Chapter 11 Leman Sang Fakir

Aku dan Mrs. Rose mendatangi mereka, satu tangan Dragono berkacak pinggang, sementara satu tangannya lagi mengusap-usap dagunya yang licin, aku merasa badanku bertambah kecil di hadapannya.

Sel Leman terletak nomor dua dari pojok sebelum pintu masuk The Arena, sel tersebut tertutup rapat seperti pintu besi toko, ada akses jendela berplat besi di bagian atas dari pintunya.

Prajurit Codi yang ada di samping Dragono, membuka jendela kecil tersebut di pintu sel Leman.

Hmm, 

Leman sang fakir julukannya, seorang yang mempunyai kemampuan bertahan hidup yang tinggi, bahkan tahan tidak makan apapun selama berhari-hari, karena kehilangan orientasi diri.

Leman mempunyai kemampuan beladiri menyerupai binatang dalam menyerang maupun bertahan.

Aku teringat suatu tayangan video di YouTube bahwa seorang fakir mempunyai kekuatan yang aneh, tidur di atas paku, makan pecahan kaca, silet.

Seram, tetapi apakah Leman benar-benar mempunyai kehebatan seperti itu?

Aku menghela napasku, insan yang ada di pulau ini sangat komplek kemampuan dan juga permasalahannya, semoga Leman tidak merepotkan kami.

“Leman! Hoi Leman!!Ada tamu,” teriak prajurit Codi sambil membuka jendela kecil tersebut, 

sementara tangan yang satunya memukul-mukul pintu besi dengan tongkat tonfa, membuyarkan pikiranku.

“Astaga,  Leman?” tiba-tiba mulut Dragono berujar, matanya membelalak saat melihat ke jendela itu.

Aku heran akan raut muka Dragono, belum pernah wajahnya nampak seperti orang ketakutan.

Aku ikut melongok ke jendela itu, ke sel Leman.

Aku sungguh terkejut mendapati seorang pria bertelanjang dada,mengenakan celana jeans pendek belel. 

Tubuhnya melayang di atas lantai, seolah terbang, sepasang kaki dan tangannya nampak mengambang di udara sementara kepalanya terkulai di atas udara, seperti orang sedang melakukan gerakan kayang.

Kayang dengan mengambang terbang.

Codi memutar kunci untuk membuka pintu sel, Dragono, Mrs. Rose dan aku masuk ke sel Leman dengan hati-hati.

Sekujur bulu kudukku meremang, belum pernah aku melihat fenomena seperti itu, menurutku Leman mengalami kondisi di luar kesadarannya.

Terlihat Leman walau kondisinya mengambang tubuhnya terkulai, bola matanya nampak terbalik, hanya warna putih yang kulihat. 

Leman seperti sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri.Rambutnya panjang agak gimbal menambah seram wajahnya.

“Mengapa bisa seperti ini?” kata Dragono mengagetkanku.

“Leman! Bangun! Hoi!” teriak Dragono tidak sabar dari tempatnya berdiri.

Tubuh Leman masih terbang melayang, tapi Leman merespon dengan memutar bola matanya, 

bola matanya nampak seperti ada sinar kemerahan di dalamnya.

“Lanchang sekhali khalian!Orhang baru tenang tidhur di ganggu.Apha mau khalian?Bherani sekhali khalian ini, ha?!” terdengar suara ganjil dari Leman, 

nadanya meledak-ledak sangat marah. Tubuhnya perlahan bergerak.Perlahan kedua kakinya yang mengambang mendarat turun ke lantai.

Kakinya kinimenjejak normal di atas lantai, perutnya ramping dengan iga bertonjolan tetapi dari asfisiknya tetap nampak liat otot-ototnya. 

Keningnya berkerut, rambutnya yang panjang keriting gimbal menutupi sebagian wajahnya yang tirus sawo matang.

Ia bergantian menatap kami berempat secara perlahan-lahan.

Dragono mengangkat kedua tangannya terkepal sejajar kepalanya dengan perlahan maju, dia menyongsong tantangan Leman.

“Jangan ada kekerasan. Biar aku dan Moira yang akan menangani, ya,” 

Mrs. Rose sambil memegang pundak  Dragono  yang sudah menyiapkan tinjunya. Kepalan tangannya besar sekali.

“Sst, Moi, tolong ambilkan sebotol air mineral. Minta di pos penjaga.” ujar Mrs. Rose sambil menoleh ke arahku.

“Baik, Mrs. Rose,” sahutku segera. 

Aku keluar lalu segera kembali dengan membawa sebotol air mineral yang diminta Mrs. Rose. 

“Ini airnya, Mrs. Rose.”

“Kamu punya harapan apa untuk Leman, Moi?” bisik Mrs. Rose kepadaku.

“Leman balik menjadi normal,” sahutku agak bingung.

“Ya, sudah. Masukkan sugesti-sugesti positif itu,” ujar Mrs. Rose.

“Maksudnya?”

“Ayo, ucapkan kata-kata yang baik ke media air ini seperti kamu mensugesti yang kamu hipnotis,” ujar Mrs. Rose. 

Ia menyerahkan botol air mineral itu balik ke tanganku.

“Ya, Mrs. Rose.” aku masih perlu waktu untuk mencerna ucapan Mrs. Rose.

“Jangan ragu-ragu, Moi. Ayo. Masukkan sugesti positif ke dalam air di botol itu, isilah dengan harapan bahwa Leman kembali normal.”

“Grrrrh..,” Leman menggeram-geram menakutkan, 

kedua belah tangannya melakukan gerakan seperti mengepakkan sayap, sementara satu kakinya di angkat tinggi.

Sejenak aku terdiam, lalu fokus melihat dan menggenggam erat botol air minum itu, kusalurkan harapan dan keinginan yang baik ke botol air itu.

“Dekati Leman, ajak bicara baik-baik sambil kamu seka wajahnya dengan air ini,” bisik Mrs. Rosememberi petunjuk.

“Bhwahaha…apha yang khamu mau, Bhocah?” Leman menatapku beringas.

Aku berjalan perlahan ke arah Leman, keberanianku mulai muncul.

“Pak Leman, aku Moira. Aku ingin jadi sahabat Pak Leman.”

“Lheman? Akhu bhukan Lheman. Akhu sang rajhawali.”

Aku berjalan mengitari Leman sambil menuangkan air dalam botol minuman sedikit demi sedikit,  “Kembalilah Pak Leman. 

Pak Leman yang mempunyai tubuh yang ada di tengah lingkaran air ini. 

Pak Leman yang berhak atas tubuh ini, 

ingatlah Pak Leman.

Tubuhmu punya Pak Leman. Kuasai tubuhmu, 

Pak Leman. 

Ayo, sadarlah. 

Baliklah Pak Leman.”

Mata Leman memandangku tajam, 

tiba-tiba Leman terjungkal jatuh. 

Tubuhnya menggelepar-gelepar di lantai. 

Kedua tangannya memegangi kepalanya. “Grrrh…aarggg….arrhh…,” beberapa saat Leman terus

menggelepar dan menggeram.qq

Aku berdebar, 

benarkah sugestiku berhasilkah memanggil Leman untuk kembali menguasai tubuhnya sendiri?

Saat ini Leman duduk.Sepasang matanya terbuka dengan perlahan.

Pupil matanya telah kembali ke posisi yang seharusnya.

Bola matanya yang kemerahan seperti ada bara api di dalamnya, 

nampak memudar.

Aku nyaris bersorak lega.Leman yang asli telah kembali. 

Aku berhasil!

Aku mendekatinya dan berlutut di depan Leman, “Pak Leman, aku Moira, silakan minum, Pak,” 

ujarku lembut seraya mengulurkan botol mineral yang masih terisi air seperempat botol.

“Ah, ya…ya,” 

sahut Leman  linglung. 

Ia menerima botol yang kuberikan dan meminum habis isinya.

“Aku Moira. 

Aku mohon ijin untuk bisa menjadi sahahat, 

Pak Leman,” ujarku.

Leman menatapku dengan pandangannya yang fokus. Sepasang matanya mengerjap, 

“Gadis cilik, 

kamu ada di tempat yang salah. 

Hati-hati Nak, 

disini bukan tempatmu.”

Aku terhenyak, keheranan menyelimuti diriku, 

suara Leman kembali terdengar normal, 

dan kalimat yang dilontarkannya mirip dengan peringatan-peringatan yang telah kuterima sebelumnya.

“Aku sekarang bekerja di sini, Pak Leman. 

Moira mendapat tugas resmi dari pemerintah.”

“Kamu masih begitu muda, Nak. 

Jangan sampai hanya karena uang, 

kamu jadi salah jalan. 

Pulanglah, 

selagi masih bisa,” 

ucap Leman sambil agak menunduk.

“Tidak apa-apa, Pak Leman.Kan Pak Leman bisa melindungi Moi. 

Disini banyak teman yang baik sama Moi.

Moira tugasnya hanya membuat catatan kegiatan disini. 

Bantu Moi, 

ya Pak Leman, 

sekarang kami pamit dulu.” sela Mrs. Rose sambil menggamit lenganku untuk berdiri, lalu aku bangkit berdiri.

Leman turut berdiri. 

Matanya menyipit menatapku, 

seolah ingin berbicara lebih banyak lagi.

“Sampai jumpa, Pak Leman,” ujarku.

“Ya..ya…,” 

Leman membalas lambaian tanganku.

Siang ini tujuanku untuk bertemu Leman selain untuk berkenalan juga mendatanya, namun kejadian aneh yang barusan terjadi membuat kami harus undur dulu.

Sementara Codi dan Dragono mengunci pintu sel Leman, 

aku berbincang-bincang dengan Mrs. Rose di luar.

“Sorry, Mrs. Rose, 

tadi airnya Moi siramkan ke sekeliling, 

bukan ke tubuh Pak Leman, terus terang aku juga takut.” kataku.

“Ya, tak apa-apalah.

Terbukti kan sugestimu tepat dan kuat, Moi.”

“Yang aku takutkan adalah bertemu Vicko, Mrs. Rose.Aku benar-benar grogi saat ini.”

“Tenang saja, Moi. 

Kamu tidak sendirian. 

Aku dampingi terus, kok.”

“Sebelum bertemu Vicko di ruang pengamat, 

kalian di minta bertemu dengan Tuan Jonah 

di ruangan monitor.

Nanti Vicko aku siapkan,” ujar Dragono memberitahu kami.

“Ya, terima kasih, 

Pak Dragono,” sahutku.

Bertemu dengan Tuan Jonah ?

Duuh… 

hal yang tidak mengenakkan bagiku, 

apa yang diinginkan diktaktor sadis itu dariku?

Dragono dan Codi berjalan di belakangku, 

seolah menyuruhku untuk segera bergegas menemui junjungannya.

Aku mempercepat langkahku, 

sekilas kulihat tangan Henry menggapai-gapai 

saat aku berjalan melewatinya.

“Hi cantik, mampir sini dong, aku kangeeen.” 

serunya manja.

Aku tersenyum kecil kepadanya, 

pikiranku mulai berat mengingat sebentar lagi bertemu dengan orang yang paling berkuasa juga paling menjengkelkan di pulau ini. 

Tuan Jonah.

“Maaf Mrs. Rose, 

ada apa ya Tuan Jonah ingin bertemu denganku?”, 

bisikku pada Mrs. Rose.

“Mungkin sedikit wawasan biasa saja Moi, 

aku juga tidak tahu hal apa yang ingin disampaikan beliau.” 

Jawab Mrs. Rose.

Kami berjalan ke arah ruang monitor dimana Jeff biasa bertugas disana, 

saat kami masuk ke ruangan tersebut nampak 

Tuan Jonah dan Jeff sedang mengamati layar monitor cctv.

“Selamat siang Tuan Jonah.” sapaku membuka percakapan.

Tuan Jonah tidak bergeming, seolah mengabaikan sapaanku,  

matanya tetap fokus memperhatikan layar monitor.

Dragono mendekat ke monitor, 

ternyata Tuan Jonah dan Jeff sedari tadi melihat kegiatan selnya Vicko.

“Hmm, si Vicko sedang rutin berolahraga ya.” kata Dragono.

“Dragono perhatikan gerakan-gerakannya, 

dengan memanfaatkan tubuhnya, tanpa alat,

si Vicko bisa menjaga kekuatan dan kehebatannya bertarung.”

Aku ikut melihat monitor, disana kulihat Vicko sedang melakukan push up 

dengan tumpuan satu tangan terkepal, 

sungguh kuat dia.

“Jeff, bagian yang ini kau simpan untuk file dokumentasiku, 

lalu kau emailkan ” 

perintah Tuan Jonah.

“Ya, Tuan Jonah,” 

sahut Jeff pendek, 

sambil menekan keyboard komputernya dengan cepat.

Terlihat Jeff sangat patuh pada petinggi Chimera yang otoriter itu.

Hatiku mulai terusik, 

apakah status tahanan di Chimera membuat seseorang tidak mempunyai privasi ?

Tuan Jonah benar-benar seorang yang tidak menghargai insan manusia.

“Maaf Tuan Jonah apakah tidak berlebihan, 

bila seorang  penghuni sel disini tidak mempunyai privasi ?” 

Aku memberanikan diri bertanya pada diktator tersebut.

Sesaat Tuan Jonah melirikku, 

dia mengambil nafas, disertai lirikan matanya, 

dia berucap,

“Bocah, 

apa yang bisa diharapkan dari seorang psikopat seperti dia?

Otaknya masih ada di kepalanya saja, 

harusnya dia bisa bersyukur, 

tidak kutembak kepalanya.”

Aku terkesiap, 

Tuan Jonah selalu mengandalkan kekuasaannya di pulau ini, bahkan sesungguhnya dialah yang psikopat, bukan Vicko.

“Dia seorang manusia Tuan, dia berhak atas privasinya.” 

“Bocah, ingatlah Vicko itu bukan siapa-siapa, 

dia orang yang tidak punya identitas, 

seharusnya dia sudah tewas dua tahun yang lalu, 

saat dia dinyatakan desersi.” 

nada suara Tuan Jonah terdengar meninggi, 

sementara Jeff yang duduk di sampingnya terlihat melirik ke arahku.

“Dan aku amati kau sangat tidak suka kepadaku bocah, itu memang hakmu.

Sebentar lagi kau bertemu dengan Vicko, 

aku berharap kau menuruti saran keamanan dari kami.

Kalaupun kau mati di tangannya, aku bahagia saja, toh berkurang satu pembenciku.”

Aku berusaha menahan emosiku, terasa air mataku mengambang di sudut mataku, 

aku menahannya supaya tidak tumpah 

dengan menggigit bibirku sendiri.

“Aku rasa Moi mau menuruti omongan anda Tuan Jonah, dia gadis yang baik.” terdengar suara Mrs. Rose mencoba menengahi.

“Hm, aku tak peduli dia menuruti aku atau tidak, Rose.

Aku minta dia paling lambat besok sore, 

untuk memberikan laporannya tentang semua penghuni pulau ini termasuk Vicko juga.

Apabila pekerjaannya bagus, maka kau bisa berikan file rahasia Chimera Project padanya, Rose.” 

kata Tuan Jonah dingin, 

sambil tetap menatap monitor CCTV.

Sejenak kemudian, 

kepala Tuan Jonah berputar ke arahku, 

pandangannya tertuju tajam ke arahku.

“Kau dengar aku bocah?

Pastikan besok sore laporanmu ada di mejaku, 

tersaji lengkap!” 

bentak Tuan Jonah, 

sorot matanya sangat menghujam saat melihatku, seluruh persendian ku seperti lolos dari tubuhku.

“Ya Tuan Jon…ah” 

jawabku lemah dan gemetar, sekilas kulihat wajah Jeff tersenyum seolah ikut mendukung perilaku 

Tuan Jonah kepadaku.

“Dragono kau siapkan Vicko. Jeff, kau berikan saja berkas untuk bocah itu, 

biar bocah itu segera kerja dan beranjak dari sini.” perintah Tuan Jonah tegas.

Jeff memberikan map kepadaku, 

sementara Dragono dengan sigap keluar ruangan.

Tangan Mrs. Rose menarik lenganku sesudah kami berpamitan dengan penguasa arogan itu.

Kami berjalan beriringan menuju arah ruang pemeriksaan, 

terasa berat langkahku.

Aku juga heran saat 

Tuan Jonah mengatakan ada file rahasia Chimera Project, 

file apakah itu?

“Semoga Vicko tidak berulah ya, Mrs. Rose. 

Aku benar-benar lelah rasanya.”

“Ayo, mana semangatmu? Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan dewanya pulau ini,” 

ujar Mrs. Rose menggodaku. 

Aku menyikut rusuk Mrs. Rose pelan. 

Aku ingat, 

aku menyebut

Vicko sebagai dewa saat presentasi Mrs. Rose di kampus.

Mrs. Rose tertawa.

“Pribadi-pribadi sebelumnya sebenarnya juga identik dengan dewa, Mrs. Rose.

Kemampuan mereka sangat langka, namun benar-benar nyata.

Dan anda juga dewi, 

Mrs. Rose. 

Melontarkan benda berat hanya dengan kekuatan pikiran, 

sementara aku cuma gadis kecil biasa,” sahutku.

“Omong-omong Mrs. Rose, 

apa yang dimaksud file rahasia Chimera Project yang di katakan Tuan Jonah tadi?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *