
Insan-Insan yang berbakat
Dua hari aku memikirkan tawaran pekerjaan yang diajukan Mrs. Rose.
Persis seperti dugaanku, mama
mendukungku untuk menerimanya.
Menjadi pegawai pemerintah adalah hal yang luar biasa, menurut mama.
Akupun memutuskan untuk menerimanya.
Pagi itu, aku berangkat ke kampus menemui Profesor Julian untuk menyampaikan jawabanku.
Aku datang tepat waktu sesuai jam yang disepakati.
Aku tidak menduga ternyata Mrs. Rose sudah ada di sana.
Sepasang matanya tajam mengikuti langkahku memasuki ruangan Prof. Julian.
Sebuah map bersampul hitam ada di pangkuannya.
Saat aku datang, Prof. Julian sekilas tersenyum padaku. Setelah mempersilahkan aku duduk,
beliau beranjak keluar ruangan, meninggalkan aku dan Mrs. Rose berdua.
Mrs. Rose bangkit berdiri, menyalakan laptop dan LCD proyektor. Perlahan layar LCD yang tergulung di atas, turun membentang di depanku.
Wanita cantik itu menyerahkan seberkas dokumen padaku.
“Dengan menandatangani surat kontrak ini, kamu bukan hanya calon abdi pemerintah,
namun kamu adalah calon patriot, Moira,”
ujar Mrs. Rose.
“Siap Mrs. Rose. Aku juga siap merelakan jiwa ragaku untuk negara,” sahutku mantap sambil menandatangani dokumen tersebut.
Jiwa nasionalisku terasa membuncah seiring ingatanku pada papaku, Kapten Marinir Gepardi yang dinyatakan missing in action dalam melaksanakan tugas negara.
“Kami yakin kamu siap, Moira. Sistem rekrutmen kami sangat ketat. Ada tinjauan psikologis disana.
Sekarang aku terangkan sedikit tentang tempat kerjamu, insan yang bakal menjadi obyek penelitian serta pendataan, juga latar belakang Chimera Project oke, ya?”
pungkas Mrs. Rose membuyarkan lamunanku tentang papaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
Jemari Mrs. Rose bergerak lincah diatas laptop dan logo segitiga itu muncul dalam layar LCD di depanku.
Menatap logo segitiga itu sekali lagi dadaku berdebar-debar resah.
“Okay Moi, sebelum aku mulai menerangkan kepadamu, aku tegaskan apa yang kupresentasikan saat ini adalah rahasia negara.
Kau tidak boleh membocorkannya kepada siapapun juga termasuk kepada keluargamu.
Kau jaga rahasia ini sampai kapanpun. Bila keluargamu atau siapapun bertanya tentang pekerjaanmu,
katakanlah bahwa kau mendapatkan penempatan kerja sementara di luar pulau yang terpencil, kau paham Moi?” tegas Mrs. Rose.
“Aku paham Mrs. Rose,
baik selaku pendidikanku sebagai psikolog,
aku memang harus bisa menjaga rahasia,
apalagi ini rahasia negara,”
aku menjawab dengan semangat.
“Okay, aku lanjutkan ya.
Chimera Project adalah proyek rahasia pemerintah yang ditujukan agar di masa depan negara kita semakin disegani. Kata Chimera berasal dari legenda binatang yang kuat, perpaduan antara singa, naga dan kambing.”
“Visi kita adalah membangun suatu negara yang kuat. Dan untuk menjadi negara yang kuat, kita perlu sumber daya manusia yang hebat. Adapun misi kita adalah menghasilkan laskar militer yang kuat tak terkalahkan dari proyek ini.”
Aku tertegun, sungguh suatu kehormatan bagi anak marinir sepertiku untuk menjadi bagian dari misi rahasia demi kemajuan bangsa.
Tangan Mrs. Rose bergerak, klik!
Layar LCD berganti menjadi sebuah pulau di tengah laut dengan bangunan besar di tengah-tengahnya.
Bangunan suram berkabut menyerupai benteng yang berdiri kokoh.
“Luas pulau Chimera Project hanya kurang lebih 10 km. Pulau ini terletak di tengah-tengah lautan, dengan jarak tempuh 3 jam untuk kapal laut dengan kecepatan sedang.
Bila menggunakan helikopter jarak tempuhnya hanya 30 menit saja.
Hanya helikopter yang memungkinkan untuk mendarat di pulau ini, dan maksimal 4 helikopter saja.”
Mrs. Rose melanjutkan,
“Dalam pulau Chimera terdapat 20 orang penjaga penjara, seorang sipir penjara, seorang pharmacyst, seorang dokter penjara,
lima orang pembantu penjara, seorang suster perawat yang mendapat cuti selama 3 hari penuh selama 3 bulan dan mereka berjaga bergiliran setiap hari.”
Gambar di LCD terus berubah-ubah sesuai dengan penjelasan Mrs. Rose.
Aku merasakan antusiasmeku muncul berkobar-kobar. Rasanya tak sabar menantikan penjelasan Mrs. Rose mengenai pekerjaan baruku ini selanjutnya.
“Sekarang aku mau memperkenalkan siapa saja yang ada di Chimera Project. Yang pertama….,”
Klik..klik..jari Mrs. Rose bergerak.
Layar LCD sekarang menampakkan wajah seorang wanita muda berambut keriting pendek, kulitnya gelap, berbibir tebal, berpipi chubby dan kelopak matanya half moon eye seperti yang dipunyai Prof. Julian.
Bedanya bola matanya besar sehingga dari sorot matanya aku melihat wajah yang nampak sedih, seperti habis menangis atau wajah yang kelelahan sesudah habis menangis.
Sosok yang nampak lugu namun kelihatan menderita.
“Ini Angel. Panggilannya Curly, karena bentuk rambutnya. Sekarang umurnya 20 tahun. Dia ini clairvoyant masa lalu, artinya Curly bisa melihat kejadian masa lalu.
Ia bisa masuk ke obyek yang dilihat, apa yang dirasakan obyek, Curly akan ikut merasakan.”
Aku menatap foto Curly sambil meresapi menjelasan Mrs. Rose, antara bingung, heran juga takjub menyelimuti pikiranku.
“Kemampuan Curly menyiksa dirinya sendiri, Moi. Setiap saat, bila ia berada di suatu tempat,
tempat itu akan bercerita tentang apa yang terjadi disitu.Terutama hal-hal yang mengerikan yang terjadi.”
“Misalnya Curly pernah melihat seorang pria yang menusuk seorang wanita dengan pisau. Darah korban menyembur dari dadanya.
Curly kecil tertekan dan sangat ketakutan, karena dia mengalami penglihatan tersebut lalu menjadi histeris.”
“Dengan media barang milik seseorangpun Curly sanggup menembus dimensi masa lalu seseorang. Misalkan dari sapu tangan yang ditemukannya, Curly bisa tahu kalau pemilik sapu tangan tersebut telah meninggal.”
“Yang parah, Curly sendiri bisa menjadi medium dari seseorang atas kejadian di masa lalu. Ia bisa berteriak, ‘Tidak…jangan bunuh aku, pisaumu menembus jantungku.’ Padahal hal itu tentu saja tidak terjadi nyata pada dirinya.”
“Keluarga Curly sangat malu akan kondisi jiwa anak perempuannya itu. Di sekolahpun Curly bisa tiba-tiba menangis, histeris dan akhirnya dikeluarkan dari sekolahnya.”
“Papanya seorang pengangguran. Ia bekerja saat ada panggilan kerja sebagai tukang batu, dan suka mabuk-mabukan. Papanya menjuluki Curly anak gila. Papanya juga kerap memukuli Curly dengan tongkat kayu hingga Curly berteriak kesakitan.”
“Curly menikmati bangku sekolah hanya sampai SMP kelas 1. Tidak ada sekolah yang mau menerimanya karena sering membuat kehebohan. Teman-teman sekolahnya menjauhinya dan mengira Curly sering kesurupan. Curly alias Angel sekarang sudah dewasa, namun tingkahnya masih kekanak-kanakan, Moi.”
“Mamanya di mana Mrs. Rose?” tanyaku menyela.
“Mama Curly sebenarnya menyayangi Curly dan menerima keadaannya. Sayangnya karena tekanan hidup yang serba kekurangan, ditambah sifat suaminya yang keras serta mudah untuk ringan tangan, maka mereka sering bertengkar.
Mama Curly meninggal karena sakit beberapa tahun yang lalu,
mungkin tekanan psikis keluarga membuatnya tidak mampu bertahan hidup.
Curly yang sebenarnya berbakat , kami ambil dari keluarganya, daripada dia dipukuli terus oleh papanya.”
“Saat kami ambil Curly, papa Curly tidak kami jebloskan ke penjara karena kekerasan yang dilakukannya atas Curly. Sebagai kompensasinya, Curly dipelihara oleh negara.”
Hatiku diliputi kekaguman atas kemampuan luar biasa Curly, tetapi hatiku merasa ikut pedih, bahwa dibalik kehebatannya Curly memiliki beban berat atas kemampuannya tersebut. Ditambah lagi ibunya yang menyayanginya telah meninggal, sementara ayahnya sangat keras padanya.
Aku mendesah, “Ah, Curly yang malang.”
“Aku lanjutkan ya, Moi.”
Klik!
“Ini penghuni lainnya. Namanya Ariesty. Panggilannya Risty.”
LCD menampakkan foto seorang wanita muda, bertubuh kurus, nyaris tinggal tulang,
berambut tipis lurus nyaris gundul.
Ia nampak lemah berbaring di ranjang dengan selang infus di tangannya.
Matanya menyipit seperti memicing mirip orang yang kesakitan.
Kepalanya sangat besar seperti anak yang menderita hidrochepalus
yang pernah aku therapi di akademi okupasi tempatku magang dalam rangka pembuatan skripsiku.
“Risty kebalikan dari Curly. Dia ini seorang pre cognition, pelihat masa depan. Kemampuan Risty diketahui teman-temannya, beberapa waktu yang lalu , sebelum sakit Risty semakin parah. Sekarang umurnya 23 tahun.”
“Saat ini dia menderita demam berkepanjangan yang menyebabkan rambutnya rontok dan badannya kurus kering. Dulunya ia gadis yang cantik. Bahkan sangat cantik. Sayangnya ia divonis dokter menderita tumor otak, ada benjolan di otaknya, Moi.”
“Pre Cognition? Pelihat masa depan? Oh, maaf, kukira dia menderita hidrochepalus,”
gumamku terus terang.
Klik!
Slide menunjukkan foto Risty muda sebelum menderita sakit. Gadis muda yang ceria dan sangat cantik, menurutku sangat sempurna kecantikannya.
Hidungnya mancung. Kulitnya putih. Matanya indah dengan alis yang terbentuk rapi serta bulu matanya lentik. Sangat kontras dengan slide sebelumnya, di mana semua kecantikannya nyaris tidak nampak lagi.
Benar-benar mengenaskan !
“Cantik sekali dia Mrs. Rose. Malang sekali keadaannya sekarang,” kata-kataku tercekat.
Mrs. Rose mengangguk, “Dengan kemampuannya Risty bisa tahu kalau 3 hari lagi akan ada pesawat jatuh dan semua penumpangnya tewas, lalu saat seorang teman pria mengejeknya tentang rambutnya yang mulai menipis, Risty membalas perkataan pemuda itu bahwa rambutnya lebih baik, daripada tubuh pria itu yang seminggu lagi akan terbaring di aspal dan nyawanya terlepas dari tubuhnya.”
“Ucapannya terbukti, teman pria itu tertabrak mobil, darahnya menggenang di aspal.”
Aku kembali tercekat, dibalik fisiknya yang lemah, tersimpan begitu besar potensi metafisikanya.
Aku bergidik ngeri karena membayangkan kejadian yang menimpa pemuda tersebut. Kemampuannya memprediksi masa depan sanggup menghadirkan kengerian,
nasib manusia lain,
seolah sudah diketahui sebelumnya olehnya.
Klik!
Gambar di layar LCD berubah lagi.
“Ini MRI penampang otak Risty. Dilihat dari atas. Hasil MRI ini diambil seminggu yang lalu. MRI menunjukkan pembesaran otak dengan masa otak membesar, ditandai dengan pelipatgandaan sel secara abnormal. Dengan alasan untuk pengobatan yang lebih baik, kami membawa Risty ke Chimera. Sekitar 3 bulan lagi Risty akan dibawa ke luar negeri untuk pengobatan yang lebih baik. Saat itu, aku harap laporanmu untuk dia telah selesai.”
“Aku akan berusaha yang terbaik, Mrs. Rose,” ucapku.
“Risty saat ini usianya sepantaran denganmu, Moi tahun ini usianya 23 tahun, mestinya kalian bisa akrab nantinya.”
“By the way, Mrs. Rose mengapa Risty bisa sampai ke pulau Chimera? Apakah mengetahui masa depan merupakan kesalahan sehingga ia yang dalam kondisi sakit bisa disana?” Rasa ingin tahuku menyeruak.
“Oh, Risty ini anak tunggal dari Jendral Manton. Beliaulah yang menyandang dana sekaligus pelindung dari pulau dan project ini.
Risty sendiri memiliki tim kesehatan khusus untuk merawat dia.”
Klik!
Jemari Mrs. Rose bergerak. “Selanjutnya ini Henry.”
Aku melihat foto seorang pria muda, cukup tampan, tubuhnya tegap berisi serta penampilannya sangat rapi dan trendy.
Senyum manisnya mengingatkanku akan Adrian.
Senyum yang menunjukkan bahwa pemilik senyum itu orang yang bersemangat, ceria, usil dan senang bercanda, seolah di dunia ini tak ada satupun masalah dalam hidupnya, walau kenyataan sebenarnya tentu saja tak seperti itu.
Tak banyak orang yang tahu, namun ada suatu waktu dalam kehidupan Adrian juga jungkir-balik dilanda badai. Pria periang itu bahkan satu kali pernah menangis tersedu-sedu di depanku kala curhat tentang beban masalah pribadinya dengan metode hipnotherapiku saat kubongkar masa lalunya.
Henry ini, seperti apakah pribadinya?
“Ia disapa pesolek. Umurnya 30 tahun. Henry seorang ahli telepathy. Ia bisa berbicara hanya dengan kekuatan pikirannya. Ia juga mampu memanipulasi suara hati seseorang.
Ia menggunakan keahliannya untuk menipu beberapa pengusaha dalam transaksi bisnis.
Kejahatannya sulit dibuktikan.”
“Demi menghindari kejaran serta target dendam dari orang-orang yang ditipunya,
kami menyembunyikannya di pulau Chimera. Mungkin kau pernah mendengar pengusaha Mc. Pherson yang nyaris bangkrut karena dananya dipindah ke beberapa rekening yang telah disiapkan Henry.
Ya , inilah Henry penipu yang tidak bisa dibuktikan kejahatannya. Walau namanya tidak pernah muncul di media masa,
namun pihak inteligen dan perbankan mengetahui hal itu. Kejahatan Henry tak terbuktikan saat itu.”
Aku terhenyak. Wajah tampan dengan setelan baju yang necis disertai kemampuan hebat telepathy, namun sifatnya penipu membuatku heran, terpana dan juga terpesona.
“Negara ingin mengembangkan kemampuan telepathy seperti Henry ini untuk tentara. Bayangkan Moi, kalau tentara kita dapat saling berkomunikasi tanpa perlu frekuensi radio ataupun alat-alat elektronik, koneksi internet,
tanpa batas waktu dan wilayah serta aman tak terdeteksi musuh, maka komunikasi lewat telepathy ini sangat praktis sekali bukan?”
“Maksudnya tanpa batas wilayah bagaimana, Mrs. Rose ?“ tanyaku.
“Oh, maksudnya begini, apabila kita punya prajurit di luar negeri, maka lalu lintas percakapan mereka,
tidak akan terdeteksi pihak asing,
bisa untuk kegiatan spionase, infiltrasi ke wilayah musuh,” jelas Mrs. Rose.
“Gimana, Moi? Tampan kan? Sense of humornya tinggi. Penampilannya sopan.
Hati-kati kamu Moi, jangan sampai kamu kena manipulasi telepathynya, ya,”
goda Mrs. Rose mengejutkanku.
Aku melihat senyum mengembang di wajah Mrs. Rose saat dia menggodaku.
Aku balas tersenyum dan merasa rileks.
Semula aku membayangkan betapa tidak enaknya bila bekerja sama dengan seseorang yang kaku serius sepanjang waktu. Mendapati Mrs. Rose ternyata memiliki rasa humor, sungguh menyejukkan hatiku.
“Mrs. Rose, aku merasa sangat kecil melihat orang-orang dengan bakat luar biasa seperti ini. Sungguh suatu kehormatan bagiku untuk bisa berinteraksi langsung dengan mereka, walau dalam hatiku sendiri aku merasa takut juga.”
“Itu baru sebagian, Moi. Masih banyak penghuni lainnya dengan bakat mereka masing-masing yang berbeda dan unik.”
Klik! Gambar berubah.
Kali ini menampakkan seorang anak laki-laki.
Aku menebak, mungkin seusia pelajar SD.
“Namanya Ronald. Panggilannya Ron.
Umurnya 11 tahun.
Anak ini mengidap gangguan ADHD alias anak hiperaktif. Ia punya bakat indigo.
Ia bisa melihat aura dan hal-hal mistis secara nyata.
Saat menjalani terapi, therapistnya dikejutkan oleh bakatnya.
Pada pandangan Ronald, tubuh manusia terdiri dari spektrum warna,
selain nampak secara fisik.
Ia bisa mengatakan bahwa therapistnya punya suatu penyakit di perutnya karena di pori-pori tubuh di area itu mengeluarkan kabut pucat berwarna hitam keabu-abuan.”
Mataku mengerjap, teringat sebuah film science fiction yang mana tokoh aliennya memiliki kemampuan seperti Ronald.
Aku sungguh tidak mengira, bahwa ada orang sungguhan yang memiliki kemampuan seperti itu, dan sebentar lagi aku akan berjumpa dengannya.
“Ronald juga mampu melihat dunia lain sejelas dunia nyata.”
“Maksudnya anak ini bisa melihat roh-roh yang bergentayangan?”
Mrs. Rose mengangguk.
“Lalu, mengapa anak sekecil ini bisa ada di Chimera, Mrs. Rose?” tanyaku.
“Bukankah anak yatim dan orang terlantar dipelihara oleh negera, Moi?
Ronald dianggap tidak bisa diatur oleh keluarganya.
Anak ini impulsif, tantrum dan dianggap terlalu aneh untuk ukuran anak normal.”
“Seluruh keluarganya merasa bisa hancur bila mempertahankan Ronald dalam keluarga,
maka negara mengambil alih pemeliharaannya. Tentu alasan utama yang sebenarnya kamu sudah tahu kan, Moi?” jelas Mrs. Rose.
Aku mengangguk,
“Ronald merupakan obyek bagus untuk penelitian anak indigo.
Demi kepentingan militer.”
“Oh, good girl. Kau sangat pandai, Moi.
Okey kita lanjutkan ya,” puji Mrs. Rose.
Klik! Layar LCD menampakan seorang pria muda berkacamata, mengenakan pakaian kemeja lengan panjang yang rapi,
vest rajut yang senada dengan kemejanya, dan raut wajahnya menunjukkan kecerdasan atau kutu buku.
“Namanya Jeff. Julukannya Jeff The Hacker.
Umurnya 22 tahun. Ia jenius di bidang komputer. Ia dulunya mahasiswa yang meretas jaringan komputer inteligen dan badan keamanan nasional”
“Demi keamanan negara, ia diambil oleh negera dan disembunyikan di Chimera. Dialah satu-satunya orang yang bisa mengakses komputer satelit di pulau Chimera.”
Duuh, ada juga yang jagoan komputer di pulau itu dan kecerdasannya di atas rata-rata. Sayangnya memiliki riwayat perbuatan kriminal di masa lalunya.
Sebentar lagi aku akan berada di antara orang-orang berbakat ini.
Umur mereka tidak jauh dariku. Aku berharap kami bisa bersahabat baik nantinya .
Klik!
Gambar di LCD menampakkan seorang pemuda kurus ramping, berbibir tipis yang merengut. Bibirnya setengah terbuka.
Tulang pipinya menonjol. Rambutnya tipis gimbal berantakan sebahu.
Di atas kepalanya tidak tumbuh rambut, sepertinya kebotakan melanda bagian atas kepalanya.
Dan anehnya aku amat, ternyata pemuda ini tidak mempunyai alis dan bulu mata.
Giginya renggang kehitaman. Saat melihat tampilan giginya, aku teringat slide waktu aku kuliah tentang gangguan terkait dengan pecandu narkoba jenis kokain.
Wajahnya mengingatkanku akan anggota geng motor yang senang membuat keributan di jalan-jalan. Berani, masa bodoh serta sorot matanya nampak seperti orang mengejek, liar.
“Dan ini Rado. Usianya 18 tahun. Di balik penampilannya yang mirip gembel,
ia memiliki kemampuan elektrokinesis,
alias mampu menimbulkan energi listrik dari tubuhnya.”
“Lebih dari setahun yang lalu , saat wanita yang disukainya mengadakan pesta ulang tahun,
ada seorang pemuda yang membuatnya cemburu. Rado membuat kekacauan dengan elektrokinesisnya.
Pemuda malang yang membuatnya cemburu itu dipanggang oleh Rado dengan kemampuan elektrokinesisnya.Dalam kemarahannya,
Rado juga membakar habis restaurant, tempat ulang tahun gadis itu dirayakan.”
“Beberapa orang menjadi korban meninggal di sana.
Mereka terbakar karena terjebak kebakaran yang ditimbulkan oleh Rado.
Namun karena kemampuan seperti Rado ini langka,
maka pemerintah membarter hukuman mati Rado dengan mengasingkannya ke pulau Chimera, Moi.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Aku sungguh terkejut.
Rado ini…
ia kejam dan menakutkan.
Mampukah aku menghadapi orang seperti Rado ini?
Di balik tampilan a la gembel ternyata tersimpan sifat sadistic.
Aku juga teringat berita tentang kejadian lebih setahun lalu saat sebuah restaurant terbakar habis
dimana ada muda mudi sedang merayakan pesta ulang tahun dan dinyatakan oleh polisi bahwa korsleiting penyebabnya…
oh rupanya Rado penyebabnya.
“Karena hal itulah Rado masuk di pulau Chimera kita.”
“Kau tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila orang seperti Rado berkeliaran di jalan-jalan lalu semisal tersenggol pengguna jalan lain, kemudian tersulut emosinya bukan?”
“Hukuman mati layak untuknya, namun perbuatannya sulit dibuktikan di pengadilan.
Hukum akan sulit mempercayai bahwa kemampuan Rado seperti ini nyata,
pihak militer mengintervensi, pers tidak boleh memberitakan bahwa Rado yang menyebabkan kebakaran,
polisi tidak boleh melanjutkan penyelidikan,
maka sebagai kompensasi hukuman mati Rado dibawa ke pulau Chimera,”
tambah Mrs. Rose memecah pikiranku.
“Selanjutnya, aku rasa kau bakal ngefans dia, Moi.
Dia seorang doktor psikologi,” gurau Ms.Rose.
Aku terhenyak badanku sampai terdorong ke depan,
tak terasa mulutku terucap :
”Doktor psikologi??”.
Pikiranku berkecamuk bagaimana mungkin seorang doktor dengan jurusan yang sama denganku ada disitu?
Aku rasa bakal banyak kesamaan antara diriku dengan dirinya karena bakat dan minat yang tinggi pada psikologi.
Klik!
Klik!
Suara panel yang dipegang Mrs. Rose mengejutkanku.
Seorang pria tegap, bertubuh besar berotot, nampak di layar LCD.
Sorot mata pria itu tegas dan seperti mengancam.
Bentuk rahangnya kokoh persegi.
Jenis pria yang berbahaya. Aku jadi teringat tokoh-tokoh antagonis dalam fim-film action yang pernah ku tonton.
“Namanya Vicko Sunhelin, desersi marinir.”
“Keahlian beladirinya sangat tinggi,
bahkan seorang trainer beladiri terbaik saat dulu.
Namun karena komandan kesatuan Vicko bertentangan prinsip dengannya,
maka Vicko memutuskan pergi dari ketentaraan dan melarikan diri dari kesatuannya.”
“Statusnya desersi saat itu.
Beberapa prajurit berusaha menangkap dia namun tewas karena kemampuan beladiri Vicko.”
“Karena telah desersi dan menyebabkan beberapa dari tim penangkapnya gugur,
maka Vicko dinyatakan sebagai orang yang tidak beridentitas, dianggap telah tewas saat itu,
dan tentu saja ini merupakan rahasia negara.”
“Vicko juga sarjana biologi.
Dia bisa menggunakan materi biologi seperti spora, lumut, tanaman-tanaman menjadi senjata biologi.
Teralis di sel Vicko di pulau Chimera sudah beberapa kali dibiakkan jamur yang bersifat korosif dan membuat teralis menjadi lapuk.”
“Untunglah percobaan melarikan dirinya sejauh ini dapat digagalkan oleh kami.”
Doktor psikologi?
Marinir?
Orang yang tidak beridentitas?
Sarjana biologi ?
Ahli dan trainer beladiri militer terbaik?
kepalaku menjadi pusing saat mendengar info bahwa begitu hebat dan kompleksnya tentang seorang Vicko Sunhelin…….
“Bagiku Vicko ini seperti dewa Mrs. Rose. Kemampuannya sungguh luar biasa.” aku memuji pria dengan kemampuan hebat itu.
“Tidak Moi.
Vicko bukan dewa.
Dia seorang yang sangat pandai , IQ Vicko 162.Itulah yang menyebabkan dia sangat pandai dengan berbagai kemampuannya.
Tapi dia punya sifat psychopath.”
“Ahli bela diri yang sangat taktis, handal dengan berbagai keahlian beladiri , baik dengan tangan kosong maupun penggunaan senjata.
Bahkan tulang musuh yang akan dipatahkan oleh dia dapat diprediksi dengan tehnik apa olehnya.”
Waduh ,
dengan presentasi tentang Vicko ini ,
aku kira sosok Rado adalah sosok paling bengis,
ternyata Vicko orang yang paling mengerikan di Chimera, pikirku.
“Okay ,Moi ? Aku lanjutkan ya.”
Klik!
Gambar LCD menunjukkan seraut wajah pria bertubuh agak kurus,
namun tegap berotot nampak liat berurat,
berkumis,
kulitnya coklat kehitaman, nampak rambutnya berantakan,
awut-awutan mungkin tidak pernah terbilas shampoo berhari-hari.
Sorot matanya tanpa ekspresi,
sekilas pikiranku mengatakan bahwa ia mirip orang gila yang berkeliaran di jalanan.
“Ini Leman. Usianya 50 tahun. Mantan tentara.
Keahlian bertempur Leman adalah berkelahi dengan jurus binatang.
Ia bisa bertarung dengan jurus harimau, jurus ular,
jurus monyet,
jurus rajawali
dan lain sebagainya.
Leman saat ini sering mengalami trance, karena labil jiwanya sejak motor yang dinaiki istri dan anaknya tertabrak bis di depan rumah dinas mereka.
Istri dan anaknya meninggal di tempat.”
“Leman mengalami PTSD ,
Post traumatic stress disorder . Leman muda menghabisi sopir bis itu dengan sekali tembakan, walau sopir tersebut sudah bersimpuh memohon maaf pada Leman,namun emosi sesaat yang memuncak membuat Leman lepas kontrol.
Akibat perbuatannya Leman dikeluarkan dari kesatuan tentara.
Ia pun semakin depresi.”
“Ah ya, Leman punya ilmu fakir. Kamu tahu fakir, Moi?”
Aku mengangguk.
“Fakir?”
“Oh iya ya…..
Fakir itu seperti orang kesurupan yang bisa makan pecahan beling, lalu berdiri diatas paku-paku tajam tanpa terluka itu kan Mrs. Rose?”
Mrs. Rose mengangguk.
“Leman bisa makan sampah, tapi ia tidak sakit perut.
Telanjang , namun tidak masuk angin.
Ia juga pernah tidak mau makan berhari-hari tapi tidak lapar.
Sering kehilangan orientasi diri.”
“Ia seperti orang gila yang tidak kenal lelah.
Seperti itulah kondisi Leman.”
Leman yang malang.
Kehilangan anggota keluarganya di depan mata kepalanya sendiri,
belum lagi kehilangan jabatannya dalam satu peristiwa yang tidak sana sekali tidak terduga olehnya.
Kepalaku menjadi pusing akibat terlalu banyak hal yang baru dan mengejutkanku.
Presentasi Mrs. Rose tadi menampilkan beragam fenomena metafisika yang sekilas pernah kubaca dan juga kupelajari di buku psikologi serta literatur,
namun sekarang, semuanya itu nyata tersaji di hadapanku.
Aku mendapati semangatku meningkat.
Aku akan berinteraksi dengan mereka semua dalam waktu dekat.
Mereka semua pribadi-pribadi nyata dengan kemampuan hebat masing-masing.
Sayangnya mereka juga memiliki gangguan kejiwaan yang berbeda satu sama lain.
Mengingat hal tersebut kepalaku berkedut, pening.
Suara Mrs. Rose terhenti.
Wanita itu menatapku.
Kelihatannya dia memberi jeda padaku untuk sejenak santai.
Matanya indah mirip kucing Persia.
Di balik kacamata bulat berlensa tipis memandangku,
nampaknya dia mengerti, bahwa aku butuh waktu untuk memahami presentasinya.
Aku balas menatapnya seolah tak sabar ingin mengetahui presentasi selanjutnya.
Seperti biasanya, rasa ingin tahuku selalu menerobos meminggirkan rintangan,
walau kepalaku terasa seperti mengambang
“Lanjuut Mrs. Rose,” pintaku.
“Dan….
aku sendiri,
aku adalah seorang psikiater dengan kemampuan psikokinesis.”
Mrs. Rose menunjukkan kemampuannya dengan menerbangkan kertas-kertas serta segala peralatan tulis di meja sesuai dengan arahan tangannya.
“Aku bisa membuat benda-benda melayang hanya dengan kekuatan pikiranku, Moi.”
Rahangku terasa seperti mau jatuh,
mungkin bila di foto mulutku akan nampak melongo lebar.
Tak kusangka wanita cantik ini seorang psikiater,
belum lagi dia punya kemampuan mirip sulap yang kulihat di televisi,
perpaduan kematangan usianya, kepandaian ,
kecantikan dan kemampuannya membuatku semakin takjub.
“Oh, wow!
Keren sekali, Mrs. Rose,”
Pujianku, dan aku mulai bertepuk tangan.
“Dan aku satu-satunya orang yang bebas di sana, Moi.
Walau aku juga obyek penelitian,
aku bebas keluar masuk di sana ,
karena statusku juga pegawai pemerintah.
Aku juga memberi obat jika ada rekan atau penghuni pulau, anggota prajurit yang depresi.
Aku juga ikut meneliti lho, Moi.”
Beberapa obyek yang melayang mulai turun,
aku menatap teman baru sekaligus rekan kerja di hadapanku dengan kagum.
“Mrs. Rose sungguh luar biasa.”
“Kemampuan metafisika Mrs. Rose ini benar-benar tak terbayangkan dan yang kutahu cuma jadi literatur dalam ilmu psikologi.
Antara ada dan tidak ada , namun hari ini kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
Amazing !”
Mrs. Rose tertawa.
“Aku senang sekali bisa berjumpa dan bekerja sama dengan Mrs. Rose nanti..ckck..
luar biasa!“
Aku bertepuk tangan semakin keras tanda kegirangan melihat kehebatan tersebut.
“Aku sungguh tersanjung,
terima kasih, Mrs. Rose.”
“Pekerjaanmu adalah mendata , memberikan paparan dari sisi psikologi
tentang masing-masing insan yang diteliti ini ,
engkau juga dapat memberikan saran , therapi , konseling pada mereka.
Selain itu kau coba temukan bagaimana fenomena metafisika ini bisa timbul.
Lakukan tugas negara ini dengan baik, Moi.
Jangan membelot, ataupun mundur. Dalam waktu 6 bulan,
negara juga akan menaikkan pangkat ayahmu yang hilang dalam misi.” ucap Mrs.Rose .
Aku terkejut,
“Mrs. Rose mengetahui tentang papaku?”
“Bukankah sudah kubilang, semua datamu rinci ada di dalam data negara.
Kita memiliki tim penyeleksi yang lengkap.
Bukan hanya nilai akademis, keluargamu,
kebiasaanmupun sudah diamati dan dievaluasi sebelum kami merekrutmu.”
“Berkas tentang pendidikanmu sejak taman kanak-kanak,
kita juga cermati berkas lengkap tentang seluruh keluargamu juga.
Termasuk ibumu serta adikmu satu-satunya.”
Aku terdiam.
Ada tim penyeleksi?
Gadis yang baru dinyatakan lulus skripsinya telah diseleksi diam-diam ?
sejak aku kecil?
Oleh tim?
Oh, selain menyeleksi nilai-nilaiku, tim juga sudah mengakses data keluargaku secara keseluruhan.
Tidak ada yang tidak diketahui, termasuk Mrs. Rose yang mengetahui data-data tersebut tentang kehidupanku.
Aku nampak begitu transparan di hadapan Mrs. Rose.
“Moi, persiapkan dirimu.
Dua hari lagi kami akan jemput kau dengan mobil, lalu kita ke pulau Chimera naik helikopter.
Disana tidak ada akses hp, internet, kecuali yang dipegang Jeff.”
Aku terdiam.
Tidak ada akses hp, internet?
Itu berarti selama 6 bulan, aku tak akan bisa menelpon dan bercanda ria ataupun sekedar mengobrol via chat WA dengan Mama serta Adrian. Tapi rasanya itu semua seimbang. Aku bisa bertemu dengan insan-insan yang unik, berbakat serta sangat terhormat menjadi pegawai pemerintah.
Rasa ingin tahuku akan menggali info tentang mereka bisa terpuaskan.
Apalagi barusan melihat kemampuan Mrs. Rose yang luar biasa berlangsung di depan mataku.
“Oke. Siap Mrs. Rose,” ucapku mantap.
Mrs. Rose memegang bahuku dengan lembut,
“Selama 6 bulan, kamu juga tidak bisa pulang. Jaga mentalmu. Pekerjaan ini,
aku tidak bilang mudah untuk dikerjakan.
Namun kita akan bekerja sama. Kamu tidak sendirian.”
“Kita lakukan tugas kita yang terbaik ya, Moi.
Sekarang kamu bisa pulang, berkemas-kemas dan berpamitan pada keluargamu.”
“Ya, Mrs. Rose.”
“Sampai ketemu 2 hari lagi.” Mrs. Rose mencabut flash disk di laptop ,
mematikan laptop dan dengan remote di tangannya.
Layar LCD ruangan Prof.Julian tergulung perlahan.
Ia mengemasi map hitam,
laptop dan perkakasnya. Kerjanya sangat taktis dan sigap, pikirku.
Tanpa menoleh kepadaku, Mrs.Rose melangkah keluar meninggalkanku berdiri sendirian.
Citra misterius terbawa seiring langkah kakinya.
Aku menatap sosok punggungnya dari belakang.
Bunyi ketak-ketuk high heels Mrs. Rose bergema ke seluruh ruangan.
Tidak diragukan, Mrs. Rose adalah sosok wanita yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi,
nyaman dengan dirinya, hangat, sekaligus berwibawa namun juga supel.
Wanita yang anggun, menarik dan hebat…
semoga ia orang yang bisa aku percayai,
dan aku bisa bekerja sama dengan baik dengannya.
***
“Mama,
aku pulang,” ucapku riang.
Mamaku membuka kelas bimbingan belajar di rumah. Mama memakai nama Bimbingan belajar “Moira” di depan rumah kami.
Ya, beliau memakai namaku untuk usaha bimbingan belajarnya.
Ia mengajar mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia untuk anak-anak SD, SMP serta SMA.
Dan aku bersyukur DNA kecerdasan Mama ternyata telah menurun kepadaku.
Aku membuka pintu rumah.
Mama sedang duduk nyaman di sofa,
kedua kakinya bertumpu di atas kursi kecil. Aku bisa mengerti penatnya fisik serta pikiran Mama setelah sepanjang siang dan sore mengajar,
dan malam nantipun akan akan ada kelas lagi.
Semakin banyak murid,
dan semakin banyak jam Mama mengajar itu lampu hijau tanda kecukupan bagi kehidupan kami,
namun dibalik senyuman Mama, aku tahu energi Mama terkuras habis.
“Moi,” sapanya.
Matanya sesaat terbuka, kemudian terpejam lagi.
Aku duduk di sisi Mama.
“Ma, Moi telah dipresentasikan secara sekilas tentang pekerjaan yang luar biasa itu, Ma.”
Mata Mama terbuka,
lalu menegakkan tubuhnya. “Syukurlah, Moi, Apakah Moi sanggup menjalaninya?”
“Oh Ma,
itu pekerjaan impian .
Sangat sesuai bakat minat dan keahlian Moi.
Moi akan menjadi abdi negara setelah masa training selesai. Dua hari lagi Moi berangkat, kantornya di luar pulau.
Kerjanya cuma enam bulan,
tapi setelah itu bisa langsung dapat pengangkatan, Ma.”
“Selama enam bulan itu,
aku tidak bisa menghubungi Mama dulu.”
“Masuk karantina?”
“Mmm…bukan karantina sih. Tapi di tempat Moi kerja nanti, disana tidak ada signal HP,
juga akses internet.
Jadi tidak bisa berhubungan dengan dunia luar.”
“Masuk proyek rahasia pemerintah, begitu Moi?” tanya mama seolah menebak.
Aku mengangguk,
“Seperti itu Ma.”
Mama memelukku lembut.
“Putriku sangat keren. Doaku besertamu Moi.
Bekerja yang bagus, yang rajin ya.
Jangan malas.”
“Masuk dunia kerja,
beda dengan dunia kampus.
Bercandanya dikurangin,
biar kamu ada wibawanya.”
“Ya, Ma.”
Mataku mengerjap.
Ya, Tuhan.
Aku tentu mengerti dengan baik bagaimana aku harus bersikap,
bertutur kata dan membawa diri.
Aku bukan anak kecil lagi.
Aku bisa memahami perasaan Mamaku sama seperti orang tua-orang tua lainnya, yang senantiasa memandang putra-putrinya adalah putra-putra kecil mereka yang belum dewasa
berapapun usia putra-putri mereka sekarang.
“Walau kamu perempuan, Mama tahu kamu kuat,
sama seperti Papamu.
Andai, ia masih ada,
betapa bangganya ia akan dirimu.
Papamu militer sementara
kau jadi pegawai pemerintah,
luar biasa,
jaga dirimu baik-baik, Moi.”
“Tentu, Ma. Aku akan menjaga diriku dengan baik.
Lusa pagi aku berangkat, dijemput pakai mobil ke rumah.”
“Di hari itu, Mama akan siapkan sarapan lebih pagi untukmu, Moi.”
“Terima kasih, Ma. ”
Setelah aku pamit kepada Mama dan bertemu dengan adikku,
orang ketiga yang akan aku pamiti tentu saja adalah Adrian.
Jari-jariku bergerak mengetik di keypad ponselku.
Adrian menjawab dengan sejuta gombal bahwa ia akan merindukanku. Aku tahu ucapan Adrian gombal belaka. Tidak ada hubungan khusus yang lebih dari teman diantara kami.
Namun begitu, aku senang membaca balasan chat Adrian tersebut.
Setelah menimang lisptik merah muda pemberian Adrian dan membayangnya ketampanan pemberinya, aku memasukkan lipstik tersebut ke tas ranselku. Lipstik Adrian akan menjadi barang penyemangatku bekerja di Chimera.
***
Dua hari kemudian, sebuah mobil sedan hitam berkilat menjemputku di rumah.
Sopirnya berambut cepak, bertubuh besar dan mengenakan seragam khas tentara.
“Ms. Moira?” tanyanya.
Aku mengangguk mengiyakan,
lalu memeluk Mama. “Moi berangkat ya, Ma.
Sampai jumpa enam bulan lagi.”
Mama melambaikan tangannya padaku.
Aku masuk ke mobil,
kubuka jendelanya, kuberikan ciuman jarak jauh untuknya.
Sosok Mama sudah jauh di belakang.
Aku menutup kaca jendela mobil.
Aku memejamkan mataku.
Seumur hidupku baru sekaranglah aku akan berada jauh dari Mama untuk rentang waktu yang cukup lama.
Dari semasa TK hingga kuliah, Mama selalu di dekatku.
Aku akan merindukan Mama.
Oooh i’ll miss you Mama
Sepanjang perjalanan sopir tentara yang menjemputku diam,
tak bicara sepatah katapun. Ah, ya.
Ia sudah bicara satu kata tadi_satu-satunya kata yang diucapkannya, yakni Ms. Moira? Saat ia berjumpa pertama kalinya di depan rumahku tadi.
Ia juga sudah berbaik hati membantuku memasukkan kopor-koporku ke bagasi mobil.
Terpikir olehku untuk membuka percakapan atau membuatnya sedikit tertawa untuk mengakrabkan diri dengannya, namun pesan Mama, ‘Jangan banyak bercanda, jaga wibawamu, Moira.’
Seolah terngiang kembali di telingaku.
Akhirnya aku memutuskan untuk berdiam diri pula.
Jok mobil ini beraroma kulit. Mobil ini mobil baru.
Aku berdebar-debar dan gelisah dalam posisi dudukku. Perasaanku sangat tak nyaman ,
belum pernah aku bakal pergi meninggalkan rumah dan keluarga dalam jangka waktu lama , dan berada di lingkungan yang baru ,
asing dan penuh insan-insan berbakat yang beberapa dari mereka dapat dikategorikan mempunyai gangguan kejiwaan.
Ting!
Ada pesan masuk di whatsappku.
Aku mengambil ponselku.
Dari Adrian.
“Mooiii. Skripsiku lulus juga, Moi. Kamu mau mengucapkan selamat untukku?”
Aku tersenyum.
Aku sudah menebak skripsi Adrian akan lolos dengan mulus. Di balik keceriaan serta sanguinnya Adrian,
aku tahu pria ini, ia selalu sungguh-sungguh dalam mengerjakan segala sesuatu.
“Selamat…
selamaat ya, Adrian. Aku menantikan traktiran chicken steaknya enam bulan lagi ya?”
“Oke. Sip.Jadi kamu sekarang lagi dalam perjalanan ya?”
“Yups. Sst, Ad, …prajurit merangkap sopir yang menjemput aku mirip Frankenstein.”
“Masa sih? Ganteng ya?”
Tawaku meledak.
Deg!
Kemudian tiba-tiba aku menyadari kesunyian di dalam mobil.
Aku cepat-cepat menutup mulut dengan tanganku.
Aku melirik sopir di depanku. Ternyata sang frankenstein sedang melirikku dari kaca tengah mobil!
Aku berdehem….,
dan segera menghapus tawa dari wajahku,
memasang mimik wajahku yang biasa dan mencoba tenang ,
kuharap sedikit berwibawa.
Setelah beberapa detik berlalu,
jari-jariku bergerak lagi di keypad.
“Bukan gitu.
Wajahnya biasa sih, tapi sikapnya agak serem.”
“Tentara bukannya rata-rata begitu? Kalau orangnya senang ngebanyol,
dia jadi bintang film komedi dong, macam Mr. Bean, tidak jadi tentara. Mungkin juga beliau lagi sakit perut atau gigi, Moi.”
Aku tersenyum membacanya. Jari-jariku bergerak membalas,
“Apa kamu mulai melamar pekerjaan juga, Ad?”
“Uh, gimana sih kau ini.
Cuma kamu yang beruntung ,
sudah bekerja walau belum di wisuda.
Transkrip nilai saja,
baru minggu depan kita terima.”
Hmmm aku baru berpikir,
iya , sangat beruntung diriku belum wisuda dan nilai transkrip belum keluar,
pihak universitas sudah merekomendasikan aku bekerja,
walau aku bakalan tidak bisa ikut wisuda bulan depan.
Tetapi semuanya itu sangat sebanding dengan pekerjaan hebat yang kuperoleh.
“Sip.
Sukses untukmu ya, Ad.”
“Trims.
Sukses juga buatmu, Moi. Ngomong-ngomong,
kamu masih suka mimpi buruk?”
Aku tersenyum, teringat 3 foto yang Adrian kirimkan padaku, “Minggu ini belum.”
“Aku kasih bekal buat 6 bulan ke depan ya, biar tidak mimpi buruk.”
Bekal?
Oh tidak….
pria narsis itu…
Tepat seperti dugaanku…
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Enam buah foto dikirimkan Adrian kepadaku!
Ting!
Dari Adrian.
“6 foto untuk 6 bulan, hehe…” tulisnya.
Aku memejamkan mataku.
Hei…
Hei…
Sejak kapan ponselku menjadi galery untuk foto-foto Adrian?
Aku tak sempat membalas chat Adrian lagi.
Mobil yang kutumpangi berhenti dan Mr. Frankenstein itu mengatakan, “Sudah sampai.”
Kami sudah sampai di bandara.
Ternyata bandara militer angkatan udara,
Mrs. Rose sudah nampak berdiri lalu berjalan di sisi mobil dan tersenyum.
Aku keluar mobil dan tersenyum lebar padanya.
Mrs. Rose merangkul bahuku seolah kami sahabat lama.
Sopir itu membantuku menurunkan koper-koperku dan menaruhnya diatas troly kemudian mendorongnya,
entah kemana.
Aku menyadari ponselku akan segera kehilangan signal,
aku cepat-cepat mendownload foto-foto yang dikirim Adrian barusan.
Aku tertawa, yang di kirim Adrian ternyata adalah foto-foto Kitty,
kucing Persia betina gemuk peliharaan Adrian.
Kucing putih cantik yang berbulu panjang halus dan berlonceng besar,
dalam berbagai pose.
Aku kira semula Adrian akan mengirim foto-foto close up dirinya lagi.
Jari-jariku bergerak, membalas.
“Trims untuk foto-fotonya. Salam untuk Kitty ya. Sampai ketemu 6 bulan lagi.”
Mrs. Rose tersenyum,
“Chatting sama siapa sih? Pacar?”
Pacar? Adrian dan aku?
“Uh, bukan Mrs. Rose. Teman kok. Teman,” sahutku.
“Teman atau teman? Aku lihat ekspresimu gembira gitu, Moi?”
Aku tak menjawab ucapan Mrs. Rose ,
aku hanya tertawa, menyimpan ponselku di saku celana jeansku ,
dan tanganku balas merangkul Mrs. Rose ,
kami berjalan bersama.
Sebuah helikopter berwarna hijau tua,
helikopter militer yang biasanya aku lihat hanya di film ataupun di museum sudah menunggu kami.
Koper-koperku telah ada di dalamnya.
Rasanya senang bercampur takjub aku masuk ke dalamnya,
duduk berhadapan dengan Mrs. Rose ,
dan sesaat kemudian pilot menyalakan panel-panel di depannya,
suara baling-baling perlahan terdengar,
makin lama makin memekakkan telinga,
Mrs.Rose memanduku untuk memasang headset hitam di telinga untuk mengurangi bisingnya deru baling-baling helikopter dan brbrrr…..
helikopter ini mulai terangkat terbang.
Rasa bangga bercampur-aduk saat helikopter terbang ,
seumur-umur hidupku aku belum pernah naik helikopter,
pesawat terbang ,
bahkan kapal laut pun belum pernah aku naiki.
Gadis cupu yang berkutat dengan buku ,diktat ,
literatur serta kondisi ekonomi yang pas-pasan mana bisa pergi kemana-mana.
Aku dan Mrs.Rose duduk berhadap-hadapan,
saat melihat Mrs.Rose ,
parasnya yang cantik dengan syal di lehernya berkibar lembut selama perjalanan di helikopter,
membuat hatiku tentram.
Helikopter terbang semakin tinggi awan-awan putih ada disekitar kami,
seolah seperti kapas-kapas raksaksa berterbangan,
antara was-was ketinggian dan suara bising helikopter yang berputar,
aku tetap berusaha menikmati pemandangan tersebut,
Mrs.Rose nampak melirikku sambil tersenyum simpul.
Setelah beberapa saat terbang, melewati laut yang tidak bertepi ,
dari jendela aku mulai melihat pulau kecil.
Mrs. Rose menepuk pahaku sambil menunjuk, ”Itu pulaunya, Moi.
Pulau Chimera Project.”
GLOSSARY
Hidro sefalus: kondisi saat terjadinya penumpukan cairan berlebihan di dalam otak, sehingga menimbulkan penekanan sel-sel otak dan gangguan saraf.
Metafisika: ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang non fisik atau tidak kelhatan.
Mri (magneting resonance imaging) :pemeriksaan dengan tekhnik pengamblan gambar detail organ dri berbaga sudut yang menggunakan medan magnet dangelombang radio.
ADHD (attention deficit hyperactivity disorder): gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian, sera memiliki perilaku impulsive dan hiperaktf sehingga dapat berdampak pada kesehatan jiwa.
Impulsive: kondis saat seseorang mendapatkan dorongan untuk melakukan sebuah tndakan tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.
Tantrum: ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau ornag-rang dalam keuslitan emosional, yang bisanya dtandai dengan sikap keras kepala, menangs, menjerit, berteriak, menjert-jert, pembangkangan, mengomel marah, tidak peduli terhadap upaya untuk menenangkan
Indigo: insan yang dyakini memilki kemampuan atau sifat yang special, tidak biasa, dan bahkan kemampuan supranatural.
Pskopat: gangguan yang membuat seserang menjadi tidak memiliki hati nurani danjuga empat. Sehingga orang yang psikopat cenderung manipulative, mudah berubah dan sering kali berbuat criminal.
Trance: suatu kondisi dimana gelombang otak kita turun dari gelombang beta ke gelombang alfa maupun theta.apa yang terjadi saat seseorang sedang trance tergantung sugesti apa yang sedang bekerja dalam pikirannya.
PTSD (post traumatic stress disorder): gangguanstres pasca trauma. Gangguan kejiwaan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulh setelah mengalami atau menyaksikan perstwa yang mengerikan.