Mrs. Rose tetap berjalan melenggang tanpa menoleh, lalu menjawab,
“Tenang saja Moi, kerjakan saja tugasmu dengan baik, nanti kita berikan hal yang luar biasa bagimu. Tugasmu berhasil, kau dapatkan penghargaan, supaya kau semangat kerja.
Dan jangan tanya hadiahnya apa, masak hadiah harus diberitahu apa isinya.”
Aku terdiam, tak tahu harus berkata apalagi, tiba-tiba…
“Moi, hei Moi,
gimana kabarmu?”
suara Henry terdengar menyelinap di pikiranku.
Wah, disaat perasaanku sedang kacau,
aku harus memusatkan konsentrasiku untuk menjawab Henry,
“Maaf Hen, aku sebentar lagi bertemu Vicko,
harus kupusatkan perhatianku pada manusia hebat satu ini.”
“Okay, hati-hatilah Moi,
dia sangat tidak terduga, barusan juga kudengar ribut-ribut di selnya Leman saat kau disana.
Sekali lagi,
jaga diri baik-baik ya.”
pinta Henry menggaung di pikiranku.
“Ya Hen, kau sahabat yang terbaikku, aku di kawal ketat nanti di ruang pemeriksaan, jangan kuatir.”
Syukurlah Henry tidak berlama-lama berbicara denganku,
energiku sangat terkuras siang ini,
belum lagi bertemu Vicko sang jenius sesudah ini.
Jam 14.00 aku dan
Mrs. Rose telah siap di ruang pengamat.
Aku memindai sidik jariku untuk membuka pintunya.
Ruang dimana Rado pernah kami amati,
dari ruangan ini aku dapat melihat lewat kaca satu sisi, bahwa ruang pemeriksaan masih kosong.
Pintu terbuka,
Dragono beserta Tuan Jonah memasuki ruangan pengamat,
dimana aku dan Mrs. Rose berada.
“Aku akan selalu memantau kalian.
Kalau Vicko berulah,
kami akan siap menanganinya.
Nantinya kalian berdua
di ruang pemeriksaan,
aku dan Tuan Jonah memantau kalian disini,”
ujar Dragono.
“Aku siapkan pistol elektronik untuk meledakkan kepala binatang tersebut kalau tiba-tiba ia marah. Hanya aku saja yang bisa menggunakan pistol ini, karena dipindai dengan sidik jariku,” ucap Tuan Jonah.
Cekrekkk,
terdengar suara pistol dikokang Tuan Jonah.
Emosiku muncul saat melihat dia mengokang pistol,
“Tuan Jonah, andalah yang merangsang dia jadi binatang dan camkan
orang yang mengandalkan pistol akan mati karena pistol.”
Tuan Jonah berpaling, wajahnya datar menatapku, aku melihat sorot matanya penuh kebencian padaku, “Aku menyiapkan pistolku untuk menjagamu.
Mengapa kamu justru tak suka padaku?”
Aku mendongak menyesuaikan tinggi tubuhku dengan Tuan Jonah.Mataku bertemu dengan
Tuan Jonah,
“Apakah Anda lupa?
16 pertandingan Vicko itu, bukankah Anda yang mendesak Vicko untuk bertarung.
Vicko membunuh lawannya karena pengaruh tekanan dari Anda,
sebab hanya itu satu-satunya jalan yang Anda berikan padanya agar ia tetap hidup, Tuan Jonah.”
“Oh, tidak begitu, bocah, Vicko menikmati pertarungannya.
Ia senang dan menikmati dalam memilih bagian-bagian mana tulang musuhnya yang akan dipatahkan. Ia memang seorang ahli seni bertarung. Ia juga bahagia dengan aneka menu makanan lezat yang menantinya seusai bertarung untukmerayakan kemenangannya. Menjadi pemenang itu nikmat, bocah. Menjadi pecundang itu sampah. Orang bego saja tahu itu, tidak perlu kuliah sarjana sepertimu.Jadi, kamu masih tetap mau menyalahkanku?”
Aku menarik napasku, mengumpulkan kesabaranku untuk tetap berbicara
sopan,
sekaligus menahan buncahnya emosiku kepada pimpinan Chimera yang sakit ini.
“Tuan Jonah, anda membuatnya kelaparan, sehingga Vicko terpacu untuk mendapatkan kebutuhan makan. anda berjanji untuk melepaskannya dua pertarungan lagi.
Itu sebabnya dia selalu membunuh untuk mempertahankan hidupnya, demi kebebasannya juga.”
Aku mengatur ritme bicaraku,
supaya lontaran kalimatku tidak semakinqqq tinggi dan terdengar emosi.
“Dan kau mendapatkan uang banyak dari pertarungannya, itu tujuanmu, Tuan Jonah.
Kau memanfaatkan kematian manusia!”
Aku terhenyak,
ternyata aku tidak sanggup menahan emosiku, kubentak Tuan Jonah di akhir kalimatku,
rasanya memang sangat sulit untuk tidak emosi saat berhadapan dengan diktaktor gila uang, penguasa pulau Chimera ini.
“Tuan Jonah,
pernahkah tuan berpikir andai pertandingan selesai bila salah satu lawan tidak bisa bangkit berdiri dalam hitungan ke 10
seperti pertandingan olah raga pada umumnya,
tanpa harus membunuh pihak yang kalah?
Bukankah dengan cara olahraga seperti itu,
tidak ada yang terbunuh? Dan apakah Vicko akan mematahkan tulang-tulang lawannya?
Andalah yang membuat Vicko menjadi pembunuh, Tuan Jonah.”
“Ck…ck…
bocah..bocah..
Kau pikir ini olahraga MMA apa ?
Kalau olahraga,
kena pukul dan pingsan dihentikan oleh juri,
tapi disini harus sampai mati.
Camkan!
Harus sampai mati!
Itu seninya,
dan perbedaan ini,
membuat MMA jadi olahraga yang usang dan menjemukan.
Lagipula Vicko bertarung dan membunuh atas wewenang dariku.
Sudahlah jangan banyak bicara!
Sekarangsaatnya pasang microphone di tubuhmu.”
Tuan Jonah memberikan tanda dengan tangannya.
Dragono yang ada di sampingku memasang sesuatu di rambutku, sementara Mrs. Rose membuka setelan jas putihku dan memasang pemancar di sabuk pinggangku.
“Mengapa harus di pasang seperti ini, Mrs. Rose ?”Bisikku kepada Mrs. Rose.
“Ini penting Moi,
supaya Tuan Jonah bisa mendengar apa yang dipercakapkan Vicko,
dan bisa mengambil tindakan cepat sebelum Vicko menyerang kita.”
Kata Mrs. Rose sambil memasang pemancar itu di punggungku.
Tuan Jonah berdiri mematung,
dari raut wajahnya,
nampak pria separuh baya ini tak sedikitpun merasa berdosa atas segala hal yang telah dilakukannya
Sepasang matanya menatapku dengan tajam, menantang,
serta dalam ke bola mataku.
Aku bisa menangkap kilat kebencian di mata Tuan Jonah.
Tiba-tiba Tuan Jonah berujar “Bocah, bagaimana kalau aku merancang, pertandingan Vicko yang ke-17 adalah Vicko melawanmu?
Atau ibumu yang guru bimbingan belajar itu?
Atau…bisa juga,
William, Little Bill,
adik laki-lakimu yang kurus kering itu.”
Tuan Jonah menyeringai lalu menunjuk ke arah wajahku, “Ahahaha aku yakin Vicko sama sekali tidak akan keberatan andai melawan kalian bertiga sekaligus. Aahh, pasti pertandingannya akan asik sekali nanti. Pikirkan itu, Bocah!”
Ujung bibirnya tertarik ke bawah sementara tangan Tuan Jonah berkacak pinggang.
Aku terhenyak,
serasa wajahku di tampar, tidak kusangka bahwa ternyata Tuan Jonah mengerti detil tentang keluargaku.
Nama panggilan akrab adikku William, Little Bill hanya beberapa orang saja yang mengetahui.
Kengerian melandaku, aku tidak berani mempertaruhkan keluarga demi adu argumenku dengan Tuan Jonah.
“Aku bisa menjadi teman yang baik untukmu dan tentu bisa jadi sebaliknya.
Dan siapapun yang tinggal di balik bangunan Chimera ini, harusnya mengetahui
satu hal yang paling penting disini,
yakni, sangat tidak bijak bila sampai menjadi musuhku. Aku pastikan hidupnya akan sengsara.
Sangat, Amat sangat sengsara.”
Tuan Jonah mengepalkan tangan kanannya, meremasnya dengan kuat, hingga berbunyi ‘kreekk!’
“Aku kira otakmu cukup cerdas, bocah.
Cumlaudemu ternyata bohong, ya?
Kau ini bodoh sekali.
Otakmu kosong!
Vicko bukanlah siapa-siapamu.
Pikirkan saja pekerjaanmu.
Pikirkan ibu dan adikmu yang menunggu kepulanganmu,
lalu transferan gaji yang akan masuk ke rekeningmu.
TITIK.
Hanya itu.
Bekerjalah untukku,
sesuai dengan kontrak kerjamu.
Di lain waktu kamu bertingkah seperti ini lagi, mari kita lihat,
apa yang akan aku lakukan padamu.”
Intonasi Tuan Jonah
penuh penekanan dalam
tiap kata-katanya.
Aku terdiam.
Dadaku berdebar kencang.
Aku tahu, Tuan Jonah sungguh-sungguh dalam
perkataannya.
Rasa marah, frustasi, kecewa, sekaligus takut bercampur dalam diriku.
Tuan Jonah tidak saja mengancamku,
ia juga mengancam mama serta adikku.
Mataku berair,
aku menahannya sekuat tenaga supaya tidak jatuh.Lututku terasa lemas dan telapak kakiku terasa dingin.
Tuan Jonah terlihat puas menatapku berdiri diam tanpa daya.
Puk!
Puk!
Ia menepuk pipiku,
pelan tetapi mengagetkanku.
“Bersikap manislah, bocah kecil.
Maka aku tak akan mengganggumu.”
Pria itu membalikkan tubuh dan menyuruh Dragono untuk menjemput Vicko.
Tuan Jonah lalu berdiri di depan pintu, mengawasiku dengan muka yang dingin dan keji.
Mrs. Rose meraihku dalam pelukannya,
mencoba menghiburku dalam bisikannya,
“Sorry, Moi.
Dari tadi aku cuma diam melihat
semua yang terjadi padamu, bukan aku tidak mau membelamu,
tapi aku sungguh tidak mengira akan terjadi hal begini.
Semua terjadi begitu cepat.Kamu terlalu berani, Moi.
Aku sampai sulit bernapas tadi.
Lain waktu sungguh Moi, tolonglah…
lebih hati-hatilah dalam berbicara dengan Tuan Jonah.
Ia sanggup melenyapkan kita semudah mengebas debu di bajunya.
Ya, Moi?
Please?”
Aku menyeka air mata yang mengalir di pipiku.Pertahanan mentalku jebol, aku menangis dan tubuhku bergetar.
Tuan Jonah berjalan lalu duduk di sampingku,
layar monitor LCD dinyalakan,
setelah menekan beberapa panel di meja serta keyboard, nampak tampilan CCTV yang menampilkan keadaan ruang di depan sel.
“Lihat bocah,
kami di sini serius menjagamu,
supaya kau tidak di terkam Vicko,
dan bisa membunuhmu! Kalau dia sampai berulah dan aku terpaksa membunuhnya,
aku juga rugi, salah satu sumber penghasilanku hilang.”
Jari telunjuk Tuan Jonah menunjuk layar monitor,
aku menyeka air mataku mendorong perlahan Mrs. Rose,
melepaskan diri dari pelukannya.
Aku melihat ke arah monitor, nampak Dragono sedang memukul pintu besi sel, dibukanya jendela kecil yang ada di tengah pintu besi itu, nampak dua tangan terulur posisi membelakangi, sejenak tangan tersebut di borgol oleh dua prajurit yaitu Codi dan Albert.
Tak lama kemudian, pintu besi sel dibuka dan nampak sesosok tubuh dengan cepat di ringkus, tubuhnya nampak kecil tapi berotot di tengah kerumunan Dragono, Codi dan Albert, dialah…Vicko !
Dragono memberangus mulut Vicko dari belakang dengan masker mirip masker anti huru-haranya polisi.
Codi dan Albert memasang ganjal palang besi di antara ketiak Vicko,
nampak sekali perlakuan extra,
supaya Vicko terbatas geraknya.
“Kau lihat bocah,
kami tidak mau main-main dengan Vicko,
seluruh badannya bisa menjadi senjata,
bahkan kepalanya bisa menanduk dan mematahkan tulang hidung.
Jangan kau anggap seperti kemampuan olahraga beladiri biasa,
dia cepat geraknya untuk mencederai musuhnya.”
Aku mengangguk,
saat ini memang hanya bisa menurut apa pendapat Tuan Jonah,
karena aku harus fokus pada Vicko.
Kesalahan diplomasi dengan Vicko bisa berakibat fatal bagiku.
Aku mengatur nafasku,
aku harus tampil rileks di depan Vicko nanti,
aku menarik bibirku beberapa kali untuk tersenyum.
Pintu ruangan pemeriksaan terbuka.
Vicko dengan mata tertutup dan mulut terberangus, diiringi Codi dan Albert.
“Vicko datang, kita siap masuk yuk, Moi. Siapkan mentalmu lho, kau jangan takut.”
bisik Mrs. Rose.
“Ya, Mrs. Rose,”sahutku agak gemetar.
Vicko telah didudukkan, maka aku dan Mrs. Rose mendatanginya.
Kami duduk berhadapan di pisahkan meja hadapanku.Aku dan Mrs. Rose duduk di depannya.
Tutup kepala Vicko dilepaskan,
mata Vicko mengerjap melihat aku dan Mrs. Rose.
Pandangan matanya datar, sementara Codi dan Albert berdiri siaga di belakangnya, sambil tetap memegangi ganjal besi dan pundak Vicko.
“Selamat sore Vicko,
aku perkenalkan ini Moira,” Mrs. Rose membuka percakapan.
Aku mengangguk sambil berkata,
“Sore pak Vicko,
saya Moira,
senang bertemu denganmu.”
“Pak Codi dan Pak Albert, tolong lepaskan masker mulutnya,
juga semua ikatan Pak Vicko.” pintaku.
Wajah dua prajurit itu menjadi tegang
“Miss, kamu gila?
Dia berbahaya!” tukas Codi.
“Miss Moi,
kemarin anda hadirkan saat pertandingan Vicko,
dia manusia paling berbahaya di pulau ini.
Bahkan pada pertarungan sebelumnya Vicko menggigit mata musuhnya yang sudah sekarat.”
tegas Albert,
matanya memicing tajam kepadaku,
tanda ketidaksetujuannya atas perintahku.
Mrs.Rose yang duduk di sampingku,
menoleh kearah ku, tangannya juga mencolek pahaku,
sebagai isyarat ketidaksetujuannya pada tindakanku.
“Moi…” dia berkata sambil menatapku,
mulutnya ternganga seolah tidak percaya akan kenekatanku,
ingin berdua dengan Vicko dalam satu ruangan.
“Aku disini untuk bekerja Mrs. Rose,
kau tahukan bahwa aku butuh kepercayaan pak Vicko.
Seperti profesimu sebagai psikiater,
bukankah atas dasar kepercayaan?
Dan bagaimana pak Vicko menjadi percaya kepadaku, bila mulutnya tertutup begini dan badannya terikat tidak nyaman?”
jelasku pada Mrs. Rose.
Aku berdiri,
menyadari aku harus mengambil sikap,
dan berkata lantang sambil wajahku tertuju pada kaca ruang pengamat.
“Tuan Jonah,
aku ingin bicara pribadi dengan Pak Vicko.”
“Maksudmu?” tanya Tuan Jonah via interphone.
“Hubungan antara klien dan psikolog adalah pribadi.Kami minta kepercayaan hanya antara aku dan
pak Vicko di ruangan ini.”
Dragono bergegas masuk ruangan pemeriksaan dan tangannya menunjuk ke mukaku,
“Tidak bisa, bocah!
Kau belum psikolog,
kau ini baru sarjana psikolog! Persetan dengan kode etikmu!
Adalah tugasku menjaga keamanan seluruh penghuni di sini.
Termasuk kau!”
“Sudahlah Dragono, biarkanlah bocah ingusan itu bekerja.
Keluarlah dari sana.
Kalian juga Codi, Albert,”
ujar Tuan Jonah lewat interphone.
Aku yakin pemimpin Chimera itu tak sedikitpun kuatir andai Vicko melakukan sesuatu padaku.
Justru pria itu akan bersorak sorai sukacita,
karena bebas dari pengkritik macam aku.
Sebuah suara tegas terdengar kembali,
“Turuti saja permintaan bocah itu,
Codi! Albert!
keluarlah dari sana.”
Suara Tuan Jonah meninggi melalui interphone dari balik kaca pengamat.
“Baik, Tuan Jonah!”
Sahut Codi dan Albert bersamaan.
Berangus mulut
Vickopun dilepaskan
dengan hati-hati,
lalu ganjal ketiak dilepas,
dua prajurit itu berjalan mundur sambil bersiap dengan pistol yang ujungnya ada loncatan listriknya.
Pistol yang dipegang dua prajurit ini berbeda dengan yang dipegang Tuan Jonah, pistol ini untuk menghasilkan kejutan listrik bertujuan untuk melumpuhkan, sementara pistol yang dibawa Tuan Jonah adalah pistol berisi peluru yang mematikan.
Mata Vicko melihatku, seperti menjajaki,
nampak dari gerak bola matanya walau samar.
Ada senyum tipis di wajah Vicko,
tangannya diletakkan di atas meja.
“Kau juga Rose !”
Suara Tuan Jonah terdengar lagi.
Mrs. Rose menepuk bahu kananku sekali.
Wanita itu perlahan bangkit berdiri,
mengangguk pada Vicko seolah memasrahkan nyawaku pada Vicko dan
melangkah keluar ruangan serta menutup pintunya.
Terdengar Dragono bertanya, mungkin karena posisi berdirinya dekat dengan mike,
sehingga suaranya terdengar ke seluruh ruang pengamat. “Kalau Moira,
sampai dibunuh Vicko
bagaimana?”
“Ya sudah,
cari orang lain lagi.
Mayatnya bisa kita lempar
ke laut, urusan selesai.” sahut Tuan Jonah.
Aku menyadari,
Tuan Jonah mendendam padaku,
sementara aku merasakan gejolak kemarahan di dadaku.
“Tuan Jonah,
ini microphonemu.
Potongkan saja gajiku,
bulan depan ya.”
Aku berdiri sambil melepas
microphone yang di lekatkan di gelungan rambutku
dan pemancarnya yang tertempel di punggungku.
“Hah, microphonenya di lepas…” terdengar suara Dragono terkejut.
“Anak ini punya gaya tersendiri,”
gumam Tuan Jonah.
“Tuan Jonah,
jangan lupa mematikan mike mu,
suara kalian terdengar
dari sini.”
kataku sambil mengangkat microphone
dan pemancarnya.
Braakk!!
Braakk!!
Braakk!!
Aku membanting berkali-kali alat itu ke meja.
Microphone
dan pemancarnya hancur
di meja besi yang berat,
di hadapan Vicko.
Sekelebat pikiran akan ketamakan Tuan Jonah, kematian Degardo,
terutama ancamannya terhadap dua orang yang terdekat dalam hidupku, perasaan diperalat,
membuat amarahku memuncak.
Entah apa yang akan terjadi bila Tuan Jonah marah nanti, kemarahanku yang brutal kali ini melebihi pikiran sehatku.
Aku melihat Vicko terperangah.
Kepalanya agak mundur ke belakang,
walau raut mukanya tidak berubah.
Matanya menatapku dingin dan kedua telapak tangannya membentuk segitiga di depan wajahnya.
Aku perlu mengambil sikap dalam menghadapi Vicko.Vicko seorang yang ahli, master psikologi dan pengalamannya dalam merekrut prajurit di masa dia aktif,
tentunya dengan mudah membaca ekspresi
dan bahasa tubuhku.
Belum lagi kejeniusannya, bukan insan yang sembarangan.
Suasana sejenak hening…
Sejenak kemudian Vicko bertepuk tangan kecil,
“Hahaha, gadis kecil, bagaimana bisa,
kamu percaya kepadaku.
Kau tahu reputasiku.
Rasanya kamu melihat duel terakhirku dengan Degardo di arena.
Tangisanmu terdengar ke seluruh stadion kemarin.
Dan hari ini kau barusan menangis lagi yaa.”
ujar Vicko dengan wajah datar.
Aku mengabaikan kalimat terakhir Vicko,
kemungkinan mataku yang sembab masih terlihat.
Aku menarik napasku, menata perasaanku, kemudian mengembangkan seulas senyum pada Vicko,
“Pak Vicko, apa kabar?
Sekarang hanya anda
dan Moi di sini,
tanpa gangguan,
tanpa ada yang menyadap pembicaraan kita.
Moi ingin benar-benar
berteman denganmu,”
ujarku memulai.
Vicko tak menjawab salam perkenalanku.
Ia menatapku dengan lekat.
“Ngg….Pak Vicko?”
Aku ingin mengucapkan sesuatu,
tapi perhatianku tertuju pada mata Vicko yang menatapku.
Aku menyadari yang dilakukan Vicko saat ini adalah membaca pikiranku lewat gerakan mata,
mimik wajah,
serta bahasa tubuhku.
Vicko nampaknya sedang menjajaki kejujuranku lewat gerak bola mataku.
“Hubungan antara klien
dan psikolog atas kepercayaan,
Pak Vicko dan ada kode etisnya.
Karena itu Moi melepaskan microphone tadi.”
“Sepertinya kau dan Jonah tidak akur, ya?”
ucap Vicko tepat sasaran.
Sepasang matanya menyorot dingin.
Tatapannya tajam.
Vicko masih membaca bahasa tubuhku, pikirku.
Aku memiliki persamaan keilmuan dengan Vicko di bidang psikologi.
Aku sangat menyadari, pengetahuan dan pengalamanku beda jauh dengannya,
bahkan bisa dibilang Vicko layak menjadi dosenku.
Maka aku harus tampil jujur di hadapannya,
bahasa tubuh atau ekspresi mikroku apabila menyiratkan ketidakjujuran bisa menghilangkan kepercayaan Vicko kepadaku,
bahkan aku bisa dibunuhnya.
“Moi dan Tuan Jonah
banyak berseberangan pendapat,”
sahutku dengan hati-hati memilih kata-kataku.
“Hahahaha gadis cilik,
ia jelas-jelas tidak menyukaimu.
Kau dianggap musuhnya. Aku sungguh penasaran,
apa yang sudah kau lakukan padanya?
Jonah bisa menyakitimu.
Dan bisa sangat parah dampaknya.”
Deg! Aku tercekat dengan ucapan Vicko.
“Justru itulah,
Moi lebih yakin kepadamu pak Vicko.
Anda bertindak selalu logis, ada alasan kuat dalam tindakan anda.
Moi lepaskan microphone supaya tidak mengkhianati anda.
Walau saya bisa di habisi oleh Tuan Jonah,
atas tindakan ini.”
“Tenang gadis,
gerak bibirmu nampak tertahan saat kau bicara, jangan terlalu berhati-hati kepadaku dalam bersikap.
Berbicaralah lepas,
aku menghargai kejujuran dan keberanianmu.”
Vicko berkata sambil tetap menatap wajahku.
Aku tertegun,
memang aku terlalu berhati-hati dalam berbicara kepadanya,
mengingat reputasinya yang hebat.
“Terimakasih atas kepercayaan anda pada Moi, pak Vicko,
banyak hal yang saya harus belajar kepada anda.” jawabku sambil tersenyum.
“Hmm sayang kau tidak suka beladiri gadis,
tulang selangkamu saja sempit,
pergelangan tanganmu kecil.Nampaknya kau suka mengulum makan saat masih kecil,
rahangmu tidak berkembang.”
Aku kembali terpana akan kehebatan ulasannya pada tanda-tanda fisikku,
yang mencerminkan kebiasaan ku saat kecil
dan ketidaksukaanku pada olahraga beladiri.
“Bagaimana pak Vicko bisa tahu…
hanya dengan melihat sekilas padaku Pak…” kata-kataku tercekat.
“Hoi gadis cilik,
sebagai orang militer seperti aku,
sebelum berperang perlu kau ketahui siapa lawanmu.
Bahkan di pertarungan yang aku jalani,
aku selalu menganalisa musuh-musuhku,
saat dia memasang kuda-kudanya dapat diketahui apa aliran dasar beladirinya.
Dari situlah aku sudah mengetahui kelemahannya.
Kulihat pergelangan tangannya,
badannya,
maka gambaran serangan yang akan kuberikan kepadanya supaya efektif dan efisien dalam menghajarnya.”
Aku merasa Vicko berbicara banyak untuk merendahkanku,
menguji kejujuranku
atau menjajaki kepandaianku?
Aku harus mengoptimalkan pembicaraan ini supaya aku mendapatkan informasi penting darinya.
“Pak Vicko memang luar biasa.” pujiku,
aku kebingungan juga hendak bertanya apa untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari dia.
Kemudian Vicko bertanya, “Lalu apa dalam keluargamu ada yang masuk militer, mengingat keberanianmu menghadapi Jonah?”
“Papaku seorang marinir. Namanya Gepardi.
Pangkat terakhir beliau Kapten Marinir.
Sayangnya,
Papa hilang dalam tugas 2 tahun lalu.”
Vicko menganggukkan kepalanya,
kepalanya miring ke kiri seolah menerawang,
“Kapten Gepardi?
Hmm…
aku mengenalnya, gadis cilik.”
Aku sungguh terkejut.
Seolah ada petir menyambar di atas kepalaku.
Mataku berbinar,
“Pak Vicko…mengenal papaku?”
“Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan papamu,
ada hal yang yang tidak bisa kuutarakan.
Bisa menyakitkan hatimu.Sangat dalam.”
Aku tertegun,
interaksi dengan Vicko membuatku pusing,
ternyata papaku yang hilang bukan orang yang jauh bagi Vicko.
“Lalu sekarang berhubung kamu harus bekerja.
Kau mulai pekerjaanmu,
apa kamu mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan padaku?
Aku tidak biasa menerima perintah dari orang yang levelnya di bawahku,
apalagi gadis ingusan macam kau.
Tetapi karena kau berani ambil resiko menentang Jonah,
kuhargai perintahmu.”
Aku mengangguk.
“Moi diminta untuk mendata semua orang di Chimera.
Data ini untuk penelitian lebih lanjut.
Moi ingin Pak Vicko mengisi formulir ini,
dan tes ini.
Ini adalah formalitas di sini, seperti yang pak Vicko tahu, kita diawasi dari balik kaca.
Jadi
mohon kerjasamanya ya pak.
Kerjakan untuk Moi,
supaya Moi tidak disalahkan oleh Tuan Jonah.”
Pintaku sambil menyodorkan formulirku ke depannya.
Vicko tersenyum.
Deretan giginya cukup rapi.Di sudut bibir kirinya ada luka pecah yang mengering.
Luka bekas pertarungan kemarin.
Vicko melirikku sambil melihat formulir dan tes psikologi yang kuberikan.
“Seperti yang kamu tahu,
aku sudah 16 kali di tandingkan.
Entah sampai kapan aku beruntung bisa menang.Kalah di arena
itu berarti kehilangan nyawa.Saat ini kita bisa duduk berhadapan mengobrol, entah besok atau lusa.
Kamu sudah tahu kan pimpinan disini itu abnormal?
Tetapi dia sudah menunjukkan dokumen identitas baruku,
aku harus menang dalam 2 pertarungan lagi,
untuk menuju kebebasanku.
Itulah tujuanku untuk tetap hidup.”
“Ya pak Vicko,
Moi menyadarinya.
Sekarang Moi ingin mengajukan pertanyaan yang penting,
sebelum tes dikerjakan, Pak.”
“Hmm apa pertanyaanmu, gadis?”
“Pertanyaan Moi adalah mengapa Anda memanipulasi hasil test ?
Hingga dinyatakan sebagai psikopat?”
Bola mata Vicko bergeser cepat, kulihat pupil matanya membesar disana,
Vicko terkejut,
“Hmm..
ternyata kamu sudah menelusuri hasil psikologiku yang awal ya.
Kau gadis yang cerdas.”
“Moi juga perlu melanjutkan hidupku pak Vicko,
ternyata bekerja di sini seperti menandatangani kontrak kematian,
Moi telah menelusuri riwayat tes bapak.
Dan Moi temukan bahwa tes pertama kali di awal bapak jadi prajurit,
tidak ada penyimpangan kejiwaan.
Dengan kejeniusanmu
dan keahlian psikologi anda memanipulasi tes berikutnya.
Bapak pasti punya tujuan dari manipulasi tes ini,
lagipula dari laporan DNAmu, tidak ada penyimpangan kromosom yang berpotensi membuatmu jadi psikopat.” Tuturku perlahan dan hati-hati.
“Aku tanya kau,
apa judul skripsimu?”
Vicko balik bertanya, wajahnya tetap datar seperti pemain poker yang
tidak ingin diketahui kartu yang dipegangnya,
buruk atau baik.
“Eee..
Hypnotherapy Sebagai Terapi Penunjang Kesembuhan Penderita Abnormal Psychology.”
aku menjawab sambil berpikir bahwa Vicko menjajaki kemampuan akademik ku.
“Hmm…dari judul skripsinya, aku mengetahui kau lulusan yang hebat,
dan kau juga mencoba membaca bahasa tubuhku.
Apa yang kamu bisa,
gadis,
aku sudah melampauinya.”
Aku tersenyum,
memang bila seorang yang bisa menghipnotis perlu mempelajari bahasa tubuh supaya mengetahui insan yang dihipnotis masuk ke dalam sugestinya.
“Ya, Pak Vicko.
Moi tahu itu.
Anda adalah senior Moi di psikologi.
Pak Vicko layaknya dosen bagi Moi.”
Vicko berkata sambil tetap menatap bola mataku.
“Ini antara kita ya, Moi.
Aku mengambil kesimpulan bahwa penelitian ini berkaitan dengan kekuatan pikiran.
Dan aku dianggap salah satu obyek penelitian di sini,
tapi ketahuilah,
bahwa penelitian ini berbahaya bagi umat manusia.
Biopsikologi tentang fungsi otak manusia yang dikembangkan,
kau dan aku adalah orang kebanyakan yang bisa mempelajari dan mengembangkan kehebatan kekuatan pikiran.”
Aku berusaha menyimak dan mencermati setiap ucapan Vicko.
Vicko benar-benar menggunakan tekanan psikologis kepadaku,
aku merasa dituntut untuk selalu berbicara apa adanya, sebab itu aku juga tidak mau berbohong, beliau dengan mudah membaca bahasa tubuhku.
“Kaitannya dengan militer, kemampuan bawah sadar manusia,
kemampuan kekuatan pikiran,
sangat dahsyat bila di gabungkan.
Bila militer berhasil membuat formula semua keahlian metafisika sebagai senjata,
maka dominasi orang-orang yang unggul sajalah yang dapat hidup.
Yang kuat yang menang.
Homo homini lupus terjadi.
Generasi yang dominan dan superior akan menghabisi orang-orang biasa,
dengan cara yang halus
atau keras lewat militer.
Kesenjangan meningkat. Orang yang sekarang dianggap normal akan terlihat bodoh.
Sedangkan orang-orang yang punya bakat akan berkembang dan bermunculan di era ini.
Kau mempercepat kehancuran dunia ini, gadis.
Kau benar-benar bermain api dengan peradaban,
gadis cilik!
Penelitianmu adalah kunci kehancuran peradaban.” kalimatnya mulai naik, menunjukkan ketidak sukaannya.
Ruangan kembali hening.
Sesaat sorot mata Vicko menjadi begitu tajam,
“Dan satu hal lagi gadis cilik, kau simpan rahasia bahwa aku memanipulasi tes psikologi untuk jadi psikopat.
Gadis cilik, sadarilah.
Kamu berada dalam konspirasi besar!
Pikirkanlah mengapa kamu bisa sampai disini.
Penelitian ini berada di tangan yang salah.
Petinggi militer yang mengepalai proyek ini memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri.
Jangan percaya kepada siapapun di tempat ini.
Kamu sudah masuk terlalu dalam di permainan maut ini!”
“Mengenai anda memanipulasi tes,
itu sudah menjadi rahasia Moi pak Vicko,
jadi mohon bapak untuk mempercayai Moi. Dan…Konspirasi?
Konspirasi apa Pak Vicko, serta permainan maut apa? Apakah ini juga berkaitan dengan Papa Moi, Pak Vicko?”
Vicko terdiam.
Tampak tangannya terkepal seolah menahan marah.
“Moi mohon, Pak Vicko, bisakah Bapak menceritakan pada Moi apa yang terjadi pada Papa Moi?
Kebenaran harus kau ungkap pak Vicko,
walau pahit bagi Moi.”
Tiba-tiba Vicko melempar berkas tes yang kusiapkan ke tembok.
Saat itulah Dragono,
Codi serta Albert masuk ke dalam ruangan.
Dalam todongan pistol listrik mereka memaksa Vicko bangkit berdiri dan membelakangi supaya bisa di borgol.