.Pagi ini kita ketemu pak Anton, lalu sarapan.
Sehabis itu kamu bisa mendata diriku. Setelah aku, Leman lalu Vicko. Tapi untuk kedua orang tersebut harus dikawal.”
“Pak Dragono akan mengawal kita?” tebakku.
Mrs. Rose mengangguk.“Semalam kamu dimana?Aku cari di kamarmu tidak ada, Moi.”
“Itu…aku tidur di kamar Angel. Dia senang sekali saat aku temanin kemarin.”
“Aku salut denganmu, Moi.Kamu melakukan lebih dari sekedar pekerjaanmu.”
Aku menggeleng.
“Angel dan Risty, seharusnya mereka tak boleh menggunakan kemampuan mereka lagi, Mrs. Rose.Mereka terforsir energinya.Mereka kelelahan, apalagi keduanya punya kelemahan fisik, terlebih Risty yang sedang sakit.”
Mrs. Rose menatapku menanti kelanjutan ucapanku.
“Semakin sering mereka menggunakan kemampuan mereka, fisik mereka makin lemah.Mereka juga kesakitan dan ketakutan.”
“Kita tidak bisa berbuat apa-apa Moi.tuan Jonah membutuhkan kehebaqqtan mereka,
dan yang dilakukan kemarin untuk membantu negara.” kata Mrs. Rose memberikan argumen.
“Kemarin Risty yang sudah sakit, sampai jatuh pingsan setelah diminta untuk menjelajah ke masa depan. Mau sampai kapan Risty bertahan? Mrs. Rose… tidakkah Tuan Jonah itu sangat keterlaluan?”
Lalu aku melanjutkan,
“Dan Angel… setiap Tuan Jonah mau bertemu dengannya, gadis itu sudah ketakutan.Jiwanya begitu lemah, dia rapuh saat memasuki keadaan masa lalu, apalagi kemarin dia merasakan kejadian kematian.”
Mrs. Rose diam menunduk menatap sepatunya.
Tepat seperti perkiraanku, Mrs. Rose tak pernah mengeluh tentang tempat ini. Dia tak pernah mengeluh tentang perilaku Tuan Jonah.Wanita dihadapanku adalah wanita loyal Chimera.
“Yah, kita lakukan sajalah tugas kita, Moi, itu bagian kita.” ucap Mrs. Rose akhirnya.
Aku sungguh kecewa dengan sikap datar seqolah tidak ada apa-apa, yang ditempuh Mrs. Rose saat seperti ini.
“Kita sudah diatur Tuan Jonah untuk kunjungan ke Leman di selnya siang nanti. Sementara sore harinya Vicko disiapkan di ruang pemeriksaan.”
ujarnya seolah mengalihkan topik pembicaraan.
“Ini berkas yang harus kau ujikan kepada mereka,
hari ini, Moi.” Kata Mrs. Rose sambil mengangsurkan map berisi sebendel formulir.
“Ya, aku siap, Mrs. Rose.” jawabku.
“Ayo kita kunjungi pak Anton, ke tempat kerjanya.” kata Mrs. Rose sambil menggandeng tanganku.
Aku berdiri,
lalu melangkah ke arah ruangan kerja pak Anton, sebenarnya letaknya hanya berseberangan dengan kamarku.QQQ
Aku melihat Pak Anton keluar dari ruangan kantornya,
lalu berdiri diantara pohon bunga dan tanaman-tanaman.
“Pagi Pak Anton,
aku Moira.
Kita beberapa kali bertemu di ruang makan.”
Anton tersenyum,
“Pagi Moira, tumben kalian mengunjungiku.”
“Bunga apa ini?
Cantik sekali.”Ujarku seraya membungkukkan tubuhku mendekati rumpun bunga keunguan yang bergerombol.
Pak Anton tertawa,
“Jangan tertawakan aku ya, aku juga tidak tahu bunga apa itu.
Di enskilopedia tidak aku temuin.
Pak Johno yang taruh disana semata-mata karena katanya bentuknya yang cantik,
enak dipandang mata,
dan katanya berkhasiat obat”
Mrs. Rose, pak Anton,
dan aku tertawa.
Pak Anton ini rupanya merupakan sosok yang menyenangkan,
walau dari raut wajahnya nampak serius.
“Ngomong-ngomong angin apa yang membawa kalian kesini?”
“Jalan-jalan saja kok,
mau sarapan.” ucap Mrs. Rose santai.
“Pak Anton baru ngerjain apa?” tanyaku dengan penuh minat.
“Ohh, ini sedang uji sampel air.
Setiap hari kan kita test air baku yang kita minum.
Ada bakterinya tidak.
Layak buat diminum tidak, kalau tidak kita test,
bisa diare semua nanti orang-orang yang ada di pulau ini.”
Aku tersenyum.
“Kadangkala aku membantu Dokter Stephan meracik obat,
secara berkala mengambil sampel di sel Vicko,
juga menilik ternak dan ikut menjaga kesehatan ternak disini.
Ya rangkap-rangkaplah,
maklum kan sendirian.”
“Sampel?
Sampel apa yang ada di sel Vicko, pak Anton?” tanyaku tertarik.
Pak Anton mengambil napas panjang,
pandangannya lurus ke depan sebelum melanjutkan perkataannya.
“Hal ini kubuka untuk kalian, karena kalian memang ditugaskan mendata kegiatan disini.
Vicko kan dulunya tentara, amat pandai bahkan dikuliahkan lagi oleh negara.
Ahli bertahan hidup di hutan.Dia mengetahui dan ahli menggunakan media biologi untuk membuat obat.Bahkan meracun lawan,
juga membuat antidote penawarnya dari alam atau media biologis,
seperti jamur dan sporanya, bakteri serta virus.”
“Sampel yang kuambil bisa di dinding, di tembok,
di sudut lantai,
karena itu mencerminkan apa yang sedang dikerjakan Vicko.
Itu sampel biologis.
Jujur, ini kubuka khusus untuk kalian,
karena kalian memang ditugaskan mendata kegiatan disini.”
kembali pak Anton menegaskan betapa pekerjaannya bersifat rahasia dalam berhubungan dengan Vicko,
lalu beliau mengatakan,
“Beberapa waktu yang lalu, Vicko bahkan mencoba lari dengan membuat lapuk teralis besi,
dengan cara mengkultur senyawa biologi yang tumbuh di selnya. Sebenarnya ia cerdas,
briliant sekali Moi,
aku harus mewaspadai setiap organisme yang ada di selnya.
Secara berkala selnya harus disterilkan dan sample biologis yang aku tidak kenal, aku kirim ke ibukota.”
Pak Anton menarik napas dalam-dalam.
“Kita tidak tahu apa itu.
Bisa jadi ia sedang membuat racun biologis yang bisa membahayakan kehidupan kita di pulau ini,
sementara dia sudah resisten atau kebal karena mengembangkan antidotenya, penawarnya.
Dia dinyatakan psikopat,
ini yang membahayakan.
Kita tidak tahu apakah jamur atau spora tertentu, bakteri, bahkan virus yang kita hadapi, jadi ya aku harus waspada terus.”
“Caranya?” tanyaku lagi.
“Paling tidak itu tadi,
tiga hari ia dikeluarkan dari selnya lalu seluruh isi selnya disterilisasi.”
“Benar-benar jenius ya,
Vicko ini,” gumamku.
“Jenius, namun sayangnya salah jalan,” tukas Pak Anton.
“Okay, kita sarapan dulu. Terima kasih Pak Anton,” Mrs. Rose berpamitan.
Aku dan Mrs.Rose menuju ke ruang makan.
Sesaat kemudian aku dan Mrs. Rose bersantap,
sambil sarapan,
pikiranku menjelajah kemana-mana.
Vicko dengan segala kejeniusan serta kekuatan fisiknya saja tak mampu keluar dari sini.
Apalagi aku?
Aku tak memiliki kemampuan apapun,
pikirku muram.
“Pagi Moi, bagaimana kondisimu hari ini?”Terdengar suara Henry menyelinap di kepalaku.
Aku memusatkan pikiran, berkomunikasi dengan Henry melalui telepati memang harus fokus dan menghabiskan energi.
“Hi Henry,
yang barusan kupikirkan ialah, bagaimana bisa kabur dari sini secepatnya.”
“Moi, kamu tidak terpenjara, pikirkan kesempatan atau momentum yang tepat untuk kabur.
Kalau aku punya kesempatan itu,
kabur dari sini.
Pastilah aku akan mengajakmu.
Aku bersumpah.”Ujar Henry dalam kepalaku.
“Sebenarnya momentum yang bagus untuk kabur adalah kalau ada acara duel lagi, Hen.
Ngg…bukan aku mengharapkan akan ada korban lagi,
tapi itulah momentum dimana para penjaga pulau yang berjumlah 20 orang, sebagian besar akan sibuk menyambut tamu dan fokus untuk mengawal Vicko.
Tuan Jonah akan menjamu tamu-tamu dan mendampingi host.
Dan Dragono pasti disisinya. Mungkin kita bisa kabur saat penjagaan lemah,
tetapi kita perlu strategi.”
“Dibalik penampilanmu yang biasa-biasa saja,
ternyata otakmu boleh juga, Moi.”
“Apa?”
“Sst…jangan teriak!” Henry memperingatkanku.
Aku menoleh ke Mrs. Rose , nampak keningnya mengeryit saat melihatku.
Mrs. Rose sedang mengernyit menatapku. “Apanya yang apa, Moi?”
“Ah…itu Mrs. Rose,
apa…apa kita bisa mencoba keliling pulau dengan speed boat?
Hehe…
mungkin rasanya asik Mrs. Rose.
Masalah-masalah yang kita hadapi beraaat.”
Mrs. Rose tersenyum, “Kapan-kapan deh.
Waktumu masih lama disini.
Lagipula kita jam satu siang ini akan bertemu Leman.
Leman, kamu ingat kan?
Dia seperti Vicko,
ahli bertarung dan bukan pria lembut seperti Henry.
Kamu kemarin berhasil menghadapi Rado,
semoga dengan Leman dan terakhir Vicko,
kita juga bisa menghadapinya ya.”
“Ya.Mrs. Rose,
semoga mental kita kuat ya.”
Mrs. Rose menggandeng tanganku beranjak dari ruang makan,
dan kami berjalan menyusuri lorong dan pintu-pintu berpindai.
Sejauh ini pindai tanganku bisa membuka pintu-pintu ruangan dalam gedung, sementara dua prajurit yang berjaga selalu menatap kami saat kami lewat,
mereka berdiri dan bersikap hormat pada kami.
Kami telah sampai di ruang pemeriksaan.
Mrs. Rose dan aku duduk berhadapan.
Rasanya janggal sekali kami duduk berdua dalam posisi seperti ini.
“Kita disini Mrs. Rose, memang aku yang akan di interogasi? Hihi..”
Aku tertawa.
“Supaya tenang Moi.
Disini juga kedap suara.
Aku sudah menyiapkan pemberat barbel 2 kg,
dan beberapa benda lain.”
“Buat apa Mrs. Rose?” tanyaku tak mengerti.
“Perhatikan, Moi.”
Mrs. Rose meletakkan sebuah batu baterai kecil di meja dan memandangnya dengan fokus.
Pandangan mata Mrs. Rose tajam ke arah batu baterai tersebut,
kulihat bola matanya seperti punya energi di sana.
Astaga, aku melihat batu baterai itu perlahan melayang, makin tinggi,
naik keatas,
lalu turun perlahan ke meja seolah-olah seperti ada penggeraknya.
“Ini si..sihir?”
kalimat spontan terucap dari bibirku yang gemetaran karena takjub.
Aku tak pernah membayangkan wanita cantik ini punya kemampuan sehebat itu.
“Wah, alumnus cumlaude psikologi kok percaya sihir, hahaha….”
“Menakjubkan.
Mrs. Rose keren.”
Aku masih terheran-heran dengan fenomena yang barusan kulihat.
“Thank you, Moi.
Ngg…Judul skripsimu apa ya? Abnormal Psikologi apa?”
“Judulnya Hypnotherapy Sebagai Therapy Penunjang Kesembuhan Penderita Abnormal Psychology.”
“Saat itu kamu magang dimana?”
“Aku melakukan penelitian skripsi itu di klinik umum yang satu komplek dengan Akademi Okupasi.
Para mahasiswa di sana sekalian praktek dengan bimbingan seniornya.
Di tempat itu setiap siang hari ada klinik okupasi.
Mengikuti cara mereka merawat anak-anak yang berkebutuhan khusus,
lalu kutambahi terapi
dengan hipnoterapi.”
“Kamu menggunakan hipnotis.
Kamu seorang ahli hipnotis. Berarti sangat jelas bahwa kamu punya
subconcious mind yang tinggi.
Apa bedanya dengan menggerakkan benda
atau obyek?
Oke, aku ajari ya.
Tidak perlu pakai batu baterai.
Pakai ballpoint yang lebih ringan dulu aja, ya.”
Mrs. Rose meletakkan sebuah ballpoint di meja
di hadapanku.
“Nah, sekarang coba mulai, Moi.
Kamu ingat kan saat kamu berhasil menghipnotis anak didikmu di klinik umum Akademi Okupasi ?”
“Hmm..ya..ya…aku coba.”
“Sekarang pandang ballpoin ini.
Bayangkan saat kamu bisa masuk ke pribadi mereka.Kamu juga bisa membawa mereka masuk pada tujuanmu.
Demikian juga ballpoint ini.Kamu bisa menggerakkannya.
Kamu bisa bayangkan ballpoint ini bergerak ke arah dirimu
iyaa
ayooo..
gerakkan.. Fokus…gerak..
bergerak ke arahmu..
gerak…”
Mrs. Rose membimbing dan mengarahkan pikiranku.
Aku mengikuti petunjuknya dan memfokuskan pikiran serta pandanganku kepada balpoin itu.
Kupusatkan pikiranku pada batang ballpoint itu,
otakku kuisi dengan penuh keyakinan,
bahwa aku ingin ballpoint itu bergerak.
Seiring lintasan memori saat aku berhasil menghipnotis beberapa teman, membuatku menjadi percaya bahwa balpoin itu mau mengikuti apa kehendakku.
Tiba-tiba ballpoin itu bergerak sedikit ke kanan.Aku bersorak.
“Yaa bergerak!
Ballpoinnya bergerak.
Haha Mrs. Rose,
aku berhasil.
Aku berhasil.”
Mrs. Rose tertawa.
“Ya Moi, kamu bisa kan? Tidak sulit kan?”
“Berhasil..wow..
berhasil!
Terima kasih, Mrs. Rose.” aku masih berteriak kegirangan,
seolah tidak percaya aku punya kemampuan baru lagi, menggerakkan benda dengan kekuatan pikiran.
“Kemampuanku juga masih terbatas, Moi.
Kira-kira baru 2-3 kg yang bisa aku gerakkin.”
“Dicoba yuk Mrs. Rose.” ujarku, aku juga berpikir antara iseng, ingin tahu
dan timbul hasrat memotivasi Mrs. Rose.
Aku pergi keluar,
ke arah ruang olahraga,
ada dua prajurit sedang berolahraga di tempat itu juga.
Para prajurit itu bermandi keringat, nampak dari kaos yang basah dan tubuh yang mengkilat.
Aku mencari lempengan angkat besi seberat 5 kg, setelah ketemu, aku mulai mengangkatnya.
“Moi pinjam dulu ya pak, untuk keperluan penelitian dengan Mrs. Rose.”
Aku meminta izin pada dua prajurit yang melihatku.
“Perlu saya bantu Miss” jawab salah satu prajurit.
“Oh tidak usah, terimakasih.”
jawabku sambil menggotong lempengan besi seberat 5kg ke ruang pemeriksaan.
Aku masuk dan meletakkan lempengan besi tersebut di atas meja,
di hadapan Mrs. Rose.
Kulihat wajah Mrs. Rose nampak melongo saat melihat besi itu.
“Jiayooo, Anda bisaa!”
“Gilee Moi, ini 5kg…
artinya dua kali lipat kemampuanku.”
kata Mrs. Rose sambil melototi besi yang ku bawa.
“Ayolah Mrs. Rose
buatlah pencapaian
yang terbaik hari ini,
Moi saja bisa sesudah diajari master psikokinesis yang cantik.” puji diriku.
Mrs. Rose berdiri mematung kemudian tertawa,
lalu wajahnya berubah serius mulai berkonsentrasi.
“Buat pencapaian
lebih tinggi,
pasti bisa,
pasti bisa.” supportku.
“Kemampuan meningkat, obyek ini ringan.
Ringan bagaikan bulu.
Bisa, pasti bisa gerak..
ringan seperti batu baterai tadi,
ringan melayang,
bisa terbang..
terbang….”
Lempengan besi bulat itu bergerak sedikit ke atas. Kemudian,…
“Jiaaaa….!!”
Tiba-tiba Mrs. Rose menjerit, matanya berubah menjadi tajam penuh konsentrasi.
Besi itu mendadak melayang naik setinggi kepala kami, terlempar di depan kami,
lalu kemudian jatuh ke bawah membentur lantai dan pecah.
Suara dentuman lumayan keras terdengar saat besi tersebut menabrak tembok.
Kami saling berpandangan.
Aku bertepuk tangan.“Terbang beneran.
Jauh banget, keren bangeet Mrs. Rose.”
“Wah pecah,
padahal barang inventaris gym,“ Mrs. Rose membungkuk.
“Potong gajimu ya, Moi.”
“Lho, katanya kepingin pecah rekor,
sekarang pecah beneran kan?
Rekor pecah,
kok malah aku yang di suruh tanggung jawab?
Tadi Mrs. Rose kurang kendali sih,
kan lumayan seperti UFO melayang-layang,
tidak terlempar,
lalu akhirnya jadi pecah deh.”
“Mustinya tadi di videoin trus upload di Youtube ya.
Biar banyak yang ngelike, haha…”
Mrs. Rose tertawa lepas.
“Lain kali pakai boneka Spongebob saja,
dijamin tidak mungkin pecah, deh.” gurauku.
Kemudian kami membereskan pecahan besi di lantai bersama.
Dua orang prajurit yang ada di ruang olahraga datang, mereka kelihatan terkejut mendengar suara yang keras dari ruang pemeriksaan.
“Ada apa Mrs. Rose?”
tanya mereka dengan wajah terlongong-longong.
“Oh, maaf prajurit,
ini besinya jatuh dan patah, minggu depan aku ganti,
biar dikirim dari ibukota.” sahut Mrs. Rose sambil menunjuk lempengan besi tersebut.
Prajurit mengambil pecahan besi dan membawanya keluar.
“Oke, beres.
Lantai sudah bersih,
kita bisa minta ke Leman sekarang.
Aku hubungi Dragono dulu.” kata Mrs. Rose.
Mrs. Rose kemudian menekan dua nomor pada pesawat interkom di dinding, memberitahu bahwa kami akan observasi ke obyek Leman.
Obyek?Di dalam hatiku aku mengeluh,
Leman atau siapapun disini hanya dianggap sebagai obyek,
bukan manusia.
“Yuk, kita ke Leman sekarang.
Kita akan ketemu Dragono dan Codi disana.”
Ujar Mrs. Rose.
Kami melangkah dengan riang bersisian,
menuju penjara yang terletak di bangunan paling belakang.
Setelah melewati penjagaan tengah dan penjagaan belakang kami melewati sel Henry.
Kulihat Henry bergegas bangkit dari duduknya dan menjulurkan tangannya keluar sel.
Tangannya menggapai-gapai seolah ingin menyentuh badanku.
”Hei, sweet heart..
mampir dong, mampir,”
panggilnya merajuk.
“Hai Henry,
kami buru-buru, maaf ya,” sahut Mrs. Rose.
Pandangan Henry beradu pandang denganku.
Aku tersenyum sopan dan menganggukkan kepalaku padanya.
Henry tersenyum manis sekali padaku.
Ya Tuhan,
mengapa cowok seganteng itu ada di tempat yang mengerikan seperti ini.
Oh Henry yang malang.
“Tega banget sih,
kok aku cuma dilalui?” suara telepati Henry kembali masuk kepalaku.
“Sekarang kami mau ke tempat Leman.
Kabarnya dia setipe Vicko ya?
Aku sebenernya gemetaran sekali nih.”
aku membalas telepatinya.
“Menurutku kamu sebagai psikolog keren kok.Wajahmu cantik tapi pemberani.
Menurutku Leman tidak ganas,
hanya sering hilang ingatan, pesanku tetap berhati-hati dengan Leman.”
“Iya, Hen. Trims.”
“Sukses ya untuk Lemannya.”
“Sip, thanks my friend,” sahutku bertelepati dengan Henry.
Aku dan Mrs. Rose berjalan ke arah sel dimana Leman dikurung,
di depan sel Leman nampak si raksasa gundul Dragono beserta seorang prajurit di sampingnya,
keduanya bersenjatakan tongkat tonfa berwarna hitam.
Menyeramkan.