Chapter 19 Diintai oleh Sang Maut

Siang itu seperti habis terjadi ‘kehebohan besar’ di ruang makan.

Para prajurit yang sedang makan nampak tidak suka saat aku dan Mrs. Rose melewati mereka.

Mata mereka melirik kepadaku, dengan wajah yang tidak bersahabat.

Aku merasa bersalah telah membuat pimpinan mereka yaitu Dragono dan teman mereka Codi terkena serangan Vicko.

“Tenang saja Moi, seharusnya mereka tahu ini adalah resiko pekerjaan, 

dan harus lebih waspada ke depannya.” bisik Mrs. Rose menguatkanku.

“Emmm aku jadi tidak enak Mrs. Rose, apakah kunjunganku siang ini ke Leman jadi tidak ya?” jawabku sambil menunduk menghindari tatapan para prajurit.

“Tenang Moi, nanti biar prajurit Rupert dan Doni yang mengantarkanmu, dan tetap kudampingi kesana, Leman tidak agresif kok,” sahut Mrs. Rose.

“Lagipula Codi juga sudah pulih, ., besok atau nanti malam kepergian Tuan Jonah dipercepat sekalian mengantar Dragono operasi.”  

Wah, aku jadi merasa tertuduh, Dragono terluka sesudah Vicko bertemu denganku.

“Semoga Dragono cepat sembuh ya Mrs. Rose.”

Sesudah makan siang kami pergi ke selnya Leman, Rupert sang presenter dan Doni berjalan di depan kami.

Saat melewati sel Henry, nampak tangannya menjulur keluar menggapai-gapai kearah kami.

“Moi, mampir dong mampir sini, masakan pacarmu ini kau lewati saja.” seru Henry.

“Besok ya Henry, besok mampirnya.Hari ini sibuk sekali.” jawabku sambil melambaikan tangan.

Melewati sel Rado aku dikejutkan dengan lemparan kain oranye yang menjulur keluar dari selnya, 

sementara ujung lainnya masih di tangan Rado, ternyata syal oranyeku!

“Cantiiik, mampir sini dong dengan abang Rado.” serunya dengan nada mengejek.

“Hi Rado, besok ya kita bertemu, yang sabar ya.” jawabku berusaha tetap tenang melihat aksinya yang tidak menghargai pemberianku, syal rajut itu buatan mama, sekarang warnanya sudah sangat kumal dan kotor.

Rado menarik dan melilitkan syal itu ke lehernya.

“Hahaha benar ya cantik besok kita ketemuan ya, bertiga boleh kok dengan pacarmu, aku janji aku baik-baik saja dengannya, tidak cemburu dan tidak acara barbekyu daging manusia hahaha.” jawab Rado sambil duduk di ranjangnya.

Sel Rado ternyata lebih menjorok ke dalam letaknya, mungkin menghindari tangannya menggapai seseorang yang lewat di depannya, supaya resiko mengalirkan listrik dari tangannya tidak terjadi kepada orang yang lewat bahkan menggapai teralis sebelahnya juga tidak memungkinkan.

Rupert membuka jendela kecil di sel Leman dan menyapa, 

“Leman ada tamu.”

Aku bersyukur saat pintu sel di buka di situ nampak Leman sedang duduk santai di pinggir ranjangnya satu kaki diangkat sementara satu kakinya menapak lantai, matanya memandang aku dengan Mrs. Rose seolah tanpa beban, bahkan wajahnya nampak ceria saat melihatku.

“Selamat siang pak Leman, ” sapaku.

Prajurit Doni membawa kursi plastik dan membagikannya kepada Mrs. Rose dan diriku.

“Mari masuk santai saja ya nona… siapa namamu non?” jawabnya.

“Moi…Moira.” jawabku senang karena tanggapan Leman yang ramah.

“O iya ya, Moi ya Moira nama yang bagus. Angin apa nona Moira yang membawa nona kesini?” katanya sambil terkekeh.

“Ingin berkunjung saja pak Leman, bagaimana kabarnya pak ?”

“Aku baik nona Moi, cuma harus waspada dengan situasi di sini maklum banyak prajurit dan orang bukan prajurit.” ujar Leman sambil tersenyum tipis.

“Maksudnya orang bukan prajurit apa pak?” tanyaku.

“O itu ada yang kuat non, kadang-kadang mau pinjam tubuhku, yang kuat itu orangnya sudah jutaan tahun berkelana, badannya besar memenuhi selku ini, wajahnya mirip tengkorak manusia, beberapa waktu yang lalu mampir kesini dia. Sebenarnya kurang ajar mau mengerjai orang seperti aku, untung aku tidak mau.” Leman menjelaskan tetapi justru membingungkanku.

Mrs. Rose menyikut pundakku dan menunjukkan kertas bertuliskan ‘skizo’  kepadaku, aku tersenyum kepadanya tanda mengerti.

“Kok pak Leman tahu bahwa orang kuat itu berumur jutaan tahun?” tanyaku terlanjur ingin tahu.

“Iyalah non, aku tahu karena dia memperkenalkan diri dan   sifatnya rakus tidak pernah puas, tamak harta serta gila tahta.”

“Boleh tahu waktu memperkenalkan diri namanya siapa dia pak Leman ?” sela Mrs. Rose.

Leman mengerutkan keningnya “Namanya cukup aneh Rose ia mengatakan Nodaba, si penghancur.”

“Nama kok ada noda nya, Nodaba, aneh.” ujar Mrs. Rose.

“Tetapi dia tidak bisa diremehkan Rose, ia mahluk yang haus dan lapar dan terus menerus mencari mangsa yaitu jiwa untuk di hancurkan, tidak pernah terpuaskan sebelum tujuannya tercapai. 

Dan ia berkunjung kesini pasti punya tujuan menghancurkan jiwa penghuni.” 

“Pak Leman kemarin waktu Moi datang pertama kali dengan Mrs. Rose, bapak sedang terbang melayang apa yang dirasakan?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Terbang? 

Terbang melayang? Ah siapa yang terbang melayang?

Ada-ada saja.”Leman menjawab sambil keheranan.

“Oh, berarti pak Leman tidak merasakan ya?Bagaimana pula pak Leman bisa punya jurus macam-macam seperti jurus ular, harimau, monyet, bangau saat bertarung pak?” tanyaku lebih lanjut.

“Oh kalau jurus-jurus yang itu sih, saya undang saja yang punya jurus, nanti bisa sendiri, lagipula memang aku sukanya beladiri non.

Mau saya ajari gimana non? Punya dasar beladiri tidak?”Leman bertanya.

“Tidak bisa beladiri pak Leman, bisanya makan dan tidur saja, hahaha.” jawab Mrs. Rose. 

“Bila beladiri sudah bagus tingkatnya dan kau punya kesadaran diri maka cakramu terbuka, kalau cakramu terbuka informasi alam semesta terbuka juga bagimu. 

Saat bertemu kau pertama, aku sebenarnya tahu tentang dirimu dimasa lalu non, 

kau punya jiwanya La Pucelle yang penuh anugrah.

Gadis yang kuat dan pemberani yang dilindungi.” ujar Leman.

“Ya dia memang gadis yang hebat dan pemberani pak Leman.” puji Mrs. Rose.

Aku tersenyum, antara percaya dan tidak, antara tersanjung dan menggelikan sudah dua orang ‘aneh’ yang menyanjungku dan menganggap aku hebat yaitu  Risty dan Leman.

“Tetapi ingat non, Nodaba sangat tidak suka padamu karena kau bisa menghancurkan rencananya. Kau harus lebih banyak belajar dan diperlengkapi supaya kau kuat menghadapinya. 

Kalau kau mau dan sudah siap, kubuka tujuh cakramu non, biar kau menjadi manusia yang lengkap.” ujar Leman seolah mengejar ku.

Manusia yang lengkap?

Leman mengada-ada bagaimana kejiwaan yang terganggu karena terlalu sering melihat dunia lain seperti Ron, dan mungkin  juga Leman sendiri?

Aku menggelengkan kepalaku, “Moi saat ini belum dulu ya pak Leman, mungkin pertemuan berikutnya saja dengan pak Leman, sesudah Moi mulai olahraga beladiri, ajari ya pak.

Sekarang pak Leman mohon isi dulu tes dari Moi ini ya”

Aku memberikan berkas tes psikologi untuk dijawab oleh pak Leman.

Kurang lebih satu setengah jam tes sudah diselesaikan oleh Leman.

Leman cukup kooperatif.

“Terimakasih pak Leman atas kesediaannya mengisi tesnya, nanti Moi diajari beladiri ya pak.” kataku sambil menjabat tangan Leman.

“Sering-seringlah mampir non, kau punya jiwa yang hebat. Aku tak pernah salah menilai orang, sejak hari pertama kulihat kau, kau memang sangat istimewa.

Bahkan Nodaba mengincarmu, kembangkanlah dirimu.” 

“Ya pak Leman, ini masih banyak pekerjaan, tapi pasti Moi segera mengunjungi pak Leman.

Moi harus banyak belajar dari bapak.” aku tersenyum, namun hatiku terasa perih mengingat beberapa hari lagi Leman mempertaruhkan nyawa satu-satunya untuk diadu dengan petarung, entah siapa yang bakal di bawa Tuan Jonah kesini.

Aku dan Mrs. Rose keluar dari sel Leman, dan berjalan bersama ke arah depan, seperti biasa Henry berteriak-teriak, 

“Moi jahaat kau, kau lewati saja.Kita putus saja kalau begini.Uuh payaah.” 

Aku tersenyum dan kembali melambaikan tangan, 

malu juga diteriaki Henry di depan para prajurit yang berjaga persis di depan selnya, sekilas terdengar Rado menyanyi dengan suara cemprengnya, entah lagu apa, sepertinya menyindir kami.

Kami melangkah ketempat kamar kami berada sambil bercakap-cakap.

“Moi coba rekapitulasi tes ini ya Mrs. Rose.

Moi lihat ada penggunaan obat psikotropika untuk mengatasi skizo-nya ya.” tanyaku sambil membuka dokumen tentang Leman.

“Ya Moi, dia kuberi haloperidol drop yang di campurkan ke minumannya, karena terasa pahit, kita campurkan ke teh atau jus buahnya setiap siang hari. Harus di samarkan karena Leman tidak mau minum obat.” jelas Mrs. Rose.

Aku berpikir, diagnosa ditegakkan bahwa Leman adalah skizoprenia karena melihat hal-hal yang tidak dilihat manusia lain, dengan riwayat PTSD-nya.

“Okay, Mrs. Rose, sampai nanti jam makan malam ya Moi lanjutkan pekerjaan Moi dulu.” kataku sambil membuka pintu kamarku.

Tiba-tiba terdengar 

Drttt… drttt… 

suara helikopter menderu di atas kepalaku, aku dan Mrs. Rose mendongak keatas.

“Oh , helikopter penjemputan Tuan Jonah dan Dragono sudah datang, berarti besok Dragono harus dioperasi.” gumam Mrs. Rose.

“Ayo kita ke kantor Tuan Jonah Moi.”

Kami kembali ke kantor Tuan Jonah, setelah mengetuk pintu, pintu terbuka.

“Selamat petang Tuan Jonah,    sudah siapkah untuk balik ke ibukota?” tanya Mrs. Rose melihat Tuan Jonah bersiap dengan tas nya.

“Gara-gara bocah keras kepala itu, aku harus cepat balik,” omel Tuan Jonah sambil melirik kepadaku.

“Maafkan Moi Tuan Jonah, Moi membuat situasi jadi seperti ini.” ucapku ketakutan.

“Situasi jadi seperti ini?

Kau merugikan sekali bocah!

Dragono harusnya menjadi penanggung jawab pulau ini saat aku tidak ada disini, untung Codi pulih, tidak perlu di bawa ke ibukota.

Kau benar-benar merugikan! Sekali lagi kau tidak menurutiku, awas kau !” tukas Tuan Jonah sambil berpaling kepadaku, matanya melotot, seperti binatang buas hendak  memangsa buruannya.

“Maafkan Moi,

Tuan..Jonah.” ucapku tersendat sambil menunduk.

“Saat aku pergi, bocah ini tidak boleh meneliti Vicko, Rado dan Leman dulu, awasi dia dengan baik Rose, dia tanggung jawabmu!” ujar Tuan Jonah sambil menunjuk wajah Mrs. Rose.

“Sekarang kalian keluar semua, kantor mau kukunci, keluar kalian semua!”

Aku dan Mrs. Rose tergopoh-gopoh keluar, 

aku langsung berlari menuju kamarku meninggalkan mereka.

Setibanya di kamar aku menenangkan diri, jantungku berdetak kencang, lututku masih gemetar, telapak tangan dan kaki ku terasa dingin.

Baru sepuluh menit menenangkan diri terdengar suara Henry di pikiranku, 

“Moi hoi Moi bagaimana kabarmu?”

“Kau sudah dengarkan Hen, Dragono patah rahangnya karena Vicko marah membabi-buta. 

Tuan Jonah menyalahkanku padahal si Codi lah yang memprovokasi Vicko.” balasku lewat telepati.

“Sukurin, kingkong sombong itu pantas tewas, mentang-mentang badannya besar, dikira Vicko tidak sanggup melawannya.

Berhati-hatilah kau situasi disini makin buruk, keamanan menjadi lemah.”Henry menasehatiku.

Ternyata bukan aku saja yang tidak suka dengan Dragono, Henry juga benci kepadanya.

“Keamanan lemah mungkin justru kesempatan kita bisa lari Hen, kau juga waspada ya, jaga kesehatanmu.

Bila saatnya memungkinkan siapa tahu kita bisa pergi, entah bagaimana caranya.” 

“Aku juga tidak mau memasuki lalu lintas telepati dulu Moi, kemarin dan hari ini aku berdiam saja dulu.

Aku siapkan mentalku supaya aku bisa menghadapi Alfa di jalur telepati ini.Seharusnya bisa dibilang aku yang terkuat mengenai telepati, mengapa orang yang tidak kukenal bisa lebih kuat dari aku tentang telepati?”Henry keheranan.

“Jaga kondisimu Henry, ini aku juga mau tahu hasil tes dari Leman, aku mau susulkan laporannya nanti saat Tuan Jonah pulang kemari.Aku juga mau mengembangkan diriku dan banyak belajar dari kemampuan metafisika semua yang ada disini.Sesudah makan malam, aku harus meminta Wi-Fi pada Jeff.” 

“Perlengkapi dirimu Moi, kita tidak tahu kapan kita bisa menggunakannya.Siapa tahu dengan kemampuan kita disatukan bisa menjadi jalan untuk bisa keluar dari tempat terkutuk ini.Selamat malam cantik.Jangan lupa besok aku dikunjungi ya.”Henry pamit dariku.

“Sampai jumpa besok ganteng.” pujiku tak kalah dengan Henry.

Sesudah makan malam dengan Mrs. Rose, aku melenggang ke ruang depan tempat Jeff biasa bekerja.

“Selamat malam Jeff, aku butuh jaringan Wi-Fi, untuk mencari referensi literatur laporanku.Bisakah?”

Jeff menjawab permintaanku dengan ogah-ogahan dan sama sekali tanpa menatapku.

“Ini passwordnya, aku nyalakan Wifi-nya sekarang.”Jeff mengulurkan secarik kertas padaku.

Aku menerima kertas bertuliskan password.

Jeff melirikku sekilas. Pemuda berkacamata itu kemudian asik tenggelam dalam dunianya sendiri di depan laptopnya.

Sebenarnya aku ingin berbasa-basi, beramah tamah dengan Jeff. Namun dari gesture tubuhnya, nyata sekali ia tak ingin diganggu saat ini.

“Thanks Jeff. Selamat malam.”

Jeff tidak menjawab, malah mengangkat cangkir dan meminumnya, seolah mengabaikan kehadiranku.

Aku menahan rasa kesalku dan berjalan kembali ke kamarku.

Aku bekerja dengan konsentrasi tinggi.  

Di sini sangat sunyi, sesungguhnya enak juga untuk bekerja.Andai aku seorang penulis, rasanya dengan cepat aku bisa melahirkan satu atau dua novel di sini.  

Aku teringat Risty, gadis itu penuh semangat dan pantang menyerah. 

Dengan kondisi fisiknya yang seperti itu, ia justru terinspirasi untuk membuat buku. Aku sungguh angkat topi untuknya.

Koneksi internet di Chimera ini cukup kuat.Aku segera mendapatkan beberapa referensi yang aku butuhkan.  Aku tergoda untuk membuka ponsel androidku. 

Ini saatnya kirim sinyal SOS kepada orang yang kupercaya, aku mempertimbangkan kalau kukirimkan kepada mama dan adikku William, pasti terjadi kehebohan besar didalam rumah dan mereka justru di teror oleh kaki tangan Tuan Jonah yang ada di ibukota.

Pikiranku pertama kali langsung tertuju pada Adrian. 

Saat nanti dia bisa menangkap sinyal SOS-ku paling tidak berusaha untuk mencari koneksinya untuk menyelamatkanku, atau paling tidak bila aku mati disini, ada yang mengetahuinya.

Aku mendapat harapan tatkala menatap lingkaran hijau di nama Adrian. 

Pria itu kebetulan sedang online juga.

‘Yuhuu, Adrian, how are you?’ ketikku cepat. 

‘Hai…haaai, Moi.Aku kira kamu sudah lupa padaku.  Kabarku baik, Moi.Bagaimana kabarmu?’

balas Adrian segera.

Aku bersorak mendapatkan jawaban Adrian.Kini aku tak lagi terisolasi dengan dunia luar.

Aku tersambung dengan Adrian. Hal apa sebaiknya yang harus aku ceritakan padanya?  Apakah aku bisa menceritakan segala hal yang terjadi disini padanya?

‘Adrian, aku ingin bercerita banyak kepadamu.’

‘Ow, asikk.Aku juga, Moi.’

‘Serius Ad. Aku ingin memberitahukan sesuatu disini.’

‘Kondisi apa, kok serius banget, enakkan disana?’

‘Enak bagaimana?kondisi disini terpenjara, tak bisa keluar.’

‘Terpenjara ya nggak bisa keluar Moi…kalo keluarnya gampang itu bukan penjara,’ sahut Adrian, lalu mengirimkan dua buah emoticon tertawa.’Kamu melupakan ku apakah ada yang cakep disana?’

Pikiranku melayang, yang cakep?  Ada Henry, dokter Stephan, juga cukup tampan hanya saja pembawaannya murung dan lelah, Dragono yang macho.

‘Aku serius.Disini sama persis dengan penjara Alcatraz.’

‘Ah, penghuni nya pasti mafia, emang mafia nya sungguh adakah?’

Mafia disini? Ada, Adrian.  Pikiranku tertuju kepada Tuan Jonah.Tanganku terhenti di atas keypad.Beranikah aku menceritakan situasi disini pada orang luar Chimera?

‘Moi…typingnya lama amat, ada apakah?’ 

Sebelum aku sempat menggerakan jari-jariku membalas chat Adrian muncullah balasan, seolah dariku.

‘Jiaah, hahaha..kena deh kau, Adrian.’

‘Uuh, Moi. Aku jadi nervous tahu.’

‘Disini sangat asik, Adrian.Orangnya baik-baik.Makanannya enak, kerjaanku juga ringan.’

‘Siip deh.Aku turut berbahagia atas keberuntunganmu.Selamat menikmati pekerjaanmu deh.  Apa aku bisa berkunjung kesana?’

‘Sayangnya tidak boleh, Ad.  Orang luar tidak diperkenankan masuk ke sini.Dan disini gudangnya cowok cakep ganteng kaya raya.’

Mataku berair menatap percakapan yang terus bergulir, antara Adrian…dan entah siapa yang mengehack ponselku.keyboard androidku tidak bisa bereaksi atas ketukanku. Pikiranku langsung tertuju ke Jeff!

Jeff The Hacker!  

Aku masih mencoba-coba menekan keypad ponselku, namun satu hurufpun tak muncul dalam percakapan tersebut.

‘Tempatku bekerja ini dikelilingi laut.Aku bisa bermain di pantai selama yang aku mau.Gelombangnya juga cukup tenang.Kalau hobi makan kerang, di pantai sini banyak kerangnya.Besar-besar, ditemani teman baruku yang romantis Henry dan Vicko yang gagah, aduh terasa di paradise.”

‘Jiaahh, kalau tidak boleh berkunjung, jangan memanas-manasin begitu, doong,’  Adrian membalas.

‘Moi, kau bercanda atau apa, tak kusangka kau,’ emoticon menangis dari chat Adrian.

Muncul satu foto aku sedang berpelukan dengan Henry, seolah-olah aku mengirimnya!

‘Ok, Moi selamat berbahagia di sana’ balas chat Adrian.

Wajahku seperti ditarik kebawah, semburan panas memenuhi wajahku, dengan gemas aku bangkit berdiri dan setengah berlari aku ke ruang kerja Jeff.

‘Iyaa, ini meminjam wifi  kantor. Ok, udahan dulu ya Adrian. Aku harus kerja lagi.’

‘Ok..ok…sukses, Moira, sampai ketemu 5 bulan lagi.’ kulirik masih ada chat berbalas di androidku.

Saat aku kurang beberapa langkah dari ruang kerja Jeff, aku melihat androidku.Percakapan itu telah selesai. 

Aku membuka pintu dan menghambur masuk.

“Hei, Moi,” sapa Jeff sambil melirik.

“Sudah puas mengacaunya?” tanyaku gemas.

“Hei…kamu emosi begitu, Moi? Adrian, nggg…

pacar lamamu itu gaya ngobrolnya asik juga, hihihi.” ujar Jeff terkekeh-kekeh

Aku menarik napasku beberapa kali, mengatur amarah yang menggemuruh di dadaku. Aku mengerti Jeff sama seperti Dragono, kedua pria itu telah diperintahkan untuk mengawasiku secara ketat. Rasanya aku bisa gila.Aku tidak bisa minta tolong kepada siapapun. 

Semua aksesku keluar dipantau, bahkan dibajak.

“Adrian bukan pacarku,” ujarku. 

Jeff tahu kalau aku ketakutan disini, jadi aku harus tenang.Jangan biarkan ketakutan menguasaiku. 

“Kamu tidak berhak membajak akunku Jeff. Kamu tahu privacy kan?”

“Dan kau juga tahu, Moi, bahwa kau terikat kontrak pada negara ini, Nona?  Kamu lupa ya?  Alcatraz?Apa itu?  Kalau Tuan Jonah tahu kau menyamakan Chimera dengan Alcatraz, entah apa reaksi beliau. 

Kau juga tahu pasti kan, bahwa semua yang ada disini adalah rahasia negara.”

“Aku tidak menceritakan apapun pada Adrian. 

Apa aku tidak boleh juga say hello dengan temanku?”

“Say hello apanya? Kalau aku tidak cepat mengambil alih, entah apa yang mungkin kau ceritakan pada Adrian. Berani taruhan, kau pasti akan bercerita tentang duel Vicko padanya.”Nada Jeff meninggi.

Ucapan Jeff sungguh mengena di hatiku. 

Aku terdiam, tetapi hatiku mengakui, semula aku mau menceritakan segala kengerian Chimera pada Adrian dan mencoba meminta tolong bahwa aku terjebak disini.

“Aku tidak akan menceritakan hal ini kepada Tuan Jonah.Aku tak mau tanganku berlumuran darahmu, anggap saja ini rahasia kita berdua.Sekali lagi kau coba-coba kirim chat diluar, tentang keburukan Chimera, aku laporkan ke Tuan Jonah yang sudah sangat benci kepadamu. 

Jadi, bagaimana kau tetap membahayakan proyek ini atau kau mau gunakan otakmu untuk tetap bekerja disini?

Dan apakah saat ini kau mau berterima kasih padaku, Moi?”

Jeff bangkit berdiri dan melangkah memutari mejanya mendekatiku.

“Bisakah kau bayangkan tindakanmu ini membahayakan petinggi-petinggi di sini?Kalau sampai proyek ini terendus pers, masyarakat, penelitian yang ada disini bisa bubar.Bahkan tentu kau tahu, ada orang yang tidak berindentitas yang ternyata masih dipelihara di sini.

Akses internet ini militer punya Moi, ada di bawah departemen keamanan nasional, lalu chatmu membahayakan stabilitas negara, jendral Manton pasti dipecat, dan aku garansi keluargamu juga lenyap!”

“Jeff, aku sungguh tidak mengerti dengan segala sikap dan tindakanmu ini.Dimana nuranimu Jeff?Belasan orang mati disini, di arena duel. 

Apakah kamu akan diam saja? Segala uang berdarah itu masuk ke Tuan Jonah, apa sedikitpun nuranimu tidak terusik?”

Jeff mengangkat kedua bahunya. Sejenak kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya bersandar ke meja.Kakinya disilangkan.Ia membetulkan letak kacamatanya.

“Lalu, apa yang sebaiknya kau lakukan, Moi?

Minta tolong dengan pacarmu di ibukota?

Hahaha, bisa apa dia?” ketawa Jeff seolah memperkuat kebodohanku.

“Kita bisa keluar dari sini, Jeff.Dengan keahlian komputermu, kita bisa keluar dari penjara ini bersama-sama.”

“Bersama-sama?Sama siapa saja?Orang-orang sakit itu semua?” ujar Jeff pedas.

“Lalu?Apa maksudmu? Kita bisa mengajak yang lainnya untuk keluar dari sini bersama-sama.”

Jeff melepas kacamatanya dan mengucek-ucek matanya.Pria itu menatapku tanpa kacamata.

“Aku akui kamu cukup cantik, Moi.Mungkin kecantikanmu sanggup meluluhkan hati Henry dan Adrian, tapi aku tidak.Aku tidak akan terpengaruh oleh pesonamu.”

“Pesonaku?Apa?  Sialan, tak sedikitpun terbersit dalam pikiranku untuk merayumu, Jeff.Kamu jangan melecehkanku!” nadaku tinggi.

“Barusan kau berapi-api mengajakku keluar dari sini.Tidakkah itu berarti kau peduli padaku?Apa kau diam-diam menyukaiku?” senyum mengembang di wajahnya yang menjengkelkan bagiku.

Aku nyaris tersedak mendengar pertanyaan Jeff.

Sangat menghina sekali dia, karena menang posisi seperti sekarang ini.  

“Bagi aku sendiri, Chimera adalah surga.Di sini aku bebas melakukan segala yang aku mau. 

Aku juga aman terlindungi.  Kukira kau sudah tahu latar belakang kehidupanku kan?  Posisiku sudah kelas internasional dalam urusan meretas.

Berada di dunia nyata tak ada tempat untukku lagi.Nama baikku tercoreng karena keusilanku meretas situs vital negara.

Kalau di sini, aku bukan saja mendapatkan kepercayaan, aku juga berkuasa untuk mengawasi seluruh pulau ini.  Kamu orang psikologi, tentu paham benar, bahwa semua orang butuh tiga hal itu.  Rasa dipercaya, rasa berkuasa dan mendapatkan uang besar.”  Jeff menarik napasnya.“Tiga hal itu aku dapatkan disini, di Chimera.Jadi, mengapa aku harus keluar dari surgaku?”

“Sayang sekali Jeff, tanganmu terikat pada hal yang semestinya kamu tahu itu tidak benar. Semakin lama berada di sini, kamu  akan…”

Jeff melangkah dan berhenti tepat di hadapanku.“Akan apa?”

“Kamu akan sama seperti Tuan Jonah.Sadis, kejam, nuraninya mati.”

“Aku punya tujuan. Andai kita berada dalam satu tim…ah, tidak. Sekarang kamu balik kerja lagi sajalah.Atau istirahatlah, sudah malam sekarang.  Juga tidak baik bagi kita berdua kalau orang lain melihat kita berduaan di ruang kerjaku seperti ini selarut ini.” 

kata Jeff sambil mundur menjauhiku dan kembali ke meja kerjanya. 

“Kau tidak mengerti apa-apa, Moi.Kegiatanku mengawasi, bukan hanya kamu melainkan seluruh pulau ini.Selain aku dapat bonus bitcoin dari Tuan Jonah, bisa kuternak untuk bekal kebebasanku nanti, karena aku menurut pada Tuan Jonah tentunya aku diprioritaskan bebas nantinya. 

“Ya Jeff, aku tahu.” 

Aku membuka pintu.

“Lakukan tugasmu saja, dan jangan coba-coba mengeluh tentang segala sesuatu di sini.Hanya tinggal beberapa waktu lagi, dan kita semua akan bebas.”

Langkahku terhenti, “Kita semua akan bebas?”

Jeff tersenyum dan berkata, “Buktikan ucapanku, boss. Ya, kita semua akan bebas, tak lama lagi. Sekarang kamu kerjakan saja sebaik-baiknya pencatatan dan penelitian psikologimu. 

Aku yakin hidupmu akan menyenangkan nantinya. Kalau kau egois dan memaksakan kehendak, lihatlah karena ulahmu, rahang Dragono patah. 

Kerjamu harus sepadan.Berilah yang terbaik.Kerjakan tugasmu dengan baik.”  

Aku keluar dari ruangan Jeff.Otakku berputar-putar mencerna ulang segala ucapan Jeff. Kita semua akan keluar dari sini, tak lama lagi…

Jeff sangat dipercaya oleh Tuan Jonah, dengan kedekatannya, apakah Tuan Jonah memberitahu Jeff kapan proyek ini di tutup?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *