Penglihatan dan pendengaran tentang Emba, Brendy, Tuan Jonah serta Jendral Manton terhenti.
Aku kebingungan, mengapa penglihatan dan pendengaran tentang hal itu bisa terpampang ke diriku?
Apakah sejenis anchor atau jangkar pikiran yang tertambat saat video calling dengan Tuan Jonah tadi,
lalu membuatku bisa terbuka melihat kejadian sesudahnya?
Aku berpikir kemampuanku ini mirip dengan Angel Curly yang bisa melihat masa lalu, dan juga mirip dengan Ariesty yang bisa melihat masa depan, perbedaannya ialah aku bisa melihat kejadian saat ini, saat kejadian sedang berlangsung.
Kemampuanku melihat peristiwa, ada di tengah-tengah mereka.
Aku berpikir hal menyedihkan tentang keluarga Risty yang penuh skandal.
Ibu Risty yaitu Letjend. Emba terlibat cinta segitiga,
dan Letjend. Emba yang sebenarnya di balik layar dari adanya Chimera Project.
Jendral Manton yang hanya seperti pion yang digerakkan oleh Emba.
Apakah Letjend Emba ini yang dimaksud Queen oleh Rado ?
Risty yang malang, di saat kesakitannya dia tidak mengetahui masa lalu orang tuanya, beruntung dia tidak punya kemampuan Angel yang bisa balik ke masa lalu, tentulah lebih menderita sakit batinnya.
Aku bersyukur dengan adanya tambahan informasi dari penglihatanku membuat aku tidak salah dalam melangkah.
Aku mulai browsing dengan Android ku, mengecek apakah expedisi sudah mengantarkan barang sampai ke rumah mamaku, oh syukurlah tadi pagi sudah sampai, berarti ajudan Tuan Jonah bisa mengambil semua barangku tanpa ada yang terlewatkan.
Tok..tok..tok..
“Moi ayo kita makan malam.” Suara Mrs. Rose sambil mengetuk pintu kamarku.
“Iya Mrs. Rose,” kataku sambil membuka pintu kamar.
Tak terasa sudah jam 19.00 malam aku dan Mrs. Rose berjalan menuju ruang makan.
“Bagaimana kondisi Codi, Mrs. Rose?” tanyaku harap-harap cemas.
“Yang penting kondisinya masih bertahan hidup, dia dirawat di ruang ICU, kondisinya kritis sekali, semoga bisa melewati masa kritisnya, namun bila hidup dia terpaksa kehilangan dua kakinya.Kedua kakinya terutama bawah lutut kelihatannya sangat parah.”
Aku tercekat, walau aku tidak menyukai tingkah Codi yang pongah, sering menghajar Rado dengan tendangan taekwondo nya, namun balasan cacat seumur hidup atau meninggal dunia juga sangat mengerikan.
Saling balas-membalas sungguh tidak terpuji, dendam berakhir dengan tragis, dan hasilnya mengerikan seperti ini.
Malam itu aku lewatkan dengan beristirahat,
aku tidak mencoba menghubungi Mama, William atau Adrian karena si Jeff pasti memantauku,
badanku capek dan pikiranku berat karena banyaknya masalah hari ini.
Esok harinya aku dan Mrs. Rose berjalan ke ruang makan untuk sarapan pagi.
Nampak ruang makan sudah ada beberapa prajurit, mereka melirik kedatangan kami berdua.
Aduh, gara-gara aku si Codi sampai kondisi hidup atau mati.
“Rencana hari ini mengunjungi siapa Moi,” tanya Mrs. Rose mengagetkanku.
“Ah, yang ringan-ringan saja Mrs. Rose mungkin Henry, Risty, Ron atau Angel.Moi butuh banyak istirahat untuk melepaskan diri dari stress.Tidak berani yang kasus berat, nanti Tuan Jonah marah-marah lagi.” sahutku sambil menerima jatah makanku dari prajurit yang bertugas mengelola dapur.
“Ya sebaiknya menunggu Tuan Jonah datang saja bila mau mengunjungi Vicko, Leman, Rado, tanggungjawabmu besar bila ada keributan lagi.” jawab Mrs. Rose sambil memegang cangkir minumnya.
“Miss Moi, nanti sesudah sarapan diminta oleh Risty untuk datang ke kamarnya, ya.” sebuah suara terdengar di sampingku.
Aku menoleh, ternyata suster Reina, dia lewat sambil membawa nampan makannya.
“Oh ya suster, habis ini Moi mau kesana.” jawabku senang karena kegiatanku hari ini belum terjadwal.
“Bagaimana kondisi Risty suster?”Mrs. Rose bertanya saat suster Reina duduk di sebelahku.
“Cenderung menurun, karena pembesaran kepalanya semakin menekan tempurung kepalanya, semoga pihak rumah sakit di luar sudah siap melakukan operasi.” kata suster Reina sambil menata piringnya.
Setelah sarapan aku dan Mrs. Rose segera ke kamar Risty.
Apakah Risty mempunyai sesuatu penglihatan yang ingin disampaikan kepadaku?
Aku melangkah memasuki kamar Risty.
Bau obat-obatan menyergap hidungku.
Gadis itu sedang tiduran di tempat tidurnya.Sepasang matanya menyipit nampak menahan sakit tetapi dia berusaha tetap untuk bersemangat.
“Selamat pagi, Moi.Aku senang kalian mau datang.”
Aku mendekati ranjang Risty.Menatap gadis yang dulunya cantik menawan dan kini begitu kurus, rapuh serta kepalanya membesar itu membuat hatiku pilu.
“Ya, Risty, tentu aku datang.Aku juga senang Risty ingin bertemu denganku,” sahutku sambil menggenggam tangannya yang kurus kering.
“Aku punya hadiah untukmu, Moi.”
Suster Reina memberikan sesuatu pada Risty.
Risty menerimanya lalu meneruskannya dan buku dan mengulurkannya kepadaku, oh sebuah buku.
“Bukuku sudah jadi.Sesuai janjiku, aku menyerahkan fresh from the oven, pertama kalinya adalah untukmu.”
Aku merasa tersanjung dan tersenyum.“Wah, terima kasih, Risty.Aku senang bukumu sudah jadi.Cukup cepat juga jadinya. Keren, Risty.”
“Aku harus mengejar waktuku, walau aku mengetahui waktu adalah sesuatu yang berjalan dalam keabadian, tetapi aku harus berjalan lebih cepat untuk menggapainya. Kemungkinan besar kemampuanku melihat masa depan hilang sesudah operasi.
Silakan dinikmati, Moi. Ini bukan cetakan penerbit kok, cuma print computer saja. Tetapi aku senang aku berhasil menyelesaikannya sebelum aku menjalani operasi kepalaku. Sebelum aku pada ujung takdirku.”
Aku sungguh kagum padanya.Tekadnya, semangat hidupnya begitu tinggi.Di dalam hatiku aku berharap semoga gadis di depanku ini mampu melewati operasi sulitnya nanti.
“Pasti, Risty, aku akan membacanya nanti. Aku sangat tersanjung hasil karyamu yang hebat, kau berikan pertama kali untukku, aku sangat terhormat kamu berikan pertama kali untukku menerimanya.”Aku menimang buku Risty, sambil berpikir, insan sebaik Risty mengapa keluarganya penuh intrik, dan banyak masalah yang sulit diselesaikan.
Buku itu tidak begitu tebal.
Aku jadi teringat bahwa gadis yang sudah didera sakit ini, sebenarnya masih ada hal berat yang mengiringinya yaitu masalah keluarganya, aku tidak mungkin menceritakan apa yang kulihat dalam penglihatan kemarin, sungguh berat beban mentalnya.
“Moi, kamu boleh kembali ke kamarmu, kalau kamu masih ada pekerjaan lain,” ujar Risty mengusirku halus.
Aku tersenyum, “Tidak Risty.Pagi ini aku senggang kok.Ah iya, Risty bolehkah aku bertanya sesuatu?”
Risty memejamkan matanya.Keningnya yang besar dan menonjol berkedut-kedut. Apakah Ia sedang manahan sakit kepalanya? Namun ekspresi wajahnya begitu tenang, bahkan bibirnya seperti menyunggingkan seulas senyum.Senyum itu…senyum kebahagiaan. Aku merinding, hal apakah yang ada di pikiran Risty sehingga ia bisa berekspresi seperti itu?
“Hmm….silakan, Moi.Bertanyalah.Kalau aku bisa menjawabnya, pasti aku jawab.”
Aku memegang tangan kanan kurusnya, “Risty, aku ingin bertanya, hal apakah sesungguhnya yang terjadi dan menimpa penghuni CP ini? Dan mungkin menimpa kita berdua juga,” tanyaku setengah berbisik padanya.
Risty membuka matanya, sepasang mata itu berkilat-kilat menatapku.
Ia membuka mulutnya namun batal mengeluarkan kata-kata. Keningnya yang penuh dengan urat kebiru-biruan terlihat berkedut-kedut, sepertinya ia sedang memikirkan kalimat terbaik untuk menjawab pertanyaanku.
“Secara jujur, aku ingin berkata, aku tahu sesuatu yang akan terjadi di sini, Moira.Namun karena terhalang kondisiku, aku tak bisa mengatakannya padamu, baik secara nyata maupun dalam bentuk simbol.Seperti kau tahu waktu bisa mengambil yang terbaik dari diriku.Bisa jadi itu momentum emas yang direnggutnya.
Waktu bergerak di keabadian dan dia absolut. Walau masa depan masih terdapat banyak probabilitas, tetapi aku tidak mau tawar-menawar yang merugikan, atau mengambil kesempatan yang salah.
Bisa fatal.
Sedikit aku boleh berpesan kepadamu, pegang lah yang terbaik, saat kau harus memilih, janganlah tidak memilih, atau berdiam diri tetap bergerak mengikuti hati nuranimu yang murni . Masa depan adalah suatu misteri keabadian, dan kau bagian dari masa depan, ditanganmulah masa depan dunia dipertaruhkan.
Aku tak boleh mendahuluinya tentang mikro kosmos mu,
walaupun makro kosmos tergantung kepadamu, semuanya pilihanmu. Lagipula kamu lihat, kondisi tubuhku menurus drastis. Kelihatannya dalam waktu dekat ini aku harus pergi.Aku hanya perlu menunggu momentumnya.”
Suster Reina menyambung, “Iya, Moi. Kondisi Risty hari ini agak baik, tapi semalam dia kesakitan dan demam tinggi.Keputusan untuk membawa dia keluar negeri untuk operasi harus segera dilakukan dalam minggu ini. Tak boleh ditunda lagi.”
“Cukup untuk hari ini ya Risty, aku harus balik ke kamarku untuk membuat laporan.” aku berpamitan dengan Risty karena takut dia tiba-tiba kolaps seperti tempo hari.
Risty mengangguk dan melambaikan tangannya.
Sesaat kemudian aku dan Mrs. Rose berjalan ke ruang depan, arah kamar kami.
“Lihat bukunya Moi,” kata Mrs. Rose sambil menunjuk buku yang kupegang.
Aku memberikan buku itu padanya.
Sampul depannya bergambar aneh, ada gambar robot yang sedang memegang kepala manusia, dengan judul yang besar “Future Paranoid” by : Ariesty Manton
Mrs. Rose menerima buku itu.Wanita cantik itu segera membuka halaman pertamanya.
“Dari gambarnya, seolah Risty ingin berpamitan kepada kita, Moi.”
“Oh ya?Begitukah?Aku belum sempat melihatnya.Tapi melihat kondisi Risty pagi ini, gadis itu nampak sehat, bisa lama berbincangnya.
Dia juga mengatakan dalam waktu dekat ini harus segera operasi, tak bisa ditunda-tunda lagi.”
Mrs. Rose mendesah, “Sangat disayangkan, Risty dengan segala kecerdasan dan kemampuannya itu harus mengalami hal seperti ini ya.”Mrs. Rose memberikan buku Risty kembali kepadaku.
“Iya, Mrs. Rose.” Kami berdua melangkah beriringan dalam diam.
Aku berpikir bila paketku tiba, ada saputangan papa disitu, aku ingin bertanya kepada Risty keadaan papaku di masa depan, apakah masih hidup atau sudah tidak berbentuk lagi ?Aku berharap Risty belum berangkat operasi, saat aku bisa menanyakan.Dan aku juga bisa bertanya kepada Angel, dan semoga kejiwaannya tidak terganggu saat nanti aku bertanya.
Pikiranku jadi mengembara tak menentu.
“Sekarang, Moi mau santai sejenak Mrs. Rose, sebelum makan siang. Hari ini Moi mau banyak istirahat, masih shock kepikiran Codi.Bahkan bau daging terbakar sampai sekarang seolah masih tercium oleh hidungku.” ujarku.
Mrs. Rose mengangguk.”Ya sekitar pagi ini dia diamputasi kakinya.Codi yang malang, seorang ahli tendangan taekwondo sekarang menjadi orang cacat seumur hidupnya.”
“Moi, kalau kau ada sesuatu yang harus kau sampaikan kepada kami, sampaikanlah, terutama berkenaan dengan Vicko, kau sebagai sarjana psikologi jalankan duty to warn, karena prajurit menjadi semakin sedikit disini. Jangan sampai tiba-tiba terjadi hal berbahaya yang direncanakan Vicko padahal sudah kau ketahui, tidak kau sampaikan kepada kami.” kata-kata Mrs. Rose mengagetkanku, mengapa dia tiba-tiba mencurigaiku?
“Mrs. Rose waktu aku bersama dengan Vicko, semua yang kugali tentang dia kulaporkan di laporanku nanti.
Sampai saat ini tidak ada hal yang perlu kulaporkan berkenaan dengan hal yang membahayakan.”
Aku jadi teringat pada kajian psikologi pada waktu kuliah, kasus mahasiswi Tatiana Tarasoff pada tahun 1960-an yang ditikam mati oleh mantan pacarnya, padahal psikolog mantan pacar sudah mengetahui indikasi pelaku yang berencana melukai Tarasoff.
Itu sebabnya duty to warn, memperbolehkan membuka hal yang bersifat rahasia bila klien mempunyai poqqqqtensi melukai insan lain.
Mrs. Rose saat ini berusaha mengorek keterangan ku, kemungkinan tentang potensi Vicko dalam merencanakan sesuatu pembunuhan?
“Lagipula Mrs. Rose, Vicko marah dengan Moi, menyuruh Moi pergi dari sini, karena tempat ini tidak baik untuk gadis seperti Moi. Bukannya Vicko merencanakan mau membunuh seseorang disini.” imbuhku menerangkan, walaupun aku menutupi tentang Vicko yang berkeinginan memilikinya flashdiskku.
“Oiya omong-omong, dua hari lagi Curly ultah, Moi.” Mrs. Rose seolah mengalihkan pembicaraan.
“Ya, Mrs. Rose, aku ingat kok, bahkan aku sudah memesan hadiah untuknya.
Besok semestinya dibawa Tuan Jonah dari ibukota.”
“Hadiah apa yang kamu siapkan, Moi,” tanya Mrs. Rose tertarik.
“Angel itu haus kasih sayang, Mrs. Rose.Dia butuh perhatian khusus dan sentuhan kemanusiaan khusus.
Aku belikan baju yang menurutku bagus untuknya.”
“Pesan online ya, Moi?”
“Hahaha…ya. Sekarang jaman digital, semuanya bisa dilakukan lewat ponsel. Aku minta alamat pengirimannya ke rumah mamaku. Aduh, aku jadi kangen mamaku dan masakannya, sayang sekali di online shop tidak ada.”
Mrs. Rose tertawa, wajahnya yang cantik dan dewasa serta kepandaiannya membuat kharisma tersendiri.
“Duuh, Mrs. Rose secantik ini kok tidak ingin segera menikah.” godaku.
“Hayoo usil ini, nanti kamu menyusul ya sama si ganteng.” godanya balik.
Sesaat ketawanya terlepas, lalu menatapku dengan wajah tetap riang, “Moi, sebenarnya kalau aku boleh sendiri, tidak perlu bagiku untuk menikah lagi.
Bagiku itu suatu hal yang nothing to loose, aku dapat berbuat apapun sesuai tujuanku, tak perlu ada yang mengekang ku.
Hidupku saat ini sudah bebas tanpa ikatan, karena menikah adalah komitmen dan keterikatan, kadang bukannya kebahagiaan yang datang tapi kesakitan.
Dan yang asyik tidurku setiap malam nyenyak tidak ada yang menggangguku, atau sesosok tubuh berbaring di sebelahku. Haha..”
“Dan tidak ada suara gergaji di sampingmu di tengah malam, Mrs. Rose” timpal ku.
Ah, seandainya aku bisa lepas dari pulau ini saja betapa bahagianya diriku.
Aku belum mau memikirkan hal-hal yang muluk, selain ingin cepat pergi dari tempat seram ini, apalagi menjelang perkelahian yang berujung maut yang akan digelar Tuan Jonah dalam seminggu ini.
Sebelum makan siang itu aku beristirahat menyiapkan fisik dan mentalku untuk mencoba mendengarkan percakapan telepati nanti malam.
Aku hanya berbaring dengan santai di ranjangku selama satu jam, sebelum kubuka kembali laptopku dan mencolokkan flashdisk ‘top secret’ Chimera untuk memahami isinya yang cukup rumit dan menantangku.
Mengingat ancaman Vicko kepadaku bahwa dia mengincar flashdisk ini maka aku bersiasat memindahkan isi flashdisk ini ke laptopku.Nantinya, dengan tetap berkalung flashdisk kosong ini aku bisa bebas bergerak kemanapun, tanpa takut kehilangan flashdisk ini.
Menjelang petang terdengar suara Henry melalui telepati, “Moi, hooi Moi.”
“Eh, Henry ya ada apa?” tanyaku sambil mematikan laptopku.
“Aku baik Henry, sedang mempelajari isi flash disk, bagaimana kondisimu hari ini?”
“Aku baik Moi, sudah tidak minum obat lagi, karena mengganggu konsentrasi ku, aku harus berani menghadapi Alfa dalam beberapa hari nanti, sekarang ini aku harus tenang dulu, sambil lebih menguatkan kemampuan otakku.” katanya.
“Memang isi flashdisk apa Moi ?Kok harus dipelajari.”
“Banyak hal yang Moi belum pernah tahu Henry, tapi pengembangan kemampuan otak bisa dipelajari dan ditingkatkan, ini suatu hal yang luar biasa.” aku menerangkan sambil was-was juga, karena berpikir siapa tahu pembicaraan telepati ini didengar oleh Alfa dan kawan-kawan.
“Henry, nanti malam akan kucoba mendengar lalu lintas telepati mereka, aku rasa aku sudah siap.”
“Intinya saat mendengarkan kau harus tetap waspada Moi, bila ketahuan segera tinggalkan percakapan mereka, jangan sampai Alfa menyerangmu.”Henry menasehatiku.
“Okay Henry, aku istirahat dulu sebelum nanti larut malam aku mencoba mendengarkan mereka.”
Aku berpamitan supaya bisa fit kondisi tubuhku.
Sesudah makan malam aku beristirahat sambil menunggu larut malam.
Sekitar jam 22.00 aku mulai siaga.
Aku duduk bersila di lantai mulai mendengarkan dengan penuh konsentrasi.
Aku menyatukan diriku dengan bumi, tempat aku bersila, untuk menyerap energinya.
Relax, atur nafas, fokus
menemukan keheningan.
Aku membuang suara-suara yang mengganggu, seperti suara deru ombak dan binatang malam, lalu mulai menyibak suara yang lebih lemah, sampai suara nafaskupun tidak terasa,
akhirnya aku menemukan KEHENINGAN!
Aku menikmati keheningan tersebut, ada di suatu tempat yang hampa, terasa tidak berada di pulau Chimera yang menyeramkan, entah berapa lama aku berada di keheningan itu, dan sudah saatnya aku mencari suara-suara.
Penjelajahan ku mencari suara membuahkan hasil, dari jauh terdengar suara seperti orang berbisik, terdengar ada suara yang lain, aku memfokuskan pada percakapan mereka, perlahan suara orang yang bercakap-cakap tadi terdengar jelas.
Terdengar suara,
“Alfa kepada Charlie, kamu jelas ya peranmu, semua sudah punya peran masing-masing.
Siapapun yang menghalangi kita harus dibunuh, tidak peduli siapapun dia.
Waktu kita maksimal 20 menit untuk pergi, sebelum helikopter militer datang sepuluh menit kemudian.”
terdengar suara yang lain “Bagaimana bocah magang itu Alfa ?”
Kembali suara pertama terdengar “Biar Charlie yang menanganginya.Tidak peduli dia bocah magang, dia harus mati juga.”
Aku terkesiap dan secara tidak sengaja pikiran telepatiku terlontar ke tengah lalu lintas telepati “Haa apa-apaan ini”
Terdengar suara yang lain, “Sebentar teman-teman, ada penyusup lagi. Ini bukan si pesolek.Kali ini siapa kamu?”
Aku kembali melontarkan pikiranku, “Apa yang kalian mau lakukan?Hendak membunuh manusia kok bersekongkol.”
Sebuah suara terdengar, “Gayanya sok pahlawan dan idealis, Charlie”
“Ooh, ini kelihatannya si gadis magang itu, dia mencoba menengarkan kita Alfa.” timpal suara yang lain.
“Bravo, Charlie, Delta, Gamma, coba diam dulu, biar dia merasakan kekuatanku.” suara yang pertama berbicara, dialah Alfa.
“Siapa kalian?Mengapa punya hati begitu dengki.Bahkan kalian dengki atas kehidupan.” aku menyeruak ke tengah lalu lintas telepati mereka.
“Hahaa…kau cukup cerdas bocah.Si pesolek mengajarimu kemampuan ini, bisa meningkat seperti ini.Bahkan bisa menyusup di tengah percakapan kita.
He teach you well, but not enough. Sayang kemampuanmu masih jauh dibandingkanku.Hahaha” terdengar suara Alfa memenuhi pikiranku, terasa menggema di pikiranku.
Aku berontak, “Alfa, siapapun engkau, sadarlah tidak ada gunanya membunuh insan lain, mereka itu kehidupan.”
“Sayangnya aku bukan pecinta kehidupan gadis, umurku sudah jutaan tahun dan sudah saatnya aku muncul lagi untuk periode ini, aku selalu merenggut kehidupan untuk menguatkan diriku.
Itulah sumber energiku.
Hahaha..”
Sesaat,
suatu kekuatan yang tidak nampak seolah mencengkram kepalaku, kegelapan mengalir dari ujung kepalaku menyelimuti pikiranku, badanku terasa membeku, kurasakan aku tidak mampu menggerakkan diriku.
Aku MEMBEKU!
Tidak mampu keluar dari zona pikiran ini, terjebak dalam suatu cengkraman yang kuat.
Aku mencoba meronta, seperti orang yang mencoba bangun dari mimpi yang buruk, tetapi badanku seperti terikat erat.Seolah adqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqa yang menindih diriku, atau menjeratku dengan kuat.
Aku tidak tahu dan tidak pernah merasakan situasi seperti ini, pikiranku menjadi kacau, seolah jalan keluar yang kucoba untuk pergi tertutup tembok hitam semua.
Menggerakkan diri atau merontapun tidak bisa, cengkraman di kepalaku semakin kuat.
Tiba-tiba aku merasa tersentak kuat, dan TERHEMPAS!
“Haaakkkh”
aku menjerit saat tubuhku terlontar di udara kemudian bergulingan dilantai.
Kekuatan itu menguasai diriku dan sanggup melontarkan badanku!
Pergelangan tangan dan lututku terasa kesakitan saat aku mencoba berdiri.
Aku berdiri dengan gemetaran, nafasku memburu dan bulir-bulir keringat muncul di tangan dan leherku.
Aku kebingungan, lalu lintas telepati terputus.
Gila, Alfa sanggup melontarkan diriku lewat kekuatan pikirannya.
Kemampuan telekinesisnya diatas Mrs. Rose.Kemungkinan Alfa menguasai otakku, lalu melemparkannya dengan koordinasi tubuhku sendiri, yang jelas aku tidak bisa menguasai tubuhku sendiri.
Aku bahkan bisa terjatuh dengan kerasnya, untung kepalaku tidak terkena lantai.
Tok … Tok…
Terdengar ketukan di pintu dan suara Mrs. Rose
“Moi, ada apa kok teriak?”
GLOSSARY:
Duty to warn disebut juga duty to protect/ tugas untuk melindungi adalah pengecualian lain bagi prinsip kerahasiaan yang melibatkan seorang psikolog bahwa klien yang percaya kepadanya berencana melukai orang lain.
Hukum ini berasal dari kasus terkenal yang terjadi di California pada tahun 1969.
Tatiana Tarasoff, seorang mahasiswi di university of California ditikam hingga mati di pintu rumahnya oleh mantan pacarnya Prosenjit Poddar.
Poddar sebelumnya telah menjadi klien di pusat konseling, walau psikolog yang menangani sudah menginformasikan hal ini kepada polisi.Namun pengadilan memutuskan bahwa psikolog tersebut seharusnya memberi tahu Tatiana bahwa Poddar mempunyai rencana untuk membunuhnya.
Prefrontal cortex terletak tepat di belakang dahi.Fungsi dari otak bagian ini adalah untuk berpikir, melakukan penilaian, merencanakan, memutuskan sesuatu (memecahkan masalah), mengontrol emosi dan tubuh, kecerdasan, konsentrasi, memahami diri sendiri (kesadaran diri), empati pada orang lain, kepribadian dan juga moral/ perilaku.