Chapter 4 Pertarungan yang Mematikan

Rombongan berikutnya yang memasuki The Arena, 

adalah dua orang prajurit yang mengawal seorang pria yang diberangus pada mulutnya serta kedua tangannya diborgol kebelakang. 

Tuan Jonah segera berdiri lalu menghampiri mereka.

Suara helikopter masih terdengar, 

semakin banyak orang-orang yang memasuki The Arena. 

Ada yang nampak seperti pangeran Timur Tengah, nampak dari sorban yang dikenakan, warna kulit serta bentuk wajahnya. 

Ada pria berambut pirang mengenakan kacamata rayban hitam yang berpenampilan seperti bos gangster, 

ada yang bermata sipit dan berbahasa mandarin. 

Dan berbagai macam orang-orang lain.

The Arena yang mirip stadion kecil ini nyaris penuh oleh para tamu 

yang duduk di lantai cor beton dibentuk 3 trap meninggi.

Aku ingat landasan di Chimera hanya cukup untuk 4 helikopter. 

Suara helikopter terus terdengar begitu riuh.

Jadi para tamu ini, 

yang berasal dari berbagai negara mendarat bergantian untuk menurunkan mereka, dan kemudian pergi terbang lagi karena arena pendaratan yang terbatas.

Terakhir nampak muncul Dragono berdiri di gerbang masuk The Arena.

“Aku lepas berangusmu sekarang. 

Jangan berulah atau kuhajar habis kau. 

Mengerti, Vicko?” ucap seorang prajurit. 

Berangus itupun dilepaskan oleh salah satu prajurit di belakang Vicko.

Oh, 

jadi inilah Vicko itu.

Vicko berdiri diantara dua prajurit, 

tangannya nampak diikat di belakang tubuhnya,

sementara sebuah kayu bulat panjang nampak diganjalkan horisontal di belakang punggungnya sampai naik keatas ketiak Vicko kanan menembus kiri, dua prajurit memegangi ujung kayu itu kanan kiri, sementara dua pundak Vicko juga dipegangi tangan-tangan prajurit tersebut.

“Itu idolamu, Moi. 

Dia Vicko,” bisik Mrs. Rose.

“Astaga Mrs. Rose, 

mengapa Vicko harus di berangus seperti itu?”

“Dia terlalu berbahaya, Moi, bahkan seluruh bagian tubuhnya sangat berbahaya dan bisa digunakan untuk menyerang orang.”

“Apa imbalanku Jonah? 

Siapa calon lawanku?” Tanya Vicko.

“Namanya Degardo, 

desersi karena bergabung dengan separitis,” sahut Tuan Jonah.

“Uhhm desersi. 

Pengkhianat itu akan kupatahkan tulang pinggangnya nanti,” ucap Vicko.

“Menangkan pertandingan.Kamu akan dapat makanan kesukaanmu, menu spesial.” ujar Dragono.

“Entertaint yang bagus Vicko! 

Tamu-tamu bayar mahal untuk pertunjukanmu.” 

Ucap Tuan Jonah.

“Sadarilah Jonah, 

kau juga Dragono, 

aku seorang patriotik idealis. 

Aku diperlakukan seperti hewan begini. 

Aku akan membalas semua perlakuan ini pada kalian berdua.” 

Vicko menggeram. 

“Akan tiba saatnya, 

aku akan meledak 

tanpa seorangpun dapat menghentikanku.”

Posisi dudukku cukup dekat untuk mendengar pembicaraan Vicko dan Tuan Jonah. 

Jadi, apa yang akan dilakukan Tuan Jonah? Walau aku sudah bisa mengira apa yang akan terjadi selanjutnya, 

tak urung aku bertanya juga, “Pertunjukan model apa ini Mrs. Rose? 

Mengapa ada ring seperti octagon disini?” 

“Ssst, Moi, ingat yaa, 

kita sebagai penonton saja disini. 

Nikmati saja ya,” suara Mrs. Rose terdengar lirih. 

Suara seorang prajurit beraut wajah keras dan nampak kasar, 

dagunya dicukur dengan jenggot mulai tumbuh lagi, 

nampak berbulu-bulu mukanya, memegang mic membahana ke seluruh 

The Arena. 

“Selamat pagi ladies and gentlemen. 

Selamat hadir di tengah pulau Chimera.

Pada pagi ini kami berikan sajian pertarungan istimewa untuk kalian semua, 

sajian kelas dunia yang tiada duanya!

Langsung saja, 

telah kita lihat memasuki ring arena, 

sang juara bertahan kita, VICKO THE CHAMPION!!”

Vicko yang mengenakan kaos singlet serta celana pendek, kakinya tanpa alas, memasuki ring octagon disertai prajurit yang masih mengikat tubuhnya dengan kayu bulat panjang 

dan tangan terborgol dibelakang punggungnya.

“Haa…ini, 

mau diapakan dia Mrs. Rose? 

Apakah Vicko akan…

adu duel beneran?” Badanku merinding membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya.

“Dengan 15 kali rekor tidak terkalahkan!! 

Dan penantangnya adalah Degardo. 

Desersi dengan tempaan bela diri karate dan judo.” Suara bass sang prajurit menggebu bak host acara pertandingan tinju internasional di televisi.

“Dan mari Tuan Jonah sekiranya memberikan sepatah, dua patah kata untuk sambutan yang segar di pagi hari ini.”

Tuan Jonah melangkah memasuki The Arena, 

dua trap tangga dilangkahinya dengan kepala tegak penuh percaya diri.

Dia membawa mic wireless di tangan kanannya.

“Disini tidak ada peraturan.Jadi bertarunglah sebaik mungkin. 

Pertarungan berhenti 

saat salah satu diantara kalian 

mati.” 

Ujar Tuan Jonah sang pemimpin Chimera di sisi prajurit yang menjadi host.

Mati…

Mati?

Oh Tuhan, 

adakah seseorang yang bisa menghentikan pertarungan ini?

“Tuan-tuan sekalian yang terhormat, 

disini peraturannya adalah diriku sendiri. 

Karena akulah yang berkuasa di pulau ini. 

Dan aku berdiri di tengah dua lelaki yang gagah ini.Buka tutup kepalanya, Don!”Perintah Tuan Jonah.

Aku tidak melihat kapan datangnya dua orang prajurit yang mengawal seseorang yang bertubuh besar dan kepalanya ditutup kain hitam, 

naik ke tangga The Arena.

“Di kanan saya, 

berdiri Degardo 

dengan berat 105 kg, 

tinggi 185 cm, 

gagah serta kuat, 

dan hari ini dia dalam kondisi terbaiknya. 

Berdiri di sebelah kiri, 

Sang Juara bertahan 15 kali tak terkalahkan. 

Tinggi 172 cm, berat 65 kg, 

karena ia nakal, 

maka siang kemarin adalah makan terakhirnya. 

Dalam kondisi kelaparan, lebih pendek, 

dan lebih ringan beratnya, 

mampukah juara kita bertahan dan menyandang juara 16 kalinya? 

Mari pasang taruhan anda, saya berikan 1 : 2 untuk Vicko.” Ujar sang prajurit host berapi-api.

Mr. Bruno bersuara keras mengagetkanku, 

“Aku beri cek $ 100.000 untuk Degardo.”

Pria flamboyant Edward juga turut bersuara, 

“Aku terima tantanganmu Mr. Bruno. 

Aku pegang Vicko, 

ini $ 50.000.”

Wanita genit disebelah Edward itu bergerak menggoda, 

“Kau pasti menang, sayang.”

Perutku menjadi mual, rasanya aku ingin muntah saat mendengar dan melihat semua hal ini.

“Aku wakil bandar dari Vicko, mana uang taruhannya?” seorang prajurit berseru dan bergerak diantara penonton.

“Aku dari bandar yang pegang Degardo, 

mana uang taruhannya?” seru prajurit lainnya.

“Mr. Jonah, kalau aku menang, apa hadiahku?” Tanya Degardo. 

Suaranya terdengar ke seluruh stadion, 

karena dekat dengan mic yang dipegang Tuan Jonah.

“Kau akan kuselundupkan ke negara tetangga. 

Identitasmu berubah, 

kau bebas menentukan nasibmu sendiri, Degardo. 

Maka dari itu, 

kamu harus menang. Pastikan itu,” ucap Tuan Jonah tegas sambil menatap wajah Degardo.

Aku sungguh tidak mengerti. Tuan Jonah mengharapkan Vicko menang, 

disisi lain ia juga menyemangati Degardo untuk menang. 

Sebenarnya Tuan Jonah di pihak mana?

“Ya, yang mau transaksi online lagi?” seorang pria, memakai kemeja berlengan pendek rapi yang dimasukkan ke dalam celana panjangnya, berkacamata, dan membawa tablet di satu tangannya, turut berseru dan berjalan di depan penonton.

“Aku, Nak,” ucap seseorang di depan tempat duduk kami.

“Itu Jeffry The Hacker kan, Mrs. Rose?” bisikku.

“Ya, dia dilibatkan untuk menangani transaksi online.Setiap perputaran uang disini 40% masuk untuk Tuan Jonah, Moi.” bisik Mrs. Rose menerangkan.

“Baik. 

Kita mulai saja pertunjukkan hari ini. 

Vicko versus Degardo.

Siaap prajurit!!! 

Lepaskan ikatan Degardo dan hati-hati… 

buka pelan-pelan 

borgol Vicko bersama dengan palang kayunya hati-hati… 

jangan sampai kalian diterkam Vicko, 

wahai para prajurit! “

instruksi Tuan Jonah, 

sambil berjalan mundur diikuti prajurit host tersebut, lalu terakhir Dragono beringsut turun sambil membawa gebuk tongkat tonfa ditangannya yang besar.

Para prajurit yang mengawal Degardo dan Vicko mulai melepaskan ikatan dengan hati-hati dan waspada, 

agar ada jarak yang aman,

supaya mereka bisa keluar satu-persatu dari The Arena, sehingga tinggal dua pria yang akan berlaga, 

ada di tengah The Arena.

Dua pria yang gagah nampak bergerak, 

pelan-pelan saling mendekati, 

nampak tinggi Degardo terlihat kontras dibanding dengan Vicko yang nampak lebih pendek dan kecil dibanding dengan Degardo.

“Habisi dia, Vicko!!” Teriak sang flamboyant Edward mengagetkanku.

“Sikat, Degardo!! 

Ayoo!!” 

Teriak Mr. Bruno menimpali.

Degardo maju dengan cepat dan langsung agresif menyerang. 

Pukulan dan tendangannya yang begitu kuat 

serta beruntun membuat Vicko nampak kewalahan.

Suara “Bug” 

“Dug” 

terasa menggetarkan telingaku, 

rupanya Vicko terkena serangan mendadak dari Degardo tadi. 

Sudut bibir dan hidung Vicko terlihat berdarah.

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, belum pernah aku melihat pertarungan secara langsung seperti ini, 

suara pukulan dan tendangan terasa begitu keras terdengar menghujam telingaku diiringi sorak-sorak dari tamu.

Wanita genit bergaun merah itu menutup matanya. Edward, pria flamboyant disebelahnya justru memeluknya, 

“Haha…tenang Misye, 

sudah kebiasaan Vicko. 

Dia sukanya pura-pura kalah lebih dulu, tapi lihat nanti…”

Degardo maju menerjang.Sepasang mata Degardo berkilat seperti mata binatang buas_bengis dan tak berperasaan. 

Wajahnya garang, 

dengan tatapan mata yang dingin, 

kejam dan tanpa ampun. 

Mulutnya mengeras, 

giginya sedikit menyeringai. 

“Matii kauuu, Vicko!!”

“Degardo !! 

Degardo!!”

Nama Degardo diteriakan menggaung di seluruh The Arena.

Ya Tuhan, 

pria-pria di stadion ini semuanya sudah gila. 

Dua orang pria di tandingkan bunuh-bunuhan 

seperti gladiator jaman Romawi kuno, 

tanding secara brutal…

dan penontonnya begitu antusias senang, 

bahagia menyaksikannya. 

Terdengar dari teriakan mereka membahana, menyemangati jagoannya masing-masing.

Vicko yang nampak terdesak masih sempat tersenyum, matanya terlihat dingin seolah mengejek musuhnya,

“Jangan terburu-buru, sobat.”

Saat Degardo melancarkan pukulan, 

Vicko menarik kaos Degardo, seiring dengan itu kaki kirinya menendang dada Degardo.

Vicko menjatuhkan tubuhnya ke lantai, 

tubuh besar Degardo melayang di atas kepala Vicko,

lalu jatuh terjerembab. Bantingan Vicko membuat kepala Degardo membentur lantai dengan keras.

qBletakk!!

Degardo cepat-cepat bangkit seolah tak merasakan 

sakit kepalanya.

“Ayo, Degardo, kalau kamu menang, kamu bebas,” 

sindir Vicko mengutip ucapan Tuan Jonah.

Mr. Bruno berseru tidak sabar, 

“Ayoo Gardo, habisi dia!”

Degardo dan Vicko 

kembali berhadapan.

Sekali lagi Vicko tersenyum, “Ayolah, Gardo. 

Cobalah habisi aku.”

Mereka berdiri dekat berhadap-hadapan,

tangan mereka saling memasang kuda-kuda 

siap memukul dan bertahan.

Tiba tiba Vicko berteriak, “Awas, pertahanan bawah.”

kaki kiri Vicko bergerak cepat membentuk 

tendangan lurus dan suara 

Kraakk!! 

bergema.

Tempurung lutut kiri Degardo terlihat bengkok, rupanya tendangan bola kaki Vicko telah mematahkan bagian lutut Degardo.

Degardo memekik kesakitan, belum sempat pekikan Degardo tuntas,

meluncurlah tinju kanan Vicko telak menghantam dagu Degardo, disambung tinju kiri, kemudian berturut-turut siku kiri dan kanan Vicko.

Vicko yang lebih pendek ternyata merangsek masuk, pertarungan jarak sangat dekat 

dilakukan Vicko, 

dia tidak memberikan kesempatan pada Degardo bahkan untuk bernafas sekalipun. 

Semua pukulan itu menghajar wajah Gardo dengan keras, 

terlihat Degardo mabuk serangan, 

mimik wajahnya kosong kena gempuran cepat 

dan telak dari Vicko.

Dari seluruh wajah Degardo mengucur darah, 

dari mulut, 

hidung dan mata 

terlihat genangan darah mengalir deras. 

Mengerikan!

Tuan Jonah menegakkan duduknya. 

Ia menyeringai puas. 

“Paling lama semenit lagi, Gardo mati.” 

disebelahnya duduk 

Dragono sedang membawa camera yang kelihatannya difungsikan sebagai video…

Ooh 

pertarungan ini di dokumentasikan oleh Dragono.

“Tuan yakin? 

Gardo itu tinggi, 

besar dan kuat,” sanggah Dragono sambil tetap melihat ke LCD camera yang dibawanya mengikuti alur pertandingan dua pria di tengah The Arena.

“Tidak ada yang setaktis Vicko,” ujar Tuan Jonah dengan bangga. 

Komandan tertinggi Chimera itu kelihatan sangat bahagia pagi itu, 

wajahnya sangat cerah.

Astaga, 

ditengah kejadian seorang meregang nyawa, 

wajah Tuan Jonah justru nampak bahagia, 

senyum tetap tersungging, 

bahkan dia terlihat ketawa saat serangan Vicko di wajah Degardo, 

Ooh 

ternyata pimpinan Chimera adalah orang yang sakiit….

dan seluruh pertarungan ini direkam oleh Dragono? Untuk koleksi pribadinyakah? 

Atau…

“Vicko!! 

Vicko !! 

Vicko!!”

Nama Vicko digaungkan. 

Aku tak sanggup melihat ke ring lagi. 

Seluruh wajah Degardo sudah bersimbah penuh darah. 

Pria besar itu nampak terduduk lemas di lantai. Vicko berdiri di belakang tubuh Degardo, 

tangan kanan Vicko mencengkeram rambut lawannya, 

bahkan rambut Degardo sudah basah oleh darahnya sendiri, 

seperti keramas darah.

Kepalanya yang besar 

ditarik oleh Vicko 

supaya tidak jatuh terkulai.

“Kau ingin aku apakan dia Jonah? 

Apa imbalanku?” teriak Vicko.

Tuan Jonah mengacungkan jempolnya lalu memutarnya ke bawah. 

“Selesaikan dia!! 

Dan tinggal 2 kontrak lagi, kau bebas Vicko.”

“Oke. 

Kau yang minta, Jonah. 

Aku tuntaskan dengan mematahkan pinggangnya.”

sahut Vicko tenang, 

tatapan matanya terlihat dingin dan santai.

Mematahkan pinggangnya?

Pinggang Degardo? 

Aku sungguh terkejut, 

tanpa sadar aku bangkit berdiri. 

Aku berteriak, 

suaraku terdengar parau 

“Ini gila. 

Apa-apaan ini?”

Mrs. Rose memegangku dan memaksaku untuk duduk kembali, 

“Tenang, Moi. 

Ayo, duduk lagi, Moi.”

Di tengah arena, 

dengan lincah gerakan luwes Vicko mengait lengan kiri Degardo lalu melompat kepunggungnya. 

Berat badan Vicko menekan punggung atas Degardo. 

Sekali lagi bunyi 

Kraakk!! 

bergema 

bahkan kali ini terdengar sangat keras.

Degardo terlihat langsung terkulai badannya, 

diantara dua kakinya sendiri, 

dan bentuk tubuhnya terlihat tidak simetris lagi, 

condong ke kiri, 

Vicko telah mematahkan punggungnya!

Tidak ada erangan lagi, 

tapi kulihat kedua kaki Degardo masih bergerak-gerak kecil 

seperti orang kejang-kejang, dan semakin lama semakin lemah.

“Selesai, Jonah!” seru Vicko.

The Arena serasa meledak karena kemenangan Vicko.Nama Vicko digaungkan.

“VICKO !! 

VICKO!! 

VICKOO!!!”

Nampak sang flamboyant tertawa keras dan mencium wanita genit di sebelahnya.

Empat prajurit masuk di pintu The Arena, 

mereka membawa tongkat tonfa, 

ada yang membawa seperti pistol yang ujungnya nampak ada bunga api listrik dan tongkat kayu bulat yang tadi digunakan untuk membawa Vicko, 

mereka menyuruh Vicko tiarap di lantai.

Setelah berhasil memborgol Vicko dan membawanya keluar. 

Dua orang prajurit berikutnya menyeret kaki Degardo yang telah terkulai lemas seperti pohon tumbang, keluar arena.Darah merah Degardo membekas memanjang dari The Arena ke sepanjang jalan.

Vicko kembali diberangus dan diborgol. 

Ia digiring keluar arena kembali ke selnya, 

rupanya sel Vicko tepat di ujung pertama berbatasan dengan gerbang The Arena. Sel yang tertutup rapat mirip pintu ruko tadi.

Orang-orang ini sungguh tidak punya hati.

Aku benar-benar tak tahan menyaksikan semua ini. 

Aku mual dan muak. 

Air mataku membanjir. 

Setelah beberapa saat bisa mengatasi kaki dan lututku yang terasa lemas, 

aku menguatkan diri untuk berdiri, 

walau langkah kaki ku berat tetapi aku mencoba berlari meninggalkan tempat dudukku, terasa lariku seperti gemetaran.

Aku berusaha untuk pergi secepat mungkin dari situ dan berlari keluar ruangan, kulewati Mrs. Rose,

Tuan Jonah dan Dragono serta pak Iskandar, 

aku tak peduli lagi.

“Anak bau kencur itu belum terbiasa. 

Biarkan saja dia.”Kudengar Tuan Jonah berkata saat melihatku melintas di depannya, tangan Mrs.Rose terasa mencoba untuk meraihku, tak kuhiraukan.

Saat melewati sel-sel yang berteralis terbuka,

kurasakan banyak pasang mata melihatku, 

aku sudah tak peduli lagi, 

ya aku harus segera pergi ke kamarku, 

menjauhi ruangan yang penuh kegilaan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Terdengar Mrs.Rose berkata,” Jangan ikut-ikutan Henry!”

Terdengar suara dalam sel itu, 

“Lhoo, bagaimana aku bisa ikut-ikutan Mrs.Rose, 

aku kan terkurung disini.” 

Aku tetap terus berlari, 

tak peduli langkah Mrs. Rose yang kurasakan satu-dua langkah di belakangku, 

saat kulewati dua prajurit yang menjaga di perbatasan gerbang sel, 

aku merasakan wajah-wajah meremehkan dari pandangan mereka.

Masih terdengar di belakangku, 

The Arena yang masih gegap gempita karena perhitungan taruhannya, 

lariku akhirnya terhenti, tubuhku ambruk.

Napasku terasa sesak, 

pikiranku berkecamuk, 

bahkan kurasakan aku tak bisa melihat lagi, karena banyaknya air mataku di pelupuk mataku, 

tubuhku gemetaran 

dan lututku terasa lemas, 

tak sanggup menyangga tubuhku lagi, 

aku menyandarkan tubuhku ke dinding, 

mengatur napasku, 

di depanku ternyata ruangan Tuan Jonah yang kemarin aku masuk ke dalamnya. 

Suara sepatu Mrs. Rose terdengar mendekatiku, 

aku tak peduli, 

aku mencoba menguasai tubuhku yang lunglai, 

nafas ku tersengal-sengal, 

kucoba untuk mengaturnya.

Mrs.Rose sudah duduk disampingku, 

tangannya dilingkarkan ke pundakku, 

ia memijat-mijat pundakku.

Beberapa tamu-tamu yang keluar dari The Arena melewati kami, 

mereka hanya berbisik-bisik, 

ada yang tersenyum simpul sambil melewati kami, 

aku sudah tidak sanggup bergerak saat itu, 

terlalu lemas, 

hanya sesenggukan tangisku yang terdengar susul-menyusul dengan deru nafasku, 

belum pernah aku mengalami menangis sehebat ini.

Sang pria flamboyant berdiri tepat di depanku.

“Hei, gadis kau baru pertama kali ini ya, melihat pertunjukan seperti itu.” 

Kalung emasnya berkilat tertimpa cahaya lampu penerangan ruangan.

Aku mengusap air mataku dengan tangan.

“Jangan menangis sayang, kan ada kak Edward disini, ayo ikut kak Edward saja, sudaaahlah, 

nanti kujadikan kau istri daripada stress disini.” rayunya.

Aku meliriknya dengan sebal. 

Tanganku menutupi wajahku, 

hhh… 

tidak punya hati, 

aku yang sedang ketakutan masih mau dirayu-rayu. 

Saat itu sang wanita genit bergaun merah menariknya untuk berjalan lagi. 

Anehnya wanita berbaju merah tersebut nampak biasa saja

bahkan mata dan mulutnya terlihat nyinyir, 

saat melihatku tersandar di tembok ditemani Mrs. Rose.

Pria flamboyant itu menepiskan tangan wanita itu. 

Sang wanita tetap menggelendot di pundak Edward, 

pandangan mata wanita genit tersebut, 

menunjukan ketidak-sukaannya kepadaku.

Pria ini dengan gerakan lembut menghapus air mataku dengan jari-jarinya.

“Cup…cup….kamu takut ya ngeliat yang tadi?” Ujarnya. Kemudian Edward meletakkan salah satu tangannya di dinding, 

di sisi kanan tubuhku. 

Setelah itu ia lebih membungkuk. 

Wajahnya mendekat ke wajahku. 

Aku bisa mencium parfum tubuh serta wangi rambutnya. 

Aku terbelalak. 

Pria ini hendak menciumku! Aku bergerak ke kiri menghindar. 

Bibirnya yang berkumis menyentuh pipiku sekilas.

Mrs.Rose menepis tubuh Edward sambil berkata,”Sudahlah Edward dia masih ketakutan,

jangan kau ganggu dia.”

Edward tertawa, 

gerakannya terhenti. 

Pria itu menoleh ke arah Mrs. Rose. 

Wajahnya mundur menjauh dari wajahku. 

Pria ini sungguh binatang yang buas, 

tidak mempedulikan penderitaan orang

Brbbrbr…sebuah suara-suara helikopter terdengar datang dan menjauhi Chimera.

Edward menegakkan tubuhnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku.

“Ya, Rose aku pergi dulu, bisnisku sudah menunggu, orang kaya macam aku, harus menghargai waktu.”

Edward berdiri sambil mulai melangkah. 

“Sayang sekali aku harus pergi. 

Kapan-kapan kita ketemuan lagi ya, honey?”

Aku mendengus, 

tak lama ke dua pasangan tersebut menjauhiku untuk keluar dari benteng Chimera.

Aku memejamkan mataku dan memegangi perutku yang mual.

Brrbr…

kudengar sebuah helikopter lagi terdengar terbang menjauhi Chimera.

“Ayo balik ke kamarmu Moi , aku antar yuk,”

kata Mrs.Rose lembut tangannya berusaha menarikku supaya bangun.

“Iya” ucapku lemah, 

terus terang aku juga malu menangis sehebat itu sampai tidak bisa menguasai diri lagi, 

aku harus cepat-cepat kembali kekamarku, 

walau badanku masih terasa lemas.

Saat itulah di sisi sana, 

aku melihat Tuan Jonah serta Dragono memeluk dua buah karung coklat. 

Karung yang aku tahu isinya tanpa harus membuka ikatannya. 

Uang.

Tiba-tiba aku mendapat kekuatan , 

amarahku menggejolak menggerakkanku, 

aku bergegas mendekati mereka.

“Tuan Jonah,” panggilku keras.

Mrs. Rose terkejut. 

“Tunggu Moi! Kamu mau apa?”

Tuan Jonah dan Dragono telah masuk ke ruangannya.

Aku menyusul masuk ke ruangan Tuan Jonah yang terbuka.

Mrs. Rose seolah bisa membaca pikiranku, 

ia memegangi lenganku erat. “Moi, sabar Moi…”

Kala aku masuk ke ruangan Tuan Jonah, 

daun pintu kudorong cepat, 

tumpukan uang dollar memenuhi seluruh meja kerja Tuan Jonah.

Komandan tertinggi Chimera itu berdiri dibelakang meja kerjanya, 

mengacungkan sepucuk pistol kepadaku.

“Lain kali kalau masuk ruanganku, 

ketuk pintu dulu. 

Untung tidak kutembak kepalamu.” katanya sambil menaruh pistol ke dalam laci meja kerjanya, 

sesaat terdengar derit laci ditutup olehnya.

“Aku tidak perlu mengetuk, pintunya sudah terbuka,” sahutku ketus.

“Kamu harusnya bisa menjaga dia Rose,” tukas Dragono.

“Jadi Anda melakukan kegilaan hanya untuk ini Tuan Jonah? 

Semua uang ini?” ucapku dengan geram. 

Betapa ingin aku mengobrak-abrik tumpukan uang darah itu.

“Moi, kita keluar sekarang ya,” bujuk Mrs. Rose, tangannya berada di pundakku.

“Biarkan dia dulu, Rose,” ucap Tuan Jonah.

“Satu orang telah mati mengenaskan. 

Dan Anda mendapat uang ini.”Aku menggeram dan marah sekali.

“Aku berjanji, 

dalam 2 pertarungan lagi Vicko akan bebas. 

Yah, dia akan bebas sesuai janjiku. 

Dia sang juara bertahan 16 kaliku. ” Tuan Jonah tiba-tiba tertawa.

“Anda sakit, Tuan Jonah.”Ucapku marah.

“Ini proyek siluman, bocah. Semua dana di pulau ini dana siluman, 

bahkan dana yang dialokasikan untuk mendanai proyek penelitianmu ini, 

juga dana siluman. 

Dan aku yakin dalam waktu singkat, 

proyek ini akan ditutup. 

Aliran dana akan berhenti.

Kamu dengar itu bocah. 

Aku sudah memberitahu satu rahasia terpenting di Chimera. 

Proyek ini akan ditutup. 

Sangat disayangkan sebenarnya. 

Dengan proyek ini harusnya militer kita bisa menjadi yang terkuat di dunia.”Nampak sekali Tuan Jonah berusaha sabar menghadapiku.

“Kalau Anda yang mati bagaimana, Tuan Jonah?Degardo juga manusia.” timpalku gemas.

“Kematian Degardo tidak sia-sia, bocah. 

Dengan pengorbanannya, aku bisa mendapat ini.” 

Tuan Jonah mengambil lalu melambaikan kameranya.

“Dari video rekaman ini 

bisa dipelajari bagaimana gaya serta tehnik bertarungnya oleh tentara-tentara kita. 

Jadi yang dilakukan Degardo tidak salah. 

Ia melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh seorang tentara. 

Berkorban mati…

Mati untuk bangsa negara kita.”

Terasa wajahku memanas, betapa ingin aku menghajar pria paruh baya abnormal dihadapanku ini.

Tuan Jonah meraup tumpukan uang,

lalu menaiki anak tangga ke sebuah pintu kecil di atas ruangannya. 

Dengan satu tangannya, 

Tuan Jonah membuka pintu itu, 

membuka brankas dan memasukkan uang ke dalamnya. 

Aku mengikuti Tuan Jonah naik tangga mendekati ke ruangan kecil di atas ruangan kerjanya, 

dari perbatasan tangga 

aku melihat Tuan Jonah menata uang ke brankas kecil itu, 

ternyata di ruangan kantor Tuan Jonah ada ruangan bertangga besi seperti itu,

tangga besi hanya cukup untuk dilewati satu orang saja dengan pegangan besi di salah satu sisinya, 

sementara sisi lain adalah tembok.

Jadi ruangan atas, 

ala rumah pohon itu 

digunakan untuk mengamankan uang hasil pertarungan. 

“Bagaimanapun juga, Degardo pada akhirnya akan mati. 

Dia tentara yang membelot, pengkhianat negara. 

Saat dia membelot semestinya rekannya atau pimpinannya yang mengeksekusinya

saat itu juga.” 

katanya seperti mencoba berlaku tidak bersalah, sambil tetap asyik menumpuk uang ke brankas.

“Anda sungguh keterlaluan, Tuan Jonah.” sahutku tetap mencercanya.

“Inilah kehidupan disini, bocah. 

Bangun, 

dan sadarlah serta nikmatilah pertunjukanku. 

Atau silakan pulang kembali ke pelukan dada ibumu.

Ah, 

aku lupa satu hal. 

Kau tidak bisa pulang seenaknya. 

Kau sudah menanda-tangani surat kontrak kami bukan? Kau ingat kan, bocah?”

sahut Tuan Jonah dengan nada perlahan-lahan,

tetapi matanya memincing ke arahku. 

Bibir bagian bawah Tuan Jonah nampak turun seolah mendukung menistaku.

Aku mengatur napasku yang terasa sesak di dada, kemarahan yang memuncak, membuat napasku tersengal-sengal lagi.

“Bocaah…bocah…

Tempat ini memang kecil.Namun nikmat. 

Aku sekarang 53 tahun, 

dan aku butuh pensiun,” lanjut Tuan Jonah sambil tersenyum tipis seolah-olah mengejekku.

“Dua pria beradu, 

saling bunuh-bunuhan seperti gladiator. 

Ini Anda sebut sebagai kenikmatan. 

Anda sungguh-sungguh sakit, Tuan Jonah.” entah bagaimana saat itu raut wajahku, 

namun tak terasa ketakutan sedikitpun saat berbincang dengannya, 

mungkin luapan emosiku sudah sampai batas kesabaranku, 

aku kalap.

Tuan Jonah tersenyum, 

atau lebih tepatnya menyeringai, 

wajahnya yang keras seolah-olah menikmati adu argumen denganku. 

“Chimera ini dijaga 24 jam, serta kekuasaan penuh ada di tanganku. 

Benar-benar nikmat duniaku, bocah. 

Dan ah, 

aku bahkan bisa mengatur nasib keluargamu.

Ayahmu, 

si Gepardi 

hmm…

Aku bisa minta status Gepardi dijadikan desersi, bukan tentara yang loyal pada kesatuannya. 

Kau tahu nantinya, pensiunan ayahmu akan stop. 

Adikmu juga bisa kehilangan beasiswanya.

Dan kau! 

Ya Kau!! 

Aku bisa atur nasibmu, mayatmu akan ditemukan mengambang di laut. 

Tanpa ada yang curiga 

sebab kematianmu apa!

Karena aku yang berkuasa disini! 

Camkan itu baik-baik di benakmu, Moira Gepardi!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *