Chapter 25 Kebimbangan Moira

“Tidak disangka, ternyata Angel bisa menyanyi dan menari.” pujiku.

“Ya dan suara Angel ternyata mirip Celine Dion, suaranya paling satu oktaf dibawahnya, benar-benar tidak surprise.” imbuh Mrs. Rose.

Angel tersenyum, diambilnya boneka gonzo dan di peluknya erat di dada.”Mama, Angel kangen.” katanya sambil mencium kepala boneka itu. 

Aku dan Mrs. Rose terharu akan kebahagiaan Angel siang itu. Gaun itu membuat semangat hidup, senyumnya serta bakat menari dan menyanyi muncul di siang itu.

“Aku pakai ya Moi, kadomu ini, barusan Angel sudah mandi kok.” kata Angel sambil menepuk-nepuk dadanya mengisyaratkan gaun yang dikenakannya.

“Belum Moi cuci lho Angel, nanti wangimu luntur.” kataku sambil tersenyum.

“Bahannya dingin Moi, enak dipakai dan warnanya bagus.” puji Angel.

“Terimakasih ya Moi.”

Kebahagiaan menular dengan cepatnya siang itu, sehabis pagi yang berat dan menyeramkan, sikap Angel benar-benar membuatku bahagia. Aku melihat Mrs. Rose juga ikut berbahagia, matanya berbinar saat melihat perubahan sikap Angel.

Scarf papa belum bisa kuberikan kepada Angel pada situasi seperti ini, bisa merenggut kebahagiaanya, dan membuatku seolah menjadi insan yang memanfaatkan keuntungan demi diri sendiri.

***

Siang itu di ruang makan aku dan Mrs. Rose sedang menikmati makan siang, 

dari hari-hari ku berada di pulau Chimera, baru terasa siang itu, aku makan dengan nikmat.

Dokter Stephan datang dengan membawa nampan makanannya duduk di depan kami.

“Hai Moi dan Rose, setelah aku selesai makan, ayo ke kamar Risty. Risty ingin bertemu dengan kalian, khususnya Moi.” kata dokter Stephan.

“Risty ingin bertemu denganku?” aku mengulang ucapan dokter Stephan.

Dokter Stephan mengangguk, “Dia bilang penting. Kamu harus segera kesana.”

“Tumben Risty ingin bertemu denganku dokter.” aku keheranan.

“Ya Moi, mungkin Risty memandangmu spesial, aku hanya menyampaikan keinginannya.” kata dokter Stephan sambil menyendok makanannya. “Walaupun kondisi Risty agak kurang sehat hari ini. Tapi dia bersikeras ingin bertemu denganmu.”

Setelah kami selesai makan, kami bertiga menuju kamar Risty. Aku mengikuti langkah Mrs. Rose dan dokter Stephan, dokter Stephan membuka pintu kamar Risty.

Nampak suster Reina sedang duduk dan memantau kondisi Risty.

“Hello Moi,” Risty menyapaku dengan suaranya yang lemah.

Aku mendekat ke ranjangnya, “Halo Risty, bagaimana kondisimu cantik?”

Risty memaksakan seulas senyum di wajahnya. “Bukuku, sudah sempat dibacakah?”

Aku tertawa, “Oh, Risty. Maaf, Moi belum sempat membacanya. Kamu tahu kan, pekerjaan Moi juga menuntut perhatian penuh.  Tapi Moi sempat membuka-buka halaman pertamanya kok. Ada beberapa gambar yang Moi bingung artinya apa. Lain waktu yah, Moi tanyakan ke Risty.”

Seulas senyum tipis kembali menghias wajah Risty.

“Moi, buku itu tentang masa depan dunia, biarlah itu menjadi petunjuk bagi orang-orang tentang kondisi masa depan. Tetap banyak probabilitas disana, tetapi itulah rahasia yang melibatkan momentum penting umat manusia. Dan yang terpilih menjadi salah satu komponen di sana. Aku bersyukur bisa menyelesaikannya. Bila aku sudah dioperasi, aku mungkin sudah tidak bisa menyeberangi jembatan waktu ke masa depan lagi.

Beberapa hari ini aku agak tidak enak badan. Besok siang aku akan pergi meninggalkan pulau ini. Karena besok momentum ku terbuka.”

Aku terkejut, “Besok siang?”

Risty mengangguk, “Sekitar jam 14 aku dijemput. Sebenarnya dari dulu aku ingin cepat menghadapi operasiku. Andai operasi kepalaku berhasil, kita akan bisa bertemu lagi dan mengobrol lebih banyak.” Risty tersenyum lagi.

“Operasinya pasti akan berhasil, Risty. Kamu harus tetap bersemangat ya, oke?” ujarku menggenggam kedua tangan Risty yang kurus nyaris tinggal tulang.

“Terima kasih supportnya, Moi.”

“Semoga cepat sembuh ya,” ujarku tulus untuknya.

“Aku sebenarnya sudah tidak kuat, Moi. Namun kulihat dari pihak dokter, peralatan medis dan mental dokter yang bakal mengoperasi aku belum tepat. Karena operasiku ini termasuk operasi  yang sangat rumit. Bahkan pertama kalinya di dunia, semoga aku bisa selamat.”

“Kau pasti selamat Risty, kau insan yang terpilih.” ujarku menyemangati.

Memandang sosok ringkih Risty serta kondisi kepalanya yang begitu besar dengan urat-urat biru di pelipis dan dahinya, aku merasa kehilangan kata-kata untuk menghiburnya. Sejak dulu aku tidak bisa menulis puisi ataupun merangkai kata-kata kosong yang indah. Operasi kepala adalah tindakan paling beresiko. Aku sungguh takjub mendapati binar semangat kehidupan masih bersinar begitu cemerlangnya di kedua mata Risty.

Kami berdua terdiam. 

Suasana begitu sunyi di kamar ini.

Suara dokter Stephan memecah kesunyian, “Maaf Miss Moi, detak jantung Risty meningkat. Suhu tubuhnya juga mulai meninggi. Tolong keluar dulu, supaya aku bisa menangani Risty.”

Mrs. Rose mengangguk, 

“Ayo Moi.” katanya sambil mencolek pundakku.

“Risty kami pamit dulu ya. Banyak istirahat dan semangat, sampai ketemu besok ya.” 

Aku dan Mrs. Rose meninggalkan kamar Risty.

“Operasi Risty, semoga berjalan lancar ya,“ ujarku.

Mrs. Rose merangkul bahuku, “Risty memandangmu spesial, Moi. Sampai-sampai bukunyapun diberikan kepadamu.”

“Buku Risty itu penuh arti, Mrs. Rose. Bukan seperti buku biasa. Perlu analisa dan pemikiran untuk memahaminya. Nanti deh ya bukunya saya pinjamkan ke Mrs. Rose untuk dibaca terlebih dulu.”

Mrs. Rose tertawa pelan, “Tidak usah, Moi. Aku tidak suka buku dengan gambar aneh seperti itu. Untuk kasusnya Risty memang tidak pernah ada. Operasi pengurangan masa otak itu, baru kasusnya Risty seorang di dunia.”

“Justru itulah, dia merasa terkatung-atung menunggu tim dokter siap, belum lagi alat-alat kedokteran yang terkini harus di siapkan. Resiko kematian, gagal fungsi otak juga bisa terjadi. Dia bisa mengalami kelumpuhan, cacat, hipoksia, stroke, bahkan dokternya sekalipun tidak tahu efek dari operasi tersebut.”

“Berharap yang terbaik, Mrs. Rose. Hidupnya sudah lama menderita, dari cantik sampai menjadi kurus kering, rambut rontok, kepala membesar, demam, kesakitan setiap hari, kasihan sekali. Moi yakin probabilitas kehidupan yang diambilnya sudah diperhitungkan resikonya secara cermat. Dia precognition yang paling handal di dunia ini.” kataku optimis. 

Suara langkah kaki yang ringan terdengar mengejar kami. Aku dan Mrs. Rose menoleh ke belakang berbarengan.

“Kak Moi, Kak Mooi…,” Ron memanggil.

“Hai, Ron. Tumben cari Kak Moi,” sapaku. Aku menatap wajah polos anak itu.

Ron memelukku dengan erat.

“Lho, kenapa Ron tiba-tiba  begini?” aku membelai kepalanya dengan lembut.

“Hu..huu..hu… ,” Ron mulai terisak menangis.

“Siapa yang nakal sama kamu, Ron? Prajurit yang mana?” tanya Mrs. Rose.

“Aku semalam bermimpi, Kak Moi. Mimpinya lebih buruk di banding saat ayah menghajarku saat aku nakal.”

Aku tersenyum, “Ron, mimpi itu bunga tidur. Ron anak baik, lucu dan pandai. 

Ayo tenang dulu, Ron. Coba kemarin Ron belajar apa dengan Kak Moi, di saat Ron takut?”

“Ron harus tenang. Ron ingat Kak Moi memintaku untuk tenang, lalu membayangkan laut yang  biru dan tenang.”

”Anak pintar.” pujiku.

“Dari tadi Ron ingin bertemu Kak Moi. Mimpi buruk lalu banyak orang jahat datang.”

“Orang jahat, Ron?” Mrs. Rose mengernyitkan keningnya.

“Beberapa rombongan bapak-bapak, Ron tidak suka semuanya. Semuanya seram. Pandangan matanya menakutkan. Dan dibelakang bapak-bapak tadi ada sosok besar sekali, kepalanya tengkorak. Kepala tengkorak itu menghancurkan rombongan tadi dengan sabetan-sabetan pedangnya.”

Aku bertukar pandang dengan Mrs. Rose. Kami tak bisa menebak siapa orang-orang jahat yang dimaksud oleh Ron. Selain Tuan Jonah, adakah sosok yang cocok dengan deskripsi yang diceritakan Ron? Apakah para prajurit?

Tetapi deskripsi orang besar dengan kepala tengkorak mengingatkanku kepada deskripsi yang diberikan Leman tentang Nodaba, sang penghancur.

Aku tak ingin menambah ketakutan Ron. Aku memeluk tubuhnya yang gemetar itu. “Itu cuma mimpi Ron, mungkin game yang Ron mainkan ada yang seperti itu, lain kali memilih game yang ringan saja. Nanti biar di screening oleh uncle Jeff dulu ya.”

“Ron memang bermimpi tentang mereka kak Moi, tetapi barusan yang lewat kamar dengan menembus tembok adalah sosok tinggi besar berkepala tengkorak itu, giginya semua lancip. Itu sosok yang Ron lihat di mimpi semalam, yang barusan menembus tembok kamar Ron.

Sungguh kak Moi, Ron benar-benar bertemu dia, saat lewat menembus tembok lalu pergi ke arah belakang,  wajahnya yang tengkorak dengan bola mata kemerahan dan giginya yang panjang, mengerikan Kak Moi.”

Aku terkesiap, Ron memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak kasat mata. 

“Ya Ron, tetapi tenang saja di sini tidak ada orang jahat. Prajurit berjaga dengan baik. Kamu jangan takut ya. Ayo balik ke kamar kak Moi temani.” Aku tidak berniat mengorek keterangan lebih banyak dari Ron. Aku dan Mrs. Rose mengantar Ron kembali ke kamarnya. Sepanjang lorong Chimera Ron memelukku erat.

Masuk di kamar Ron, aku membuka gadget Ron dan mengunggah game yang sesuai umurnya, aku mengakses YouTube mencari video tentang pantai yang bersifat relaksasi.

“Ron cuci kaki dan setelah ini berbaring yuk, ini mumpung masih siang bisa untuk istirahat.”

Beberapa saat kemudian, setelah Ron berbaring, aku memutar film tentang pantai tadi, Ron merasakan ketenangan.

Lalu aku menerapi Ron dengan mengaktifkan anchor dan membimbingnya supaya lebih tenang, tidak lama kemudian Ron masuk ke tahap deep sleep. 

Mrs. Rose berdiri di sampingku dekat ranjang Ron.

Saat Ron sudah tertidur nyenyak, aku mematikan film tentang pantai itu, dan berbisik kepada Mrs. Rose.

“Yuk Mrs. Rose, kita balik ke kamar, Moi mau melaksanakan tugas yang diberikan Tuan Jonah.” 

Mrs. Rose tersenyum lalu kami keluar sambil menutup pintu kamar Ron.

“Baru kali ini aku melihat secara langsung hipnoterapi yang kau jalankan Moi. Bisa cepat tenang dan patuh ya si Ron kepadamu, Moi.” puji Mrs. Rose kepadaku.

“Uh … Salah Mrs. Rose sendiri, dulu lebih rinci prosesnya waktu ditemani Dragono. Ini tadi sudah tinggal mengaktifkan anchor, lalu Ron patuh. Dulu kenapa sih tidak menemani Moi?” gayaku pura-pura merajuk.

“Iiih bukannya dulu kamu mosi tidak percaya sama aku, makanya aku menjauh dulu.” ujar Mrs. Rose sambil mencubit perutku.

“Hahaha Mrs. Rose ternyata hobinya ngambek.” ledekku balik.

Sesampainya di kamar, 

aku mengunci pintu dan

aku mengkontak Henry dengan telepati.

“Hen .. Henry… Hoi Mr. Wilkinson.” panggilku kepadanya.

“Oh Moi, maaf aku ketiduran, ada apa ya?” jawabnya.

“Untuk besok kelihatannya aman Hen, tamu-tamu pada datang, Risty sekitar jam 14 dijemput helikopter, jadi tidak mungkin terjadi pemberontakan, banyak orang disini.” aku membeberkan analisisku.

“Ya aku juga persiapkan mental untuk besok malam aku ingin menyelusup masuk ke lalu lintas telepati mereka. Dan aku tidak mau di kerjain mereka lagi, terutama si Alfa. Aku sudah bugar, tidurku teratur dan nyenyak, konsentrasiku pastilah tinggi, sehingga berani menghadapi mereka.

Berbeda dengan minggu yang lalu, aku kurang tidur berhari-hari dan tercekat ketakutan, justru sekarang aku sudah tidak punya takut, Moi.” terang Henry memberikanku semangat.

“Ya Henry kita harus semangat, besok malam kita bersama-sama mencoba melawan kekuatan pikiran Alfa, tidak mungkin dia bisa menang melawan kita berdua. Kita besok siap sekitar jam 10 malam ya.” aku menyemangati Henry.

“Moi, kamu tahu cara dia melontarkanmu kan? dia mencengkram dari pusat pikiranmu, saat hal itu terjadi kita jangan sampai dikuasai, tetap dalam keadaan sadar, jangan sampai kita dikuasai olehnya.” ujar Henry memberikan siasat.

“Okay Henry, malam ini aku akan belajar menguasai pikiranku lebih fokus, seperti kemarin aku berhasil keluar dari mimpi buruk, aku rasa penanganan kemampuan otakku semakin tinggi.” jawabku semakin yakin.

“Ya, kita tetap bertelepati seperti ini, selain meningkatkan kemampuan kita, juga lebih aman daripada bertemu langsung, sekarang dipasang penyadap oleh Tuan Jonah sehabis dari ibukota kemarin. 

Sampai ketemu besok malam, walaupun besok ada duel maut, semoga membawa sesuatu yang baik bagi kita.” kata Henry berpamitan.

“Selamat sore Henry.”

Sore itu aku mempelajari tentang kekuatan pikiran dari laptopku, sambil sekali-kali melihat kondisi sel belakang melalui CCTV yang terhubung dengan laptopku.

Benar-benar pekerjaan yang menjijikkan, memantau insan yang besoknya bakalan tiada.

Sesudah makan malam, aku kembali ke kamar, tubuhku yang lelah berbaring di kamarku, sementara pikiranku menolak untuk beristirahat. Otakku terus mereview kejadian demi kejadian yang terjadi di tempat ini. Aku meraih buku Risty. Di halaman awal buku,

aku mengenali logo Chimera di pintu yang di gambar Risty. Kemudian beberapa sketsa wajah yang aku kenali sebagai Vicko, Tuan Jonah dan wanita berambut lurus ini, apakah ini aku? Mengapa Risty menggambar aku di dalam bukunya ini? Ia bahkan menggambar bunga-bunga yang sama persis dengan corak gaun Angel yang aku berikan padanya hari ini. 

Waaw, luar biasa. Aku menatap coretan-coretan tangan Risty. Beberapa halaman kemudian ada gambar yang unik, ada gambar seorang gadis berambut pendek, duduk bersila seolah bersemedi di pangkuannya ada sebuah batu, dengan background tangga nada musik, sementara gambar wanita berambut lurus tadi hanya nampak kepalanya melongok.  

Semangatku tergugah. Aku bangkit dan duduk. Lembar demi lembar buku itu aku cermati baik-baik. Yah, kemampuan Risty luar biasa.  

Gambar yang ganjil banyak sekali termuat di buku itu. Buku dengan gambar yang sangat unik.

Karena aku tidak bisa mengerti, maka aku menutup buku itu dan memasukkannya ke tasku.

Malam ini sungguh sunyi. 

Aku membuka laptopku dan mulai mengetik laporanku untuk Tuan Jonah.

Tanganku telah siap di atas tuts keyboard laptopku. Hanya saja, otakku justru membeku. Aku berharap tempat terkutuk seperti Chimera ini segera ditutup saja. Semua  orang-orang berbakat dan bekemampuan khusus di tempat ini, di eksploitasi sedemikian kerasnya hingga mereka tertekan. 

Di tempat ini aku mengakui mendapat banyak sekali ilmu, namun resiko kematian itu begitu dekat denganku.

Setelah beberapa jam berkutat dengan laporan, rasa kantuk menyergapku.

Malam itu aku bermimpi

Aku ada di pinggir pantai menghadap ke arah daratan.

Dari jauh nampak dua pria mendatangiku, dua pria tersebut semakin mendekat.

Mereka adalah Adrian dan Henry. 

Mereka merubung diriku.

Wajah Adrian yang humoris dengan Henry yang tampan, sabar serta dewasa. Adrian memeluk kucing persianya dan menanyakan kapan aku pulang. Sementara Henry…yah, pria itu menatapku dengan lembut. Dadaku berdegub membalas tatapan Henry. Hatiku berbunga-bunga bahagia sekali. Sejak kapan aku begini di hadapan Henry? Walaupun benih cinta belum timbul dalam hatiku, sejak Henry menyatakan cintanya kepada ku, aku merasa Henry sebagai teman seperjuangan. Aku melihat ke arah Adrian, kucing Persia Adrian nampak memakai kalung ada tulisan disitu.

Aku membacanya, tertulis namanya Brenda.

Aku terheran-heran mengapa Kitty memakai kalung bernama Brenda, sementara Brenda adalah teman kuliah kami, dan sama sama magang bersamaku waktu di klinik kesehatan.

Sejenak aku berpaling ke arah Henry, tiba-tiba suasana berubah, background daratan tepi pantai berubah menjadi seperti aula. Ya, mirip aula hotel dimana ada tangga dibelakang aula itu yang bercabang dua keatas dengan ornamen yang mewah.

Aku terkejut saat Henry sudah memakai tuxedo hitam yang gagah. Tangannya terangkat keatas dekat pundakku seolah memintaku untuk memegangnya.

Aku merespon dengan memberikan tanganku.

Aku merasa Henry membimbingku melangkah dansa waltz. Tangan kanan pria ganteng itu memegang tanganku, sementara tangan kirinya berada di pinggangku. Kami melangkah sesuai dengan bimbingan Henry yang sabar.

Aku melihat Adrian berdiri dengan tetap menggendong Kitty sambil tersenyum.

***

Pagi itu aku terbangun dengan bahagia, teringat akan mimpiku semalam. Walaupun kemarin ada kejadian yang tidak mengenakan dari pagi sampai sore namun mimpi tadi malam seolah menghapus semua kejadian yang buruk.

Saat sarapan pagi aku bersama dengan Mrs. Rose.

Kulihat sarapan Mrs. Rose hanya roti sandwich dan segelas kopi, sementara aku hanya nasi putih dan telor goreng, karena makanan yang lain ada menu jamurnya, yang aku pantang sebab bisa memicu gatal-gatal alergiku.

Saat aku mulai menyantap makanan, aku mulai gelisah.

“Jadi beneran nih Mrs. Rose ?” tanyaku tanpa ujung pangkal kepada Mrs. Rose.

“Apanya yang beneran, Moi?” wajah Mrs. Rose mengernyit  tidak mengerti.

“Eh maaf maksud Moi, pertarungan siang ini ?” tanyaku.

“Lah iyalah, petarung sudah disiapkan dari ibukota secara khusus dijemput dan diturunkan disini, lalu ditempatkan di sel belakang. Hari ini pak No masih ada di dapur tuh, ” jawab Mrs. Rose sambil menunjuk pak Johno yang masih repot merajang bahan makanan di dapur, suara pisaunya memotong-motong entah sayur atau apa, terdengar sampai ke tempat dudukku. “Kalau sampai jam segini masih ada di dapur, berarti dia memasak extra. Kata Tuan Jonah untuk menjamu tamu nanti siang, sesi kedua untuk menentukan juara.” lanjut Mrs. Rose.

Aku baru sadar memang jam 7 pagi ini, seharusnya pak Johno sudah mulai menyapu mengepel ruangan depan, mulai dari pos penjagaan utama sampai kliniknya dokter Stephan, ini berarti pak Johno memang sedang memproses makanan lebih banyak dari biasanya.

Aku langsung lemas teringat ada sesi ke dua untuk menentukan juara, berarti sudah ada 2 korban tewas, entah itu Vicko, Leman, Travis atau Kenrock.

“Agenda acara gladiatornya bagaimana Mrs. Rose?”

tanyaku sambil menghela napas.

“Jam 11 nanti sesi pertama antara Vicko dan Travis, selesai istirahat sebentar, petarungan Leman dan Kenrock disiapkan, sampai keluar pemenangnya. Sehabis itu makan siang bersama, lalu dilanjutkan dengan penentuan juara.” jelas Mrs. Rose.

Aku termenung, aku teringat kisah ku sampai disini, dari awal merasa sangat bahagia seorang fresh graduate seperti aku bisa langsung bekerja sebagai abdi negara, namun kenyataannya disini seolah nyawaku bukan menjadi hakku lagi.

“Tumben hanya makan roti dan minum segelas kopi untuk sarapan pagi, Mrs. Rose?” aku mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku sudah gemuk. Lemak di perutku sudah berlipat.  Aku harus mengurangi karbo, Moi.”

Aku menatap pinggang ramping Mrs. Rose dan menggelengkan kepalaku. Tubuh ramping Mrs. Rose sempurna. Tidak ada lipatan lemak berlebih di sana.

Mrs. Rose memang ahli dalam memanipulasi diri untuk mencapai tujuannya.

Suara para prajurit yang sedang sarapan juga ikut riuh rendah karena mereka membahas tentang pertarungan yang akan diadakan nantinya.

Para lelaki berotot itu berkelakar sambil menyebutkan siapa yang bakal jadi juara besok.

Mengerikan!

“Moi, bagaimana kabarmu?” suara Henry menyeruak masuk lewat telepati.

Aku menunduk dan berkonsentrasi untuk membalas telepati Henry.

“Hi Henry.”

“Moi, kalau nanti ada pertarungan, itu artinya penjagaan akan berpusat di seputar arena, Moi,” ucap Henry bersemangat.

“Lalu?”

“Aku akan mencoba memanipulasi pikiran penjaga di sini serta mungkin aku bisa menumpang salah satu helikopter tamu.”

Aku mendesah. Henry dengan kemampuan istimewanya itu. Pria itu mungkin bisa menyelinap keluar dari tempat ini. Apakah dia berhari-hari tidak menyusup masuk ke lalu lintas telepati untuk momentum ini? 

Supaya kuat pikirannya untuk melarikan diri?

“Jadi ini maksudmu, percakapan ini sebagai ucapan selamat tinggal?” tenggorokanku serasa tercekat saat mengirimkan pernyataan ini kepadanya.

“Tentu tidak, aku akan mengajakmu. 

Kita berdua akan pergi keluar dari sini, Moi. Oke siapkan dirimu. Kuatkanlah mental dan pikiranmu. Sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi.” ujar Henry menutup telepatinya.

Aku gelisah. Makanan yang aku gigit sulit aku telan. 

Mrs. Rose menatapku seksama.

“Kenapa Moi, pusing ya, memang bulananmu belum selesai?”

“Aa … sudah selesai kok, Mrs. Rose, cuma efek tegang ini … ada orang mau diadu.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Benarkah bahwa beberapa saat lagi aku akan bisa menghirup udara bebas? Keluar dari tempat ini?  Meninggalkan semua kekacauan ini? Bila benar demikian, apakah Tuan Jonah akan mengampuniku?  Tidakkah nanti petinggi Chimera itu akan menyakiti dua orang yang paling dekat dalam hidupku yaitu mama serta adikku? Apakah sebaiknya aku tetap tinggal di sini saja demi keselamatan mereka?

“Ayo kita ke tempatnya Ron, Mrs. Rose. Coba kita lihat perkembangannya.” Aku mengajak Mrs. Rose untuk ke kamar Ron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *