Aku dan Mrs. Rose berjalan menuju ke ruang pemeriksaan.
Di situ nampak Tuan Jonah sudah siap di ruang pengamatan.
“Selamat siang, Tuan Jonah,” sapaku pada pemimpin tertinggi Chimera Project yang menatapku dengan…
eh, sepertinya dengan tatapan permusuhan?
“Hei Bocah, siang ini jadi kunjungan ke Vicko?”
Aku mengangguk, lalu berkata, “Sesudah ke Vicko lalu ke Leman Tuan Jonah.”
“Kami sudah menyiapkan prajurit.
Tapi khusus untukmu, bocah, andai kau mau mati,
aku tidak peduli.
Mood swing Vicko tinggi, terlihat kalem tetapi bisa membunuh dengan dingin, hanya butuh 1 gerakan untuk mematahkan lehermu.
Dan aku tak peduli hal itu,
yang aku jamin hanya keselamatan orang-orangku saja.
Kalau Vicko berulah kuhabisipun tidak ada masalah.
Jika kalian disandera bahkan bisa kutembak semua.”
Mrs. Rose berdiri mematung, tak bersuara.
“Aku mohon maaf atas kejadian tempo hari,
Tuan Jonah.
Aku yakin Vicko tidak akan berulah.
Bukankah dia bebas sesudah dua kali bertarung lagi ?” tanyaku.
Seperti kejadian sebelumnya, aku dan Mrs. Rose siap di ruang pengamatan, sambil menunggu Vicko dijemput.
Kami memonitor dari layar CCTV proses penjemputan Vicko.
“Tuan Jonah mohon maafkan aku.
Kali inipun aku ingin berbincang dengan Vicko secara pribadi,
tanpa ada microphone ya, supaya Vicko lebih leluasa aku data.” pintaku kepada Tuan Jonah.
Tuan Jonah mendengus. “Terserah kamulah, Bocah! Tapi aku juga punya satu permintaan Vicko di borgol pada kursinya, itu saja.
Supaya prajurit ku aman.
Kamu paham kan?”
“Mrs. Rose, bolehkan aku hanya berdua dengan Vicko saja, nanti semuanyaaku tulis di laporanku.”
“Ok, Moi,” lalu Mrs. Rose mendekatkan wajahnya kepadaku, begitu lirih nyaris tak terdengar, “Berhati-hatilah Moi, jaga jarak yang cukup dengan Vicko, walaupun dia diborgol di kursi, dia itu tetap berbahaya.”
Aku, Mrs. Rose dan Tuan Jonah melangkah ke ruang pemeriksaan, di sana seperti biasanya sudah disiapkan kursi dan meja.
Rupert dan Codi menggelandang Vicko, sementara Dragono siaga di belakang mereka mengiringi Vicko ke ruang pemeriksaan.
“Borgol di kursi lalu kalian keluar, biar bocah ingusan itu berdua dengan Vicko.”
Tuan Jonah memerintah, kulihat Rupert dan Codi saling berpandangan heran.
Tuan Jonah, Dragono dan Mrs. Rose beranjak pelan dan berhati-hati meninggalkan ruangan.
Rupert dan Codi mendudukkan Vicko di kursi didepanku setelah memborgol kedua tangan Vicko ke belakang sandaran kursi, satu tangan satu borgol, mereka meninggalkan ruangan.
“Selamat pagi Pak Vicko, sekarang tinggal kita berdua di ruangan ini,” ucapku sambil tersenyum.
“Mohon maaf Pak Vicko tidak bebas dalam bertemu Moira.
Percayalah padaku,
Pak Vicko, tidak ada alat pendengar atau penyadap apapun di ruangan ini.
Jadi pembicaraan kita hanya kita berdua saya tahu.”
“Tanpa perlu kata-kata pemanis, kau tahu kan
aku percaya padamu atau tidak. Jangan buang waktu lagi. Apa yang kau mau dariku?” sergah Vicko.
Aku menyiapkan berkas-berkasku.
“Pak Vicko, semua ilmu yang aku dapat dari sini tidak akan kumasukkan dalam pencatatan laporanku semua.
Aku tahu, ada hal-hal yang bukan untuk dikonsumsi umum atau atasanku.
Jadi aku rahasiakan saja.
Tapi demi keselamatan diriku dan keluargaku,
ada beberapa hal juga yang terpaksa aku tulis untuk kemajuan penelitian.
Pak Vicko tentu tahu,
aku ini bicara jujur atau tidak, lihat saja ekspresi juga bahasa tubuhku.
Aku tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari Pak Vicko.
Aku menjaga kepercayaan Pak Vicko padaku.”
“Kamu tahu kan, bocah,
tidak ada gunanya bermuka dua padaku.
Bisa berbahaya sendiri bagimu.”
Aku ingin memancingnya,
“Moi ada dua pertanyaan satu pertanyaan untuk dilaporkan ke pusat, satu pertanyaan hanya untuk Moi saja.”
Vicko tidak bereaksi, tatapan matanya datar saja.
“Pertanyaan Moi yang umum ialah, bagaimana cara Pak Vicko meningkatkan kepandaian pak Vicko?”
Vicko terlihat tersenyum bahkan menahan tawa,
“Pertanyaanmu ini cenderung mengada-ada gadis, tapi aku hargai kau sebagai orang yang mempertahankan hidupmu disini, di tengah tuntutan pekerjaan, aku mau jawab dan menerangkan kepadamu supaya wawasanku bertambah,
aku mengkoordinasikan diriku sedemikian rupa, menempa diriku baik fisik, pikiran maupun mental.
Aku fokus, disiplin, tepat waktu, selalu membuat kebiasaan positif.
Aku membuat program harian yang harus kutepati.
Dulu waktu masih kuliah jam belajarku 5 jam, latihan fisikku 2 jam.
Saat aku sudah tidak kuliah aku selalu mengembangkan diriku.
Latihan fisikku kutingkatkan, aku seorang yang cakap menggunakan seluruh tubuhku, kau pernah dengar istilah ambidextrous?
Baik sisi kanan maupun kiri tubuhku sama baiknya dalam memukul, menendang, melakukan kuncian, membanting.
Itulah sebabnya dua sisi otakku bekerja maksimal baik kiri maupun kanan.
Itu penting untuk bertempur atau duel, tetapi juga penting untuk meningkatkan taraf kecerdasan.
Saat duel aku tidak membuang waktu sepersekian detik, untuk melontarkan serangan, setiap sisi tubuhku berfungsi baik dan penuh.
Sementara untuk fungsi kecerdasan, plastisitas sinapsis ku terstimulasi dengan baik sehingga mudah menyerap ilmu pengetahuan.”
Aku tercengang mendengar penjelasan Vicko,
sesaat kusadari mulutku sampai melongo, kukatupkan bibirku dan kucatat perkataan Vicko.
“Bagaimana cara pak Vicko menjadi ambidextrous pak?
Mengingat manusia punya kecenderungan untuk satu sisi saja.” tanyaku lagi
“Perlu dilatih gadis, setiap aku berlatih beladiri atau gym, maka sisi tubuhku yang lemah kuberi porsi tambahan sebesar 30% dalam dua tahun saja kemampuannya bisa sama, dan itu menunjang kemampuan otakku. Baik respon, proses berpikir, kreatifitas, imajinasinya.” jawab Vicko tenang.
“Terimakasih sekali pak Vicko mau berbagi pengetahuan.
Ini masuk ke catatan untuk kulaporkan sebagai bahan penelitian.
Nah sekarang Moi ingin bertanya pertanyaan khusus hanya untuk Moi sendiri yang tahu, sampai matipun tidak akan kubeberkan jawaban dari pak Vicko kepada siapapun.” lanjutku.
Vicko tidak menjawabku, tetapi ada sedikit sunggingan senyum di bibirnya.
Aku menangkap sinyal senyumannya,
jadi langsung kutanya,
“Apa maksud pak Vicko memanipulasi test sehingga bapak dinyatakan psikopat, sudah itu saja pak Vicko pertanyaan dari saya.”
Vicko terdiam, tak bereaksi sesaat, sekilas terlihat bola matanya mengecil lalu terdengar suaranya,
“Apa pentingnya bagimu gadis, kupikir kau bertanya tentang papamu, ternyata keingintahuanmu yang besar hanya tentang manipulasi tesku?”
“Bapak orang yang jenius, sangatlah tidak mungkin bermain-main dengan tes yang menimbulkan hasil yang melenceng seperti ini.
Psikopat bukan hal main-main pak Vicko, tersemat di diri pak Vicko.” jawabku sambil aku menatap wajahnya.
“Hmm, kau mau tahu kuberi tahu tapi dengan jaminan nyawamu gadis, kalau kau ingkari deal kita ini.
Kau tak akan luput dari keganasanku.
Selagi aku masih hidup,
aku akan buru kau, walau kau di lubang semut sekalipun.
Aku memanipulasi hasil testnya supaya aku bisa masuk ke perlakuan khusus orang sakit jiwa yang bebas dari hukuman.
Di masa lalu aku perlu membalaskan kematian seseorang, bila jejakku terlacak, pilihan hukum yang dihadapkan padaku mungkin bisa bebas karena status psikopat ku.
Maka aku set hasil resmi seperti itu.
Aku memburu targetku dan berhasil membunuh orang tersebut, namun jejakku ketahuan. Ada yang membocorkan misiku.
Suatu saat bila aku keluar dari sini hidup-hidup, aku mungkin mau berhitung dengan orang yang membocorkan misiku.
Tentunya harus terukur dampak dan kemungkinan lolosku lagi.
Nah sesudah aku berhasil memanipulasi hasil test psikologiku, pengadilan berbicara lain,
aku tetap di hukum mati, tetapi terselamatkan oleh campur tangan Jendral Manton.
Statusku sudah dieksekusi mati, tapi aku ditempatkan disini. Cukup gadis?”
ulas Vicko.
“Siapa yang dieksekusi waktu itu pak Vicko?” tanyaku ingin tahu.
“Gadis, kau tanya aku siapa yang dieksekusi,
hahaha…
mana aku tahu, itu cara negara menghilangkan sampah negara yang mungkin tidak tersentuh hukum.
Konon kuburankupun ada dengan namaku disitu.
Maka dari itu kau semakin banyak tahu, akan semakin besar pula kau ikut dilenyapkan, kau cuma alat saja disini, sadari itu gadis!” tukas Vicko sambil memandangku tajam.
“Moi apresiasi kejujuran pak Vicko, bolehkah Moi tahu
pak Vicko, mengapa pak Vicko masih mau memburu orang yang mencelakakan pak Vicko?
padahal identitas baru akan diberikan oleh Tuan Jonah.
Saran Moi, lupakan saja pak Vicko dan maafkan perusak kehidupan pak Vicko.” kataku mencoba meredam dendam Vicko.
“Seperti yang kubilang tadi, aku masih perlu berhitung lagi, bila aku bebas nanti fasilitas yang diberikan Tuan Jonah kepadaku membuatku nyaman atau tidak, bila aku nyaman dan resiko tertangkapku besar maka aku tidak perlu memburu orang itu. Apalagi orang yang bakal aku buru ini dekat dengan kekuasaan.
Namun sebagai lelaki kadang soal harga diri dan dendam akan merusak semua perhitungan itu.
Hmm kau cukup tahu banyak cerita tentang masa laluku gadis, dan ini seharusnya tak kuceritakan padamu.” Vicko kembali menatapku lekat.
“Percaya pada Moi
pak Vicko, Moi merasa seorang diri disini, rahasia pak Vicko kupegang selama Moi hidup.
Saat Moi melangkah masuk di pulau Chimera ini Moi sudah terperangkap jauh, seolah tidak ada jalan keluar, suatu hal yang berkait terjadi disini, entah apa itu.
Apa yang Bapak ketahui tentang apa yang terjadi disini?
Moi merasa ada konspirasi jahat yang membelit di tempat ini.
Kita ini punya nasib yang sama Pak Vicko,
Moi tidak bisa mundur atau pergi dari sini. Moi harus maju terus dan penelitian berlanjut.”
“Aku juga yakin kau dipilih untuk sesuatu tujuan.
Kau tahu dunia ini seperti cakra tubuh manusia, gadis. Ada masa yang akan menjelang menggantikan masa ini. Anak-anak yang berbakat akan semakin banyak. Merekalah nantinya yang akan memimpin generasi berikutnya.
Kau dan aku bukanlah generasi baru tersebut.
Militer akan diambil alih semuanya.
Kau paham maksudku? Peradaban baru selalu dimulai dari kehancuran.
Dari Jepang, Jerman, Korea, Vietnam, mereka merasakan kehancuran dulu.
Kalau penelitian ini berhasil dan jatuh pada orang yang salah, maka kaulah penekan tombol kehancuran itu.” ungkap Vicko mengejutkanku.
“Moi?
Mana mungkin pak Vicko, Moi adalah gadis yang baru lulus kuliah, di wisuda saja belum.
Lagipula sesudah kehancurannya,
negara yang mengetahui potensinya segera bangkit.” aku sungguh terkejut, dan berusaha menyanggah.
“Apa kau memang merindukan atau mau menjadi bagian dari kehancuran dunia, gadis? Perpanjanglah masa damai di dunia ini, selama-lamanya kau ulur, bagaimanapun caranya.”
“Pak Vicko, revolusi industri membuat manusia menjadi pengangguran, internet menyatukan umat manusia, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, justru itulah manusia tersingkirkan dan diperbudak oleh tehnologi.
Inilah saatnya generasi unggul manusia muncul untuk menjawab tantangan zaman.” sanggahku.
“Kau tahu percepatan gadis, deret ukur sudah jauh meninggalkan deret hitung, inilah ujung dunia.
Kau mempercepatnya akhir dunia gadis.
Tinggal selangkah saja manusia melawan mesin.
Dan hasilnya manusia kalah, seunggul apapun ia, walaupun ras manusia seperti Chimera project terwujud.” Vicko memberikan argumennya.
“Menurut Moi yang salah disini adalah eksploitasi dari insan-insan yang berbakat pak Vicko, tujuan Chimera project bila digunakan untuk tujuan yang baik tentu membuat masyarakat mempunyai masa depan yang lebih baik lagi.
Ini untuk menjawab tantangan di masa depan baik dari segi militer maupun segi kemanusiaan.”
kataku mencoba menangkis kekhawatiran Vicko.
“Lalu bila Chimera project ini hanya dinikmati segelintir orang yang hanya ingin mengembangkan diri, memperkaya diri,
ingin berkuasa bagaimana?
Tahu apa kau tentang militer?
Tahukah kau bahwa para petinggi yang tampil damai saat berkumpul, mereka sebenarnya berebut kekuasaan?
Kau bisa apa gadis?
Berlutut dan memohon pada Tuan Jonah supaya hasil penelitian ini tidak disalahgunakan?” tukas Vicko berhasil membuatku terdiam.
Sejenak suasana hening lalu aku membuka mulutku,
“Moi sudah berusaha pak Vicko mulai dari Mrs. Rose, dokter Stephan, Risty bahkan Tuan Jonah pun Moi lobby supaya membebaskan insan yang tidak selayaknya disini.
Ini memperburuk kondisi psikologis mereka semua.”
“Mana hasilnya gadis?
Percuma kan ?
Aku juga tidak punya apapun selain nyawa yang masih melekat di tubuhku.
Itu yang kupertahankan,
ku motivasi diri supaya tetap hidup, aku selalu berpikir positif ada masa depan. Walau kenyataannya aku ini sebenarnya adalah orang mati.
Kau tahu kan betapa sulitnya mempertahankan motivasi positif ini?
Ya semua berawal dari pikiran.
Kekuatan pikiran.”
“Omong-omong gadis, mengapa kau berkalung flashdisk seperti itu?” sorot matanya tertuju flashdisk yang tergantung di krah bajuku.
“Inilah yang menjadi tanggung jawabku pak Vicko, supaya hasil dari penelitianku bergerak ke arah kemajuan berarti,
salah satunya mengapa Moi bisa menjawab pak Vicko berdasar isi dari pengetahuan dari flashdisk ini.”
“Hmm, pantas saja, aku tahu kapasitas seorang sarjana psikologi, walaupun dia sangat pandai, tetapi saat ini kemampuan dan wawasanmu melebihi strata pendidikanmu.
Jawabanmu menunjukkan ilmu diluar yang kau pelajari.
Suatu saat aku punya harapan, bahwa flashdiskmu aku bawa dari lehermu, entah kau hidup atau kau mati.” ujar Vicko membuatku terkesiap.
Terasa darah seperti tertarik dari wajahku,
wajahku terasa dingin,
aku telah salah langkah!
Kejujuranku membuat petaka, mungkin saat aku beradu argumen mataku tanpa sengaja melirik flash disk yang tergantung di tubuhku,
Vicko jeli tetapi dengan kuberikan penjelasan betapa pentingnya isi flashdisk ini, dia justru mengincarnya.
“Moi harap pak Vicko menghargai kehidupan Moi, Moi anak yatim dari seorang marinir dan gadis…
yang hanya mencari sesuap nasi disini.” aku mencoba meraih simpati Vicko walaupun nyaris tak mampu melanjutkan kalimatku karena kegentaran melanda diriku.
“Kau tahu apa tentang kehidupan?
Saat aku pertama kali disini aku dibuat bulan-bulanan oleh para prajurit, dalam kondisi terikat aku dihajar oleh mereka.
Saat aku mulai di adu, mereka mulai hormat kepadaku, karena kemenanganku, dan Tuan Jonah menganggap aku asetnya yang berharga.
Dan kau, data apa yang kau butuhkan?
Penelitian apa lagi yang kau perlu, hah?
Teliti saja si Henry Wilkinson pesolek ganteng itu.
Jangan bawa-bawa aku ke dalam mainan penelitian konyolmu itu.
Kau dan semuanya ini sungguh membuatku muak!
Kau hanya diperalat, dan bila dunia lebih cepat hancur, kau ikut menanggungnya!”
suara Vicko meninggi dan terlihat kegeraman di wajahnya.
Aku terkejut.
“Cukup Vicko untuk hari ini. Saatnya balik ke selmu,” suara Tuan Jonah terdengar jelas melalui speaker ke dalam ruang pemeriksaan.
Rupert dan Codi segera masuk, membawa peralatannya diiringi raksasa gundul Dragono yang memegang pistol listrik.
Vicko melirik para pria yang baru masuk.
Aku berdiri dari kursi dan menjauh dari kerumunan prajurit yang ingin mengamankan Vicko.
“Ayo jadikan mudah saja, santai dan balik ke kandangmu.” kata Codi sambil memegang bahu kiri Vicko.
Pria itu mengeraskan rahangnya dan menggeram, “Aku bukan binatang piaraan. Ada saatnya kalian kehabisan darah!!”
“Habiskan darah kami, Vicko.
Kalau kau mampu.
Lakukan saja, kalau kau ingin kakiku menyapa mukamu,” ejek Codi santai.
Terlihat prajurit Rupert juga sudah memegang bahu kanan Vicko.
Aku terkesiap.
Codi, tak seharusnya dia memancing kemarahan Vicko.
“Buka borgolnya pelan-pelan Rupert, lalu kita pindahkan dia.” perintah Dragono seraya menimang pistol listriknya.
“Aku tak sabar melihat kau mati di atas arena duel, Vicko. Semoga kau tidak melenggang pergi, saat menang bertarung dua kali lagi.
Saat tewas mukamu pasti kuberi bonus ijakan untuk oleh-olehmu ke neraka, hahaha…,” Codi tertawa.
“Hmm taekwondoin banci kau ini, Codi. Aku hanya butuh 60 detik untuk mematahkan kakimu.” balas Vicko.
Aku melihat, sorot mata Vicko berubah. Kilat di matanya itu…itu kilat kebencian dan..penuh kewaspadaan. Siap siaga untuk apa?
Pria itu mengatur suaranya dengan ketenangan menakjubkan, menjawab, “Ooh… jadi kau bosan melihat aku menang terus ya?”
Tiba-tiba kejadiannya begitu cepat, saat satu borgol tangan kanannya dibuka oleh Rupert, Vicko lebih menunduk untuk mengurangi pegangan Codi di bahu kirinya ternyata kaki kirinya meluncur kebelakang menendang pangkal paha Codi, penjaga sebelah kirinya.
Codi terlempar di lantai. Badannya langsung meringkuk, kedua tangannya memegangi selangkangannya.
Codi mengerang-erang kesakitan di lantai tidak berkutik untuk bangkit lagi.
Secepat kilat tangan kanan Vicko yang sudah bebas dari borgol merebut senjata tonfa dari pinggang Rupert. Dengan sekejap mata, tongkat tonfa berkelebatan.
Plak!
Tonfa Vicko menyabet dan melontarkan pistol listrik Dragono.
Dragono terhenyak, belum sempat bereaksi sabetan tonfa Vicko menerpa dagu Dragono dengan keras.
Bletak!!
Kepala Dragono terdongak penuh keatas terkena sabetan tonfa,
sesaat kemudian Dragono ambruk tersimpuh di lantai memegangi dagunya yang terkena sabetan tonfa.
Wajahnya menyeringai sangat kesakitan.
Rupert maju menyerang dengan tongkat panjang.
“Instruktur beladiri militer kau coba lawan, majulah kecoa.” Vicko mendesis sambil menangkis serangan Rupert dengan tonfa.
Tuan Jonah masuk ke ruang interogasi dan mengacungkan pistolnya.
“Cukup Vicko.
Kalau kamu ingin kepalamu pecah,
silahkan lanjutkan aksimu!”
Vicko mematung, tangan kanannya yang memegang tonfa diangkat perlahan keatas dan tonfa dijatuhkannya, walau tangan kirinya masih terborgol di kursi, Vicko bisa membuat Codi dan raksasa Dragono terkapar.
“Ajari anak buahmu sopan santun Jonah.
Mereka harus belajar tentang adab hormat pada senior.” matanya menatapku dan Tuan Jonah bergantian.
Sorot matanya tajam, penuh kemarahan dan dendam.
“Berbalik ke tembok, berlutut perlahan-lahan dan tangan tetap diatas Vicko!”
seru Rupert sambil ancang-ancang siap memukul Vicko dengan tongkat kayunya.
Mrs. Rose datang bersama prajurit Doni, lalu Doni memungut pistol listrik di lantai dan mengacungkannya ke arah Vicko.
“Ayo Vicko menurutlah, jangan kau bikin kami main kasar.” ujarnya.
Vicko membelakangi Rupert dan Doni lalu, berlutut perlahan, tangan kanannya terangkat keatas sementara tangan kirinya yang masih terborgol di kursi menggantung disana.
“Satu gerakan mencurigakan, kau tewas Vicko, tanganku sudah gatal menarik pelatuk pistol ini.” suara Tuan Jonah keras.
Dua prajurit datang lagi bersiaga dan membantu Rupert dan Doni meringkus Vicko yang berlutut di lantai.
Dragono memegangi dagunya, ada aliran darah di bibirnya, Dragono berusaha berdiri dengan susah payah, terlihat sangat kesakitan.
Sementara Codi mencoba bangkit sambil bersandar ke tembok, sambil tetap memegangi pangkal pahanya.
“Bawa dia ke selnya, prajurit!” ucap Tuan Jonah tegas.
Kali ini Vicko patuh digiring Rupert dan Doni sementara dua prajurit mengikuti dari belakang, mereka keluar dari ruang pemeriksaan untuk mengembalikan Vicko ke selnya.
“Rose undang dokter Stephan untuk memeriksa Dragono dan Codi.” perintah Tuan Jonah pada Mrs. Rose, Mrs. Rose segera menyelinap keluar.
“Kau tahu kan bocah, ini akibat keteledoranmu sehingga Codi dan Dragono cedera.” kata Tuan Vicko geram kepadaku yang berdiri mematung karena shock melihat perkelahian sengit para pria.
Dragono duduk di bangku bekas diduduki Vicko, Dragono masih memegangi dagunya, sementara Codi juga duduk di kursi yang lain sambil menyeringai kesakitan.
“Hhhhhgggh sakit sekali…” ucap Dragono, kulihat tangannya yang besar sampai berkeringat, mungkin menahan sakit yang teramat hebat.
“Ssssshh… uuuh aduuuh…” terdengar erangan Codi yang sampai terbungkuk-bungkuk di kursinya.
“Awas kamu, Vicko. Pasti akan aku balas kamu nanti,” Codi menggeram.
Dokter Stephan datang dan memeriksa Codi, sementara aku dan Mrs. Rose mendekati Dragono.
“Ini sakit?” Mrs. Rose memegang dagu Dragono.
“Haaaaaaaah!!! Sakit!!!”, jerit Dragono mengagetkan.
“Kemungkinan retak atau patah rahangmu, biar nanti kuberi pain killer Dragono.
Nanti coba kita ronsen.” kata Mrs. Rose pada Dragono.
“Bila parah, besok ikut aku berobat di ibukota,” ujar Tuan Jonah.
Terdengar dokter Stephan berbicara kepada Codi , “Nanti kuberi analgesik, kompres es supaya tidak bengkak, lain kali pakai protektor yang lengkap, supaya tidak cedera seperti ini.”
“Dokter, Dragono perlu di ronsen, kelihatannya ada fraktur di mandibulanya.” kata Mrs. Rose kepada dokter Stephan.
“Harusnya kau saja yang jadi korbannya Vicko, bocah!
Gara-gara aku menurutimu, dua prajuritku terluka.” Tuan Jonah berkacak pinggang.
“Lain waktu kamu bertemu Vicko, dia harus terikat penuh. Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi, Bocah! Aku tidak akan menuruti permintaanmu lagi.”
“Maafkan aku, Tuan Jonah, Moi pikir Vicko bisa berubah menjadi baik.” ucapku
Tuan Jonah menggebrak meja pemeriksaan, melampiaskan kekesalannya, kemudian melangkah keluar ruangan. Codi turut keluar ruangan dengan langkah tertatih-tatih sambil berpegangan tembok.
Mrs. Rose membantu Dragono bangkit berdiri.
Raksaksa itu tetap memegangi rahangnya. Dragono melepaskan pegangan Mrs. Rose dan melangkah keluar ruangan.
Mrs. Rose merengkuh bahuku, “Tidak menutup kemungkinan, suatu saat kamu bisa dihajar juga oleh Tuan Jonah, Moi,” ucapnya seolah ikut mengancam ku.
“Ya, aku tahu.” kataku lirih, aku berpikir Mrs. Rose kecewa kepadaku karena Dragono terluka.
“Ingat, pulau ini adalah wilayah kekuasaannya. Kamu harus mengikuti semua peraturannya. Saranku, main aman saja, Moi. Aku mendukungmu. Jumlah prajurit disini terbatas. Sementara Vicko itu sangat berbahaya.”
“Aku minta maaf, Mrs. Rose. Lain waktu aku pasti mengikuti apa yang diminta Tuan Jonah, khususnya Vicko harus diikat dan di dampingi prajurit, andai tadi Codi tidak memancingnya, Vicko tak akan semarah itu, Mrs. Rose.” aku mencoba berargumentasi.
“Kedalaman laut bisa terukur, dalamnya hati manusia, siapa yang bisa tahu, Moi? Vicko sendiri sudah cukup lama sakit hati karena pelakuan semua orang disini kepadanya.
Sudahlah Moi, yuk kita lanjutkan penelitian kita. Setelah makan siang kita ke tempat Leman kan ?
Nanti aku coba atur pengawalanmu, setahuku Leman tidak berbahaya seperti Rado atau Vicko.” ujar Mrs. Rose.
Aku mengangguk, “Semoga keadaan Leman cukup baik hari ini, tidak terganggu kedatanganku, dan tidak berulah.”
GLOSSARY
Ambidextrous adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan kedua tangan dengan sama-sama baik. Hanya sekitar satu persen dari semua orang di dunia yang secara alami ambidextrous (bersifat mampu menggunakan kedua tangan secara sama baik).
Plastisitas sinaptik adalah ketika otak terlibat pembelajaran dan pengalaman baru, akan terjadi interaksi dan jejaring baru pada hubungan sel-sel saraf di otak. Faktor yang menunjang plastisitas otak; stimulasi lingungan, stimulasi yang sering, motivasi dan konsistensi faktor yang dapat membatasi plastisitas otak; pengaruh dari lingkungan prenatal dan periode kritis selama postnatal
Fraktur mandibula = patah dagu