Chapter 9 Rado, Sang Elektrokinesis

Aku dan Mrs. Rose berjalan menunduk meninggalkan kamar Risty, 

kami berjalan ke arah ruang makan, untuk makan siang.

Terbayang di pikiranku sesudah makan siang kami akan menjumpai Rado. Obyek observasi kami yang ketiga hari ini. 

Kami berdua sama-sama tak bernafsu untuk membuka percakapan, 

sesudah kejadian di kamar Risty dan Angel.

Dragono berdiri di depan ruang makan, beberapa langkah di depan kami seolah ia sedang

menunggu kedatangan kami. 

“Mrs. Rose, 

seperti sebelumnya, 

dan ini peraturannya.

Tuan Jonah tidak memperbolehkan Anda 

beserta bocah ini, 

bertemu dengan Rado tanpa pengawalan. 

Kalian bisa bertemu di ruang pemeriksaan satu jam lagi, sementara Rado akan kami siapkan.”

“Oke, Dragono, 

siapkan sebaik mungkin, trims,” ujar Mrs. Rose datar.

Satu jam lagi aku dan Mrs. Rose baru bisa bertemu dengan Rado. 

Jadi kami berdua duduk di ruang makan, 

menghabiskan santap makan sambil menunggu waktunya tiba.

“Moi, apa kamu menyesal telah menerima pekerjaan dari kami?”Mrs. Rose membuka percakapan.

“Mmm…tidak juga sih. 

Disini aku dapat pengalaman yang benar-benar wow,

yang…emm…

orang lain mungkin tak kan pernah mengalaminya. Sekaligus…yah, 

aku juga ketakutan disini. Ada tamu-tamu yang aneh, sementara Tuan Jonah, 

pak Iskandar… adalah sosok yang menakutkanku.”

“Tapi, sekaligus juga ada Henry….ya kan Moi?” 

aku tersenyum mendengar gurauan Mrs. Rose. 

“Iya, Henry. 

Si ganteng yang jago bertelepati, 

tetapi ingat lho Mrs. Rose, aku selaku sarjana psikologi tidak boleh terlibat hubungan yang tidak professional dengan klienku.”

“Hahaha,lupakan saja ikrar akademismu, 

kadang kesempatan tidak datang dua kali, 

hatimu terlanjur beku nanti. 

Seperti bekunya gerbang Chimera. 

Penuhi hatimu dengan cinta Moi, dia bisa memberikan warna dan kehangatan di tempat yang beku ini.” 

tutur Mrs. Rose seperti berfilsafat.

“Oiya Moi, 

apakah kamu sudah bisa bertelepati pikiran dengannya?”

Aku sudah hendak membuka mulutku menjawab jujur, namun kemudian pandanganku bertumpu pada dinding dan nampak teralis baja yang kuat di ruang makan tersebut. 

Cara bertanya dan mencari informasi Mrs. Rose, membuat aku ragu. 

Apakah aku harus separanoid ini dengan mencurigai… Mrs. Rose?

“Henry tidak pernah bicara lagi denganku sejak kunjungan kita di sel, 

Mrs. Rose. 

Lalu…apakah Mrs. Rose bisa bertelepati dengannya?” aku menjawab sembari bertanya.

“Tidak Moi. 

Henry tidak pernah main telepati-telepatian denganku. Kupikir karena kamu manis, Henry akan mencoba bertelepati denganmu dan menggodamu.” jawab Mrs. Rose sambil menatap ke bola mataku.

Aku memejamkan mataku. Saat ini aku hanya percaya pada Henry, 

teruntuk Mrs. Rose, 

aku belum bisa mempercayai dia sepenuh hatiku, 

karena tak pernah mendengar Mrs. Rose mengeluh tentang tempat ini. 

Sebaliknya yang aku lihat, wanita disebelahku ini selalu tertawa, bergurau, berinteraksi secara positif dengan Dragono, 

Tuan Jonah, dan Mrs. Rose sangat disegani para prajurit di sini. 

Walau tidak menguntungkan bagiku untuk mencurigainya, namun mempercayainya sepenuh hatiku, 

sebaiknya tidak kulakukan, aku harus diplomatis kepadanya. 

Bersikap seolah-olah mempercayainya sembari mengorek keterangan, pengetahuan darinya.

“Berhati-hatilah dengan Rado ini Moi, 

dia sanggup menjadikanmu barbekyu dengan kekuatan elektrokinesisnya, 

jaga jarak kepadanya.

Di kalangan prajurit menjuluki dirinya sebagai ular derik, selain berbahaya, saat Rado bicara, 

besar tekanannya pada huruf s, 

jadi mirip desisan bila dia mengucapkan huruf s.” 

jelas Mrs. Rose membuat diriku was-was dan keheranan.

Aku terdiam, siang hari ini terasa amat melelahkan bagiku, bertemu, mengamati  Risty dan Angel Curly serta kejadian yang terjadi pagi tadi, membuat guncangan dalam batinku. 

Belum lagi info mengenai Rado yang dijuluki ular derik oleh para prajurit, 

bahkan sebelum aku bertemu dengan Rado, sudah membuatku agak kuatir.

Aku menyandarkan diriku di tembok, kubiarkan mataku terpejam, terbang ke alam mimpi sejenak dan baru terbangun kala Mrs. Rose mengguncang tubuhku beberapa saat kemudian.Waktunya untuk mengobservasi Rado. 

***

Aku dan Mrs. Rose berjalan ke arah ruang pemeriksaan, letaknya di area depan, 

dekat dengan , sebelah ruang fitness.

Terlihat sekilas di ruang fitness yang pintunya terbuka, beberapa prajurit bertelanjang dada sedang berolahraga disana.

Saat masuk ke ruang pemeriksaan, ternyata terdiri dua ruang, ruang pemeriksaan utama yang ada meja dan kursi untuk menginterogasi, 

dengan lampu besar berkap di atasnya, 

dari situ aku memahami fungsi lampu besar yang menyorot wajah yang diinterogasi dapat terbaca dengan mudah mikro ekspresinya.

Satu ruangan lagi adalah ruangan pengamat terletak di samping ruang pemeriksaan, 

ada kaca hitam yang berbatasan langsung dengan ruang pemeriksaan, 

kaca tersebut berguna untuk melihat ruang pemeriksaan.

Ruang pengamat hanya mempunyai sedikit penerangan karena lampunya temaram, 

tetapi di situ ada banyak audio, mik yang nampaknya terhubung dengan ruang pemeriksaan.

Saat kami sampai di situ, kami di bawa ke ruang pengamat, 

di mana Tuan Jonah berserta Dragono telah menunggu kami.

“Kamu harus dipasangi mikrophone, bocah. 

Kami tidak mau menanggung resiko kamu mati disini. 

Jadi menurut sajalah kau,” ujar Dragono tegas.

Aku patuh kala mikrophone itu dipasang di tubuhku_tepatnya di rambut bagian belakang kepalaku.

“Ingat bocah jangan mencoba bersalaman dengan Rado, 

dia bisa menyetrum dirimu dengan kemampuan elektrokinesisnya, 

kau bisa cacat bahkan tewas bila bersentuhan dengan dia, dan jaga jarak, 

paham kau?” tegas Dragono kepadaku.

Aku terkesiap, sesadis itukah Rado? 

Bukankah aku baru dikenalnya?

Tetapi untuk keamananku tidak ada kalimat lain selain mematuhi perintah Dragono.

“Ya pak Dragono, saya berjanji bersikap hati-hati dengan Rado.”

“Ingat, jangan sampai ada kontak fisik!”Tegas Dragono sambil merapikan mikrophone yang telah tersemat di rambutku.

Dari ruang pengamat ini aku bisa melihat dengan jelas Rado yang sedang duduk 

di apit dua prajurit di ruang pemeriksaan lewat kaca pemisah. 

Saat aku dan Mrs. Rose berjalan ke arah ruang pemeriksaan aku menyadari kaca tersebut dari dalam ruang pengamat, 

tak bisa dilihat dalamnya, dari ruang pemeriksaan, namun sebaliknya siapa yang ada di ruang pengamat bisa melihat dengan jelas ke ruang pemeriksaan. 

Dibalik kaca tebal itulah Tuan Jonah dan Dragono berdiri mengawasi pertemuan kami.

Aku melangkah mendekati Rado duduk, 

aku dan Mrs. Rose duduk sejajar sementara Rado duduk di depan kami dan ada meja kayu besar di depanku, 

yang memberi jarak.

“Siang Rado, kuperkenalkan, ini Moira. 

Dia fresh graduate psikologi,” ucap Mrs. Rose membuka percakapan.

“Hai Rado, aku Moira.” 

Aku tersenyum padanya. 

“Aku ingin berteman denganmu Rado. 

Semoga Rado mendapat manfaat dengan mau berteman sama aku.”

Rado menatapku sinis, tangannya nampak terikat di belakang tempat duduknya, kaos singletnya kumal, sehingga tulang bahunya terlihat menonjol,

sementara dua prajurit berdiri dengan sikap siaga, tongkat tonfa ada di tangan prajurit tersebut.

“Di dunia ini tidak ada yang namanya teman, 

apalagi sahabat.

Kau tidak pernah tahu rasanya sakit hati, 

saat pengkhianatan muncul.” Rado menjawab sambutan percakapanku.

Ternyata benar, 

suara Rado berbicara mirip ular yang mendesis, penekanan katanya kuat, terutama saat dia mengucapkan huruf ‘s’ , sementara kedua matanya melihatku tajam.

Aku mencondongkan tubuhku ke arah Rado, “Mengapa? 

Kamu tidak punya teman?Cobalah untuk berteman denganku.

Aku berusaha untuk menjadi sahabatmu yang baik, 

tanpa adanya kepentingan timbal balik, 

aku tulus Rado.”

Mendadak Rado tertawa lepas terbahak-bahak. “Hahaha…

dalam hidupku kata 

dan pengalaman berteman membuatku hidupku makin sulit dan susah. 

Hahaha

Ee..siapa namamu tadi?”

“Moi, Moira.” jawabku.

“Dan kamu datang ke sini mencoba menawarkan pertemanan denganku? Huh… kau tak tahu apa yang telah terjadi pada diriku di tempat ini.

Kau tidak tahu peristiwa menyakitkan apa yang telah kulewati, 

tapi tiba-tiba kau muncul menawariku pertemanan? 

Maaf saja, aku tidak butuh itu.” ujar Rado sambil kepalanya melengos.

“Rado, bila masa lalumu tidak mengenakkan dan kelam, 

apa yang harus kau lakukan ialah berdamai dengan diri sendiri dan melakukan pengampunan.” kataku mencoba menggapai hati Rado.

Aku melihat sosok fisik Rado yang unik, 

rambut di atas kepalanya botak, 

sementara rambutnya sedikit gimbal tumbuh di bagian samping, 

mata Rado berbentuk oval memanjang tanpa ada alis dan bulu mata.

Aku amati bibirnya cepat mengatup saat bicara, namun dibalik bibirnya,

aku sudah bisa mengamati bahwa giginya kecil-kecil renggang kehitaman, mungkin dengan cara berbicara mendesis, membuat giginya tidak sering terlihat.

Di lengan kanannya ada gambar tato bunga mawar.

Wajah Rado terlihat sangat jelas bagiku, 

karena tertimpa lampu sorot besar yang ada di atasnya, aku menyadari dia kesulitan melihat wajahku karena lampu di atasku dimatikan, aku menyadari secara psikologis cara berkomunikasi seperti ini, mengintimidasi dia.

Aku lalu berdiri dan memandang kaca pemisah di ruang pengamat. 

“Pak Dragono mohon lampu sorot di atas Rado di matikan, dan mohon lampu penerangan ruang ini yang di nyalakan.” 

Tak berapa lama suasana penerangan yang kukehendaki terjadi. 

Kulihat raut wajah Rado berubah, 

dari nampak tegang ke tenang, 

posisi badannya mundur bersandar, 

Rado mengerjap-ngerjapkan mata sesaat kemudian ia memandangku dengan bola mata membesar.

“Hmm… nampaknya kau juga punya otoritas di sini Moi. 

Dan kau ternyata cukup cantik.” ujar Rado, di bibirnya tersungging senyuman.

“Terimakasih Rado, 

kau bisa mempercayaiku,jangan segan untuk meminta tolong kepadaku, 

ungkapkan saja perasaanmu kepadaku. 

Aku pasti berusaha menolongmu.” kataku sambil tersenyum kepadanya.

Rado tertawa, 

“Ucapanmu manis sekali, Moi. 

Eh, apa kamu tidak pernah tahu dan merasakan kesakitan saat berteman yang dibalas dengan khianat?”

“Menyakitkan memang, 

tapi semua adalah proses kehidupan Rado, 

kadang kesakitan membuat kita belajar, 

kadang terluka itu baik bagi kita, 

supaya lebih dewasa, 

jangan biarkan kesakitan berlama-lama di pikiranmu.” tak terasa aku berani mengungkapkan pendapatku kepada Rado.

Mrs. Rose yang duduk di sebelahku memberikan jempol tangannya ke pahaku, tanda Mrs. Rose suka akan kalimatku, 

otomatis isyarat itu tidak diketahui Rado karena di bawah meja.

“Moi, Moi,

ketahuilah kau hanya dimanfaatkan saja di sini, seperti aku dan semua penghuni penjara terkutuk ini. 

Sedemikian mudahnya kau bicara, 

tetapi aku menikmati kesakitan ku, 

itu membuatku punya motivasi untuk hidup, sampai bisa kubalaskan sakit hatiku.” desis Rado tidak mau kalah argumen denganku.

Tiba-tiba mata Rado melirik ke kanan dan kiri, 

di belakangnya dua prajurit berjaga yaitu Rupert dan Cody, namun dua prajurit tersebut nampak biasa saja, karena Rado dalam kondisi terikat.qq

 “Sudahlah, kau tak usah mencoba menasihati ku, hidupku sudah tidak enak, apa yang kau inginkan dariku? 

Supaya aku dihajar prajurit?Aku tak butuh simpatimu.” nada suara Rado tiba-tiba meninggi.

Aku jadi teringat, hari pertama aku ada di pulau, memang terdengar suara jeritan kesakitan, 

suara Rado yang sedang didisiplinkan oleh Dragono beserta prajurit, nampak sekali bahwa Rado dendam atas perlakuan tersebut.

“Rado, ketahuilah Moi disini ditugaskan untuk mendatamu, dan semua datamu akan di evaluasi oleh tim di ibukota, 

jadi bersikap baiklah kepadanya, 

siapa tahu menjadi pertimbangan untuk pengurangan hukumanmu.” Jelas Mrs. Rose mencoba menengahi.

“Mrs. Rose, 

pengurangan hukuman yang mana, 

status hukum ku disini saja tidak jelas.” bantah Rado sambil matanya memandang tajam Mrs. Rose.

“Okay, paling tidak para prajurit tidak akan mendisiplinkan kamu lagi.” jawab Mrs. Rose tenang.

“Mrs. Rose ketahuilah para prajurit di sini semuanya yang harus didisiplinkan, bukan aku.” tukas Rado.

“Oke Rado, Moira mohon isi kuesioner ini, demi memperlancar pekerjaan Moi ya. 

Pak Rupert mohon ikatan Rado dilepaskan dulu.” kataku mencoba mengakhiri perdebatan yang tidak mengenakkan, 

sembari kusodorkan berkas tes kearah Rado.

Rado melirik ke samping saat Prajurit Rupert dengan gerak cepat melepas ikatan Rado dengan cutter bergagang plastik. 

Terlihat para prajurit menjaga jarak dengan Rado, mungkin takut ada aliran listrik di tubuh Rado kah ?

Prajurit Cody menempelkan tongkat tonfa ke kepala Rado sambil berkata, 

“Kalau kepalamu cukup keras untuk menerima gebukan tongkat ini, 

silahkan berulah Rado.”

Lirikan mata Rado berubah, matanya mulai melihat berkas di depannya, 

perlahan tangannya menggapai dan mulai mengerjakan tes.

“Maafkan aku Rado, 

kerjakan tes ini dengan spontan, 

tidak ada benar atau salah, yang santai saja ya.” kataku mencoba mencairkan ketegangan.

“Hhh… Kaubelum merasakan sakit tulangmu saat tonfa mengenai badanmu Moi, 

semalam kau tidak bakalan bisa tidur.” jawab Rado seolah berbisik.

Aku mengangguk, 

lidahku terasa kelu, 

aku merasa tidak berdaya, dominasi kekuatan fisik para prajurit pria memang sangat kuat di pulau ini, 

apalagi Tuan Jonah sebagai pemimpin yang otoriter dan kejam di sini.

“Rupert dan Cody tolong jangan gunakan kekerasan, saat Rado kooperatif, 

kalian bisa kena peringatan dari atasan Tuan Jonah, berkas tes yang diisi Rado segera dikirim dalam satu dua hari ini.” Mrs. Rose angkat bicara, 

membuat dua prajurit itu saling berpandangan, 

lalu mundur selangkah, tetapi tetap dalam posisi siaga.

Rado mulai serius mengerjakan tes yang kuberikan, 

dalam waktu sekitar dua jam dia mengangsurkan berkas itu kepadaku.

“Terimakasih Rado, 

atas kesediaannya serta kerjasamanya siang ini. ” kataku.

“Hahha…

aku jadi kepingin tertawa. Tadi kamu bilang dengan nada lembut merayu, 

bahwa kita berteman. 

Bahwa diantara hubungan pertemanan kita, 

kamu tidak mengharap imbal balik. 

Hahaha, 

tiba-tiba aku diminta mengisi beginian.

Jadi pertemananmu tidak tulus kan, Moira? 

Kamu manis padaku, 

karena kamu berharap pekerjaanmu lancar, 

dan daftar isianmu penuh terisi, kan?

Kau dapat upahmu, 

kau suruh-suruh aku repot mengerjakan tes.

Hhh… aku harap jangan sering merepotkanku Moi, kecuali kau mau memberikanku hadiah.”

respon Rado panjang lebar.

Aku terhenyak, 

ternyata Rado juga impulsif, dari jawabannya tersirat. 

Satu-dua kalimat terucap, kondisi psikologisnya cepat berubah,  

awalnya dia membuka dengan tertawa-tawa, 

tetapi di ujung percakapan, nafasnya panjang dibuang, menandakan dirinya kesal.

Aku berusaha tetap tenang “Hadiah apa yang kau harapkan Rado, 

aku orang baru di sini, 

yang bisa kutawarkan ialah persahabatan yang tulus, Rado boleh mengutarakan isi hati padaku.”

“Nonsense! 

Omong kosong!  

Dunia ini selalu penuh syarat.  Dalam semua hal akan selalu ada imbal baliknya.  

Seperti kamu ada disini, 

aku yakin karena bayaran upahmu dari Chimera besar. Kalau kamu tidak digaji, 

tidak dikasih uang sama Tuan Jonah!!

Mana sudi kamu berteman denganku. 

Puih!” 

Rado meludah ke lantai.

Aku melirihkan suaraku, 

“Rado, 

aku bukan orangnya Tuan Jonah, 

beliau tidak menggajiku, 

aku digaji dari pemerintah, sekarang ini masa trainingku.

Dan nantinya kita tidak tahu kelanjutannya tentang keberadaan penghuni pulau ini, saat pergantian pemerintahan. 

Apapun bisa terjadi di pulau ini, 

karena tidak adanya kepastian hukum di sini. 

Aku ditugaskan untuk mendata semua penghuni pulau khususnya orang-orang yang berbakat.Bahkan pekerjaankupun juga di evaluasi. 

Kami butuh kerjasamamu. Kami yakin data yang baik, kerjasama yang baik akan mengubah nasibmu.  Statusmu, keringanan hukuman bisa dan akan diperjuangkan, 

tapi…kami harap kamu mau bekerjasama sama aku.

Lagipula, serius, Rado ingin hadiah apa?”

“Saat ini aku ingin memiliki syal orange yang kamu pakai itu. 

Rasanya tentu hangat bila di leherku, ada syal itu. 

Apa kamu keberatan Moi?” ujar Rado sambil tersenyum tipis, matanya memandang syal yang ada di leherku.

Aduh, 

aku berpikir syal orangeku yang satunya telah aku berikan untuk Angel. 

Kalau yang ini aku berikan juga…

aku sudah tidak punya syal lagi.

“Syal ini Mamaku yang merajutnya untukku. 

Hanya tinggal satu syal ini yang aku punya.”

“Mamamu bisa merajut lagi untukmu lain waktu. 

Dan toh, gajimu besar. 

Kamu bisa membeli syal lain di luar. 

Kamu orang bebas, beda dengan aku.” 

Srrt, aku menarik syal dari leherku, 

tiba-tiba prajurit Rupert mendatangiku sambil berkata, 

“Nona Moira ingin memberikan syal ini kepada dia? 

Sini, biar kuberikan.” Kuberikan syal itu pada prajurit Rupert, 

lalu melalui ujung tongkat tonfa, syal itu di sodorkan ke Rado.

Rado menyambut syal itu, lalu mengalungkan ke lehernya. 

Kulihat Rado tertawa gembira saat mengibaskan ujung syal itu ke hidungnya.

“Wangi…hahaha…bau cewek..

khas cewek..hahaha..wangi, wangi.”

Aku tersenyum melihatnya, “Aku berharap kita berteman baik selamanya Rado”

“Pertemananku tulus, Moira. Suatu saat aku akan membalas apa yang pernah aku minta darimu. 

Terimakasih untuk syal orangenya, haha…

Ah ya, antara aku dan kamu sebenarnya tidak ada hal yang bersifat pribadi, 

tetapi ketahuilah, Moira,  kamu ada di tempat dan di waktu yang salah.”

Apa artinya, Rado?” tanyaku segera.

“Waktu yang akan bicara, temanku Moira. 

Waktu yang akan selalu bicara, Moira”

“Oke, sudah cukup. 

Cody dan Rupert ikat lagi dia, dan bawa keluar ular derik itu.”

tiba-tiba suara Dragono berkumandang di ruangan pemeriksaan, 

oh rupanya Dragono menggunakan mikropon di ruangan pengamat.

Rado mengangkat tangan kanannya, menjentikan jempol kanan, 

klik..

tiba-tiba lampu ruangan pemeriksaan mati. 

Suara Rado mendesis.“Suatu hari aku akan berurusan dengan dua orang yang ada di balik kaca itu.”

Dua orang dibalik kaca? 

Itu Tuan Jonah dan Dragono.

Dua orang petinggi prajurit yang sedang berdiri itu, nampak terlihat dari balik kaca ruang pengamat, karena sekarang lampu di ruang pengamat lebih terang dibanding ruang pemeriksaan yang mati lampu.

Klik! 

terdengar jentikan jempol Rado…

lampu ruang pemeriksaan, tiba-tiba menyala lagi.  

“Hmmm kau pamer kehebatan ya,” suara Tuan Jonah melalui mik. 

“Dragono kau bantu kawal dia untuk kembali ke selnya.”

Dragono masuk ke ruang pemeriksaan, 

sorot matanya tajam menatap Rado yang duduk tersenyum-senyum.

Mrs. Rose dan aku saling bertukar pandang. 

Aku takjub, kemampuan elektrokinesis Rado itu ternyata benar-benar hebat. 

Prajurit Rupert menyuruh tangan Rado ke belakang dan mengikatnya dengan kabel plastik yang ditarik, sementara prajurit Cody mengangkat tongkat tonfanya di sandarkan ke bahunya, 

tanda berjaga-jaga, lalu berkata,

“Hei ular derik, ayo kembali ke kamarmu.”

“Nikmatilah dunia ini yang hanya sementara…,” 

Rado bersiul dan bernyanyi. 

Wajahnya seolah mengejek saat mulutnya monyong bersiul ke arah kaca pengamat, 

dimana Tuan Jonah berada.

Tinggal aku dan Mrs. Rose di ruang pemeriksaan.

“Hmm…

orang yang berkemampuan lebih dengan masalah psikologi yang dalam. Kata-katanya mengandung ancaman. 

Untuk memastikannya aku nilai dulu hasil testnya, Mrs. Rose.

Aku balik dulu ke kamar.Mau merekap hasil test-test ini.”

“Ya, Moi. 

Kita ketemu saat jam makan malam. 

Aku jemput ya.Besok kita mulai lagi observasi.”

“Ya, Mrs. Rose. 

Sampai nanti. 

Trims.”Aku keluar ruangan mendahului Mrs. Rose. 

Aku mencopot dan mengembalikan mikrophone kepada Tuan Jonah yang masih duduk di ruang pengamat.

“Terimakasih Tuan Jonah bersedia mengawal Moira.” kataku sambil mencoba tersenyum.

Tuan Jonah menerima mikrophone tersebut, wajahnya tetap datar selama kuajak bicara.

Hmm…benar-benar dingin.

Aku keluar dan berjalan menuju kamarku, 

aku merasa energiku benar-benar habis hari ini. 

Saat berjalan, 

aku membayangkan mandi dengan air hangat, lalu tidur sampai jam makan malam rasanya tentu nikmat sekali.

***

Berbeda dengan rencanaku semula, setelah mandi dengan air hangat, 

aku tetap tak bisa tidur. 

Mataku menatap langit-langit kamar. 

Pikiranku berputar-putar.Akhirnya aku bangkit dan meraih berkas-berkasku.  Selain Vicko yang puluhan kali di adu oleh Tuan Jonah sebagai petarung, 

ternyata Radopun terlihat membenci Tuan Jonah, kemungkinan perlakuan keras para prajurit membuat Rado membencinya.

“Hmm….hasil test MMPI-2 yang dilakukan di masa lalu, nyaris sama dengan kondisi yang sekarang, 

kecuali yang dinyatakan satu orang ini. 

Yang satu ini awal test, kondisi kejiwaan normal. Test kedua saat sudah aktif, agak menyimpang testnya, sebelum berurusan dengan hukum.

Test terakhir positif dinyatakan menyimpang.” aku bergumam sendiri, 

saat aku menemukan sebuah fakta yang penting tentang seseorang yang berbahaya di Chimera.

“Moira…lagi sibuk ya?” 

Henry menyapaku lewat telepatinya.

“Yups, kamu bisa mengerti kan apa yang lagi aku kerjakan lewat pikiranku sekarang, Hen.” Sahutku.

“Kapan kamu akan mengunjungiku lagi?”

“Aku belum tahu. 

Besok jadwalku untuk mengobservasi Mrs. Rose, Leman serta Vicko.”

Aku meregangkan kedua kananku yang pegal karena dari tadi kedua sikuku bertumpu di atas meja, berkonsentrasi melihat berkas-berkas test.

“Moi..”

“Ya, Hen?”

“Terima kasih karena mau mempercayaiku. 

Dengan adanya kamu disini, membuat aku lebih kuat untuk bertahan.”

“Sama-sama. 

Sehabis makan malam nanti, aku mau ke kamar Angel.Aku janji akan tidur disana malam ini.”

“Angel? Ooh si Curly ya, benar, kasihan anak itu.”

“Angel sama sekali bukan anak-anak. 

Usianya hampir sama dengan kita.”

“Sama bagaimana? 

Hei, aku hampir 30 tahun.Kamu pasti jauh dibawahku.”

“Iya, Hen. 

Aku baru 17 tahun.” 

Tawa Henry meledak. 

“17 tahun lewat yak…lewatnya banyak..”

“Angel mengalami empati psikis saat dia menjelajah masa lalu seseorang, 

apa yang dialami orang itu, serasa dia alami juga.

Yang mengerikan kejadian kemarin saat Tuan Jonah memaksa Angel masuk ke masa lalu orang yang sedang mengalami kematian, 

tubuh Angel sampai terbanting-banting di tanah.”

“Wah, kasihan benar si Angel ya Moi.”

“Sudah ya Hen, 

energiku sudah habis, bertelepati denganmu membuat badanku gemetaran, 

aku makan dulu ya, 

sampai ketemu besok.”

“Ok, sweet heart, 

sampai jumpa, 

muuaach.” suara Henry terdengar menggemaskan di pikiranku.

Aku membereskan berkas pekerjaanku, 

dan keluar kamar menuju kamar Mrs. Rose untuk mengajak dia makan malam.

Malam itu aku mendatangi kamar  Angel, 

aku mengetuk pintu kamarnya.

Aku membuka pintunya yang selalu tidak terkunci, 

seperti biasa Angel sedang duduk di lantai, 

wajahnya nampak termenung.

“Hi Angel, 

bagaimana kabarmu, 

Moi ingin menemanimu istirahat malam ini.”

Aku membimbing Angel naik ke tempat tidur, 

sesungging senyum tipis nampak di wajahnya, nampaknya Angel bergembira dengan kedatanganku.

Malam itu aku juga sudah kelelahan, 

melihat kasur seperti ingin cepat melebur dengannya. 

Dekat dengan Angel, pikiranku bergejolak ingin menanyakan pertanyaan khusus untuk Angel, 

tentang keberadaan ayahku di masa lalu, 

namun melihat resiko yang bakal dihadapi Angel aku urungkan.

Biarlah aku dan Angel bersahabat dengan tulus dulu, 

apalagi melihat senyumannya, 

aku tak mau melukai persahabatan yang baru ku bangun ini.

Malam itu kamipun terlelap bersama.

GLOSSARY

Tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) adalah tes psikometri yang digunakan untuk mengukur kondisi kejiwaan orang dewasa di dunia . 

Tujuan dari tes ini adalah memberikan gambaran tentang dimensi-dimensi kepribadian dan psikopatologi yang penting dalam klinik psikiatrik secara akurat. 

MMPI merupakan hasil kolaborasi yang dikembangkan pada tahun 1930 dari seorang psikolog dan psikiater bernama Starke R Hathaway PhD dan Dr JC McKinley di Universitas Minnesota. 

Untuk pertama kali MMPI direvisi pada tahun 1989 menjadi MMPI-2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *