Di depan sel Henry
kulihat Dragono telah berdiri di sana,
beserta dua prajurit.
Dragono membuka sel Henry,
sesaat kemudian Henry bersimpuh di kaki Dragono,
dia menangis sambil memeluk kaki Dragono.
“Prajurit mohon keluarkan aku dari sini, tolonglah aku…” terdengar Henry melolong sedih.
Aku tercekat,
belum pernah Henry selemah ini mentalnya,
apa yang membuatnya histeris di tengah malam ini?
Mrs. Rose dan dokter Stephan mendekat,
reaksi Henry berikutnya sungguh menyayat hati,
dia meraih kaki dokter Stephan sementara tangannya yang satu memegang salah satu telapak kaki Mrs. Rose, tubuh Henry sebagian berada di lantai bersimpuh.
“Dokter hu..hu..
aku tidak mau di pulau ini lagi,
tolong keluarkan aku dari sini…
Mrs. Rose tolonglah aku…”
suara Henry terdengar mengiba-iba.
“Tenang Henry,
ayo bangunlah,
tidak usah bersujud begitu,
lantainya sangat dingin malam ini.”
kata dokter Stephan sambil menarik lengan Henry untuk berdiri.
Di bantu Dragono,
dokter Stephan mendudukkan Henry ke ranjangnya,
lalu dokter Stephan duduk
di samping Henry.
“Moi, kau boleh tidur lagi, biarlah Henry kami tangani.” pinta Mrs. Rose sambil memeluk pundakku dan menggiringku pergi balik ke arah ruang depan.
Aku meninggalkan ruang belakang,
sambil masih menoleh ke arah sel Henry,
kulihat badan pria ganteng itu gemetar.
Henry sangat ketakutan!
Malam itu tidak bisa kulewati dengan tidur lelap,
bayangan akan kengerian, teriakan Henry seolah mengusik jiwaku.
Ada apa dia sampai mengalami histeria seperti itu ?
Aku belum berani mengkontak dia lewat telepati, takut masih terganggu mentalnya.
Subuh menjelang,
hawa sejuk pagi hari membuatku tidak nyaman karena efek kurang tidur,
aku membersihkan badanku, supaya sewaktu-waktu aku bisa segera beraktivitas.
Terdengar suara pintu sebelah kamar berbunyi,
kamar Mrs. Rose.
Aku keluar dan melihat Mrs. Rose sedang menggerakkan badannya senam ringan.
“Selamat pagi Mrs. Rose.” sapaku.
“Pagi Moi.” jawab Mrs. Rose sambil tetap melakukan senam.
“Bagaimana kondisi Henry Mrs. Rose ?
Apa yang terjadi dan apa sudah tenang tadi ?”
aku sudah tidak sabar lagi ingin mendengar cerita Mrs. Rose.
“Diagnosanya Skizoprenia.”
jawabnya pendek,
sambil tetap melakukan senam.
“Pagi Moi.”
terdengar suara dokter Stephan di sampingku.
“Oh dokter bagaimana kondisi Henry ?”
tanyaku langsung to the point.
“Dia baik-baik saja Moi, sudah diberikan haloperidol dan diazepam oleh
Mrs. Rose,
mungkin sekarang sedang tidur.
Kitanya yang terlanjur bangun dan tidak bisa tidur lagi.
Ya anggaplah menghirup udara pagi.” jelas dokter Stephan sambil mengusap rambutnya yang berombak.
“Mari masuk saja ke ruangku Moi, mumpung belum di bersihkan oleh pak No.
Biar Mrs. Rose olahraga dulu.
Nanti nyusul ya Mrs. Rose.” kata dokter Stephan sambil menunjuk ke ruang kerjanya yang di depan kamarku.
Mrs. Rose memberi tanda ‘ok’ dengan jarinya,
sambil loncat-loncat kecil.
Aku memasuki ruang kerja dokter Stephan, ruang medis yang cukup luas setara 10x kamarku, bersebelahan persis dengan kamar dokter Stephan sendiri.
Akses membukanya juga dengan elektronik memakai pindai jari tangan.
Ruangannya seperti klinik rumah sakit,
peralatan medis banyak terdapat disini.
Ada dua pintu di kanan dan kiri.
Satu pintu terhubung langsung dengan dengan kamarnya, satu pintu lagi terhubung dengan ruang laboratorium tempat pak Anton bekerja.
“Duduklah Moi,
bagaimana kabarmu, kerasan ya disini ?”
tuturnya lembut.
“Ya, lumayanlah,
dokter Stephan.
Baru semalam,
Moi berpikir ingin berkunjung ke ruang kerja dokter,
eh kok pagi ini sudah ada di tempat ini.”
kataku sambil tersenyum.
“Nah itulah yang dibilang chemistrynya dapat.
Memang ada perlu apa
kok Moi ingin berkunjung kesini?” tanya dokter Stephan sambil minum dari cangkirnya.
“Terus terang saat Moi presentasi kemarin,
Moi teringat keberadaan dan profesi dokter Stephan disini sangat beresiko dan dilematis.
Moi berpikir bahwa dokter Stephan bisa berbuat lebih untuk misalnya menghimbau tuan Jonah tidak mengadakan pertarungan kematian lagi disini.”
Dokter Stephan terdiam,
wah,
aku terlalu berani untuk menanyakan hal yang sensitif ini kepadanya.
Nampak dia berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawabku.
“Begini Moi,
kamu seharusnya mengetahui posisiku,
aku adalah anak angkat jendral Manton,
itu pak Anton farmasi juga anak angkatnya.”
Ternyata banyak sekali yang berhubungan relasi dengan Jendral Manton disini, Ariesty anaknya, dokter Stephan dan pak Anton ternyata anak angkatnya, pikirku.
“Aku anak yatim piatu yang sejak berumur 8 tahun sudah dibiayainya,
sampai akhirnya ibu angkatku Mayjend Emba punya anak yaitu Risty,
maka aku sangat berhutang budi kepada mereka.”
lanjut dokter Stephan.
Aku yang gantian terhenyak, ternyata atas dasar
balas budi dokter Stephan ada di pulau ini,
aku memanfaatkan perkataannya untuk kubalikan kepadanya,
“Justru itu
karena jendral Manton adalah ayahmu,
bisakah tidak ada pertarungan hidup mati disini?”
“Itu kewenangan dari
Tuan Jonah sebagai pengelola pulau ini Moi,
lagipula saat pertarungan aksesku keluar dari ruangan ini langsung ditutup oleh Jeff,
sampai pertarungan selesai.”
jawab dokter Stephan sambil menghembuskan nafas panjang.
“Dokter tidak adakah yang bisa dilakukan?
Kalau hanya cedera,
bisa dirawat di sini,
tidak ada kematian lagi.
Lagipula butuh dua kematian lagi supaya Vicko bisa bebas dari sini.”
pintaku kepadanya.
“Secara profesi benar Moi, seorang dokter
bahkan
Mrs. Rose yang di cabut izin psikiaternya…
seharusnya kita baik dokter maupun psikiater harus mengutamakan kemanusiaan dan menolong manusia.
Justru itulah aku di kurung disini saat pertarungan,
dan sampai ada korban yang…
meninggal.
Setelah jejak pertarungan bersih,
tanpa bekas.
Entah bagaimana caranya mereka memperlakukan mayatnya,
aku juga tidak mau tahu.
Barulah dibuka akses kamarku dan ruangan ini.
Aku tidak bisa ikut-ikutan dan tidak mau tahu.
Bisa-bisa aku juga dipecat dan lenyap dari dunia ini.
Dan mohon apa yang kubicarakan ini intern aku dan kau Moi.
Sekarang bolehkah kita tidak membahas hal itu ?”
“Oh ya,
maaf dokter Stephan,
jika Moi banyak bertanya.
Bagaimana tentang Henry semalam apa yang terjadi ?
Mengapa dia sampai histeris?”
aku mengalihkan topik karena nanpaknya
dokter Stephan sudah
tidak nyaman lagi dengan hal yang berhubungan tentang pertarungan.
“Mungkin dia phobia tempat sempit bisa juga menimbulkan skizoprenia, coba nanti siang atau sore kau jenguk dia.”
“Seberapa parah dokter? Bisakah dia sembuh?” tanyaku was-was.
“Ya asal diobati dengan baik tidak masalah, prognosa nya dia bakal baik.
Nanti saat Tuan Jonah balik ke ibukota biar dibawakan obat psikotropika untuk mengobatinya.
Mari pak No,
silahkan dibersihkan,
kita tunggu diluar saja yuk Moi.”
Pak No ternyata telah berdiri di depan pintu masuk membawa sapu
dan peralatan bersih-bersih dalam satu ember.
Wajahnya menunduk seolah tidak merespon ucapan dokter Stephan,
tetapi tangannya mulai bekerja,
menyapu lantai.
“Oiya pak No,
besok bikinkan lagi
teh hirtaenya ya.”
pinta dokter Stephan sambil menunjuk cangkirnya.
“Ya, teh hirtae ya.” jawab pak No menunduk sambil tetap asyik menyapu.
“Apa itu teh hirtae dokter? ” tanyaku sambil keluar ruangan,
sementara dokter Stephan melangkah di depanku.
“Oh itu teh herbal,
saya kan ada asma, persediaan efedrin habis, oleh pak Johno dibuatkan teh herbal,
bahannya ada di sekitar pulau ini.”
jelas dokter Stephan sambil tersenyum.
“Pak No memang berbakat meracik herbal ya dokter.” kataku kagum.
“Ya begitulah…
Semua ada kelebihannya, dibalik kekurangan pak No dia sangat berbakat.
Ahli meracik herbal, kebersihan tempat ini terjamin, semua barang letak dimana dia hapal,
bahkan semua alat medisku bila letaknya tidak pas,
dia yang mengembalikannya persis pada tempatnya.
Belum lagi masakannya enak
dia pintar main bumbu.”
kata dokter Stephan sambil duduk di lantai.
Aku tersenyum,
kulihat Mrs. Rose terengah-engah dalam melakukan olahraga, pinggangnya dipegangi sementara kaos yang dipakai terlihat basah.
“Sudah istirahat dulu Mrs. Rose satu jam lagi kita makan ya.”
seruku pada Mrs. Rose.
Mrs. Rose melambaikan tangannya, lalu balik ke kamarnya.
“Moi balik dulu dokter Stephan,
terimakasih atas pembicaraannya pagi ini.” Aku berpamitan pada dokter Stephan.
Sekitar satu jam kemudian aku dan Mrs. Rose menikmati sarapan pagi di ruang makan.
“Mrs. Rose bagaimana kondisi Henry tadi malam?”
aku memulai percakapan.
“Aku dan dokter Stephan menanganinya sampai membaik lalu tertidur,
sekitar dua jam kami di selnya mendampingi dia.
Dia mengalami halusinasi berat seolah ada yang menyerangnya,
padahal tidak ada siapapun di selnya.
Dia sampai terjatuh,
untung kepalanya tidak terantuk lantai.
Lututnya saja yang sedikit lecet.”
Aku merasakan betapa menderitanya Henry, sementara Henry mengalami serangan entah apa bentuknya,
dokter Stephan dan Mrs. Rose justru mendiagnosa skizoprenia.
Aku ingin bercerita tentang apa yang terjadi selama berhari-hari Henry tidak tidur nyenyak,
memantau adanya lalu lintas telepati yang berisi adanya konspirasi jahat.
Namun, hal ini membuka rahasiaku bahwa kami intens bertelepati.
Lebih baik aku tetap bersandiwara bahwa tidak berkontak dengan Henry lewat telepati karena merugikan diri sendiri dan juga Henry.
Bisa-bisa aku dan Henry diinterogasi oleh
Tuan Jonah, Dragono maupun
kaki tangannya.
“Ah, semoga Henry cepat sembuh ya Mrs. Rose.
Nanti siang coba kujenguk dia…
Tapi tidak hilang ingatan atau tiba-tiba agresif kan Mrs. Rose ?” tanyaku kuatir.
“Tidak,
tidak apa-apa kok,
tadi kami juga pelajari CCTVnya
apa yang terjadi di sel Henry sehingga dia bisa histeris, tapi tidak ada yang aneh kok.
Tiba-tiba saja dia terjatuh.
Lalu berteriak-teriak seperti histeris.
Sudah itu saja kejadiannya.” jelas Mrs. Rose membuatku lega.
Aku terdiam,
teringat candaan Henry semalam hanya dalam waktu kurang dari satu jam
dia sudah menjadi histeris, dianggap skizoprenia.
Hmmm,
pasti terjadi hal
yang mengerikan menimpa dirinya.
“Moi, jangan melamun ada apa kau ini ?”
kata-kata Mrs. Rose mengagetkanku.
“Ah, tidak Mrs. Rose…
Moi tadi cuma membayangkan andai Moi selesai bertugas disini,
terus Moi pulang ke rumah. Mama tentu senang sekali bertemu denganku lagi.
Kita bisa masak bareng,
bisa jalan-jalan bareng.
Bisa belanja baju bareng…
itu menyenangkan sekali bukan, Mrs. Rose.”
aku mengelak saat ditanya soal melamunku.
“Ah, Mrs. Rose.
Maafkan aku,
aku jadi ingin bertanya,
kita kan sudah amat dekat…
Bolehkah Moi bertanya hal yang private tentang Mrs. Rose…”
aku mengubah arah pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan.
“Tanya saja Moi,
aku tak apa-apa,
apa yang harus dirahasiakan dari diriku?” wajah Mrs. Rose terlihat tegang.
“Ngg..maksudku,
Mrs. Rose dimataku sangat fashionable juga menarik.
Mrs. Rose apakah punya kekasih, suami atau anak? Apakah…”
aku bertanya tetapi tergagap juga.
“Aku dulu punya suami.Sekarang aku tak punya keluarga bahagia sepertimu yang menunggu kepulanganku,” bisiknya lirih.
“Dulu?”
“Ya dulu, delapan tahun yang lalu.
Pernikahan kami bahagia, Moi.
Aku menikah saat umurku 27 tahun dan aku sudah buka praktek sebagai psikiater. Setahun menikah,
kami belum juga dikaruniai anak.
Melalui pemeriksaan medis,
akhirnya diketahui akulah yang sulit mempunyai keturunan.
Hatiku hancur walau suamiku menyatakan tetap menerimaku apa adanya.”
terlihat kesedihan di wajah Mrs. Rose saat bercerita.
“Lalu mengapa sekarang berpisah?”
tanyaku penasaran.
Sorot mata Mrs. Rose sendu tetapi ia tetap melanjutkan kisah hidupnya,
“Enam tahun setelah pemeriksan medis itu,
aku merasakan bahwa suamiku menjadi berbeda dan makin jauh dari hatiku. Intuisiku sebagai wanita berdering.
Suatu hari saat suamiku bilang akan pulang malam karena ada pertemuan klien, aku justru datang ke kantornya pada jam yang katanya ia ada di luar kantor.”
Suara Mrs. Rose bergetar, “Saat aku buka pintu ruangan suamiku, …
seperti kisah sinetron rasanya,
suamiku dan sekretarisnya sedang ah,
kamu tahulah, Moi.”
“Making lovekah?” tebakku.
Mrs. Rose mengangguk.“Aku marah sekali.
Dan puncak dari kemarahannya ialah,
suamiku yang seharusnya mengaku bersalah justru
dia marah-marah dan menamparku.
Bayangkan, Moi.
Sudah selingkuh,
tapi dia malah menampar aku.
Luar biasa bukan?
Amarahku memuncak.Tanpa bisa aku cegah, energiku naik berlipat ganda membuat barang-barang yang ada di sana bergerak dan terlontar menimpa kedua mahluk bejat itu.”
“Meninggalkah?” bisikku.
Mrs. Rose menerawang lalu menjawab
“Tidak, suamiku dan wanita jalang itu selamat.
Mereka cuma luka-luka.
Luka cukup berat, beberapa barang ada yang menghujam ditubuhnya, sehingga harus dioperasi dan dijahit, supaya darah berhenti mengucur.”
“Lalu?” kejarku sambil membayangkan betapa mengerikan dampak kemarahan seorang Mrs. Rose sang psikokinetik.
“Setahun kami berperang di pengadilan.
Beruntung pengacaraku bisa membuat pengadilan tersebut tertutup,
tidak ada wartawan
atau umum yang bisa mengikuti,
karena termasuk konflik rumah tangga.
Dalam persidangan akhirnya aku dinyatakan tidak bersalah.
Dengan alasan saat itu aku mengalami
temporary insanity.”
jawabnya.
“Kegilaan sesaat,” balasku.
“Namun ijin psikiaterku dicabut.”
Mrs. Rose menarik napas dalam-dalam.
“Dengan alasan negara ingin agar aku diteliti,
aku dikirim ke sini.
Sebagai imbalannya,
aku menjadi psikiater di tempat ini.
Sudah satu setengah tahun aku dipekerjakan di sini. Sewaktu aku melewati masa-masa rapuhku,
aku mendapati kekuatan metafisikaku tumbuh karena terpicu efek traumatis akut.
Lalu kulatih terus hingga kemarin,
qqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqq?”
“Bagaimana cara negara bisa mengetahui Mrs. Rose mempunyai kemampuan psikokinetik padahal pengadilan tersebut tertutup ?” tanyaku penasaran.
“Moi, intelijen negara kita cukup baik,
siapa Intel di sekeliling kita, kita tidak tahu.
Untuk kasusku,
mungkin dia bisa jadi hakim, jaksa, atau panitera kejaksaan, atau pengacaraku sendiri?
Siapa yang tahu?
Di masyarakat,
intelijen bisa jadi siapa saja,
dari sopir taksi, petugas telpon, yaa… namanya juga Intel.
Jadi melenceng Moi pembahasannya.”
kata Mrs. Rose sambil membenahi gagang kacamatanya.
Aku sungguh tak mengira, kami berdua bisa duduk berdua dan berbicara dari hati ke hati seperti ini.
Mrs. Rose yang biasanya nampak elegan dan percaya diri, saat ini aku melihatnya sama sepertiku.
Ternyata pernah mengalami sakit batinnya, tak berdaya dan mencoba untuk tampil semangat setiap waktu.
“Kita sama-sama melalui masa yang sulit, Moi.
Kamu kehilangan ayahmu. Sedangkan aku…
Kau tahulah…
barusan aku cerita tentang kehidupanku.”
Aku meremas erat jemari Mrs. Rose.
“Suatu hari saat kita keluar dari tempat ini, Mrs. Rose.Aku yakin Mrs. Rose akan bertemu dengan pria yang baik, yang menyayangi Mrs. Rose.”
Mrs. Rose tersenyum,
“Eeh disini juga ada seseorang yang menyayangimu ya Mrs. Rose
dan…
Ah, aku tahu siapa orangnya.” godaku.
“Ssst…kamu ini ya, kecil-kecil tahu saja.”
katanya sambil mencolek pipiku.
Aku tertawa.
Aku meraih Mrs. Rose dan memeluknya erat.
“Terima kasih juga atas keterbukaan Mrs. Rose padaku.
Kisah hidup Mrs. Rose sungguh menguatkanku.”
Berdua kami bangkit berdiri, melangkah beriringan dan berpisah menuju kamar kami masing-masing.
Fisik tubuh kami berpisah, namun di saat itu aku yakin, bahwa ternyata Mrs. Rose mempercayai diriku.
Selesai makan siang
kami menuju ke kamar Henry.
Mrs. Rose bertanya
“Setelah menengok Henry lalu terapi Curly ya?”
Aku mengangguk.
“Terapi apa untuk Curly?” tanya Mrs. Rose.
“Untuk Angel agak sore saja nanti Mrs. Rose,
di kolam renang.
Biar tidak hitam kulit nantinya.
Terapi sensori integrasi.”
Mrs. Rose menatapku, “Apalagi itu Moi?”
“Angel itu bawaannya kaku, terlalu banyak meringkuk di pojok kamar, dingin.
Dulu saat Moi magang di klinik umum yang terletak satu komplek dengan Akademi Okupasi,
Moi ikut menangani berbagai macam anak yang berkebutuhan khusus.
Walau Angel sudah dewasa, tidak ada salahnya dicoba. Apalagi dia tidak pernah keluar kamar.
Ini praktek tidak berijin.”
candaku memecah suasana yang kelam,
karena mendekati ruang belakang suasana terasa mencekam.
“Biar dia sehat dan semangat, Mrs. Rose.
Yuk, kita harus optimis untuk Henry supaya dia lekas pulih.” imbuhku.
Aku terus mengingat saran Henry soal soal kemampuan telepatiku yang tidak boleh siapapun tahu,
tidak juga kepada Mrs. Rose.
Saat kami tiba di sel Henry. Pria tampan itu nampak masih mengantuk
Nampaknya ia habis mandi. Dari rambutnya yang tersisir rapi dan basah,
tercium harum shampoo.
Henry berpaling, “Ah, menunggu kalian datang, bikin cape.
Tapi tak percuma,
akhirnya rasa rinduku kepada kalian terpenuhi juga..,” ujarnya seolah dipaksakan ceria.
“Siang ini tumben rapi kamu, Henry,” tegur Mrs. Rose.
“Lho, kan aku tahu kalian pasti datang.”Henry mencoba tersenyum.
Kulihat matanya agak bengkak,
kemungkinan efek histeris dan menangis semalam.
“Hahaha…
aku tahu deh,
Henry sering telepati kamu ya, Moi?” tanya Mrs. Rose mendadak.
Mataku beradu pandang dengan Henry.
Henry mengedipkan sebelah matanya.
Aku tertawa,
“Payah nih Henry,
telepatinya ke Mrs. Rose aja, ke aku tidak.”
“Henry, intinya Moi ingin tahu tentang kemampuan telepatimu dan cara mengaktikannya.” ucap Mrs. Rose.
“Siap, Mrs. Rose.
Untuk kalian berdua semua akan aku bagi.
Tak kan ada sesuatu yang aku sembunyikan.”
jelas Henry.
Mrs. Rose tersenyum,
“Ok, kalian lanjut,
aku tinggal dulu ya.”
“Oow, Mrs. Rose kok pergi?” sergahku.
“Aku tidak mau mengganggu kebersamaan kalian,
hehe….
Eit, tapi ingat ada CCTV di depan kamarmu, Henry.
Jadi jangan ada adegan
di atas umur ya,”
ujar Mrs. Rose.
Aku memukul ringan lengan Mrs. Rose,
“Adegan apaa sih …
nanti viral sedunia malah repot.”
Sepeninggal Mrs. Rose,
aku dan Henry duduk di tepi ranjang dan berbincang dengan suara lirih.
“Moi, kamu simpankan rahasia bahwa kamu bisa telepati?”
“Iya dong, Henry.
Aku perlu berhati-hati di sini.Tak ada seorangpun yang bisa kuajak berbincang hati ke hati selain kamu.
Aku terperangkap dan terpenjara juga sepertimu, Henry.
Aku ingin bebas lagi seperti dulu.
Aku ingin pulang saja, tapi keluargaku terancam.
Di sini aku benar-benar dalam tekanan.
Belum lagi aroma kematian yang begitu lekat.”
“Sst…jaga ucapanmu, Moi. Kita dipantau, jangan terlihat curhat begitu dekat begini padaku.
Ingat kan ada CCTV yang memantau kita.”
Henry menarik napasnya dalam-dalam.
“Bagaimana presentasimu Moi?”
“Syukurlah diterima oleh Tuan Jonah,
walau Jeff Dragono dan dokter Stephan awalnya keberatan.
Terutama Dragono dan Jeff mereka nampaknya ingin menjatuhkanku,
untunglah Mrs. Rose mendukungku.”
aku menjawab sambil teringat betapa menjengkelkannya Dragono dan Jeff waktu itu.
“Intinya jangan meratapi masa lalu, Moi.
Pandang dan maju, hadapilah hari ini dan songsonglah masa depan.
Ketika kau memaafkan tubuhmu menjadi pulih.
Saat kau lepas kepedihanmu, kekuatanmu bertumbuh.
Ingat baik-baik pesanku ini ya Moi.”
“Kamu berbakat juga jadi motivator lho, Henry,”
aku keheranan lalu tertawa.
“Ah iya, profesi motivator juga bagus.
Nanti deh kalau aku sudah bebas dari sini aku coba.” wajah Henry mulai ceria.
“Memang Tuan motivator dulu lulusan apa sih?” tanyaku usil dengan wajah serius.
“Eeh nampak begini
dan sedang terpuruk di sel, aku dulu sarjana manajemen keuangan.”
jawab Henry sambil mendongakkan kepalanya.
“Gubraaak…pantas uang Mr. Mc Pherson kau ambil untuk kau managemeni.”
jawabku tak mau kalah.
“Jangan ledek aku,
hai psikolog amatir,
aku tidak mengambil uangnya,
hanya kupinjam…
bukankah aset sama dengan pinjaman plus modal.”
Henry berkelit.
“Wah jadi kamu memperbesar asetmu dengan pinjaman ya tuan ganteng.
Hahahaha…uups”
aku tertawa lalu menutup mulutku,
karena terceplos kupuji Henry ‘tuan ganteng’.
“Nah kan tahu aku ganteng begini jangan sungkan-sungkan memujinya,
pokok setiap menyapaku harus memanggilku tuan ganteng.”
Henry menimpali seolah tahu aku malu telah memujinya langsung.
Aku terdiam,
memang strategiku berbincang dengan Henry kurancang dengan keceriaan supaya Henry melupakan kengerian semalam…
Tetapi memujinya ganteng membuat wajahku memerah sesaat.
Aku benar-benar terceplos.
“Okay,
Tuan Motivator yang ganteng sekali dan menggemaskan,
sekarang aku harus tanya, apa yang terjadi semalam?”
aku mengalihkannya dengan pertanyaan.
Wajah Henry berubah, senyumnya hilang,
aku merasa bersalah terlalu
to the point pertanyaannya kali ini.
“Moi…,”ucapnya tersendat, wajah Henry menegang.
“Semalam…
saat aku berhasil mendengar sedikit percakapan mereka,
mereka merencanakan untuk…
menghabisi seluruh penghuni pulau ini supaya tidak ada jejak kehidupan lagi disini.
Saat aku berusaha mendengar percakapan berikut,
tiba-tiba ada seperti hantaman ke kepalaku.”
Henry berkata-kata dengan pelan dan hati-hati.
Aku tercekat,
kemampuan macam apa ini ?
Menyerang orang lain tanpa ada seorangpun di sekitarnya?
Kemampuan mengirim serangan yang bisa berbentuk hantaman padahal tidak memakai sarana apapun.
“Siapa pelakunya Henry?” bisikku.
“Sesaat sebelum hantaman di kepalaku, terdengar suara, ada penyusup yang mendengarkan kita,
aku tangani saja langsung, itu suara pertama…
Ada yang berkata,
iya Alfa serang dia!
BAM!
Ada energi besar mengenai kepalaku,
lalu aku terkapar di lantai.” ucap Henry sambil memegang kepalanya.
Wajahnya nampak sangat tegang, tidak tersisa keceriaan seperti yang barusan ditampilkan.
“Jadi penyerangnya… si Alfa,” kataku, terasa bulu kudukku meremang.
Aku memeluk Henry, mencoba menenangkannya.
Henry juga memelukku, terasa badannya hangat menjalar ke tubuhku.
Tiba-tiba aku terhenyak,
aku melihat suatu penglihatan dan mendengar, nampak Tuan Jonah, Dragono, Jeff dan Mrs. Rose memantau dari ruang CCTV.
“Oh so sweet, mereka berpelukan mesra.”
tukas Jeff.
Tuan Jonah menatap layar monitor terlihat diriku dan Henry di tayangannya.
Aku segera merenggangkan pelukanku perlahan.
“Kelihatannya mereka cocok ya, Rose?”Terdengar suara Dragono.
“Haha…si Henry memang begitu.
Moi sepertinya kena perangkap cintanya,”
sahut Mrs. Rose.
“Hati-hati dengan mereka, Rose.
Persekutuan mereka bisa membahayakan pulau ini.”
ucap Tuan Jonah.
“Aku bisa kok handle mereka, Tuan Jonah.”
Tuan Jonah terlihat mengangguk.
“Ada apa Moi?”
suara Henry mengagetkan sekaligus membuyarkan penglihatan tersebut.
Aku melepas pelukan Henry dan mendorong tubuhnya perlahan,
lalu aku menggeser dudukku agak menjauh.
Aku bercerita lengkap kepada Henry tentang penglihatan yang barusan kualami.
“Henry, aku tidak tahu mengapa aku bisa mempunyai kemampuan baru seperti ini,
aku rasa dari seluruh insan disini hanya aku yang bisa mendapat kemampuan ini.”
“Justru itu berhati-hatilah Moi, jangan terlalu percaya kepada Mrs. Rose.
Itu kemampuan barumu menunjang untuk menguak siapa dia.
Waktu dia masuk tadi,
dia memancing bahwa kau dan aku bertelepati tidak?
Untung kau sudah kupesan untuk tidak membuka bahwa kita selalu bercakap-cakap lewat telepati.”
ucap Henry serius.
“Moi mengapa kamu berkalung flashdisk?”
“Oh, ini hasil presentasiku diterima, lalu Tuan Jonah memberikan hadiah sebuah kepercayaan untuk membuka isi flash disk ini.
Ini berisi data dan kumpulan ilmu dari tim yang sudah bekerja di balik layar selama ini, entah kapan aku juga tidak tahu, tetapi isinya sangat dahsyat.
Aku harus menjaga flashdisk ini dengan nyawaku sendiri sebagai jaminannya.”
aku bercerita terus terang dengan Henry tentang flashdisk yang menjadi kalung di leherku.
“Waspadalah Moi,
kau dipercaya berarti tanggung jawabku semakin besar,
kau baru beberapa hari disini.
Bisa jadi kau target berikutnya dari konspirasi jahat disini.
Terlintas di benakku,
modus dari konspirasi jahat ini, ialah menerorku
membuatku perlahan-lahan menjadi gila,
dan aku sudah terguncang, Moi.”