Chapter 1 Moira’s Dream

  

Moira’s Dream

Aku tidak tahu dimana aku berdiri saat ini. 
Tempat ini terasa asing bagiku. Disekelilingiku diselimuti kabut yang pekat, aku bahkan tak dapat memandang kakiku sendiri. 
Aku seperti mengambang bak hantu di kegelapan. 
Inderaku yang peka bisa merasakan adanya kengerian di tempat ini. 
“Moiraaa…”

Suara seorang wanita sayup-sayup seperti berbisik memanggilku.
Aku menoleh ke kanan kiri mencari sumber suara, namun tak kutemukan. 
Aku memutar tubuhku, dan di ujung sana sebuah pintu besar yang mencolok nampak gagah berdiri di tengah kabut. 
“Moira..,” suara itu mendesah lagi, begitu lemah dan lirih.

Suara itu …….
aku yakin berasal dari sana, dari arah pintu besar itu. 
Dadaku berdebar, napasku tercekat.
Apa yang harus aku lakukan? 
Aku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku dan memberanikan diri menggerakkan kakiku selangkah dua langkah ke arah pintu. 
Pintu itu seperti sebuah gerbang bangunan yang besar. 
Makin mendekat, aku bisa melihat sebuah gambar segitiga sama sisi yang besar di tengahnya.

Aku meneruskan langkahku dengan perlahan.
Kengerian itu semakin terasa. Bulu kudukku meremang.

Kini aku bisa melihat dengan jelas bahwa gambar segitiga di gerbang itu memiliki sebuah lingkaran di tengahnya.
Di sudut atas terdapat gambar kepala singa yang mengaum. Disudut kiri gambar kepala naga.
Sedangkan gambar kepala kambing ada di sudut kanan.

Langkahku terhenti memperhatikan lambang ini. Aku tak pernah melihat lambang yang seperti ini …tapi aku tahu, ada sesuatu yang mengerikan dibalik pintu gerbang ini, menantiku. Bangunan sekte apakah ini?

Aku memutuskan untuk menjauhi pintu itu, 
kakiku sudah mundur beberapa langkah saat itulah , gerbang bergerak terbuka secara perlahan lahan,
suara derit pintu besar dan kuat terdengar dari dalamnya ,
dan nampak sesosok tangan menjulur keluar mengarah ke arah tubuhku dengan jemari penuh luka dan berdarah terulur. Seraut wajah wanita berambut kusut dengan suara lemah dan terbata bata, memanggil namaku,
“Moira…”

Suaranya wanita mencoba memanggilku berkali-kali tersirat kelelahan dan nada putus asa saat ia mencoba mengucapkan namaku. 
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk mencoba meraih tubuhku dan menatapku dengan pandangan memohon. 
“Tolong kami, Moira…” bisiknya.

Wanita ini mengenal nama dan meminta tolong padaku.

Apakah kami saling mengenal?

Aku mencoba menatap wanita itu dengan lebih seksama untuk mengenalinya.
Saat itulah aku melihat bahwa di kedua bola mata wanita itu mengucur air mata darah. Bibirnya pecah dan wajahnya penuh luka-luka yang mengerikan. 
Tangannya makin mendekat padaku.

Ketakutanku memuncak, aku melangkah mundur, terjungkal jatuh dan menjerit.

Aku terbelalak dan terbangun dari tidurku. 
“Oh, cuma mimpi. 
Cuma mimpi. Syukurlah.” 
Nafasku terasa sesak,
dadaku seperti terhimpit oleh sesuatu yang berat,
keringat membanjiri tubuhku namun perlahan lahan perasaan lega mulai menguasai tubuhku,
tanganku yang terasa dingin mencengkeram sprai tempat tidurku mulai menghangat,
dan aku mulai bisa menguasai seluruh tubuhku 
lalu aku berusaha untuk bangun. 
Otot-ototku menegang akibat mimpi burukku. 
Dadaku yang berdebar kencang mulai berdetak normal 
aku duduk di tepi tempat tidurku

“Mimpi buruk,” aku mengusap keringat di keningku. 
Mimpi buruk yang menyeramkan ini tak hanya sekali, 
namun berulang kali datang dalam mimpiku.

Walau demikian, aku tak pernah terbiasa dengan mimpi itu. Setiap kali kengeriannya terasa baru, seolah itu adalah mimpi buruk baru yang belum pernah aku alami.

Wanita yang meminta tolong terus menerus padaku, 
siapakah dia? 
Dan gerbang besar itu, bangunan apakah itu?
Ada dimana? 
Aku meraih gelas di sisi ranjangku dan membasahi tenggorokanku yang kering.

Aku melihat jam beker kecil di sisi ranjangku. Masih pagi, baru pukul 05.00 WIB.
Kalender menunjukkan tanggal 15 Maret 2014.

“Moira, sudah bangun ya? Sarapan sudah siap,” ujar Mama yang mengintip di depan pintu kamar seraya tersenyum.

“Ya, Ma. Moira mandi dulu ya.”
Aku melipat selimut dan merapikan seprei yang kusut, meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Usai mengalami mimpi buruk, siraman air dingin shower sungguh menyegarkan, menghalau perasaan resah dan pikiran kacauku.
Kutatap wajahku di cermin, wajahku nampak kuyu dan lelah juga sangat pucat.
Aku memoles bibirku dengan lipstik merah muda cerah pemberian Andrian teman baikku yah saat ini status kami adalah teman baik,
entah nanti ke depannya, pikirku tersenyum.
Saat itulah sesosok bayangan tangan terulur dan wajah seorang wanita penuh luka itu muncul dari dalam cermin. Sesaat aku terpana, kemudian aku menjerit.
Lipstikku terpental.

Langkah kaki Mama kudengar bergegas datang, “Ada apa, Moi?”

Aku menoleh menatap Mama yang balas menatapku dengan pandangan kuatir.
Kala aku menatap cermin lagi, bayangan wanita itu tak ada di sana.
Cermin itu cermin biasa yang memantulkan bayangan tubuhku dan Mama.

Sepagi ini aku sudah berhalusinasi?

Aku mendesah, “Tidak ada apa-apa, Ma…ngg..tadi ada tikus. Ya, Tikus. Tikusnya besar banget. Aku sampai kaget ngeliatnya tadi.”

“Oalah, cuma tikus. Kirain ada apa, Moi.” Mama melangkah keluar kamar dengan cepat. Aroma kentang goreng dari dapur tercium sedap di hidungku.

Mamaku adalah orang tua tunggal. Ia sudah begitu repot menafkahi kuliahku dan adikku serta biaya hidup kami sehari-hari.
Menceritakan hal remeh seperti mimpi burukku padanya, hanya akan menambah beban pikirannya saja bukan?
Aku menghapus lipstikku yang mencoret keluar dari garis bibirku, merapikan rambut dan berganti pakaian. Saat aku ke meja makan,
sarapanku telah terhidang di meja.
Aku duduk di meja makan bersama mama dan mulai menyantap sarapan pagi ku .

Tayangan berita TV pagi itu menayangkan berita tentang seorang gubernur yang mencalonkan diri menjadi menjadi presiden.

Pikiranku melayang ke skripsiku yang masih menunggu hasil di terima atau tidak sebagai tanda kelulusanku.
Hari ini aku sudah janji temu dengan dosen pembimbing skripsiku Prof. Julian Andono. Aku harap skripsiku bisa diterima.

Aku menyantap sarapanku dengan cepat, memeluk Mama tersayangku dari belakang serta mengecup pipinya yang tirus dan berpamitan berangkat ke kampus.

“Hati-hati di jalan, Moi. Semoga berhasil skripsinya ya,” seru Mama.

***

Aku Sampai di kampus,aku menyusuri gedung kampusku,tak terasa aku sudah 3,5 tahun melewati berbagai kegiatan belajar disana,
Terbayang saat aku pertama kali mendaftar disana untuk memuaskan rasa ingin tahuku yang besar,

ya benar
beberapa temanku menjulukiku putri kepo,
karena aku selalu kritis bertanya sampai rasa ingin tahuku terjawab,
Aku tidak akan pernah berhenti bertanya dan bertanya sampai benar benar aku mengetahui segala sesuatunya,
banyak mata kuliah yang unik di sana ,
teman temanku juga bersama sama sering mengikuti berbagai seminar praktis diluar kampus yang berkaitan dengan psikologi,seminar hipnotherapi,
seminar grafologi,seminar NLP
,seminar body language aku ikuti untuk memuaskan rasa ingin tahuku dan juga suatu kesempatan untuk mendapatkan charge seminar dengan harga mahasiswa,
walau uang jajanku yang tak seberapa habis ludes ,
namun aku puas,dan aku sangat suka mendalami hipnotis untuk mentherapi anak anak berkebutuhan khusus saat aku magang di akademi okupasi ,
pikiranku menerawang , oooh….. sebentar lagi kutinggalkan gedung ini bila skripsiku diterima dan akan melamar pekerjaan,
aku juga teringat antar teman saling membaca bahasa tubuh ,mencoba menebak dan mengatasi masalah yang ada dengan memberikan saran saran psikologi,
Uh aku merasakan waktu yang begitu cepat berjalan,
belum lagi debat debat kami di kampus yang berjalan seru baik dengan alat bantu,formulir psikotes,assesmen dan berbagai metode.

Langkahku tak terasa sudah mencapai ruangan para dosen,ruang prof Julian ada dipojok ujung sendiri,
ruangannya besar ,
karena sering dibuat presentasi para dosen aku mempercepat langkahku kesana .
Dengan perasaan dag dig dug, aku mengetuk pintunya.

“Masuk!” 
sebuah suara bass yang berwibawa membalas ketukanku.

Kubuka pintunya perlahan.
Prof. Julian, dosen pembimbingku, 
seorang pria separuh baya yang mempunyai mata setengah mengatup kelopaknya dan karena bola matanya tersembunyi dikelopak matanya tersebut , 
nampak datar dan sulit ditebak expresinya ditunjang dengan bibirnya yang jarang tersenyum dan datar , 
benar benar sosok yang yang dingin walau selalu berpenampilan rapi necis kemeja panjang dengan dasi dilehernya menampakakan kesan formal dan terpelajar Rambutnya pendek,
tersisir rapi di atas kepalanya sederet kumis tipis menghiasi atas bibirnya.
Ia menatapku seperti biasanya datar tanpa ekspresi.

“Duduklah, Moira.” sapanya.
Aku duduk dikursi yang disediakan didepan meja prof.Julian yang besar oval berkaca diatasnya,
tas ranselku kucopot dan kudekap didepan tubuhku untuk menutupi kegalauan ku saat itu, loloskah skripsiku?

“Bagaimana kondisimu Moira ,kudengar kau sakit beberapa hari yang lalu?”
Aku terkejut sekaligus senang akan perhatiannya yang tak terduga atas diriku
“Oh, sudah lewat Prof. Aku alergi jamur, kemarin aku tidak sengaja makan jamur merang, Prof.”
ranselku kuturunkan kutaruh disamping kakiku
“Sekarang sudah sehat, kan? Aku punya dua berita baik untukmu,” ujarnya.
“Yang pertama setelah menguji skripsimu kemarin, 
aku mewakili rekan penguji menyatakan bahwa skripsimu yang berjudul Hipnotherapy Sebagai Penunjang Kesembuhan Abnormal Psychology, 
dinyatakan berhasil.”
“Oh, waw. Terima kasih, Prof,” ujarku gembira.

“Berita baik kedua…,” Prof. Julian menggantung kalimatnya.
Aku mencondongkan tubuh, menanti kelanjutan kalimatnya kurasakan mataku berbinar menunggu kalimat berikut darinya
“Kamu mendapat tawaran pekerjaan yang sangat bagus dari rekanan universitas.”

Aku terhenyak,perasaanku tercampur aduk saat itu,
kebahagiaan yang satu disusul kebahagiaan yang lain,
terasa mataku agak berkaca kaca saat itu karena sangat bahagia. 
Untuk menutupi gayaku yang mungkin salah tingkah saat itu disertai rasa ingin tahuku yang besar ,
segera aku berucap“Ini sungguh surprise banget buat aku. 
Tapi, bagaimana ini bisa terjadi Prof? 
Walaupun aku cumlaude tapi kan…tentu masih banyak yang lebih baik diatasku kan, Prof?”

“Untuk tahun ini memang kamu di ranking ke-4. Tapi bahasan skripsimu itu dan kau bisa mempraktekkan hypnotherapymulah dengan baik,bahkan yang terbaik.”

“Profesor, aku sungguh tersanjung. Lalu …bolehkah aku tahu lebih lanjut tentang tawaran pekerjaan tadi, Prof.?”

“Ini suratnya. Bacalah,” ujarnya seraya menyerahkan sebuah amplop putih padaku.

Aku menerimanya….
tiba tiba Deg! 
Jantungku seperti berhenti ,
mataku terbelalak demi melihat logo segitiga yang tertera pada sampul depan amlop itu.
Logo segitiga yang semalam dan malam-malam sebelumnya muncul dalam mimpiku.

“Logo ini…logo ini…,” aku tergagap-gagap. 
Bayangan pintu besar dalam kabut, tangan menjulur terluka, mata yang berdarah, desahan wanita yang memanggil namaku berkelebat cepat dalam pikiranku.

“Ada apa, Moi?”
“Oh, tidak ada apa-apa Prof.” Aku mencoba menenangkan diriku, mengeluarkan suratnya dan menatap sekali lagi logo segitiga itu di kepala suratnya. Aku membaca dengan cepat.

Ponsel Profesor Julian berbunyi. Ia segera menerima panggilan masuk itu, “Ya, halo? Ya, dia sudah disini. Mari masuk saja,” ujarnya dan menutup ponselnya.
Pintu terbuka. Seorang wanita berwajah sangat cantik,
badannya tinggi dengan bentuk tubuh proporsional, berkacamata bulat,
berpakaian setelan blazer memasuki ruangan.
Sepatu hitam high heelsnya berbunyi ketak ketuk kala ia berjalan.

“Moira, ini Mrs. Rose. Dia nanti yang akan menjelaskan detail pekerjaan barumu.saat ini secara umum dia kan gambarkan seperti apa pekerjaanmu,
karena ini confidential aku persilahkan kalian di ruanganku,
aku harus keluar dari sini”

“Hello, Mrs. Rose. Aku Moira,” ujarku segera memperkenalkan diri dan mengulurkan tanganku kulihat prof.Julian pergi meninggalkan kami berdua dan tubuhnya tak nampak lagi saat pintu nya ditutup.
Mrs. Rose menjabat tanganku.

Saat aku berdiri terasa postur Mrs. Rose lebih tinggi dariku. Jemarinya terasa lebih tebal dari jariku dan ia menjabat tanganku dengan kuat.

Mrs. Rose type wanita tangguh berkemauan kuat, terpancar dari tatapan mata serta genggaman tangannya,
pikirku mencoba menganalisa lawan bicaraku.

“Moi, pekerjaan ini adalah bagian dari rahasia negara. Sebelumnya kami telah mempelajari kepribadianmu serta skripsimu. 
Kami menilai kamu tepat untuk pekerjaan ini, dan perekrutan kami berlangsung rahasia karena ini demi masa depan bangsa dan negara” ujar Mrs. Rose.
Dari nada suaranya tersirat ketegasannya, mungkin orang ini tipenya lurus pada peraturan, pikirku lagi.

“Terima kasih, Mrs. Rose,
aku rasa… aku menyukainya. Nanti bolehkah aku minta waktu untuk memikirkannya terlebih dulu?”
Mrs.Rose menimpali
“Apabila kau menyanggupi bekerja,kau akan bekerja disuatu pulau yang tempatnya terpencil,
tidak ada sinyal hp,dan komunikasi disana,apabila kau membutuhkan akses internet disana ada jalur satelit militer sesuai otoritas disana 
kau bisa gunakan itu,
kau dikontrak selama 6 bulan tanpa bisa pulang sampai kontrakmu selesai,
makan dan asrama disediakan, dan kau aku dampingi dalam bekerja,
keputusan darimu maksimal empat hari dari besok pagi.”
“Surat pengangkatan belum bisa kamu terima sampai kamu menyetujuinya.
Kontrak pekerjaan ini enam bulan, gaji awalmu ialah 2x gaji upah minimal ibukota lalu kamu akan diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan kenaikan gaji 100%.”

Aduuh,perasaanku kembali digoncangkan,
siapa yang tidak bermimpi menjadi pegawai pemerintah? Dan dalam 6 bulan gajinya sudah didouble…naik 100% .walau …6 bulan tanpa fasilitas internet dan hp ,kurasa karena aku suka tantangan mungkin tidak jadi masalah tapi yang Wow ialah jadi pegawai pemerintah ,2x upah minimal ibukota dan naik gaji double tadi…. 
tapi kucoba tetap menjaga kelakuanku,
karena aku kuliah di psikologi kucoba menutupi body language ku supaya tidak kelihatan norak,
kalau aku tidak jaim bisa bisa aku melompat lompat dan menari nari kegirangan ,
karena sekilas teringat beberapa teman teman ku yang ketakutan akan masa depannya mereka berkeluh kesah tentang betapa sempitnya dunia kerja bagi lulusan psikologi,
jadi HRD sudah banyak yang mendudukinya terlebih dulu , belum lagi tantangannya menjadi HRD banyak musuhnya ,
dari proses rekrut sampai pemecatan karyawan,
demo buruh bisa jadi HRD yang mengatasinya huufhh…,
buka kantor psikolog harus punya modal tempat dan tenaga untuk membantu.

Aku mulai menata pikiranku walau terlihat terdiam beberapa saat,
aku mengatur nada suaraku lalu kuucapkan
“Sangat menarik Mrs. Rose. Aku pikirkan dulu ya. Dalam empat hari ini, aku akan memberi kabar,” sahutku,
sebenarnya tanpa dipikir panjangpun detik itu juga bisa langsung kuputuskan yaa,aku bersedia seperti seorang gadis desa yang menerima tunangan pangeran kaya raya dan baik hati ,
namun saat aku melirik amplop dengan logo segitiga itu , jantungku mulai berdebar dan pikiranku agak kacau saat itu seperti mengalami dejavu,
dan aku juga teringat mempunyai mama yang sangat mengasihiku,
aku harus meminta ijin kepada beliau walau keyakinanku beliau juga mendukungku tentang keputusan menerima pekerjaan ini

“Kamu bisa menghubungi Profesor Julian untuk konfirmasi persetujuannya hanya empat hari maksimal 
kau beritahu profesor, 
aku datang lagi dan kita tanda tangan kontrak. 
“Ingat ini kontrak rahasia jangan disebar luaskan karena bagian rahasia dari pemerintahan, kandidat yang kami seleksi ribuan dan kau salah satu yang terpilih,
kau lewatkan ini 
kau sudah tidak ada akses lagi tentang pekerjaan ini lagi karena ini hanya ada satu kesempatan saja, 
ada pertanyaan lagi kau bisa tanyakan sekarang,
bagaimana, Moi?”

Wow ini juga salah satu nilai misterius yang membuatku antara terhormat karena merasa dibutuhkan dan ada aroma inteligen disini,
siapa yang pernah merasakan hal seperti ini selain diriku ,
walau aku dilahirkan dari seorang papa militer namun hal seperti ini tak pernah diceritakan papa padaku,perekrutan secara diam diam pada gadis fresh graduate lulusan psikologi.

“Ya, Mrs. Rose. Terima kasih,” sahutku sopan.
Kumasukkan surat itu ke dalam tasku.
Batinku bergejolak antara senang,bangga dan terheran heran.

Aku berpamitan dan menjabat tangan mrs,Rose saat aku keluar dari ruangan prof.Julian,
kulihat dari jauh prof.Julian duduk sendirian di cafe dengan segelas minuman didepannya dan tangannya sedang memegang tabletnya,
nampaknya dia menikmati kesendiriannya disitu.

Oh Prof.Julian mengapa kau terlalu senang dengan kesendirianmu? 
Bahkan kudengar profesor satu ini masih lajang sampai sekarang.

***

Sesampai di rumah, segera kukabarkan berita baik itu ke Mama.

Mama tersenyum cerah dan memelukku. 
“Syukurlah, Moi. Skripsi lancar, bahkan langsung di terima kerja.
Penghasilan bagus sekali dan jadi pegawai pemerintah. 
Anak mama benar-benar luar biasa,” ucapnya seraya mengecup pipiku.

Mama juga mengijinkanku bekerja di luar kota, walau adikku juga sedang kuliah di luar kota. Yang berarti Mama akan sendirian di rumah.
“Papa pasti bangga banget Moi, kalau ia tahu hal ini,” tambah mama.
Hatiku perih ingat papa. 
Kapten Marinir Gepardi, papaku, dinyatakan hilang dalam tugas 2 tahun yang lalu.

“Mama sangat berharap bisa berjumpa lagi dengan papamu, Moi. 
Walau berupa jasadnyapun tidak apa-apa,” desah Mama.

Aku menggenggam tangan Mama, 
“Papa pria yang tangguh, Ma. Kita doakan yang terbaik untuk Papa, dia selamat dan dapat kembali berkumpul dengan kita Ma.”

***

Sampai di kamar, aku mandi, berganti pakaian lalu mengeluarkan amplop surat berlogo segitiga itu dari tasku tidak ada tulisan apapun mengenai perusahaan atau alamat,
badan hukum dan sebagainya ,
hanya bebarapa ketentuan umum tentang peraturan kerja,
hmmm nampak seperti surat print biasa ,
mungkin bila aku menolaknya bisa jadi surat ini bukan merupakan bagian dari departemen apapun di pemerintah atau militer,
namun aku teringat yang mereferensikan adalah prof.Julian rektor universitasku sendiri 
dan aku sudah diketemukan dengan wanita cantik misterius tadi mrs.Rose yang barusan bercakap cakap denganku ,
memandangnya semakin aku yakin, 
logo inilah yang terpampang di depan pintu gerbang penuh kengerian dalam mimpiku itu. 
Jadi ini logo instansi rahasia pemerintah, bukan logo suatu sekte seperti dugaanku semula.

Bila aku menolak pekerjaan ini, akankah mimpi burukku berakhir? 
Atau justru datang menghampiriku semakin sering, dan semakin ngeri?
Sejauh ini mimpiku selalu berakhir dengan aku terjungkal jatuh tanpa tahu ada apa sebenarnya yang terjadi di balik pintu gerbang itu. 
Bila aku menerima pekerjaan ini…itu berarti secara nyata aku akan membuka gerbang itu dari depan,
menjelajah ke dalamnya…dan mungkin menemukan wanita terluka yang selama ini menanti kedatanganku dan membutuhkan pertolonganku.

Tapi oh, aku hanyalah wanita biasa, tinggiku hanya 158 cm, beratku berkisar antara 50 kg. Bila di balik gerbang itu aku bertemu dengan tokoh penyiksa wanita atau bahkan yang lebih seram dari itu,
apa yang bisa aku lakukan? 
Olahraga beladiri aku tak bisa. Walau ayahku seorang marinir yang tentu saja ahli beladiri, tetapi beliau tidak memaksaku belajar beladiri apapun,beliau hanya mengajariku tehnik rolling,
jatuh dengan aman,
supaya bila suatu saat aku tergelincir atau jatuh dari motor maka minimal cederaku,
mungkin satu-satunya kelebihan fisikku adalah aku mampu berlari cepat dengan sepasang kakiku yang Andrian katakan gesit bagai kijang.

Andrian.
Aku tersenyum mengingatnya. Teman pria satu kampus yang selalu manis padaku itu,
apa yang sedang dilakukannya saat ini? 
Sudah tidurkan dia? 
Lolos jugakah skripsinya?
Kukeluarkan ponselku dan jari-jariku bergerakdi whatapss ke Andrian mengabarkan berita kelulusan skripsiku dan secara sekilas kemungkinan aku akan bekerja pada pemerintah.

Ting! Balasan Andrian segera masuk, 
“Selamat ya, Moi. Kamu selalu keren.”
Ting!”Double keren”
Ting!”Triple keren”

Aku tertawa dan membaca berulang-ulang balasan Adrian tersebut dengan perasaan senang.
Kamu selalu keren. Moira selalu keren,double keren,
triple keren. 
Eaaa….

“Skripsimu bagaimana?” kububuhkan emoticon smile lebar dan ku tekan tombol kirim.
“Dua hari lagi, aku baru bisa ketemu dosen pembimbingku, Moi,” sebuah emoticon lesu terlampir di akhir kalimat itu.
“Jiayoo, semangat And. 
Pasti lulus. Aku yakin deh,” balasku.
“Amin. Semoga ya.”

Aku merebahkan tubuhku di ranjang.
Mataku beradu dengan cermin oval di dinding kamar, di sisi lemari bajuku.

Aku bergegas mengetik lagi, “And, kamu pernah mimpi buruk?”
“Tidak pernah. “
“Aku pria yang murah hati, tampan, cerdas, ramah, tidak sombong serta baik hati. Mimpi-mimpiku selalu indah and fun.”
“Gombal banget.”
“Hehe…kenapa Moi? Kamu kemarin mimpi buruk?”
“Yup.”
“Duuuh bukannya kita juga mempelajari fenomena mimpi di kuliah kita,tenanglah mungkin saja mimpi berlawanan dengan kenyataan yang terjadi. Kamu boleh mimpi buruk, tapi kenyataannya hari ini kamu dapat kabar gembira, kan? “
“Eh, aku kok jadi menggurui kamu gadis psikolog muda berprestasi cumlaude lagi…
serasa menabur garam di laut jadinya.”
“Serius Ad. Aku minggu-minggu ini sering mimpi buruk. Anehnya mimpinya sama itu-itu terus.”
“seperti dejavu begitu Moi?”

Aku menjawab :“yaaa kurang lebih seperti itulah namun kenyataannya mengapa di mimpiku aku melihat logo lalu hari ini aku mendapati logo tersebut nyata datang dan ada?”
“Gee,kamu bakat jadi peramal Moi ?
hahaha tapi condong ke fortune teller hahaha”
“Kalau begitu abaikan sajalah, Moi. Yang jelas kau sudah punya masa depan yang baik ,
nikmati sajalah,
saraaan nih ya sebelum tidur, tatap fotoku.
Mimpimu malam ini akan berbeda, hahaha..”
“Aku tidak punya fotomu.” Dalam hal ini tentu aku berbohong.
Di ponselku tersimpan beberapa foto Andrian yang aku screen shoot dari akun medsosnya.

“Mau aku kirim?”
“Tidak usah.” Balasku cepat.
Dan…ting! Ting! Ting! Andrian mengirimkan 3 foto beruntun kepadaku dengan segera.
Foto pertama Andrian nampak gagah mengenakan tuxedo. Foto kedua pria itu mengenakan kaus biru dan sebuah kacamata hitam bertengger di atas rambutnya, gaya sekali. Foto ketiga pria itu nampak tersenyum, memamerkan sederet gigi putih bersih berkilaunya dan mengedipkan sebelah mata.
Semuanya foto close up. 
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Mahluk ajaib ini benar-benar narsis tingkat American idol. 
Ampun deh.

Ting! Andrian lagi. 
Kali ini bukan foto tapi chat tulisan biasa. “Night ya, Moi. Semoga malam ini mimpimu indah.”
Dan aku terlelap sampai sinar fajar menerebos tirai kamarku, tanpa dibayangi tangan terulur, mata berdarah ataupun pintu gerbang yang menyeramkan.

Aku terbangun dengan senyum dibibir karena semalam aku berlarian di kebun teh,
yang berubah menjadi deretan pohon jati rimbun, 
kemudian berubah lagi menjadi kebun bunga aneka warna, sementara Andrian tertawa mengejar dibelakangku,
bak film-film romantis a la India dalam mimpiku.

One thought on “Chapter 1 Moira’s Dream”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *