Chapter 7 Ron, Anak Indigo

Setelah mengunjungi Henry, aku dan Mrs. Rose berjalan bersama-sama menjauhi sel.
Melewati pos penjagaan tengah, aku tidak sabar lagi untuk membuka percakapan, karena ada hal yang mengganjal di pikiranku berkaitan dengan keluh kesah Henry,
“Mrs. Rose kita harus berbuat sesuatu, raut muka Henry dari awal ceria, tetapi saat menceritakan tentang ada orang yang berhasil mengalahkan kemampuan telepatinya, dan bakal ada pertumpahan darah, roman mukanya berubah, dia nampaknya sangat ketakutan.”
Mrs. Rose menjawab dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, “Moi, kau seharusnya mengetahui bahwa Henry mungkin mengalami depresi.Beberapa waktu yang lalu, sudah kuberikan obat antidepresi untuk membuatnya relak dan bisa tidur, tapi dia menolak untuk meminumnya, lagipula siapa orang gila yang sanggup membuat keributan disini?
Penjagaan disini ketat, dengan prajurit yang handal, sanggup untuk meredam keributan.”

Aku kembali terdiam, kata-kata Mrs. Rose seolah menyindirku, mungkin saja Mrs. Rose juga berpikir bahwa aku juga depresi, sehingga sedikit informasi saja, bisa membuatku menjadi paranoid. 
Aku terdiam cukup lama, terjadi konflik di pikiranku, merenungkan perkataan Mrs. Rose dan juga perkataan Henry, sementara kilasan kejadian pertarungan kemarin memang membebani diriku.

Saat hendak masuk ke kamarku, kulihat sesosok pria sedang membersihkan lantai dengan sapu. Oh, rupanya pak No, wajahnya tertunduk nampak larut dalam keasyikan menyapu.


“Permisi pak No, baru bersih-bersih ya.” sapaku.

“Ya, bersih-bersih, ya,” jawab pak No seolah mengulang pertanyaanku, sambil sedikit beringsut menjauhi pintu kamarku.
Aku memutar kunci kamarku, masuk ke dalam kamar, kurasakan pikiranku pening.

Setelah makan siang aku dan Mrs. Rose bergerak ke kamar Ronaldo, bocah 11 tahun dengan kemampuan indigo karena melihat spektrum cahaya aura tubuh manusia.

“Ron, ini termasuk berkebutuhan khusus, Moi.
Di sini dia juga sering berulah, kadang teriak-teriak, kadang berlarian, walau tidak berani ke sel penjagaan belakang.
Beberapa waktu yang lalu juga bikin ulah dengan memencet alarm kebakaran, untung penjaga disini tanggap bahwa itu ulah Ron.” cerita Mrs. Rose.


“Wah, pasti heboh di sini ya Mrs. Rose, tapi sangat aneh, mengapa anak sekecil dia bisa sampai ke pulau ini?” tanyaku ingin tahu.
“Yang jelas, dia sudah jadi anak negara, orangtuanya sudah sukarela menyerahkan dia ke negara, lagipula dia ada di tempat yang aman, dekat pos penjagaan tengah.”

“Menurutku, banyak yang hanya mengalami gangguan perkembangan kepribadian saja Mrs. Rose, mereka tidak layak diperlakukan seperti kriminal di sini.” ungkapku menumpahkan isi pikiranku.
Mrs. Rose tidak menjawab, wajahnya memandang lurus ke depan, seolah tidak mendengar perkataanku.

Kamar Ronaldo terletak sebelum pos penjagaan tengah, di pos penjagaan tengah ada 3 kamar yang serupa dengan kamar Ronaldo, kemungkinan kamar-kamar dengan penghuni yang tidak berbahaya seperti sel penjagaan belakang.

Penjagaan atas kamar Ronaldo tak seketat sel Henry yang terletak di belakang, kamar Ronaldo terletak di ujung paling dekat dengan pos penjagaan tengah.
Ada dua orang prajurit disana, itupun tanpa senjata api, salah seorang prajurit muda mendatangi kami.
Aku membaca plakat namanya dan menyapa, “Hallo, Pak Rupert, ijinkan kami mengunjungi Ronaldo.” Lalu prajurit Rupert membukakan pintu kamar Ronald yang tidak di kunci.
“Oh, ada Dokter Stephan,” ujar Mrs. Rose.
Dokter Stephan sedang memeriksa perut Ronaldo dengan stetoskop.
“Selamat pagi, Dok. Saya Moira.” Aku mengulurkan tanganku padanya.Dokter Stephan menjabat tanganku, kurasakan jemari tangannya yang kecil dan lembek, tidak seperti genggaman tangan para pria pada umumnya.
Dokter Stephan sama persis wajahnya dengan foto saat presentasi Mrs. Rose di kampus. Dokter itu nampak tidak bersemangat, nampak keletihan, terlihat di kantong matanya yang menghitam dibalik lensa tipis kacamata dan wajahnya mengantuk.Dokter itu melepaskan jabatan tanganku dan tersenyum tipis.

“Ron, sudah minum obat?” tanya Mrs. Rose sambil berjalan mendekati Ronaldo yang sedang asyik memainkan gadget.
“Sebelum makan, ia kuberi methylphenidate, Mrs. Rose. Supaya rentang perhatiannya lebar.“ 
Dr. Stephan melanjutkan, “Kontrol rutin harian harus kulakukan, karena dia masih di bawah umur, apalagi aktivitasnya tinggi, selain main gadget, sering menyelinap keluar berjalan-jalan.”
Kulihat Ronaldo tetap asyik dengan gadget yang ada di tangannya, seolah-olah tidak memperdulikan kami.
“Aku pribadi tidak setuju, dia asyik dengan gadget karena hal itu bisa mempengaruhi struktur tulang lehernya,” ungkap Dokter Stephan.

Aku mendekati Ronaldo yang duduk dengan bantal guling mengganjal punggungnya.
“Hallo Ronaldo. Aku Moira. Ron boleh panggil kak Moi.Asyik ya, main gamenya? Game apa itu? Boleh tidak kak Moi ikut main?”
Ronaldo tak menjawab sapaanku.Ia tetap fokus terhadap game android di tangannya. “Wow, seru banget ya mainnya. Kak Moi diajarin, dong…”
Anak itu akhirnya menoleh padaku. Aku beringsut mendekati badannya, kami duduk sejajar di tepi kasurnya, sementara Mrs.Rose duduk di kursi di depanku, saat duduk, aku merasa tinggi Ron di bawahku sedikit, terbukti dari ujung rambutnya yang sejajar dengan mataku.
Tak berapa lama kemudian kami berdua asik main game.

“Geser kanan Kak! Ya, ayo naikkan sedikit! Kiri kiriiii Kak! Yaak.” Ron berteriak-teriak ribut disisiku.
“Game over deh.Padahal nyaris berhasil tadi, ya…Uuuh.”Ron mengeluh.
Aku tersenyum ramah padanya, “Nanti bisa kita coba lagi.”

Aku menatap Ron.Tubuh anak itu agak kurus.Sepasang matanya bulat besar terlihat menyapu ruangan, saat kuajak berbicara.Kulitnya kecoklatan, rambutnya lurus lemas di keningnya.

“Naah sekarang Kakak mau bincang-bincang ya dengan Ronald, boleh ya?”
Anak itu tidak menjawab, matanya mengarah ke lantai, kakinya yang menjuntai di lantai di gerak-gerakan ke atas mengayun ke bawah, terlihat energi tubuhnya yang besar, sampai ranjang yang kududuki turut bergoyang, aku menatap ke depan, 
dr. Stephan sudah tidak nampak lagi di kamar Ron, mungkin saat aku bermain dengan Ron, ia menyelinap pergi.

“Ronald di tempat ini bagaimana? Suka kan? Apa yang disukai? “
“Tempatnya enak, hawanya segar, tapi kadang takut juga,” jawab Ron sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Takut apa Ron?”
“Ron tidak mau jalan-jalan ke belakang.Tempatnya seram.” katanya sambil menunjuk ke arah belakang.

Tempat di belakang?Itu tempat The Arena, arena octagon tempat berduel pria sampai meninggal mengenaskan, juga letak sel Henry, sel Vicko.
Benarkah Ron memiliki kelebihan indigo yang sanggup melihat segala kengerian disana?

“Seram bagaimana Ron?” tanyaku mencoba menggali informasi, dengan nada yang kuusahakan seolah biasa saja, tidak terpengaruh ucapan Ron yang menyiratkan ketakutan.
“Disana beberapa orang melayang-layang, Kak.Berputar-putar.Kemarin aku lihat ada satu lagi orang baru yang melayang.Badannya besar banget, orang itu bilang sakit, sakit.
Aduh pinggangku patah.“Kala menceritakan hal itu, suara Ron menjadi mengecil, pandangan matanya kembali berputar menyapu ruangan.

Pinggangku patah? Sraap, kurasakan darah di wajahku seperti terserap, aku menjadi teringat akan Degardo. Jadi kemampuan indigo anak ini benar adanya.Aku merasa seluruh bulu kudukku berdiri, mungkin wajahku berubah pucat, bibirku sampai tergigit, menahan perasaan takutku.

Sejenak kemudian, aku mengalihkan topik pembicaraan supaya anak ini tidak traumatis.


“Lalu yang disukai yang dimana?”
“Ya sekitar sini saja, paling ke pantai.Ron suka pantai.”
“Mengapa Ron suka pantai?”
“Pantai itu luas Kak Moi, bebas.
Berapapun ombaknya kita minta, laut akan memberikannya.”
“Ron suka menggambar?“
“Sedikit, Kak Moi.”
“Tunjukkan ke Kak Moi yuk. Ini Kak Moi punya ballpoint dan kertas gambar.”

Sesuai dengan arahan kerja yang kudapat, aku menyuruh Ron menggambar.
Ronpun mulai menggambar.Aku memberikan sedikit arahan tentang gambarnya, ada pohonnya, ada rumahnya, ada orangnya, lainnya bebas.

Sekitar setengah jam Ron menggambar, kemudian dia menyerahkan gambar tersebut kepadaku
“Ini rumahnya, banyak jendelanya, tapi tertutup supaya aman. Tidak banyak angin.”Ron mencoba bercerita tentang gambarnya.


Kulihat rumah yang terletak di pinggir kanan, kondisinya rumah yang sepertinya tidak terawat, pintu rumah tertutup rapat, sementara jendelanya banyak tapi tertutup semuanya.

“Ron, ini kok jalannya panjaaang ya,” tanyaku saat melihat ada jalan setapak yang menghubungkan teras rumah, sampai ke gambar orang.
“Ya Kak, jalannya jauh, biar orang-orang yang lewat pada sehat semua, Kak.”

Aku tertawa, walau kulihat di gambar Ron terasa dia butuh kasih sayang. 
Kulihat gambar orang, dari proporsinya kelihatan gambar anak dengan mata besar dan bulat, mulutnya segaris memanjang sampai menembus pipi, dan anak tersebut terletak jauh dari rumah dan pohon.

Aku menahan nafasku saat kulihat gambar pohon yang berada jauh letaknya di sudut kiri, pohon kecil dengan ranting yang seperti tidak berdaun.Pohon yang nampaknya seperti mengalami kekeringan.

“Besok Kak Moi main lagi ya, Ron.” kataku pada Ron, supaya perasaanku tidak terbaca oleh anak ini, karena melihat gambarnya.
“Ya Kak.Terima kasih.Kak Moi orang baik.Cuma perut Kak Moi lagi bermasalahkah?”

Perutku?Dari kemarin mual.Setiap mau makan, teringat darah Gardo yang memanjang di lantai, perutku mual.Tak sanggup menelan makanan. “Hahaha..spektrum warna perut kakak kelihatan ya?” kucoba tetap berpenampilan ceria.
Ron mengangguk.
“Kak Moi tidak apa-apa kok, perut Kakak lagi tidak bisa diisi makanan.Setiap diisi pasti muntah, keluar lagi.”
“Itu namanya stress Kak Moi. Ron juga lihat bahwa kepala Kak Moi berkabut hitam, tanda banyak pikiran.”

Aku terperangah, kadang anak ini pembicaraannya melebihi orang dewasa.
“Ya, Ron adikku.Terima kasih.Sampai ketemu lagi, ya.”Aku membelai rambutnya dan pamit keluar kamar.

***

Malam itu aku benar-benar sibuk, menyusun berkas-berkas, di kamarku. Dari perintah kerja yang diberikan oleh Mrs. Rose , aku melihat setiap insan yang aku uji berbeda testnya.
Hmmm rupanya tim psikolog yang ada di belakang Mrs. Rose sangat berpengalaman menangani kasus gangguan dan abnormal psikologi. Aku menyiapkan berkas, scanner berkas dan memasukkan data ke flashdisk ku, kurangkum laporan singkat tentang Jeff, Henry serta Ronaldo untuk disampaikan semuanya kepada Mrs. Rose, biar nantinya Mrs. Rose menyampaikan kepada tim psikolog yang konon ada di ibukota.

Aku kembali membuka file tentang Jeff, Henry dan Ron, dan membaca semua hal yang berkaitan dengan mereka di masa lalunya.

“Ya Tuhan, sebenarnya mereka ini luar biasa, tapi sayang banyak yang salah arah.” ucapku pada diriku sendiri.
“Moira, sudah tidurkah?” Tanya sebuah suara dalam pikiranku.
“Henry,” aku terkejut, nyaris meloncat karena aku sedang sendirian saat suara itu menyusup pikiranku. 
“Betul, ini aku.” Sahut Henry dalam kepalaku.
“Kamu belum tidur?” tanyaku.
“Ssst…kamu tidak perlu bersuara begitu.Yakin tidak di kamarmu ada penyadapnya?Siapa tahu disini ada yang mencuri dengar? Kamu cukup fokus pada apa yang kau ingin bicarakan, lontarkan itu di pikiranmu kepadaku, dan aku bisa menangkap gelombang pikiranmu, Moi. Tidak perlu bersuara.Kita bisa main rahasia-rahasiaan berdua.Dicoba deh.”

“Test..test.,” Aku mencoba memfokuskan kata-kata itu dalam pikiranku, lalu kubayangkan wajah Henry bersamaan dengan perkataan di pikiranku. 
“Bagus.Benar begitu caranya, Moi.Aku bisa mendengarmu.Iya, aku belum tidur.Belum mengantuk.”
“Kalau penyadap, aku yakin tidak, karena aku tidak melihat kabel di sini, bahkan kamera CCTV pun tidak, yang diketahui dari Mrs. Rose bahwa CCTV yang ada di Chimera, belum ada suaranya. Kemarin aku ketemu Jeff di ruangan mess penjaga seluruh CCTV terlihat dan tidak ada suaranya, jadi hanya memonitor secara visual.”
“Oh syukurlah, berarti amanlah,” tukas Henry.
Tentang Ronald, Hen.” kembali aku berkata dalam pikiran lalu kulontarkan ke Henry.

“Ya?”
“Dia bisa melihat arwah Degardo gentayangan di stadion belakang.”
Degardo yang malang. Ron kecil yang malang juga. Untungnya aku tidak ada bakat indigo, jadi aku aman saja di belakang sini.Sial, mengapa orang seperti aku, ada di sini gara-gara salah berurusan dengan Mr. McPherson.Dan aku ditempatkan di sel belakang yang seram begini, hhh?”“
Aku tersenyum, “Kamu berurusan dengan orang yang salah, Mr. McPherson konglomerat yang punya kuasa, semoga kamu cepat dibebaskan.
Pada dasarnya kau sendiri sebenar tidak menakutkan, Hen.”
“Lalu?”
“Orang-oranglah yang takut dengan kemampuanmu.Kamu tahu kan kalau kamu kuat memanipulasi pikiran orang-orang lain dengan cepat.”
“Dengan kuat dan cepat?Haha siapa bilang?Aku harus fokus untuk melakukannya.Energiku bisa tersedot habis.Selain cepat lapar, kadang juga sampai kepalaku sakit seperti ditusuk ribuan jarum karena berusaha terlalu keras untuk menangkap gelombang pikiran seseorang.Aku pernah tertidur satu hari penuh karena kelelahan, Moi.”
“Kalau..kalau di kepalaku….apa yang bisa kamu temukan disana?” Tanyaku usil serta ingin tahu. Aku sendiri bahkan tidak tahu saat ini memikirkan apa, haha .
“Dikepalamu?Sebentar ada….ada aku disana.Kamu sedang fokus mendengar suaraku.”
Moi, jadilah sahabatku.Maukah?”
“Sahabat?”
“Tapi maksudku benar-benar sahabat, Moi.Sahabat yang saling mempercayai dan mensupport. Jujur Moi, aku tidak yakin bisa keluar dari sini dengan selamat. Persetan dengan Mr. McPherson yang mungkin masih memburuku bila aku terendus muncul di masyarakat.
Yang penting aku lepas dari penjara terkutuk ini.
Saat melihatmu, entah kenapa aku temukan harapan hidup.
Jadilah sahabatku, dan mari kita sama-sama mencoba keluar bareng dari neraka ini.”

Aku terdiam.Keluar dari tempat ini? Walau aku bimbang antara persahabatan ku dengan Mrs. Rose dan penjagaan yang kuat di sini, di sisi lain perlakuan dan ancaman Tuan Jonah, dan pertarungan mematikan, membuatku juga ingin kabur. 
“Caranya bagaimana, Hen?Bagaimana caranya agar kita semua bisa keluar dari penjara ini?”Aku mencoba menjajaki kemungkinan itu.
Tak kudengar lagi suara di pikiranku, rupanya Henry terdiam beberapa saat.
“Henry? Henry?”
Pria itu tak menjawab panggilan melalui pikiranku.Sudah tertidurkan dia?Atau dia mendapat kunjungan ke selnya, selarut ini?
Dan, suara pria itu mendadak masuk lagi ke dalam pikiranku. “Tidak, Moi. Aku belum tidur. Terlihat dari jendela belakang selku , di pantai sana ada sebuah speedboat kecil. Maksimal hanya bisa diisi sedikit orang dewasa.Pikirkan jalan terbaik pergi dari sini, Moi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *